
Kalau dipikir-pikir, rasanya sangat aneh. Apakah dunia terbalik atau keadaan yang membalik?
"Itu karena kita satu hati, kita memiliki perasaan yang sama hingga menuntun naluri menjadi berpikir serupa. Bukankah begitu?" Suhita tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya.
Danur Cakra melengos, seharusnya mereka berada dalam situasi dan kondisi yang serius, bukan untuk bermain-main. Nyawa ratusan penduduk Kota Binar Embun sedang dipertaruhkan. Bercanda, rasanya bukan suatu yang bagus.
Dua kakak beradik yang merupakan saudara kembar itu telah berada di dasar sumur. Dengan kemampuan Ilmu Tapak Naga mereka mampu menelusuri jalur air untuk mencari sumber air utama yang diduga telah diracuni.
Suhita sependapat dengan Danur Cakra. Dia pun telah mendeteksi jika air sumur tersebut memang mengandung racun. Tidak terpikirkan sebelumnya jika air merupakan sumber dari segala kekacauan yang hampir mencelakai seluruh penduduk tidak berdosa.
Terus terang, Suhita belum pernah menemui jenis racun yang bisa membuat sebanyak apa pun air menjadi beracun. Bahkan air yang mengalir di dalam tanah sekalipun. Buktinya, mata air sumur ini jelas-jelas mengandung racun.
Justru Danur Cakra yang merupakan seorang pendekar berpikir sejauh itu. Sebagai seorang yang dielu-elukan sebagai Tabib Dewa, sungguh Suhita merasa malu harus menerima ejekan yang begitu merendahkan nama besarnya. Untung saja orang itu Danur Cakra, mereka merupakan saudara yang sudah terbiasa saling ejek bahkan sejak masih bayi.
"Tidak semua jalur air beracun. Itu artinya hanya satu pusat mata air yang ditaruh racun," ucap Suhita.
"Lalu sekarang bagaimana? Kita tidak mungkin menyusuri jalur air sebanyak ini. Yang ada kita hanya kehabisan banyak waktu."
Keduanya memutuskan untuk kembali ke darat dan mencari bantuan. Mereka harus segera menemukan mata air terbesar yang mengaliri seluruh penjuru kota.
"Tidak! Kau harus sarapan terlebih dahulu, setelah itu baru kita lanjutkan," ucap Danur Cakra tegas.
Benar, tujuan Danur Cakra yakni hendak membeli sarapan untuk Suhita. Malah menemukan sumur yang juga beracun.
"Iya, iya. Tapi setelah sarapan kita harus segera bergerak," jawab Suhita terpaksa.
Danur Cakra tersenyum seraya mengacungkan jempol. Jarang-jarang muka judes itu menyungging senyum. Kecuali senyum kemenangan, seperti saat sekarang ini.
"Tuan prajurit, tolong bantu saya untuk umumkan pada seluruh penduduk kota agar tidak menggunakan air sumur untuk minum. Hampir seluruh sumber air di kota ini beracun, untuk sementara ganti dengan air kelapa atau air yang sudah di pindah wadahkan," Suhita menemui prajurit patroli untuk cepat tanggap menyebarluaskan.
"Ba-baik, Tabib Dewa. Akan segera hamba laksanakan!" tanpa menunggu aba-aba lagi, serentak para prajurit patroli berpencar mengumumkan ke seluruh penjuru kota.
Dalam sekejap, hampir setiap penduduk terutama kedai segera mengumpulkan kelapa muda untuk pengganti air minum. Bak dan kendi besar penampungan air takutnya tidak bertahan lama jika tidak ditambah, sementara sumber air belum bisa digunakan.
"Mereka sibuk, sementara kita duduk di sini. Apa perutmu bersedia menerima makanan?" gerutu Suhita. Sungguh hatinya tidak tenang, meronta-ronta ingin segera melakukan tindakan.
"Tidak peduli, sebelum isi piring itu habis kau tidak boleh bergerak. Lihat saja!" ujar Danur Cakra santai.
Selain sikapnya, ternyata hati pemuda itu pula dingin sedingin salju. Mungkin juga beberapa hari ini dia berbuat baik, menolong orang tanpa pamrih hanya karena terpaksa menemani Suhita. Siapa yang tahu sepak terjangnya di dunia luar sana, sudah jelas dia adalah pendekar berdarah dingin. Jika tidak memiliki cita-cita untuk merubah sedikit demi sedikit pandangan hidup Danur Cakra, mana mungkin Suhita mau menurut. Mereka berada pada dunia dengan sisi yang berbeda.
Cepat-cepat Suhita memaksakan diri untuk memasukkan makanan di piringnya ke dalam mulut. Setelah itu mereka bisa segera bergerak. Suhita hanya coba untuk membalut rasa kesal di hati dengan senyum manisnya. Membuat Danur Cakra senang, meskipun bertolak belakang dengan hati kecilnya.
Seusai sarapan, Suhita bergegas meninggalkan kedai. Langkah kakinya terayun dengan buru-buru menyusuri jalanan kota. Dia berniat menemui seorang yang paham geografis dan seluk beluk Kota Binar Embun.
"Nona Tabib ... maaf, mengganggu perjalanan Anda. Akankah ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang pendekar gagah dengan dua bilah pedang di punggung.
__ADS_1
Pendekar Pedang Kembar, bersama beberapa orang lainnya menyapa Suhita dengan ramah. Mereka menawarkan bantuan. Tentu saja, siapa pun orangnya akan senang hati bisa berbuat baik. Terlebih dengan adanya seorang tabib spek bidadari di sana.
Suhita menanggapi dengan ramah. Sama sekali gadis itu tidak pernah membeda-bedakan antara orang satu dengan yang lain. Perihal maksud terselubung yang direncanakan, masa bodoh. Selama tidak ada yang tersakiti.
"Kebetulan sekali saya baru melintas di kaki bukit itu, tapi tidak ada tanda-tanda jika airnya mengandung racun. Sangat senang rasanya bila dapat membantu Nona."
"Ah, saya merasa tersanjung. Terima kasih sebelumnya atas bantuan Tuan-tuan. Semoga, secepatnya masalah ini bisa terurai," Suhita membungkuk dalam, ucapan terima kasih tanpa beban. Senang rasanya melihat orang-orang saling bahu membahu dalam berbuat kebaikan.
"Seekor anjing pasti akan menggoyangkan ekornya jika melihat siapa pun membawa tulang. Dalam hatinya, siapa yang bisa menduga," komentar Danur Cakra.
Suhita menengok ke arah Pendekar Pedang Kembar dan yang lain. Beruntung langkah mereka telah jauh, hingga bisa dipastikan tidak akan ada yang mendengar.
"Bisakah dipikir dulu sebelum bicara? Bagaimana jika orang yang mendengarnya tersinggung? Kalau pandai menjaga lidah, niscaya keburukan akan senantiasa jauh. Menyebalkan sekali!"
"Aku tahu, apa yang ada di dalam pikiran mereka. Dari 100% orang yang sok-sok'an membantu, hanya 7% yang niatnya tulus dan ikhlas. Sementara 93% lainnya justru sedang mengatur siasat untuk mencuri perhatian. Kau lihat saja, nanti juga kau akan tahu."
Suhita menghentikan langkah, dia memandang wajah Danur Cakra dengan tajam, "dan kau termasuk dari 93% itu 'kan?"
"Sangat cerdas! Sebentar saja, kau sudah paham. Harusnya kau terapkan juga pada orang lain, jangan hanya padaku."
Suhita menelan ludah. Meskipun Danur Cakra bicara jujur, rasanya sangat canggung terdengar di telinga.
°°°
Seorang ahli nujum, Ki Santana. Pria sepuh berjanggut putih itu sedang komat-kamit membaca mantera. Sesekali tangannya bergerak menabur kemenyan ke dalam kobokan berisi bara api. Wangi kemenyan memenuhi ruangan, membuat kepala sakit karena bau yang menyengat.
Empat orang Pendekar yang duduk bersila serentak mengangguk. Salah seorang dari mereka merogoh saku dan menyerahkan beberapa kepeng uang emas sebagai pengganti jasa pada si ahli nujum.
"Kami harap, semuanya akan sesuai dengan keinginan kami. Jangan sampai aki mengecewakan Empat Macan Langit. Atau tahu sendiri akibatnya ...." selesai bicara empat orang Pendekar itu bergegas meninggalkan gubuk reot milik Ki Santana.
Kabar yang menyebar dari mulut ke mulut perihal musibah yang menimpa Kota Binar Embun, telah diketahui oleh segenap kalangan. Terlebih lagi, Wali kota telah mengeluarkan pengumuman resmi mengenai imbalan yang akan mereka peroleh jikalau ada yang berhasil membantu menemukan sumber mata air beracun seperti yang dimaksudkan Tabib Dewa.
Berlomba-lomba berbuat kebaikan, senyum manis Suhita mengungkap demikian, tapi sepertinya yang terjadi tidaklah serupa, bahkan sangat melenceng. Atau mungkin rasa welas asih sesama makhluk hanyalah ada di dalam cerita? Mungkin juga dunia ini yang terlalu rakus, hingga semuanya semata berlandaskan uang. Nyatanya mereka semua berlari dalam harap imbalan yang dijanjikan oleh Wali kota, membantu untuk menuntaskan wabah racun hanyalah hal yang kebetulan. Karena tujuan utama hanya demi uang. Nampaknya ucapan Danur Cakra tidak meleset. Dalam diam Suhita dipaksa untuk mengakui.
"AAAAA ..." jeritan pilu terdengar samar di kejauhan. Hanya sekali, setelahnya hanyalah desau angin yang berhembus.
"Kak, suaranya dari arah sana!" Suhita menunjuk ke arah sebuah lembah di balik semak belukar.
Meskipun Danur Cakra berhemat untuk menggunakan tenaga dalam, tapi pendengarannya yang tajam bisa mendengar teriakkan itu dengan jelas. Bahkan dua orang pendekar receh yang mengantar mereka pun bisa mendengar. Dengan segera mereka berjalan mendekat.
"Ah?!" nampak seorang pendekar terkejut kala melihat gubuk di depan mereka.
"Ada apa, Tuan? Kau mengetahui sesuatu?" tanya Suhita.
Dengan tergagap dan amat hati-hati, pendekar itu menjelaskan jika itu merupakan gubuk milik seorang ahli nujum yang melegenda di Kota Binar Embun. Namanya Ki Santana, sosok yang menguasai kemampuan nujum tingkat tinggi hingga keberadaannya sangat misterius. Saking misteriusnya, masyarakat mempercayai mitos jika tidak berjodoh maka tidak semua orang bisa menemukan gubuk reot milik Ki Santana, walaupun sudah berulang kali berputar-putar di lembah itu.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan kita? Bukankah kita hendak menemui paman Jagakarsa, aku rasa kita tidak perlu mengotori tangan mengurus ahli nujum ini. Ayolah, baiknya kita lanjutkan perjalanan, tidak penting!" ucap Danur Cakra dengan ketus.
"Tuan pendekar benar, ahli nujum itu kerap mengerjai orang yang dia tidak sukai atau yang sangat dia suka. Saya takut kalau dia akan macam-macam pada Nona Tabib," seorang pendekar mendukung ucapan Danur Cakra.
Suhita bersikeras untuk tetap memeriksa gubuk Ki Santana. Suara teriakan tadi masih terngiang di telinganya. Suhita sangat yakin jika Danur Cakra telah mencium adanya bau pembunuhan di dalam gubuk, tapi malah tidak ingin terlibat.
Tidak terdengar suara apa pun. Gubuk itu sunyi senyap bak tak berpenghuni. Tidak tercium adanya tanda-tanda kehidupan. Suhita mengetuk pintu dan mengucapkan salam berulang kali, tidak ada jawaban. Tapi ... pintu itu tidak terkunci. Perlahan, Suhita mendorongnya.
KREEEKKK!!! Suara horor pintu kayu berderit kala didorong sedikit memaksa.
"AH?!" Suhita terkejut bukan kepalang, melangkah mundur dua tindak dengan konsentrasi ditingkatkan berkali lipat.
BRUK! Sesosok tubuh manusia jatuh tersungkur ketika pintu terbuka. Tubuh renta dan kurus, seorang kakek lanjut usia. Diam tidak bergerak, sudah tidak bernapas.
Yang mencelakai kakek itu pasti seorang pembunuh profesional dengan kemampuan yang sangat tinggi. Nyaris tidak ada sisa energi yang tertinggal di sana, jangankan sosoknya, pasti sudah jauh pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tidak salah lagi, kakek tua itu benar Ki Santana. Ahli nujum yang harus meregang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan. Dada dan lehernya remuk. Dia dihabisi dengan satu serangan.
"Meskipun uang dan benda berharga milik Ki Santana diambil, aku yakin jika ini bukan perampokan. Semua hanya pengalihan, mungkin orang itu berharap kita berpikir demikian. Pasti ada masalah lain yang tidak kita ketahui," ucap Danur Cakra menyimpulkan setelah dia memeriksa gubuk Ki Santana.
Untuk memperdalam penyelidikan, akan dilakukan oleh prajurit kerajaan. Sesuai bidangnya, para prajurit pasti akan mampu mengungkap kebenarannya. Sementara Suhita tidak bisa berlama-lama di sana, ada tugas lain yang harus segera diselesaikan.
°°°
Wusss! Wusss! dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata biasa, dua bayangan berlompatan dari pohon ke pohon. Keduanya baru berhenti setelah mencapai tempat yang aman, di puncak bukit Setinggi.
"Sialan! Siapa mereka sebenarnya, bagaimana bisa dengan mudahnya menjangkau gubuk Ki Santana?!" ujar salah satu dari mereka.
"Huuuhhh ... sayang sekali. Seandainya kita tidak buru-buru pergi, mungkin saat ini kita tidak dibayangi oleh rasa penasaran," timpal temannya.
Tidak salah lagi, kedua orang itu merupakan penjahat kembar yang mencelakai Ki Santana. Mereka berasal dari Klan Macan Api, nama mereka Purwanda dan Purwandi. Sayangnya pekerjaan mereka harus dilakukan dengan sangat buru-buru, hingga masih ada beberapa hal yang belum diselesaikan. Jika saja mereka punya waktu lebih lama, niscaya tidak akan ada orang yang mampu melacak kebenarannya.
Dengan satu serangan mendadak, Purwanda dan Purwandi berhasil mencelakai Ki Santana yang sudah renta. Meski seorang ahli nujum, nyatanya Ki Santana tidak bisa menebak kiranya kematian datang menghampirinya siang itu. Tepat setelah dia menerima bayaran besar dari Empat Macan Langit.
Satu hal yang juga tidak diketahui oleh Ki Santana, jika dia terlibat ke dalam masalah besar karena telah ikut campur menunjukkan keberadaan sumber mata air beracun. Ya, semuanya serba keterkaitan. Ada satu organisasi besar yang berada di balik kekacauan, mereka akan melakukan segala macam cara untuk bisa terus bersembunyi. Salah satunya ialah dengan mencelakai orang yang campur tangan.
"Purwandi, menurutmu ke mana tujuan sebenarnya empat orang tadi? Aku curiga jika mereka tidaklah sengaja datang untuk menemui Ki Santana."
Purwandi manggut-manggut. Kecurigaan Purwanda sangat masuk akal, dari aura yang sempat mereka tangkap rasanya orang-orang itu bukan berasal dari kelompok aliran sesat.
"Kep*rat! Mengapa tidak terpikir olehku. Aku sangat yakin, tujuan mereka pasti Padepokan Lembah Wilis!" seru Purwanda dengan mata melotot berapi-api.
Purwandi ikut terbelalak lebar. Jika hal itu benar, artinya tugas yang mereka pikul akan semakin besar. Meskipun Padepokan Lembah Wilis hanyalah padepokan kecil dengan segelintir murid, tapi akan menjadi api dalam sekam jika dibiarkan begitu saja.
"Kita harus mengabarkan pada yang lain. Bila perlu, habisi empat pendekar itu sebelum mereka tiba di Lembah Wilis. Juga si Jagakarsa sialan itu, sudah berkali-kali dia ikut campur urusan kita. Ayo, kita harus segera bergerak sebelum terlambat."
__ADS_1
Purwanda dan Purwandi mengepal keras, segera mereka melesat memutar arah. Empat orang Pendekar yang mereka maksud tidak lain ialah Danur Cakra, Suhita dan dua orang penunjuk jalan yang kebetulan melintas saat mendengar suara teriakan Ki Santana.