
"Ah?!" Danur Cakra tercengang ketika membukakan pintu kamar dan menemukan wajah pimpinan besar Padepokan Giling Wesi yang tersembul dari balik daun pintu.
"Ah, ini pasti kejutan dan mereka sengaja datang untuk mengucapkan selamat karena aku berhasil menembus babak final," batin Danur Cakra dalam hati.
Dengan sedikit canggung, Danur Cakra menyambut kedatangan Jaka Pragola dengan sikap yang dia anggap paling sopan.
"Tidak perduli dari padepokan mana kau tercatat sebagai peserta kompetisi. Akan tetapi, bakat yang kau miliki sungguh mengagumkan," puji Jaka Pragola.
Danur Cakra tersenyum tipis. Matanya melirik pada beberapa orang lain yang juga datang menemuinya. Termasuk seorang ketua dari Padepokan Pagoda Putih.
"Ah, sial. Ternyata dugaanku meleset. Pasti ini berkaitan dengan Suhita dan anak yang menganggunya itu. Aku harus berpura-pura tidak mengenal Suhita," batin Danur Cakra lagi. Beruntung, di sana tidak ada seorang pun pendekar yang miliki kemampuan untuk membaca pikiran hingga Danur Cakra masih aman.
"Sekarang, kalian telah tahu jika aku berbohong. Semua keterangan mengenai latar belakang padepokanku tidaklah benar. Tapi aku mohon, untuk kalian tidak menyalahkan siapa pun. Karena aku yang merasa jika diriku pantas untuk ikut dalam pertandingan," ucap Danur Cakra.
Semuanya tahu, jika maksud dari perkataan Danur Cakra ialah agar mereka tidak melibatkan Padepokan Api Suci dalam hal ini. Karena nyatanya kemarin yang mengurus izin ialah Justa Jumpena.
"Hahaha! Kau sangat cerdas. Tapi ... apa bisa kau katakan siapa dirimu sebenarnya? Dari mana kau berasal?"
Danur Cakra menghela napas panjang, sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut. "Tuan-tuan mohon maafkan aku. Dengan terpaksa aku tidak bisa katakan dari mana aku berasal. Karena guruku melarang untuk memberi tahu siapa pun perihal keberadaan kami. Beliau telah terlalu lama meninggalkan dunia persilatan dan tidak ingin kembali lagi."
"Apa kau murid Pendekar Naga Suci?!" potong seorang pendekar tua yang juga ada di sana.
"Tuan, aku tidak ingin memetik keuntungan dari mereka. Mendompleng ketenaran Pendekar Elang Putih, aku tidak inginkan itu. Makanya, aku putuskan untuk berjuang dari nol. Namun, nampaknya aku tidak lagi bisa menghindar. Untuk pertanyaan Tuan tadi, sudah pasti jawabannya adalah IYA," ucap Danur Cakra dengan tegas.
Para pendekar yang ada saling pandang. Mereka mencoba untuk menerima alasan Danur Cakra. Memulai dari nol. Sangat jarang ada orang yang menikmati proses perjuangan yang penuh onak dan duri tersebut. Kalau ada jalan yang lebih mudah, mengapa harus mempersulit diri?
__ADS_1
"Baiklah-baiklah ... aku bisa terima. Selamat untukmu. Besok kau akan lakoni laga final. Semoga beruntung," Jaka Pragola tersenyum dan mengulurkan tangannya. Menawarkan jabat tangan dengan Danur Cakra.
Dengan senang hati, Danur Cakra menyambutnya. Berjabat tangan dengan seorang pimpinan padepokan, baru pertama ini dia melakukannya. Hingga Danur Cakra tidak sadar, jika dalam jabat tangan itu Jaka Pragola mengalirkan tenaga dalam untuk mengukur kemampuan yang dimilikinya.
Jaka Pragola makin tersenyum lebar saat merasakan jika energi yang mengalir di dalam tubuh Danur Cakra benar merupakan energi tapak naga. Dengan demikian, anak itu tidak sedang berdusta.
"Huuuhhhh ... untung saja," Danur Cakra mengelus dadanya setelah orang-orang itu pergi.
Tidak seorang pun yang mempertanyakan keberadaan Suhita maupun hubungannya dengan Tabib kecil itu. Padahal, Danur Cakra telah persiapkan jawaban bahwa Suhita merupakan kenalannya semata.
"Ah, lalu bagaimana dengan tugas Genderuwo itu? Mengapa belum juga melapor?! Dasar tidak beres!"
Setelah memastikan jika kamarnya aman, barulah Danur Cakra bersiap untuk melakukan ritual membaca mantra untuk memanggil Genderuwo, anak buahnya.
Namun sebelum Danur Cakra memulai baca mantera, Genderuwo yang dia maksud telah lebih dulu menampakkan diri. Dia segera melaporkan perihal keberadaan Suhita pada majikannya tersebut.
Suhita masih berada di sekitar lokasi kompetisi, hanya saja dia tidak bergabung dengan orang-orang dari padepokan. Suhita singgah di kediaman seorang saudagar kaya di Giling Wesi. Yang kebetulan anaknya sedang sakit parah. Dengan kemampuan yang dia miliki, tentunya begitu mudah untuk Suhita mencari tempat yang cocok untuk dirinya. Sebagai seorang tabib profesional.
Suhita bekerja dengan sangat cekatan. Dalam waktu yang relatif singkat, dia berhasil menstabilkan denyut nadi anak saudagar tersebut.
"Tuan, apa bisa beri saya ruang? Saya hanya ingin berdua saja dengan pasien saya," ucap Suhita pada Saudagar Nyoman.
"Tentu, tentu saja. Jika tabib butuhkan sesuatu. Tinggal panggil saja. Kami semua akan siap sedia di balik pintu," tanpa banyak ba-bi-bu, Saudagar Nyoman dan para pelayanannya segera keluar.
Suhita tersenyum, kemudian mengangguk lemah. Sebelumnya, dia mengucapkan terima kasih. Tidak semua hal dalam dunia pengobatan yang bisa disaksikan oleh orang awam. Terkadang, seorang tabib juga butuh parivasi dan merahasiakan sesuatu.
__ADS_1
Tanpa ada yang melihat, Suhita mengambil banyak sumberdaya dari dalam cincin mustika miliknya. Dan memulai pengobatan lanjutan pada anak saudagar Nyoman. Suhita membedah dada anak remaja itu. Suhita akan mengangkat penyakit yang dia deteksi telah menggumpal di sekitar rusuknya. Darah yang mengering itu merupakan penyebabnya.
"Kakak, kau tenang saja. Dalam beberapa waktu ke depan, kau pasti akan lekas sembuh," Suhita tersenyum pada sosok yang terbaring lemah tidak sadarkan diri.
Cukup lama juga Suhita menyelesaikan pembedahan. Hingga keringat membasahi dahinya. Tapi meski demikian, Suhita masih bisa berkonsentrasi penuh hingga dia menyelesaikan segala pekerjaannya.
"Huuuhhh ..." Suhita menghembuskan napas panjang.
Suhita sangat lega, karena telah berhasil melakukan pekerjaan besarnya sebagai seorang tabib. Dengan kemampuan tenaga dalam yang dia miliki, Suhita membuat luka bekas ujung pisaunya menghilang tanpa bekas.
"Tuan ... Tuan ..." Suhita memanggil Saudagar Nyoman setelah pekerjaannya selesai.
Saudagar Nyoman diikuti keluarga besarnya bergegas masuk. Mereka mendapati keadaan di dalam ruangan terlihat baik-baik saja, seperti tidak terjadi suatu apa pun.
Secara singkat, Suhita menjelaskan mengenai sakit yang diderita oleh anak Saudagar Nyoman. "Tapi kalian tidak perlu khawatir. Setelah dia sadar nanti, keadaannya akan semakin membaik."
Saudagar Nyoman dan anggota keluarganya saling bertukar pandang. Mereka hampir tidak percaya atas penjelasan yang Suhita berikan. Bagaimana tidak, seorang anak kecil bisa lampaui kemampuan seorang tabib ternama yang pernah mereka mintai pertolongan.
Bukannya tidak berusaha, sudah terlalu banyak dana yang dihabiskan oleh Saudagar Nyoman untuk mengobati anaknya. Akan tetapi, belum pernah dia jumpai tabib seperti Suhita. Bahkan mereka sampai menduga jika Suhita merupakan jelmaan Dewi dari khayangan.
"Oh, ya, Tuan. Bisa saya minta sesuatu?" tanya Suhita.
"Tentu saja. Jangan sungkan, Tabib. Katakan saja! Apa pun itu, saya pasti akan kabulkan," jawab Saudagar Nyoman.
"Terima kasih, sebelumnya. Saya minta tolong, untuk Tuan rahasiakan keberadaan saya di sini. Jika ada murid padepokan mana pun yang bertanya, tolong jangan beri tahu mereka."
__ADS_1
Saudagar Nyoman dan keluarga mengangguk. Mereka segera menyanggupi meskipun berjuta pertanyaan membayangi. Dengan kata lain, Tabib kecil itu adalah seorang buronan.