Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Bayangan Mencurigakan


__ADS_3

"Apa ayah sudah pergi ke Padepokan Giling Wesi?! Mengapa dia tidak lebih dulu menemuiku, ataukah masalah ini lebih penting daripada aku, anaknya?!" Suhita merasakan sesuatu yang terasa aneh menyelinap di dadanya.


Sudah susah payah Hita coba mengirimkan isyarat dengan kerahkan kekuatan Tapak Naga agar ayahnya tahu kalau dia ada di penginapan tersebut. Yang Hita inginkan tentunya sang Ayah segera datang menemui meskipun hanya sebentar dan sekadar berbasa-basi. Namun tidak demikian halnya yang Hita temui, semuanya benar-benar di luar dugaan. Ada rasa kecewa di hatinya, bagaimana bisa ayahnya begitu abai? Ah, tidak. Hita tidak boleh berpikir begitu. Bagaimanapun ayahnya pasti melakukan suatu tindakan dengan alasan yang kuat. Hita dituntut harus memaklumi itu. Tiada kesalahan yang diperbuat jika dengan alasan yang tepat.


"Aku tahu, ayah sudah cukup puas ketahui diriku selamat. Setelah urusannya selesai, dia pasti datang ke sini," Suhita menghela napas panjang. Bibirnya coba menyunggingkan senyuman ikhlas.


Suhita segera berbalik badan dan kembali turun ke bawah. Menuju kamarnya yang terletak di lantai empat, menemui Nona Bulan yang pasti gelisah menunggu.


Benar saja, wajah berbinar Bulan Jingga menyambut kedatangan Suhita. Gadis cantik itu terlihat gembira sekali. Bukan karena kedatangan Suhita, melainkan disebabkan dia menemukan Suhita datang hanya seorang diri. Tanpa sang ayah yang bakal menjadi masalah besar baginya.


"Tabib kecil, apa kita bisa berangkat sekarang?! Aku takut saudaraku terlambat untuk mendapatkan pertolongan ..." dengan suara yang dibuat-buat layaknya seorang yang sangat cemas, Bulan Jingga terus merayu Suhita agar cepat-cepat pergi dari penginapan itu bersama dirinya. Takutnya jika semakin lama dia berada di tempat itu, maka ancaman akan cepat datang. Terlebih jika ayah sang bocah tersebut muncul, bisa-bisa Bulan Jingga tertimpa masalah di atas masalah.


"Baiklah, Nona. Aku siapkan perlengkapannya dulu ya ..." Suhita tersenyum dan segera masuk kamar. Dia meninggalkan sepucuk surat untuk ayahnya. Jika nanti ayahnya datang, maka Suhita telah meninggalkan pesan. Dengan demikian, Mahesa bisa menyusul dengan cepat.

__ADS_1


Setelah meninggalkan pesan, Suhita bergegas mengunci kamar dengan kekuatan tapak naga mengunci kamarnya. Hanya Mahesa dan mereka yang juga memiliki kemampuan Tapak Naga yang akan mampu membuka sandi kunci tersebut.


Lagi, senyuman mengiringi langkah Bulan Jingga saat kaki kereta kuda yang mereka tunggangi bergerak meninggalkan penginapan. Yang jelas, Tabib Dewa telah berada di dalam genggaman tangannya. Ternyata tidak sulit untuk bisa dapatkan Tabib Dewa ini, tidak mengerikan seperti apa yang dibayangkan. Sangat mudah dan bahkan tanpa menjatuhkan sebulir keringat pun. Tinggal menjalankan rencana selanjutnya.


Dari balik jendela kereta, Bulan Jingga mengirimkan isyarat pada beberapa orang berkuda yang merupakan para pendekar anggota Aliansi Utara Selatan yang bertugas mengamankan jalan. Mereka segera bergerak mendahului, sebagai pembersih jalan mereka harus memastikan keamanan perjalanan pimpinan besar aliansi yang sedang bersama dengan Tabib Titisan Dewa yang pastinya diinginkan oleh puluhan pendekar berbahaya dari berbagai golongan.


"Nona Bulan, saya merasa ada yang berbeda di jalanan ini. Apa kau juga merasakan hal yang sama?" tanya Suhita ketika mendapati jalanan yang nampak sepi mencekam.


Bulan Jingga pura-pura melongok ke luar kereta. Dia melirik ke kiri dan kanan, di mana kereta kuda yang mereka tumpangi melaju dengan mulus tanpa sedikit pun adanya hambatan. Dalam hati, Bulan Jingga tertawa kecil. Memuji ketelitian yang Suhita miliki. Tabib kecil itu bisa mengetahui hal sepele yang tidak semua orang bisa menduga keadaan yang terlihat biasa-biasa saja dan umum tersaji di jalan.


Kemampuan Bulan Jingga yang mampu membaca pikiran, membuat dirinya tidak sulit untuk bisa masuk dan membuat dirinya bisa bicara dengan akrab dengan Suhita. Meskipun sangat bertentangan dengan cara pikir dan tindakan yang biasa dia lakukan, tapi Bulan Jingga terus bicara seperti halnya pola pikir yang Suhita miliki. Setiap kalimat yang terucap dari bibir Bulan Jingga, seolah dirinya adalah manusia berhati malaikat yang begitu mengutamakan kepentingan orang banyak. Dari sudut pandang yang selalu dia ungkapkan, terkesan mereka memiliki cara pandang yang sama. Meskipun kenyataannya sangatlah berbeda.


Suhita terlihat mulai terbawa suasana. Dia sama sekali tidak tahu jika gadis cantik yang bersamanya sekarang merupakan seorang penjahat besar yang memiliki kemampuan membaca pikiran tingkat tinggi. Hingga apa pun yang diucapkannya akan serupa seperti apa yang ada di dalam benak Suhita. Mereka seperti dua orang beda usia dengan cara pandang yang serupa. Suhita sangat tertarik dan merasa nyaman ketika mereka bicara mengangkat topik pembahasan yang menurutnya merupakan cara terbaik.

__ADS_1


"Hmmm ... aku kira inilah satu-satunya cara agar bisa kuasai anak ini sepenuhnya. Meskipun sangat membosankan, aku harus bisa untuk luluhkan hatinya," senyum penuh kemenangan mengembang di bibir Bulan Jingga.


"Nona, apakah Sekte Perisai Hujan masih jauh?" tanya Suhita ketika mereka telah kembali memasuki hutan yang lebat. Suhita belum pernah berjalan ke tempat itu, dia sama sekali buta pada daerah yang dia datangi.


"Ah, Tabib kecil. Kau tidak perlu takut. Meskipun ini adalah kali pertama kau datang, aku menjamin keselamatan dirimu. Aku berjanji, akan menjadi orang tuamu selama kau bersamaku," Bulan Jingga mencoba meyakinkan hati Suhita. Dia bicara karena bisa mendengar suara hati Suhita yang berulang kali menyebut nama ayahnya.


Suhita tersenyum, lama kelamaan dia mulai curiga akan kemampuan yang dimiliki oleh gadis yang bersamanya. Selalu saja gadis itu mengerti dirinya, mengetahui keresahan hatinya, bahkan hal kecil yang hanya terbersit di dalam kalbu. Atau jangan-jangan gadis pendekar itu memiliki satu kemampuan yang bisa diandalkan untuk itu? Ah, tidak. Suhita tidak boleh berpikir terlalu jauh. Jika benar gadis pendekar itu bisa membaca pikiran seperti yang ada dalam dongeng, tentunya dia akan tahu atas apa yang Suhita rencanakan.


"Nona, bisakah kita berhenti sejenak? Kasihan kuda yang menarik kereta ini. Seharian dia berjalan tiada henti. Lagi pula saya lihat jika sungai itu sangat jernih. Pasti airnya segar," ucap Suhita ketika mereka melintas di tepi sungai yang sejuk di tengah hutan.


Bulan Jingga tersenyum tipis. Tiada pilihan lain, dengan sangat terpaksa dia menuruti perkataan Suhita. Biarlah untuk sementara waktu dia berpura-pura menjadi orang yang baik, dengan memikirkan banyak aspek kehidupan.


Setelah kereta berhenti dan memperhatikan kusir yang mengurusi kuda, Suhita segera pergi untuk membersihkan diri. Air sungai yang sejuk, terasa sangat menyegarkan membasuh tubuh yang lengket oleh keringat.

__ADS_1


Suhita menghentikan aktivitasnya. Matanya menangkap kelebat bayangan manusia yang melesat di antara celah pohon.


"Ah, siapa mereka?!" Suhita memperhatikan dengan seksama, dia mendapati bayangan samar itu bergerak menuju ke tempat istirahat mereka. Buru-buru Suhita mengenakan pakaian dan bergegas mengintip hal apa yang kiranya dilakukan oleh bayangan mencurigakan tadi.


__ADS_2