Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Obat Mujarab


__ADS_3

"Kami yakin, kau datang pasti dengan maksud. Hanya saja, kami tidak tahu atas permasalahan antara dirimu dengan mereka," ujar Nyi Parang Awi.


Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya, menatap Nyi Parang Awi dengan dalam. Lalu kemudian senyum getir menghiasi wajah Cakra, "Harusnya aku yang bertanya. Kalian merupakan tokoh besar yang menjadi panutan banyak orang. Lantas mengapa harus lakukan cara yang picik hanya sekadar untuk bisa meringkus seorang Dewi Api?! Apakah kepalan tangan kalian mulai terasa lemah?"


Nyi Parang Awi tersedak napasnya, perkataan Danur Cakra terdengar sangatlah pedas. Anak kemarin sore sungguh berani berucap seenak jidat di hadapan mereka.


"Kepa*rat! Jaga ucapanmu bocah gemblung!" Dampu Awuk menunjuk pada Danur Cakra, emosinya seketika tersulut.


Danur Cakra tertawa menyaksikan para sesepuh aliran hitam yang ada dihadapannya. Meskipun usianya masih sangat muda, tapi tentu saja Danur Cakra telah miliki kemampuan yang hampir menyamai mereka, hingga dia sama sekali tidak punyai rasa takut pada orang-orang di hadapannya.


Nyi Parang Awi kembali mengajak Danur Cakra bercakap-cakap. Dan seperti yang sudah Cakra duga, kelompok aliran sesat dari Lereng Utara itu mengajaknya untuk bergabung. Bersama menyerang dan menghancurkan pesta ulang tahun Raditya yang tidak lama lagi akan digelar di barat daya Kota Bukit Hijau.


"Kalian sudah tahu di mana lokasinya?" kejar Danur Cakra dengan antusias.


Nampak jika Danur Cakra sangat serius menanggapi setiap perkataan mereka. Bukan karena Cakra tertarik untuk bergabung dan menyerang, akan tetapi karena Cakra sangat penasaran atas apa yang telah diketahui oleh Lereng Utara, makanya Cakra harus berpura-pura, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan.


Anggap saja Danur Cakra telah setuju. Dengan demikian dia akan berada di dalam tubuh Lereng Utara, melihat secara dekat apa yang telah direncanakan oleh para penjahat itu terhadap kakek dan keluarga Cakra yang lain.


Di sisi lain, tentu saja Nyi Parang Awi dan Muning Raib tidak serta merta menaruh kepercayaan. Dengan miliki kemampuan yang mereka ketahui berasal dari aliran putih, tentu saja besar kemungkinan bahwa Cakra hanya berpura-pura. Coba untuk bergabung hanya untuk memata-matai. Bukannya Nyi Parang Awi bodoh, tapi mereka tentunya sudah siap dengan satu rencana.


Cepat atau lambat pasti mereka akan bisa menguak teka-teki atas diri Danur Cakra. Mereka akan terus mencari tahu siapa guru yang telah menurunkan jurus rahasia pedang dua belas yang tadi Danur Cakra tunjukkan. Besar kemungkinan jika anak muda itu benar miliki hubungan dengan Raditya dan Rengganis. Tapi semoga saja, dia merupakan seorang murid yang berkhianat. Karena dilihat dari seluruh aura yang dimiliki Cakra, sepenuhnya diliputi aura hitam yang amat gelap. Tentu itu merupakan harapan kelompok Lereng Utara, karena keberadaan anak muda seperti Cakra akan sangat-sangat menguntungkan mereka.


°°°


"Huuuhhh ... semoga saja Suhita berhasil menyelamatkan Bibi Dewi. Dan semoga tidak ada lagi yang menghalangi jalan mereka."


Danur Cakra berdiri di sebuah batu besar, seraya melepaskan pandangannya ke segenap penjuru. Melihat hamparan hijau, pegunungan yang tertata rapi oleh sang pencipta.

__ADS_1


Danur Cakra segera menyudahi lamunannya ketika dia merasakan adanya seorang yang mendekat ke arahnya. Cakra menunggu sampai sosok itu benar-benar menghampiri atau sekadar memata-matai dirinya.


Danur Cakra tidak terbiasa hidup dalam satu lingkungan, kelompok apalagi organisasi. Sejak kecil dia sangat menyukai kebebasan. Bebas dalam segala hal. Berpikir, bertindak dan menentukan keputusan. Cakra tidak senang berada di dalam tekanan, apa lagi yang namanya peraturan. Baginya, peraturan dibuat untuk dilanggar.


"Hei, apa yang kau lakukan di sana? Cepat tunjukkan batang hidungmu, atau aku yang akan mengambilnya!" Danur Cakra berujar.


Dampu Awuk menampakan dirinya, meskipun dengan terpaksa dia segera berjalan mendekati Danur Cakra. Dari sekian banyak para pendekar di Lereng Utara, Dampu Awuk termasuk salah satu orang yang paling tidak menyukai Danur Cakra. Bisa dilihat dari caranya bersikap, Dampu Awuk yakin jika Danur Cakra merupakan seorang yang sangat licik.


"Apa yang sedang kau cari? Informasi?!" Dampu Awuk menyeringai.


Danur Cakra tidak menjawab, dia bergerak mendekat. Tangannya terjulur dan berhasil menangkap leher Dampu Awuk, dengan gunakan kemampuan siluman, Cakra berhasil mengunci kelengahan Dampu Awuk. Saat Dampu Awuk masih terfokus pada bahasa tubuh Cakra yang hanya diam dan seolah tanpa reaksi, membuat dirinya tidak memprediksi kalau Cakra telah persiapkan satu serangan di alam evolusi.


"Kau sangat cerdas! Level kelicikan yang kau punya bahkan melebihi cara pimpinan kalian berfikir. Dan kau tahu, orang-orang seperti dirimu lah yang gampang hampiri maut!" ucap Danur Cakra.


Dampu Awuk sama sekali tidak gentar mendengar ucapan Cakra. Dan sebenarnya inilah yang dia inginkan, mengadu kemampuannya dengan bocah yang sangat menyebalkan itu.


Danur Cakra balas menatap dengan tajam. Tidak begitu banyak yang dia ingin, setelah berhasil memuluskan jalan pelarian Suhita itu sudah lebih dari cukup. Jika sekarang harus kembali terlibat pertarungan, bukan suatu masalah baginya.


Danur Cakra yang merupakan seorang pemarah tentu saja langsung tersulut emosi. Dampu Awuk yang berdiri di hadapannya telah ditandai sebagai titik mangsa. Tanpa basa-basi, Cakra langsung melancarkan serangan ke arah Dampu Awuk.


Pertarungan tidak terelakkan lagi, Dampu Awuk berhasil memprovokasi Cakra hingga menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Meskipun seorang tokoh aliran sesat, tapi di dalam hati Danur Cakra masih menyimpan rasa empati terhadap keluarga. Terlebih pada saudara kembar yang amat dia sayang, Cakra akan melakukan apa pun demi senyum sang adik.


Setelah bertarung beberapa jurus, Dampu Awuk baru menyadari betapa berbahayanya setiap serangan yang Cakra layangkan. Tidak ada ruang untuk melarikan diri, Dampu Awuk hanya bisa berada pada posisi bertahan dalam beberapa waktu. Hingga kemudian Tapak Naga Kresna berhasil membekuk perlawanan yang ia lakukan.


"Kau ... kau bukan manusia ..." Dampu Awuk menunjuk lurus pada Cakra.


"Hahaha! Kau terlambat menyadarinya sobat!" Danur Cakra tertawa mengerikan, dengan gerakan tangan yang begitu cepat, menembus dada Dampu Awuk tanpa ampun.

__ADS_1


Cakra membetot, menarik keluar jantung Dampu Awuk. Dengan brutal dia meremas organ tubuh lunak itu hingga hancur. Dampu Awuk tidak lagi bisa menghindar dari kematian. Dia harus merelakan dikalahkan oleh seorang bocah siluman.


Setelah Dampu Awuk tidak lagi bergerak, Danur Cakra kembali pada kesadarannya. Dia memastikan wilayah di sekitarnya tidak ada siapa-siapa, tidak ada saksi mata yang melihat betapa brutalnya Cakra menghabisi seorang anggota Lereng Utara.


"Sialan! Kau hampir mengacaukan rencanaku!" Danur Cakra memetikkan jari telunjuknya, seketika api membakar jasad Dampu Awuk hingga lenyap menjadi abu.


Pepohonan dan burung-burung hutan secara bersamaan memalingkan pandangan mereka, tidak bersedia menjadi saksi atas apa yang baru saja terjadi. Biarlah hanya jadi rahasia, disimpan oleh langit nan jauh.


°°°


Di tempat lain, Suhita telah berhasil membuat Dewi Api kembali sadar. Pengaruh air di padang tandus telah berhasil Hita netralisir. Terlebih, sisa air di tempat minum masih ada. Hingga Suhita memerintahkan Kencana Sari untuk segera memasak air itu dan digunakan sebagai obat penangkal.


Ya, obatnya memang mudah. Cukup dengan merebus air padang tandus tersebut hingga matang, lalu air yang hangat-hangat kuku diminumkan dan seketika sakitnya akan sembuh.


Raka Jaya bisa tenang setelah mengetahui hal tersebut. Mereka akan kembali pada kondisi semula, dengan demikian akan bisa hadapi sebesar apa pun serangan lawan. Ada Suhita bersama mereka, tentu tidak akan ada energi negatif yang harus ditakuti.


"Hita, terima kasih ..." ucap Raka Jaya dengan senyum, diiringi anggukan kepala Dewi Api.


"Tidak perlu sungkan. Lagi pula, tidak akan ada yang bisa Hita lakukan jika tanpa bantuan Kak Cakra. Dia membuat kita bisa lari dengan selamat, dan sekarang tidak tahu apa yang menimpanya ..." jawab Suhita dengan lirih.


Suhita tahu kalau Dewi Api sangat menghargai dirinya karena begitu banyak hal baik yang Suhita lakukan. Tapi sikap Dewi Api sangat berbeda pada Danur Cakra. Karena Cakra merupakan seorang begajulan, dan tidak pandai bertata krama. 


"Bibi, setelah meminum air ini maka kondisi Bibi akan kembali pada sedia kala. Jangan khawatir, semua baik-baik saja," Suhita memberikan air hangat untuk Dewi Api dan Raka Jaya minum, untuk menetralisir pengaruh racun di dalam tubuh mereka. "kalau begitu Hita sekalian mohon pamit. Permisi!"


Tanpa menunggu jawaban, Suhita membungkukkan badannya beberapa kali. Diikuti Kencana Sari Tabib Dewa segera melangkah meninggalkan Dewi Api.


"Hita, kau mau ke mana?" Raka Jaya terbelalak lebar.

__ADS_1


Suhita akan pergi mencari Danur Cakra, bukankah sama saja dengan mendatangi sangkar harimau?


__ADS_2