
Angin yang berhembus pelan menyampaikan pesan mengenai keberadaan orang yang bersembunyi. Aura yang terpancar membuat Mahesa bisa mendeteksi jika mereka hampir tiba di Cugung Badas. Di mana telah terjadi kesepakatan jika akan ada huru-hara di sana. Kelompok pembunuh bayaran itu telah bersiap dengan kekuatan penuh.
"Tidak di sangka, mereka miliki kekuatan yang sangat besar. Aku tidak menyangka, jika orang yang hendak celakai putriku memiliki harta kekayaan yang banyak. Tidak sungkan keluarkan begitu banyak uang," Mahesa menggelengkan kepalanya.
Kali ini, kesabaran Mahesa telah mencapai batas. Sudah cukup baginya berpura-pura teguh dan sabar. Menekan segala gelora kemarahan yang sejak lama berderu demi untuk menunjukkan pada putrinya jika hidup harus dijalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Di dunia persilatan, kemuliaan hati semacam itu bukanlah patokan seseorang bisa dikatakan baik. Mana kala mampu hentikan kezaliman, maka pada saat yang sama pendekar akan menjadi sosok malaikat.
"Ayah mau ke mana?" Suhita menggenggam erat jubah yang Mahesa pakai, dia telah menduga kalau ayahnya pasti akan melompat pergi.
"Hita, ayah akan alihkan perhatian mereka. Sekaligus untuk mencari tahu seberapa besar kekuatan yang mereka miliki. Kau tetaplah tenang di atas kuda," jawab Mahesa.
"Tidak, ayah. Hita tidak akan biarkan itu terjadi. Ayah tidak boleh membahayakan keselamatan ayah demi diriku. Kita hadapi semuanya bersama. Hita janji, tidak akan menyulitkan ayah," Suhita tetap ngotot untuk tidak izinkan ayahnya pergi. Tangannya semakin erat menggenggam jubah sang ayah.
Mahesa menyerah. Dia tidak mungkin terus memaksa. Rasanya sudah saatnya dia menunjukkan bagaimana cara kerja para pendekar yang sesungguhnya. Lagi pula esok atau lusa, tahun ini atau lima tahun lagi, Suhita pun pasti akan menemui di mana ada aliran darah yang menganak sungai tercipta hanya demi untuk satu keyakinan. Keyakinan akan kebenaran.
"Pesan ayah, jika nanti terjadi kekacauan maka kau jangan pernah ragu dalam bertindak. Lakukan apa yang semestinya kau lakukan. Lindungi diri sendiri, jangan hiraukan kepentingan orang lain," ucap Mahesa pelan.
Suhita mengangguk. Setidaknya dia tidak berada dalam keadaan membantah perintah sang ayah. Masalahnya tidak sesederhana seperti apa yang tertulis di dalam buku yang mengagungkan suara kebenaran dan welas asih. Setidaknya, Suhita tidak harus terluka meskipun tanpa menebar kelukaan.
"Baiklah. Tujuan kita ialah mencapai Kota Giling Wesi sebelum fajar. Kita harus lakukan semua sesuai rencana. Ayah tidak ingin, kau kehilangan kepercayaan besar yang sekarang sedang kau pikul."
__ADS_1
"Baik, ayah. Hita mengerti. Tapi Hita mohon, untuk ayah selalu berhati-hati. Mereka adalah orang-orang kejam."
"Ya, semoga Tuhan selalu melindungi kita."
Kuda yang mereka tunggangi menghentikan langkah. Di depan mereka telah berdiri beberapa orang dengan pedang terhunus. Mahesa tersenyum, dia bisa menduga jika trik seperti ini sangat umum digunakan dalam medan yang gelap.
Mahesa mengangkat tangan kanannya. Dari telapak tangan itu muncul energi yang berbentuk cahaya berwarna putih terang. Beberapa bola energi melayang ke udara, memberikan penerangan di seantero wilayah itu. Membuat hari seperti telah berangsur pagi. Suasana berubah, mereka bisa saling pandang tanpa ada halangan. Bersamaan dengan itu, terlihat jelas jika kekuatan yang menghadang Mahesa lebih kuat yang berada di sisi kiri dan kanan jalan.
"Formasi Capit Udang. Rasanya aku tidak heran lagi. Sungguh, aku merasa kalian sangat luar biasa!" seru Mahesa dari atas panggung kuda.
Para pembunuh bayaran yang telah bersiap terlebih dahulu saling bertukar pandang. Mereka menyadari jika lawan yang bakal dihadapi adalah seorang dengan kemampuan tenaga dalam sangat tinggi. Bahkan pancaran energi tenaga dalam yang dilepaskan saja, bisa membuat formasi andalan mereka menjadi tidak berguna.
Mahesa telah lebih dulu bergerak. Dia melepaskan beberapa pukulan ke arah samping kiri dan kanan, mengganggu konsentrasi mereka yang tadi bersembunyi. Sebelum kemudian mendarat dan menghantam satu per satu lawan.
"Kau tangkap bocah kecil itu. Aku yakin, tidak bakal ada yang bisa diperbuat oleh pendekar sialan ini!" pimpinan pasukan memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk bergerak menyerang Suhita yang masih duduk tenang di atas punggung kuda.
Tanpa menunggu lama, tiga orang pembunuh bayaran itu langsung menyergap ke arah Suhita. Sudut mata Mahesa sempat menangkap pergerakan tiga orang itu, tapi Mahesa yakin jika kemampuan yang telah dia turunkan pada Suhita bisa dengan mudah atasi. Bukannya merendahkan kemampuan lawan yang telah profesional, tapi kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga milik Suhita memang sudah cukup untuk diandalkan meski hanya diimbangi dengan teknik bertarung pada tahap pemula.
Benar saja, sebelum salah satu mata pedang yang melayang ke arahnya tiba, Suhita telah lebih dulu turun dari punggung kuda. Jurus tarian naga yang mengikuti gerakannya bahkan berhasil memukul mundur seorang lawan.
__ADS_1
"Hati-hati kakang, bocah ini nampaknya berenas juga," bisik seorang penyerang.
"Mengapa kalian menyerangku?! Apa yang kalian inginkan?" tanya Suhita polos.
"Hahaha! Tentu saja, kami inginkan nyawamu!" dengan seringai yang menyeramkan, seorang pembunuh menjawab dalam ejekan.
"Aku hanya punya satu nyawa. Maafkan jika aku tidak akan serahkan pada kalian dengan begitu saja," selesai berucap, Suhita memasang kuda-kuda. Dia telah bersiap dengan mengalirkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya.
Melindungi diri, nampaknya merupakan suatu keharusan yang bakal Suhita temui dalam setiap perjalanan hidupnya ke depan. Dengan memilih jalan hidupnya sebagai seorang tabib, akan dihadapkan pada banyak pilihan kebaikan. Namun juga akan berbenturan kepentingan dengan hasrat orang lain yang meletakkan dirinya pada pilihan antara hidup atau mati.
Dengan tangan kosong, dua anak dan ayah itu meladeni setiap serangan yang dilancarkan oleh para pembunuh bayaran. Hampir tidak ada kekuatan yang tersisa, seluruh anggota pembunuh telah turun tangan arena laga. Tidak ada giliran ataupun gelombang serangan yang merupakan ciri khas Formasi Capit Udang. Dengan kata lain, taktik yang mereka terapkan telah gagal total. Sekarang, para pembunuh bayaran itu harus bertarung secara kesatria di bawah cahaya yang terang.
Tanpa di duga, Suhita telah lebih dulu menghentikan serangan ketiga lawannya. Dia lebih cepat beberapa jurus dari perkiraan sang ayah. Tidak ada lawan yang Suhita celakai. Rata-rata mereka hanya mengalami luka dalam dan patah tulang yang membuat tidak sanggup untuk berdiri.
"Baguslah. Hita tahu, apa yang seharusnya dia lakukan," batin Mahesa dengan senyum.
Dalam gerakan berikutnya, Mahesa bergerak dengan cepat melompat ke udara. Kemudian muncul dengan posisi tangan terjulur ke bawah. Melepaskan pukulan bayangan naga berwarna putih menghantam dan menggulung tubuh lawan dengan brutal.
TEP! KRAAAKKK!
__ADS_1
Mahesa menangkap dan memelintir lengan kanan pimpinan pasukan pembunuh hingga terdengar suara khas dari engsel yang terlepas. Dari mulut orang itu, Mahesa inginkan keterangan.