
"Aku tahu, saudaraku bukanlah orang yang baik. Namun demikian, dia layak untuk diperlakukan sebagaimana manusia pada umumnya," ucap Suhita lirih.
Kencana Sari bisa mengerti, Suhita pun hanyalah seorang anak manusia yang juga punya kesal dan kebencian. Meskipun selama ini dia selalu mampu untuk menekan segala macam rasa buruk dengan sikapnya yang selalu baik.
"Hita, aku percaya langit tak selamanya gelap. Hujan yang datang akan menyisakan pelangi yang akan kita nikmati keindahannya," Kencana Sari menghibur Suhita.
"Terima kasih, Sari. Tapi jangan karena kau adalah temanku, hingga kau rela melawan hati nuranimu. Dalam hal ini, aku sendiri sadar jika yang ku lakukan bukanlah sesuatu yang baik."
Kencana Sari menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak menyalahkan Suhita. Justru Sari sangat kagum atas ikatan persaudaraan antara Hita dan Cakra. Meskipun mereka secara jelas berbeda jalan, akan tetapi keduanya tetap menjadi saudara yang saling melengkapi. Saling sayang dan melindungi satu sama lain. Mata mereka tidak dibutakan oleh kerlip dunia. Seperti banyak kasus, saat sesama saudara harus bertikai bahkan saling mencelakai demi harta dan tahta.
"Aku yakin, pendekar Cakra bisa menjaga dirinya dengan baik. Dia melakukan semua ini demi untuk keselamatan kita," Kencana Sari kemudian menceritakan tentang pesan Danur Cakra padanya.
Danur Cakra menggunakan kabut hitam untuk membuat Kencana Sari melarikan diri. Cakra hanya ingin Sari terus berada di sisi Suhita untuk bisa melindunginya. Karena bagi Cakra, hidup Suhita jauh lebih berharga daripada dirinya yang jelas-jelas hanyalah sampah di dunia persilatan.
"Kau tahu, Sari. Saat kami kecil, Kak Cakra selalu mengejekku karena aku tidak bisa bela diri. Dia yang sangat kuat, setiap kali bertemu selalu menindasku. Dan saat itu aku berpikir jika aku punya seorang saudara yang jahat dan kejam. Tapi ... setelah sepuluh tahun lebih, aku baru menyadari jika dialah seorang yang paling menyayangiku bahkan melebihi dirinya sendiri," Suhita kemudian menjelaskan perjalanan kisahnya dalam mendalami ilmu kanuragan.
Seperti diketahui, Suhita tubuh di sebuah desa terpencil. Hidup bersama ibunya yang tidak lagi miliki kemampuan tenaga dalam. Sementara Ayahnya (Mahesa) terus menerus menekan Hita supaya belajar ilmu kanuragan. Membujuk Suhita, dan memberi penjelasan akan kehidupan di masa mendatang yang kejam.
Puspita Dewi melakukan hal yang sama. Dia coba untuk beri pengertian, selain memperdalam ilmu pengobatan ada baiknya Suhita pula melengkapi dirinya dengan bela diri. (Bahkan saat itu Puspita mencatat segala hal yang dia ketahui dalam buku. Baik kemampuan racun, maupun kemampuannya yang lain. Untuk kemudian Suhita baca sewaktu-waktu)
Terlepas dari bujukan kedua orangtuanya, satu hal penting lainnya yakni ketika Suhita telah mengetahui jika dirinya terlahir dengan seorang saudara kembar, Danur Cakra yang tinggal bersama Kakek dan Neneknya di tempat yang sangat jauh.
Di akui atau tidak, kehadiran Danur Cakra dalam hidup Suhita membuat sedikit demi sedikit Suhita menjadi tertarik untuk belajar tenaga dalam. Bersamaan dengan itu Suhita juga menyadari jika dalam ilmu pengobatan pun, tenaga dalam sangat diperlukan. Hingga kemudian Suhita mempelajari kemampuan tenaga dalam Sepuluh Tapak Penakluk Naga milik Ayahnya.
"Dia membuatku melakukannya tanpa harus diminta. Aku akan berhenti tanpa harus lebih dulu dimarahi. Lagi pula, kalau Kak Cakra tidak ada maka siapa orang yang akan aku tindas?"
"Tabib, kau jangan bicara seperti itu. Percayalah padaku, pendekar Cakra akan baik-baik saja! Dia bisa menjaga dirinya dengan baik."
Suhita tersenyum, dia percaya akan hal itu. Karena Suhita merasakan bahwa Danur Cakra memang masih hidup. Tapi entah dengan kondisi seperti apa.
Melihat peta kekuatan lawan, nampaknya mereka harus bergabung. Dan itu pun bukan menjadi jaminan untuk bisa mengatasi para pendekar senior aliran sesat yang datang. Suhita tidak mungkin membiarkan para penjahat itu merusak acara ulang tahun kakeknya.
__ADS_1
°°°
Di satu tempat yang cukup jauh. Ada sepasang suami-isteri paruh baya. Usia mereka hampir setengah abad. Tapi tidak nampak tanda-tanda penuaan di wajah mereka. Sang suami masih terlihat muda dan gagah, juga begitu dengan wanitanya. Wajahnya yang ayu berseri lembut terpapar sinar matahari senja.
Dialah Elang Putih dan istrinya, Puspita.
Mahesa dan Puspita telah lebih dulu tiba di barat daya Bukit Hijau. Mereka tengah mempersiapkan beberapa persiapan yang akan digunakan dalam menyambut ulang tahun ayah mereka. Segala perlengkapan telah dibeli, dan langsung dikirim ke tempat yang telah ditentukan.
"Kanda, mengapa Suhita belum datang juga, ya? Biasanya anak itu selalu tiba lebih awal," ucap Puspita.
Mahesa tersenyum, dengan lembut dia membelai rambut istrinya. "Ketika menemukan adanya pohon yang tumbang, meskipun dengan berat haruslah disingkirkan. Bukankah Dinda lebih paham bagaimana sifat anakmu itu?"
"Tapi Kanda ..."
"Sssttt ... pemikiran negatif hanya akan membuat hati menjadi tidak tenang. Sejenak singkirkanlah awan, niscaya hujan tidak akan turun."
Puspita menghela napas panjang, dia mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan oleh Mahesa.
Mahesa mendayung perahu yang mereka gunakan untuk menyeberangi sungai. Tentu dia melakukan itu hanya untuk menghabiskan waktu berdua dengan istrinya. Menikmati sore, dengan berjalan di atas air menghirup segarnya udara dari bentangan alam yang luar biasa indah.
Sudut mata Mahesa menangkap pergerakan bayangan di permukaan air. Meskipun adanya riak yang terbelah dayung, tidak menghalangi jelasnya penglihatan mata seorang pendekar dengan tenaga dalam tiada tanding itu.
Namun demikian Mahesa masih bersikap biasa-biasa saja, dia tidak memberi tahu Puspita apa pun juga. Terus bercengkrama hingga perahu yang ditumpangi menepi di sebuah taman bunga. Taman yang terbentuk oleh sentuhan alam.
"Dinda, kita makan dulu. Aku yakin di perkampungan sana ada kedai yang makanannya enak. Sesekali boleh lah mengingat bagaimana saat kita mengembara dulu," ucap Mahesa seraya membantu Puspita untuk mencapai dataran.
"Iya, Kanda. Mari, silakan ..." Puspita membungkuk sopan. Kemudian mereka berjalan bergandengan tangan mencari kedai makan.
Mahesa bersikap acuh, seolah tidak ada apa pun yang mengikuti langkah mereka. Sementara Puspita, seperti yang diketahui bahwa dia tidak lagi mempelajari kemampuan olah kanuragan. Semenjak Puspita kembali menjadi manusia seutuhnya, dia hanyalah wanita biasa. Bukannya tidak bisa, melainkan Puspita tidak mau. Takutnya, jika Puspita kembali belajar tenaga dalam maka pengaruh energi siluman rubah bulu emas akan kembali tumbuh di dalam dirinya. Lebih baik menjadi orang lemah, daripada kuat tapi membuat kerusakan.
Pada masanya, belasan tahun yang lalu diceritakan bahwa Puspita Dewi merupakan seorang pendekar yang menjadi wadah (segel) Siluman Rubah. Namun satu kesalahan yang Mahesa perbuat menjadikan segel itu terlepas dan menjadikan Puspita sebagai pendekar kejam. Mengganti namanya menjadi Cahaya Langit hingga kemudian mendirikan Aliansi Utara Selatan. Aliansi aliran sesat terbesar yang masih eksis hingga sekarang.
__ADS_1
Cahaya Langit telah tewas. Dia berhasil dicelakai oleh Elang Putih. Namun Elang Putih berhasil menyelamatkan jiwa Puspita. Hingga kemudian mereka menikah dan dikaruniai anak kembar yakni Danur Cakra dan Suhita Prameswari.
Keberadaan Puspita amat dirahasiakan. Tidak seorang pun yang mengetahui jika bekas pimpinan besar Aliansi Utara Selatan tersebut masih hidup. Menjadi manusia lemah, dan ibu rumah tangga. Dan ini pula yang menjadi alasan mengapa hubungan persaudaraan antar anak-anak Mahesa tidak diketahui oleh dunia persilatan.
Orang-orang hanya tahu kalau istri Mahesa ialah Dewi Api, dan memiliki seorang putra yang sekarang menjabat sebagai Jenderal Muda di Kerajaan Utara. Sementara Tabib Dewa yang mereka kenal, tidak memiliki sangkut paut apa pun dalam hubungan ini.
Saat sekarang, kala Raditya (Ayahnya Mahesa) berusia seratus tahun, dan akan mengadakan pesta ulang tahun di barat daya Kota Bukit Hijau. Mendadak berita tersebut bocor, hingga begitu banyak tokoh aliran sesat yang memanfaatkan kesempatan, mencari tahu di mana lokasi pasti Raditya untuk membalaskan dendam lama. Secara otomatis maka Mahesa akan muncul di sana.
Selain Mahesa, Dewi Api dan Jenderal Muda, yang luput dari mata dan telinga orang-orang ialah keberadaan keluarga Mahesa yang lain, yang selama ini menjadi rahasia.
Ada Tabib Dewa, ada juga Pendekar Naga Kresna. Yang mana kedua nama terakhir merupakan kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng. Mereka akan mampu mengacaukan segala rencana, lapisan kekuatan yang telah disusun rapi. Karena keduanya miliki kekuatan yang setara dengan Ayah mereka. Dan ketika kekuatan tiga anak Mahesa bergabung, hampir menjadi hal mustahil bagi kelompok aliran sesat untuk bisa mengambil nyawa Raditya ataupun Mahesa.
Kembali ke dalam kedai, di mana Mahesa dan Puspita memesan makanan. Sementara ada tiga orang mata-mata yang terus mengikuti setiap gerak-gerik Mahesa.
Pada awalnya Puspa tidak curiga, akan tetapi lama kelamaan dia pun mengetahui hal itu. Bagaimana pun lemahnya Puspita sekarang, tetap saja dia merupakan bekas seorang pendekar pilih tanding. Jelas jika instingnya yang semula sangat tajam, tidak lenyap begitu saja. Akan tetapi sikap Mahesa yang terlihat sangat santai, membuat Puspita tidak memikirkan semuanya. Lagi pula, Puspita lebih senang bila hidup dalam kedamaian. Selama orang-orang itu tidak mengganggu, biarkan saja.
"Dinda, kau tunggu di sini sebentar. Aku merasa ada yang perlu diselesaikan," ucap Mahesa pelan. Seraya tersenyum, Mahesa berlalu menuju kamar kecil.
Puspita memaksakan untuk tersenyum, meskipun dia tahu ke mana arah dan tujuan suaminya. Puspita akan menunggu sampai Mahesa kembali.
Di luar kedai, para pengintai mendadak kehilangan Mahesa. Mereka yang semula melihat Mahesa memasuki kamar kecil, harus menunggu dengan waktu yang sangat lama. Hingga kemudian mereka sadar jika Mahesa tidak lagi ada di dalam sana.
"Kepa*rat! Kita kehilangan jejak!" umpat seorang pengintai.
"Kita pakai wanitanya, pasti dia akan kembali," usul yang lain.
Beberapa waktu mereka mengamati keadaan, dan melihat Puspita masih duduk sendiri. Maka seorang dari pengintai lekas bangkit, hendak menghampiri Puspita.
"Seekor burung tidak akan kehilangan ruang untuknya terbang. Akan tetapi, dia lebih memerlukan ranting untuk berpijak. Mengapa harus terburu-buru?!"
Sebuah sapaan yang terdengar dari arah belakang membuat para pengintai terkejut bukan kepalang. Mereka segera berbalik badan, ingin mengetahui siapa yang datang.
__ADS_1
Akan tetapi, hal yang tidak diduga mendadak dirasa. Hanya sebentar mereka lengah, mengagumi kecantikan yang ada di wajah Puspita. Tapi waktu yang singkat itu kiranya menempatkan mereka pada posisi yang sulit saat Tapak Naga Es telah mencengkeram pergelangan kaki mereka. Tidak lain, orang yang bicara di belakang mereka adalah Mahesa, Pendekar Elang Putih yang sejak tadi mereka awasi.