Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Serangan di Desa Batu


__ADS_3

Layaknya malam yang mulai berselimut gulita, di mana cahaya hanyalah cara untuk bisa kurangi dominasi gelap. Saat itu, hanyalah menunggu untuk waktu yang akan mengubah kembali pada terang.


Dengan sekuat tenaga, Danur Cakra coba untuk mengendalikan diri, menahan supaya energi kegelapan tidak menguasai tubuhnya. Bagaimana pun marahnya Cakra, tersinggung, ataupun segala jenis rasa sakit hati karena ucapan pedas yang Suhita lontarkan bukanlah alasan untuk dia berubah jadi sosok pembunuh. Tidak seharusnya dia naik pitam sekadar menghadapi tingkah kekanakan adiknya.


"Tabib ... ah, maaf. Ini semua salah saya. Sayalah yang telah mempengaruhi Cakra untuk tidak segera datang ke Soka Jajar. Awalnya saya mengira jika dengan mengkonsumsi daging siluman piton, maka saya tidak perlu berhutang budi lagi pada Tabib. Akan tetapi ... kiranya memang tidak ada orang yang mampu setara dengan kemampuanmu," Kemuning segera angkat bicara. Dia bisa melihat beberapa gelagat aneh yang tidak biasa terjadi pada diri Danur Cakra.


Suhita terdiam, dia sadar jika banyak orang di sekitar yang melihat sisi buruk dari dirinya. Bukan karena Suhita selalu ingin terlihat baik dan sempurna, akan tetapi rasanya kurang pas untuk membahas masalahnya dengan Danur Cakra. Andaipun Cakra memang telah berubah, tidak banyak yang bisa Suhita lakukan.


Suhita begitu kecewa pada Danur Cakra, itu wajar. Sebagai bentuk rasa pedulinya, cerminan dari welas asih yang begitu dalam. Suhita hanya inginkan Danur Cakra hidup di jalan yang diridhoi sang pencipta. Sama sekali dia tidak rela bila harus melihat Cakra yang semakin dalam terjerumus dalam kubangan dosa. Bila suatu saat Suhita sudah tidak peduli lagi, itu tandanya dia sudah lelah.


"Lupakan! Aku hanya terbawa suasana. Maaf, harusnya aku tidak mencampur adukkan masalah pribadiku," Suhita tersenyum getir.


Kemudian Suhita segera mengambil kotak berisi daging siluman piton di atas meja. Meminta Kemuning untuk masuk ke dalam bilik bersamanya. Sementara yang lain, Suhita minta untuk menunggu di luar.


Suhita duduk dengan lesu, dia menatap Kemuning begitu dalam, "Nona, apa sebenarnya yang telah terjadi?"


Tanpa ada yang ditutup-tutupi, Kemuning menceritakan semuanya pada Suhita. Hal yang dia lalui bersama Cakra selama perjalanan. Namun terus terang Kemuning tidak mengetahui kejadian mistis yang terjadi pada Danur Cakra. Sebab dia menemukan beberapa hal janggal dalam Cakra bersikap belakangan ini.


"Apa mungkin, ini berkaitan dengan siluman piton yang dia kalahkan? Ataukah Cakra terkena karma karenanya?" wajah Kemuning nampak cemas.


Suhita mengangkat bahu, dia tidak bisa memberi penjelasan. Karena hanya Cakra yang mengetahui hal yang sebenarnya. Jika dia tidak bicara apa pun, itu artinya memang tidak ada apa-apa. Memang dasar karena Cakra tidak ditakdirkan untuk hidup secara normal.


"Sudahlah, lupakan saja. Yang terpenting sekarang kita fokus pada pengobatanmu. Aku melihat kondisi fisikmu sudah baik. Tapi ... rasanya kita tidak perlu gunakan daging siluman piton untuk ini. Dengan Lumut Kehidupan tahap kedua, aku yakin kau akan sembuh normal," Suhita tersenyum.


Kemuning balas tersenyum, lalu mengangguk lemah. Lantas, mengapa Suhita begitu mengesampingkan Danur Cakra? Apa mungkin dia sudah tidak lagi peduli? Harusnya Kemuning senang. Akan tetapi hatinya justru terasa sakit.


"Tabib, setelah ini ... apakah bisa kita bicara berdua? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Hanya saya dan Tabib," pinta Kemuning.


"Tentu saja, dengan senang hati," jawab Suhita membuat senyuman lega, memberi ketenangan dalam hati Kemuning.


°°°


Desa batu merupakan desa yang terdekat jaraknya dari bukit berbatu. Tentu saja desa itu menjadi persinggahan pertama bagi para pendekar yang ikut berburu sumberdaya di bukit berbatu. Dan pastinya mereka adalah orang-orang yang tidak beruntung, tidak ubahnya seperti Lurah Paku Gelung, kembali dalam keadaan terluka dan hampir celaka.


Beberapa ledakan terjadi, benturan dari pukulan tenaga dalam. Buta Tuli, pendekar yang juga berhasil selamat dari bencana di dalam gua bukit berbatu melampiaskan rasa kekecewaannya pada mereka, para pendekar yang juga pulang berburu sumberdaya.

__ADS_1


Binar cahaya senja yang menghapus terik siang bercermin pada titik darah yang mengalir membasahi tanah yang tandus. Sudah lebih dari sepuluh orang pendekar yang dihabisi oleh Buta Tuli secara brutal. Luka yang diderita oleh Buta Tuli membuat dia semakin buas seperti banteng yang terluka. Melampiaskan rasa kecewa pada siapa pun yang ditemui.


Sudah tidak ada lagi para pendekar yang dia temukan ketika hampir memasuki perbatasan desa. Bahkan burung yang kembali ke sarang pun seperti menghindari untuk berpapasan dengan Buta Tuli.


"Haaaaaahhhh !!! Terku*tuk kalian semua! Akan ku bumi hanguskan manusia-manusia kepa*rat itu!" dengan berteriak lantang, Buta Tuli melompat melayang memasuki perkampungan.


Tidak berselang lama, teriakan histeris terdengar mengguncang desa. "Kebakaran !!! Kebakaraaan !!!"


Dengan brutal, Buta Tuli melampiaskan pada para penduduk yang tidak berdosa. Dia tertawa riang saat melihat orang-orang menjerit meregang nyawa.


Beberapa orang penduduk berlari tunggang langgang, berlomba untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Buta Tuli. Tujuan mereka tidak lain ialah pondok yang dibangun oleh Suhita. Sungguh mereka berharap akan perlindungan gadis cantik yang mereka sebut Nona Surga.


"Ada apa ini? Mengapa kalian lari terbirit-birit seperti melihat hantu?" Kencana Sari menyambut para penduduk dengan kaget.


Belum sempat dari mereka menjelaskan, Buta Tuli sudah datang sebagai jawaban. Dia tertawa terbahak-bahak, melihat kiranya seorang gadis muda cantik yang menjadi tempat berlindung para penduduk.


Kepala desa Desa batu, Prawono, didampingi Pak Murdoko hanya bisa terperangah, tidak tahu harus berkata apa. Sementara Suhita dan Kemuning sedang tidak ada di tempat. Mereka pergi sejak sore tadi. Katanya ada hal rahasia yang hendak dibicarakan. Bahkan Danur Cakra pun tidak diizinkan untuk menyertai.


"Hemmm ... Hahaha!!! Aku tidak menyangka, ternyata ada seorang bidadari di tempat ini. Nona, apa kau yang akan menukar dirimu untuk keselamatan warga desa? Jika begitu, tentu aku tidak keberatan!" Buta Tuli tertawa terbahak, matanya menatap Kencana Sari dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Tentu saja Buta Tuli segera waspada, dia bisa merasakan tingkat kemampuan yang cukup tinggi dimiliki oleh Kencana Sari, tidak bisa diremehkan juga tidak untuk bermain-main. Meskipun tidak mengenali siapa dan dari mana pendekar wanita itu datang, yang jelas Buta Tuli sangat senang karena akan ada orang yang bisa dia ajak bermain-main, mencari keringat.


"Haaahhh ... baiklah, jika kau ingin melakukan pemanasan terlebih dahulu. Tapi aku peringatkan, jika fisikku sangat tangguh, kau pasti akan terkulai lemah di pangkuanku, hahaha!" Buta Tuli terus menggoda Kencana Sari.


"Tutup mulutmu! Jangan kira aku takut melihat tampangmu, selama kau melakukan kejahatan maka aku tidak akan tinggal diam!" Kencana Sari sedikit pun tidak gentar. Tanpa menunggu lagi, dia langsung melompat dan menyergap Buta Tuli dengan jurus berbahaya.


Sabetan pedang milik Kencana Sari berkelebat nyaris tidak terlihat. Di balut keremangan hari yang mulai berganti cuaca. Namun demikian bukan berarti menjadikan Buta Tuli sebagai sosok yang berada dalam tekanan, dengan sempurna dia bisa meladeni setiap jurus-jurus yang dimainkan oleh Kencana Sari.


Beberapa jurus telah berlalu, hari sudah semakin gelap, namun belum ada tanda-tanda jika pedang Kencana Sari berhasil mengenai lawan. Buta Tuli bukanlah pendekar kaleng-kaleng, dia seorang pendekar senior yang kenyang makan asam garam, malang melintang di dunia persilatan.


Bisa jadi, kemampuan Kencana Sari meningkat pesat dengan bantuan sumberdaya yang dia konsumsi, hingga menjadikan dirinya mencapai tingkat kemampuan dengan begitu cepat. Namun dengan miliki kemampuan besar, bukanlah suatu jaminan untuk dapatkan kemenangan dalam satu pertarungan. Lihat saja, bagaimana Danur Cakra yang berada di gerbang pertama mampu mengalahkan siluman piton yang berada di puncak gerbang keempat. Catatan di atas kertas, tidak menjadi pedoman untuk siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


"Hahaha! Gadis manis, kau masih perlu banyak belajar. Datanglah padaku empat atau lima tahun lagi, niscaya kita akan menjadi lawan yang sepadan," tawa merendahkan terdengar begitu mengejek. Buta Tuli melepaskan satu pukulan yang tidak bisa dihindari dengan sempurna oleh Kencana Sari hingga tubuh gadis muda itu terjatuh dengan keras, menabrak dinding pondok yang baru saja selesai di dirikan.


Darah mengalir dari sudut bibir Kencana Sari, beruntung dia memiliki kemampuan tenaga dalam yang tinggi, hingga organ dalamnya tidak hancur kala menerima pukulan keras Buta Tuli.

__ADS_1


"Luar biasa! Kemampuan Sari meningkat lebih dari dua kali lipat seperti saat pertama kami bertemu. Suhita begitu mendukung perkembangan kemampuan para pelayannya. Apa mungkin, sekarang Hita tertarik mendalami olah kanuragan? Syukurlah ..." Danur Cakra tersenyum.


Danur Cakra yang sejak tadi hanya menonton di pinggir lapangan kemudian bangkit. Dia tidak bisa membiarkan Kencana Sari terbunuh. Pelayan sekaligus sahabat Suhita itu bukanlah lawan sepadan untuk Buta Tuli yang sangat licik. Teknik bertarung memang berbagai macam, tapi teknik tipuan yang licik tentu tidak semua pesilat mempelajarinya. Hampir rata-rata para pendekar sesat yang jauh lebih paham. Namun Danur Cakra tentu termasuk dalam kategori yang kedua.


Wuuusss !!! Danur Cakra mengibaskan tangannya, menciptakan pusaran angin yang berhembus kencang menggulung Buta Tuli. Beberapa atap bangunan yang belum terikat dengan kokoh ikut terbawa pusaran angin. Dalam gerakan pertama saja, Danur Cakra telah menambah kerusakan.


Buta Tuli berhasil menghalau serangan Danur Cakra. Matanya menyipit merasakan aura membunuh yang begitu pekat. Dengan kata lain, kali ini dia tidak sedang berhadapan dengan pendekar aliran putih. Paling tidak, pendekar aliran netral atau bahkan berasal dari aliran sesat. Buta Tuli tidak punya banyak waktu sekadar untuk menebak, karena lawannya tidak berikan kesempatan untuk itu.


Tanpa saling menyapa dan perkenalkan diri, Danur Cakra telah melepaskan pukulan penuh energi kotor pada Buta Tuli. Seperti bercermin, Buta Tuli merasa sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Barulah dia sadar jika lawannya tidak lain ialah Pendekar Naga Kresna, sosok pendekar haus darah yang menjadi buronan kerajaan.


"Keledai dungu! Ini bukan kabar baik, Pendekar Naga Kresna juga datang ke bukit berbatu. Aku tidak mungkin melawannya," Buta Tuli memaki dalam hati.


Tidaklah mudah layaknya membalikkan telapak tangan untuk Pendekar Naga Kresna mengalahkan Buta Tuli, akan tetapi jika mereka bertarung maka yang menang bukan salah satu dari mereka. Yang tertawa dan yang diuntungkan ialah para pendekar aliran putih juga punggawa kerajaan. Nama Pendekar Naga Kresna yang cenderung terdengar dalam hembusan kabar miring, tentu merupakan satu amunisi bagi tokoh aliran sesat untuk semakin melebarkan sayap menciptakan keonaran di sana sini. Sementara seperti yang sama-sama diketahui, solidaritas para tokoh aliran sesat jauh lebih kompak di bandingkan pendekar aliran putih. Jadi, andaipun Buta Tuli kabur itu bukan berarti dia kalah, tapi lebih pada prospek masa depan. Semua demi kelancaran target kekacauan di masa mendatang.


Sebelum salah satu bayangan naga memberi luka, sebelum semua jadi terlambat saat kematian datang, Buta Tuli mengambil keputusan tepat, untuk segera tancap gas, lari tunggang langgang meninggalkan medan laga.


Danur Cakra tidak mengejar, dia juga tidak coba untuk menduga-duga alasan di balik kaburnya Buta Tuli. Bilamana dia kembali datang dengan komplotan yang lain, tidak selangkah pun Danur Cakra akan mundur. Tapi rasanya, Buta Tuli lari karena mengenali siapa yang menjadi lawan. Danur Cakra bisa merasakan hal tersebut. Terserah, bagi Cakra semua merupakan hal yang tidak penting.


"Pendekar Cakra, terima kasih. Kau telah menyelamatkan nyawaku," Kencana Sari membungkukkan badan berucap terima kasih.


"Kau terlalu berlebihan. Justru aku kagum atas kemajuan yang kau alami. Tenaga dalammu meningkat dua kali lipat dari saat kau aku kalahkan tempo hari, saat pertama kita bertemu. Bagaimana kau bisa mencapainya? Aku sungguh merasa kagum!" Danur Cakra balas menyilangkan tangannya di depan dada, memberi hormat seorang pendekar.


Kencana Sari tersipu, dia mendengar pujian Danur Cakra bukanlah sekadar basa-basi. Tentunya sebagai pendekar hebat, Cakra bisa mengukur bagaimana kemampuan Sari dulu dan sekarang.


"Semuanya berkat kebaikan hati Tabib Dewa. Sungguh saya tidak berani berkata tinggi," jawab Kencana Sari.


"Luar biasa! Jika aku boleh meminta tolong, kau bisa rekomendasikan aku pada majikanmu itu. Aku pun ingin sepertimu, tapi dia terlalu pelit padaku."


Kencana Sari menelan ludah, beberapa kali dia mencuri pandang, melihat ekspresi wajah Danur Cakra secara dekat. Tidak seperti yang selama ini dia pikirkan, ternyata setelah bercakap-cakap Danur Cakra tidaklah seperti yang terlihat, sebagai seorang yang kejam dan berdarah dingin, tapi ada kemungkinan juga sebenarnya dia seorang yang berhati baik. Jika tidak, mana mungkin bisa memikat hati Tabib Dewa.


"Ah, ini adalah kesempatanku untuk mencari tahu. Sejauh mana Pendekar Cakra mengenal Tabib," batin Kencana Sari.


Sementara itu, Buta Tuli yang melarikan diri baru berhenti setelah menyeberangi hutan, jauh meninggalkan desa batu. Dia duduk di tepi sungai kecil, menghilangkan dahaga yang mencekik kerongkongan.


"Pendekar Naga Kresna, hahaha! Ternyata bukan aku saja yang menjadi orang tidak beruntung. Siapa sangka ternyata ada seorang lagi pendekar hebat yang zonk," Buta Tuli tertawa menghibur dirinya.

__ADS_1


Buta Tuli menghela napas, dia mulai mengatur siasat untuk bisa mendekati Pendekar Naga Kresna. Ada beberapa kelompok sesat yang Buta Tuli kenal, pasti, pasti dia akan merekomendasikan untuk bisa menjadikan Pendekar Naga Kresna sebagai tembok pelindung.


__ADS_2