Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Celah Luka


__ADS_3

BAAMMM !!! BAAMMM !!!


Dentuman keras terus terjadi, pepohonan di sekitar tempat itu hancur luluh lantak akibat sabetan ekor Piton Berbisa. Selain itu juga, nampak kekuatan Piton Berbisa bertambah berkali lipat. Ya, jelas saja karena Piton Berbisa telah berhasil membuka gerbang evolusi siluman tingkat keempat.


"Kepa*rat! Piton ini belum kalah," umpat Sabdo Metu. Tangannya terasa kebas setelah menahan sabetan ekor si piton.


"Kakang, apa tidak sebaiknya kita mundur saja? Piton Berbisa ini bukanlah tandingan kita!" Suro Mertolo berusaha menarik lengan sahabatnya.


"Percuma saja! Kau pikir masih ada jalan? Piton Berbisa tidak akan membiarkan kita untuk bisa kabur," jawab Sabdo Metu.


HSSSTTT!!! Piton Berbisa kembali mendesis, serangan demi serangan yang diarahkan pada tubuhnya sama sekali tidak mampu membuat ular raksasa itu tumbang. Kulitnya memang masih muda, tapi tingkat ketebalan sisik tersebut jauh lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya. Tidak akan ada benda pusaka yang mampu menembus betapa kerasnya sisik baja Piton Berbisa.


Kekuatan tubuhnya bertambah besar dan tangguh, tentu begitu pula dengan kemampuan ilusi yang dimiliki. Semakin tinggi level evolusi, maka semakin sempurna pula kemampuan ilusi yang dia kuasai.


Layaknya kebanyakan ular, meskipun telah berhasil meningkatkan kemampuan menjadi setengah siluman, memiliki kelebihan dengan mampu hasilkan racun, tapi Piton Berbisa tetaplah seekor ular piton. Dia tidak memiliki penglihatan yang bagus, hanya mengandalkan penciuman juga deteksi gerakan. Hingga dalam pertarungan tidak seimbang begitu, tubuhnya kerap menerima pukulan di sana sini. Oh ya, satu lagi. Meskipun telah berada pada tingkat evolusi yang begitu tinggi, satu-satunya kelemahan yang dimiliki oleh semua pengguna kemampuan evolusi yakni gerakan yang sangat lambat.


Terlepas dari segala kelemahan yang dipunya, Piton Berbisa merupakan mahluk evolusi siluman yang nyaris tanpa cela dan sukar untuk dikalahkan. Meskipun gerakannya lambat, tapi dia punya tubuh yang besar, tubuh yang sama sekali tidak bisa dilukai. Gigi dan taringnya memang pendek dan tumpul, akurasi serangannya tidak selalu tepat sasaran, tapi dia memiliki kemampuan lain yakni mampu menghembuskan racun ganas. Meskipun penglihatannya sangat jelek, akan tetapi matanya justru memiliki kemampuan yang begitu besar yakni kemampuan ilusi.


Lantas, apa cara yang bisa ditempuh untuk mampu kalahkan siluman Piton Berbisa? Satu-satunya cara ialah menunggu dia berganti kulit. Tentu sangat tidak masuk akal, karena waktu yang dibutuhkan hampir seratus tahun ke depan. Gila! Itu bukanlah solusi.


Bagaimana lagi, karena Piton Berbisa baru beberapa menit yang lalu berganti kulit. Dan kesempatan itu justru disia-siakan. Memang Danur Cakra hampir berhasil membuat Piton Berbisa kalah, tapi kecerobohan Sabdo Metu dan kawan-kawannya justru menjadi bumerang untuk diri mereka sendiri. Kalau saja, mereka tidak langsung menyergap Danur Cakra maka kemungkinan Danur Cakra akan melakukan serangan lanjutan atau mungkin juga langsung mencelakai untuk dapatkan sekerat daging guna pengobatan Kemuning. Atau paling tidak Sabdo Metu dan Suro Mertolo sedikit sabar menunggu beberapa saat hingga memastikan tidak lagi ada gerak mencurigakan pada Piton Berbisa, mungkin semuanya tidak menjadi kacau balau seperti layaknya sekarang.


Satu persatu anak buah Sabdo Metu terjungkal. Mereka celaka dan menjadi santapan Piton Berbisa yang kelaparan. Dari mereka yang bertemu pandang dengan mata Piton, tentu langsung terkena pengaruh ilusi. Saling menyerang sesama teman hingga kemudian Piton Berbisa datang dan menelan mereka menjadi pengganjal perut.


Suro Mentolo kehabisan cara, dia berhasil mendaratkan banyak pukulan pada tubuh piton, tapi hasilnya nihil. Tidak sedikit pun luka yang diderita oleh piton. Justru sebaliknya, piton itu semakin liar dan beringas, menyerang dan menghabisi manusia-manusia serakah di hadapannya.


"HIYYAAATTT !!!" Suro Mertolo dan Sabdo Metu serentak melepaskan pukulan tenaga dalam mengarah leher piton.


BAAAMMM !!! Pukulan mereka tepat mengenai sasaran. Tubuh piton terjungkal dan terhempas keras hingga membentur pepohonan dengan amat keras. Selain hanya jeritan keras, tidak ada hal lain yang terjadi. Piton Berbisa kembali bangkit.


Sabdo Metu dan Suro Mertolo ngos-ngosan seraya memegangi dada masing-masing. Mereka mulai putus asa, sementara Piton Berbisa yang menjadi lawan semakin kuat dari waktu ke waktu. Tentu saja, karena energi piton terus bertambah setelah menjadikan seluruh anak buah Sabdo Metu sebagai santapan pembuka setelah pertapaan yang cukup lama.


"Ya, ya, ya, bagaimana rasanya? Hahaha! Sekarang kalian merasakan bagaimana sakitnya menjadi korban dari sebuah rencana, pengkhianatan."

__ADS_1


Sabdo Metu terkejut mendengar suara dari arah samping mereka. Ketika mereka menoleh, di dahan pohon duduk seorang pemuda dengan senyum menejek. Danur Cakra, siapa lagi.


Tidak ada yang bisa Sabdo Metu katakan lagi, setelah seluruh rencana busuknya terbongkar. Dia bisa merasakan bagaimana kemarahan yang terpendam dalam hati Danur Cakra. Setelah berjuang untuk mengalahkan Piton Berbisa, justru Danur Cakra hendak dicelakai, dikhianati merupakan satu hal yang begitu menyakitkan. Dan sekarang, wajar saja jika Danur Cakra membalas Sabdo Metu, membiarkan Piton Berbisa mengakhiri mereka semua.


"Pendekar muda, ini hanyalah salah paham. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik," teriak Sabdo Metu.


"Baiknya, kau selamatkan saja dirimu lebih dulu," Danur Cakra membuang pandangannya ke arah lain.


Dari keterangan petugas keamanan penginapan, Danur Cakra mengetahui jika Sabdo Metu merupakan seorang ahli sihir. Sudah barang pasti dia menguasai kemampuan ilusi. Meskipun tidak sekuat Piton Berbisa, tentunya sangat berbahaya jika Danur Cakra menatap mata Sabdo Metu lalu menjadi hilang kesadaran.


Wuuss! BAAMMM !!! Piton Berbisa menyerang ke arah Sabdo Metu dan Suro Mertolo. Serentak keduanya melompat menghindar. Sayangnya, Suro Mertolo tidak sengaja menatap mata Piton Berbisa.


Sebelum menyentuh tanah, mata Suro Mertolo berubah warnanya serupa dengan warna mata Piton Berbisa. Dia terkena pengaruh ilusi sang piton.


"Tidak, tidaakk, tidaaakkkk!!!!" Sabdo Metu berusaha mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, khususnya kemampuan ilusi.


Sabdo Metu berusaha keras untuk coba lepaskan pengaruh ilusi yang mengikat tubuh sahabatnya. Namun sia-sia saja, Sabdo Metu tidak berhasil berbuat apa-apa. Kekuatannya terpental dan tidak berhasil menembus dinding pelindung yang melindungi tubuh Suro Mertolo. Kemampuan ilusi yang dimiliki Piton Berbisa jauh berada di atas Sabdo Metu.


"Suro Mertolo! Sadar, ini aku!" Sabdo Metu berteriak lantang, coba untuk menyadarkan sahabatnya. Namun sia-sia, isi pikiran Suro Mertolo hanya sesuai keinginan Piton Berbisa. Yang dia inginkan hanyalah menyerang, lalu menghabisi Sabdo Metu.


Hingga setelah beberapa belas jurus berlalu keduanya masih bertarung. Luka di tubuh Suro Mertolo sama sekali tidak berpengaruh terhadap setiap geraknya. Berbeda dengan Sabdo Metu, yang justru semakin kewalahan.


Wuuusss !!! Hembusan angin perlahan melayang ke arah dua sahabat yang tengah bertarung. Harusnya semua itu tidak menjadi masalah, tapi karena angin yang berhembus mengandung racun yang dilepaskan oleh Piton Berbisa, dalam beberapa gerakan selanjutnya mereka merasakan tubuh mereka kehilangan tenaga, sebelum kemudian jatuh berlutut.


HHSSSTTT !!! Piton Berbisa membuka mulutnya lebar, memamerkan taringnya yang besar. Dia terlihat begitu puas mempermainkan manusia-manusia serakah yang sebentar lagi menjadi santapan empuknya.


DUUUAARRR !!! Satu pukulan keras menghantam kepala Piton Berbisa dengan telak, membuat si piton menjerit histeris dan terlempar ke samping. Piton Berbisa terus menjerit, tubuhnya menggeliat ke sana ke mari, dia terlihat begitu kesakitan.


Danur Cakra mendarat tepat di depan Sabdo Metu dan Suro Mertolo. Di seberang sana, Piton Berbisa telah bangkit dan terlihat semakin marah. Pukulan yang Danur Cakra berikan terlihat begitu mengusik dirinya. Bukan karena dia terkena pukulan di kepala, melainkan ada alasan lain yang membuatnya jadi demikian.


Danur Cakra melapisi selaput mata manusia maupun mata naganya dengan satu kekuatan dunia hitam yang disebut mendung kegelapan. Kali ini meski dia nampak seperti manusia normal, tapi tidak dengan matanya. Bahkan kemampuan ilusi yang dimiliki oleh Piton Berbisa tidak berhasil menembus dan mempengaruhi karena memang tidak menjangkau mata Danur Cakra.


"Evolusi siluman tahap empat. Di mana akan kau taruh mukamu saat menghadapi pertanyaan raja akhirat, ketika ternyata kau dihabisi oleh seorang yang bahkan belum melintasi barang satu gerbang," ucap Danur Cakra pada Piton Berbisa.

__ADS_1


HSSSSTTT !!! Piton Berbisa memekik keras. Dia tahu jika lawannya kali ini sama-sama berasal dari kemampuan evolusi, meskipun kenyataannya Danur Cakra baru membuka tahap evolusi. Sungguh suatu penghinaan besar bagi dirinya yang telah berada di tahap empat.


Piton Berbisa langsung melompat dan menyerang Danur Cakra dengan brutal. Dia menggunakan seluruh kepandaian, baik itu patukan, sabetan ekor sampai hantaman keras dengan menggunakan tubuh. Dan satu hal fatal yang terjadi ialah dialami oleh Sabdo Metu dan Suro Mertolo. Keduanya berada tepat di tengah-tengah medan laga. Bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika tubuh besar ular raksasa terguling ke arah mereka. Patah, hancur, seperti buah pisang terinjak pedati. Mereka menyambut maut dengan cara yang tidak wajar.


Danur Cakra sama sekali tidak menggunakan kemampuan evolusi, karena pasti dia akan mudah dikalahkan oleh evolusi tahap empat. Danur Cakra bertarung dengan gunakan jurus-jurus biasa, Sepuluh Tapak Penakluk Naga yang membuat dirinya mampu bergerak secepat kilat dan melompat seringan angin.


Berkali-kali tubuh Piton Berbisa jatuh terhempas setelah menerima pukulan yang Danur Cakra lepaskan. Danur Cakra memukul di tempat yang sama, antara leher dan kepala piton. Dan lagi, piton menjerit kesakitan setiap kali terkena pukulan, meskipun tanpa tenaga dalam sama sekali. Hal itu membuat Danur Cakra tersenyum, penuh kemenangan.


Antara leher dan kepala piton merupakan sisik pertama yang terbuka ketika proses pergantian kulit. Juga pada sisik itulah pertama kali Danur Cakra melepaskan sabetan pedang, hingga sisik tersebut hancur dan menjadi satu-satunya titik lemah Piton Berbisa yang hanya diketahui oleh Danur Cakra. Pada bagian itu, Piton Berbisa sama sekali tidak memiliki pelindung. Ketika diserang tentu akan terasa amat sakit seperti layaknya ular biasa.


"Sudah cukup, aku rasa kau sudah punya alasan yang tepat ketika ditanya raja akhirat. Sekarang bersiap menyambut kekalahanmu!" selesai bicara, Danur Cakra melompat tinggi.


Kedua tangan Danur Cakra menyala berwarna merah kehitaman, mengalirkan energi tenaga dalam dalam jumlah yang besar. Melihat bahaya mengancam, bukannya lari menghindar. Piton Berbisa justru membuka mulutnya, penuh kemarahan menyambut serangan Danur Cakra.


"Enyahlah kau!" Danur Cakra berteriak lantang seraya melepaskan pukulan Tapak Naga Kresna tepat mengenai antara celah sisik yang terluka.


Baaammm !!! Pukulan itu menghancurkan lebih dari separuh kepala piton. Ketika kepalanya menyentuh tanah, Piton Berbisa sudah kehilangan seluruh nyawa. Dia benar-benar telah dikalahkan oleh sosok manusia yang mempelajari evolusi siluman.


Gumpalan asap berwarna ungu berputar di atas kepala piton. Danur Cakra menghirup energi tersebut. Energi kehidupan terakhir Piton Berbisa. Dengan mengalahkan tahap evolusi tingkat empat, kemampuan Danur Cakra langsung meningkat setelah dia menyerap energi terakhir. Dia telah melewati gerbang pertama, berjalan menuju pertengahan tahap satu.


"Uhuukkk ... uhuukkk ... uhuukkk ..." Danur Cakra memegangi dadanya yang terasa sesak. Proses peningkatan level membuat tubuhnya terasa hampir terbakar. Karena energi siluman yang dikuasai, tentunya membuat Danur Cakra kehabisan begitu banyak oksigen. Hampir saja paru-parunya tidak berfungsi.


Tanpa disengaja, Danur Cakra manambah pembelajaran kemampuan sesat yang berseberangan dengan pakem pendekar aliran putih. Membuat dirinya semakin melangkah jauh dari ajaran ayah dan kakeknya yang merupakan pendekar aliran putih sejati.


"Ular jelek! Bisa dibayangkan saat tubuhmu ini mulai membusuk. Akankah ada yang sanggup menahan bau bangkai di seantero hutan? Ah, baiklah. Karena aku baik hati maka akan ku bantu kau untuk lenyap sekaligus," Danur Cakra mundur beberapa tindak, dia coba untuk melihat di mana ujung ekornya ular. Sangat panjang dan besar, pandangan Cakra terhalang.


Setelah menyayat beberapa kerat daging ular dan menyimpannya dengan rapi, Danur Cakra kembali memusatkan pikiran untuk mengerahkan kekuatan tenaga dalam. Kali ini dia bersiap melepaskan energi Tapak Naga Api, untuk membakar tubuh raksasa Piton Berbisa. Setelah ini, hanyalah kabar yang akan tersebar membuat gempar. Sementara yang tersisa hanyalah puing-puingnya dan tulang belulang piton yang tidak habis terbakar. Bersama cerita yang tidak akan lekang oleh waktu.


Api mulai berkobar, semakin membesar. Membakar tubuh Piton Berbisa. Menghantarkan aroma sedap ke seluruh penjuru hutan. Sedap sesedap-sedapnya bau daging mutung terbakar api.


Wiiiinggg !!! Wiiiinggg !!! Danur Cakra yang menonton konbaran api dikejutkan oleh adanya suara dengungan dari telapak tangannya. Dengan cepat Danur Cakra membuka telapak tangannya lebar-lebar, memunculkan Batu Pelacak Roh.


Batu Pelacak Roh bergetar sampai menimbulkan bunyi yang keras. Itu merupakan tanda yang tidak baik untuk seseorang yang darahnya diteteskan pada batu. Kemuning. Orang itu ialah Kemuning. Danur Cakra mengkhususkan Batu Pelacak Roh untuk bisa melacak keberadaan Kemuning, juga berkaitan dengan segala hal yang menimpa Kemuning. Saat Kemuning butuh bantuan maka batu akan memberi tanda.

__ADS_1


"Kemuning ..." Danur Cakra terbelalak, dia kembali menutup telapak tangannya, membuat Batu Pelacak Roh menghilang. Detik berikutnya tubuh Danur Cakra langsung melesat menembus cahaya rembulan. Bergerak dalam kecepatan penuh menuju ke arah Kemuning bersembunyi.


Kemuning tidak baik-baik saja. Sesuatu terjadi padanya.


__ADS_2