Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Peti Jenazah


__ADS_3

Malam merangkak kian larut, membalut mayapada dengan dinginnya hembusan angin. Namun hingga bulir putih mulai tercipta di pucuk-pucuk daun, mata Suhita belum juga bisa terlelap.


"Huuuhhh ... sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan?!" Suhita tertegun, duduk di tepi pembaringan tanpa mengerti berpikir tentang apa.


Penyakit yang diderita oleh Pendekar Tongkat Emas, sama sekali tidak membebani benak Suhita. Selain itu, tidak lagi ada hal apa pun yang sepatutnya menjadi beban pikirannya. Namun, kenyataannya hingga detik itu mata Suhita masih bersinar terang.


"Oh, iya. Di mana ayah sekarang? Mengapa dia belum bisa ku temukan?" Suhita berusaha memancing otaknya untuk berpikir, tiba-tiba bayangan yang pertama muncul ialah wajah Mahesa.


Suhita tersenyum lebar. Dia terpikirkan suatu hal. Hita berharap, ini adalah salah satu solusi untuknya bisa menemukan keberadaan Teratai Berduri. Semoga saja, ayahnya bisa membantu.


Tanpa membuang waktu, Suhita mengambil dua lembar kertas. Dia menulis surat. Pesan yang ditujukan oleh surat pertama ialah kepada Raka Jaya. Suhita menjelaskan jika dia akan berusaha untuk menemukan obat untuk penyakit Pendekar Tongkat Emas. Dia akan pergi tanpa menunggu pagi menjelang. Anggap saja, semalam adalah salam perpisahan mereka. Jika ada kesempatan suatu saat mereka pasti akan berjumpa lagi. Bagi Suhita, Raka Jaya adalah satu-satunya teman yang akan sangat dia rindukan.


Suhita menitipkan surat tersebut pada penjaga penginapan, karena Suhita yakin jika pagi esok Raka Jaya pasti akan kembali ke penginapan itu untuk menemuinya. 


Sementara sepucuk surat kedua ialah surat yang dia tulis untuk pimpinan Padepokan Giling Wesi. Suhita meminta izin untuk pergi mencari sumberdaya yang dia butuhkan. Sekaligus meminta agar Jaka Pragola tidak memperbolehkan Pendekar Tongkat Emas pergi sebelum Suhita kembali. Waktu yang dia cantumkan ialah satu pekan perjalanan.


Hembusan angin malam yang dingin dan berkabut tidak menghalangi langkah Suhita. Tabib kecil itu melangkah seolah tanpa beban. Tidak perduli permukaan wajahnya telah lembab dibelai kabut.


"Jika ayah berhasil menangkap kelompok curang dari Menara Kematian, itu tandanya ayah berada di barat daya lokasi kompetisi. Aku akan mencari penginapan yang berkemungkinan ayah tempati," gumam Suhita.


Dengan satu helaan napas, Suhita melanjutkan langkah. Mata indahnya terlempar ke seluruh sudut jalan yang telah sepi.


"Sebagian besar orang, beristirahat di tengah malam begini. Lalu, mengapa kalian masih sibuk bekerja?" dua orang pria tersentak kaget ketika Suhita menegur mereka.

__ADS_1


"Ah, ternyata seorang anak gelandangan," gumam salah seorang dari mereka.


Suhita tersenyum, matanya menatap pada gerobak yang mereka dorong. Sepertinya kedua orang itu sedang bekerja memindahkan barang. Tapi mengapa harus tengah malam begini?


"Hei anak kecil, kau kabur dari rumah, ya? Mau ke mana malam-malam begini?"


"Paman, aku adalah seorang utusan. Kalian jangan melihat hanya karena aku masih kecil. Kalian bisa baca bukan?" Suhita mengangkat tanda pengenal yang dia peroleh saat di padepokan kemarin.


"Hmm ... apa hubungannya dengan kami?" dua orang itu saling bertukar pandang. Antara rasa percaya juga tidak.


"Apa yang kalian bawa itu? Begitu mencurigakan," Suhita melangkah mendekat.


Tiba-tiba, dari arah belakang muncul empat orang lainnya yang juga membawa gerobak dan barang yang serupa. Kecurigaan Suhita menjadi bertambah besar. Peti yang mereka bawa tidak seperti peti barang dagangan pada umumnya.


"Hei baiknya kau menyingkir. Ini bukan urusanmu!" ucap seorang pria berbadan gemuk, mengusir Suhita agar pergi.


"Apa yang kalian bawa? Aku hanya ingin tahu," jawab Suhita ngotot.


"Lihat saja sendiri, itu pun jika kau bisa!" pria berbadan gemuk itu mengayunkan tangannya, berusaha untuk menjangkau tubuh Suhita.


Dengan sedikit berkelit ringan, Suhita berhasil menghindar. Dia hanya menggelengkan kepala, menandakan kecurigaannya beralasan karena sikap tidak menyenangkan pria gemuk itu.


"Kurang ajar, kau mau mengajakku bermain-main?! Kau pasti menyesal bocah," wajah pria gemuk itu berubah garang. Dia tidak main-main lagi, dan langsung menyerang Suhita dengan beringas.

__ADS_1


Seolah ingin menunjukkan jika mereka bukanlah lawan tanding yang sepadan, Suhita sama sekali tidak melakukan serangan balasan. Murid Mahesa itu hanya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk menghindari serangan membabi-buta yang dilakukan pria gemuk. Suhita tahu, mereka hanyalah para suami, dan ayah yang bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga di rumah. Jika melakukan suatu kesalahan, tentunya bos mereka yang tahu segalanya.


Suhita bergerak ringan, tangannya yang mungil bergerak cepat menjangkau dada pria gemuk. Mendorongnya hingga terjajar ke belakang. Belum sempat para pendorong gerobak itu berbuat banyak, Suhita telaj melompat dan mendarat ringan di atas salah satu gerobak yang masing-masing membawa dua buah peti.


"Tunggu, jangan dibuka. Ini adalah peti jenazah," teriak salah seorang pekerja.


Suhita menoleh, tangannya yang telah menyentuh penutup peti di tarik menjauh lagi. "Apa kau bilang?!"


"Ya, ini adalah peti jenazah. Kami membawa tiga peti jenazah yang akan dikirim ke luar kota," jelas pria itu.


Suhita mengerutkan dahi, antara percaya dan tidak mendengar alasan yang diungkapkan oleh orang-orang itu. Penasaran, Suhita menggunakan tenaga dalam yang dia punya untuk mengangkat tutup peti yang tadi tidak jadi dia buka.


"Hump!" Suhita menahan napas ketika melihat kebenaran dari perkataan orang yang mendorong gerobak. Setelah kembali menutup peti, Suhita melompat turun dari atas gerobak.


"Mayat siapa itu? Mengapa kalian membawanya jauh-jauh?" tanya Suhita.


Karena sadar akan kemampuan yang tersembunyi di balik tubuh gadis kecil itu sangatlah tinggi, mereka menjelaskan sejauh yang mereka tahu. Tugas mereka hanya mendorong gerobak hingga ke gudang yang berada di tepi sungai batas kota Giling Wesi. Setelah itu, jenazah dan beberapa barang lain akan di bawa ke luar kota. Mereka tidak tahu secara rinci, yang jelas mereka hanya tahu jika bekerja pada seorang bos yang dikenal dengan sebutan Bergola Ireng.


Suhita manggut-manggut, mungkin juga mayat yang mereka bawa memang bukan  mayat orang-orang Giling Wesi, karena tidak terdengar kabar adanya pembunuhan masal. Atau mungkin itu adalah mayat perampok yang akan dikembalikan pada keluarga mereka di luar kota.


Suhita mempersilakan orang-orang yang mendorong gerobak itu untuk melanjutkan perjalanan, meskipun masih ada keanehan yang dia rasakan. Akan tetapi, Suhita juga tidak berkepentingan mengurusi mayat yang hampir membusuk itu.


Suhita segera bergegas melanjutkan langkah, dia harus menemukan penginapan tempat Mahesa menginap saat pagi menjelang. Menelusuri keberadaan Teratai Berduri merupakan hal terpenting untuk saat ini. Waktu yang Suhita janjikan hanyalah satu pekan. Jika untuk menemukan ayahnya dibutuhkan waktu satu hari lebih, bagaimana nanti harus memulai pencariannya?

__ADS_1


__ADS_2