
"Tidak di sangka. Kau yang terlihat begitu baik dan polos ternyata adalah seorang anak haram. Sekarang apa lagi yang bisa dibanggakan?! Bahkan kau sama sekali tidak pantas untuk tetap hidup!"
Suhita terkejut luar biasa mendengar kalimat yang diarahkan padanya. Namun dia seperti telah amat mengenal dengan suara itu. Ya, siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya.
"Ini pasti halusinasi yang diciptakan untuk semakin menekan mentalku. Aku tidak boleh terpedaya," batin Suhita. Hanya tatapan matanya yang membalas begitu tajam.
"Hei, kau tidak perlu marah seperti itu. Aku hanya sedang latihan. Melatih dirimu, juga diriku. Melatih telinga dan hati kita supaya bisa kebal dan sabar akan gunjingan orang-orang. Karena kalimat semacam itu akan menjadi akrab di telinga kita nanti," Danur Cakra melanjutkan bicaranya. Wajahnya terlihat tidak terbebani saat mengatakan semua itu.
"Siapa kau ini?! Aku bahkan tidak pernah melihatmu seburuk ini. Baiknya sekarang juga kau angkat kaki dari tempat ini," jawab Suhita. Tabib kecil itu sangatlah tidak suka mendapati sikap saudaranya yang menganggap masalah yang mereka hadapi adalah main-main.
"Menolak kebenaran adalah salah satu tanda seseorang yang tidak siap hadapi kerasnya hidup. Masalah itu untuk dihadapi, bukannya untuk dihindari. Untuk apa membohongi diri sendiri," tegas Danur Cakra.
Suhita terdiam. Ada kebenaran dari ungkapan yang baru saja terlontar dari mulut Danur Cakra. Suhita juga melihat jika wajah Danur Cakra nampak menyembunyikan suatu beban yang teramat berat. Karena bukan hanya Suhita, tapi Danur Cakra pun alami hal yang sama. Mereka hanya berpura-pura tegar, terus berusaha untuk membohongi hati nurani.
"Bagaimana kau juga bisa ada di tempat ini?!" Suhita mempertanyakan nasib yang menimpa Danur Cakra.
"Itu tidak penting. Bagaimana kau bisa datang, itu juga yang terjadi padaku," jawab Raka Jaya singkat.
Suhita tersenyum getir. Dia mulai menduga jika orang yang ada di hadapannya bukanlah Danur Cakra yang sebenarnya. Besar kemungkinan jika itu benarlah halusinasi semata.
__ADS_1
"Jika kau maju satu langkah lagi, maka jangan salahkan diriku!" Suhita memperingatkan.
"Wow, kejadian yang begitu singkat ternyata telah berhasil menempa hingga kau berubah sikap. Baiklah, kalau begitu aku akan pergi saja. Tapi ingat, semuanya tidak akan merubah semua yang terjadi. Kau adalah seorang anak haram. Anak yang terlahir dari hasil hubungan terlarang, anak yang tidak pantas untuk peroleh kehormatan!"
"CUKUUUPPP !!! HENTIKAAANN !!!" Suhita berteriak sekuat tenaga. Tangannya pun mengepal keras.
Namun Danur Cakra Prabaskara tidak perduli. Senyuman penuh ejekan tetap tersungging di wajahnya. Tanpa menoleh, dia kembali melanjutkan langkah.
Suhita tidak mengerti, mengapa kemarahan di dadanya begitu menderu dan tidak bisa untuk dikendalikan. Dia tidak terima jika dikatakan sebagai anak haram. Bahkan ayah dan ibunya pun tidak pantas untuk dipersalahkan. Suhita cinta pada keluarganya. Tapi mengapa, mengapa Danur Cakra justru sebaliknya?!
"Tidak, dia bukanlah Kak Cakra. Sosok itu hanyalah bayangan ketakutan dalam hatiku. Rasa takut dan kecemasan yang berlebih, membuat Bulan Jingga mampu untuk ciptakan halusinasi yang seolah terlihat nyata. Hita ... tenang, kau tidak boleh terbawa suasana. Tenang ..." Suhita menghela napas berulang kali. Kedua matanya terpejam, sekuat tenaga menekan gemuruh di dalam dadanya yang membuncah dan hendak meledak saat itu juga.
Suhita merasakan detak jantungnya kembali normal, bulu kuduknya tidak lagi berdiri. Hingga semilir angin yang berhembus perlahan, mampu menyamarkan desah napasnya yang semula teramat kasar.
"Sudah cukup! Jangan katakan apa pun lagi. Aku tidak ingin mendengarnya!" ujar Suhita mendahului.
Danur Cakra abai, dia tidak hirau akan perkataan Suhita dan kembali mengeluarkan suara. Mengintervensi Suhita atas masalah yang baru saja Hita ketahui.
Karena tidak tahan lagi untuk mendengar penghinaan yang dituduhkan atas keluarganya, Suhita lekas mengambil tindakan untuk menghentikan Danur Cakra. Tangan Suhita yang telah dialiri tenaga dalam langsung terangkat dan melepaskan pukulan ke arah tubuh Danur Cakra.
__ADS_1
Pukulan Tapak Naga Es yang Suhita lepaskan menjadi berkali lipat kekuatannya ketika ada kemarahan yang menyertai di dalam pukulan itu.
DAAARRR !!! Satu ledakan keras menggema. Suhita berhasil melakukan serangannya dengan sempurna.
Tapak Naga Es yang Hita lepaskan berhasil mengenai tubuh Raka Jaya dan mengubah sosok itu menjadi serpihan es. Namun yang tidak masuk akal ialah dinding gua yang juga terimbas pukulan. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda jika pukulan tenaga dalam milik Suhita menunjukkan reaksi. Dinding itu masih utuh seperti semula. Bisa disimpulkan jika saat ini, Hita berada dalam gua ilusi. Di mana kekuatan sihir mendominasi di dalamnya.
Dada Suhita masih berdebar tidak karuan, rasa kekesalannya masih terpancar jelas. Sungguh Hita tidak bisa terima saat keluarganya direndahkan. Ingin rasanya Suhita menitikkan air mata, tapi dia tahu jika itu bukanlah jalan keluar.
Penasaran, sekali lagi Suhita memusatkan pikirannya. Dia mengalirkan segenap kekuatan pada kedua telapak tangannya, bersiap untuk kembali menghantam dinding gua. Hita tidak yakin jika dinding gua itu bisa selamanya bertahan dari pukulan tenaga dalam.
BAAAMMMM !!! Dinding kembali bergetar. Serpihan debu berhamburan dari berbagai penjuru. Sejenak, Suhita mengerutkan dahi. Dia sadar, jika ada kekuatan lain yang juga menghantam dinding gua itu. Tapi dari mana, apakah di ruangan sebelah pula ada orang yang disekap?!
Tidak salah lagi, dugaan Suhita benar adanya. Memang ada orang dengan kekuatan yang sama juga berusaha untuk menghancurkan dinding gua dari ruangan sebelah. Dia adalah Danur Cakra. Bahkan, Danur Cakra telah menghabisi orang yang coba untuk datang melihat. Nampaknya setiap anggota Klan Perisai Hujan, memiliki teknik khusus untuk bisa keluar masuk ruangan tanpa terhalang oleh kekuatan ilusi yang sengaja mereka pasang.
"Seseorang juga ada di seberang sana. Aku pasti bisa keluar dari sini," Danur Cakra mengepal keras. Matanya merah menyala, kemarahan telah menyelimuti seluruh jiwanya.
Sama seperti halnya Suhita, Danur Cakra juga di datangi oleh bayangan ilusi yang melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Meskipun cerita yang menyebutkan atas ibunya benar, sebagai seorang anak pastinya Danur Cakra tidak bisa terima. Memang, sejak kecil Danur Cakra tidak tinggal dengan kedua orangtuanya. Tapi dengan sepenuh hati Danur Cakra yakin jika semuanya tidak seburuk seperti yang mereka katakan.
"Tidak perduli siapa pun. Berani menyakiti keluargaku, maka akan berhadapan denganku! Tidak perduli kawan maupun lawan, selama menghalangi jalanku maka dia harus mati lebih dulu dariku."
__ADS_1
Danur Cakra kembali mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya. Sebelum kemudian dia berhenti ketika di salah satu dinding yang menampilkan pemandangan yang memperlihatkan halaman depan padepokan. Di sana terlihat para anggota klan yang tengah bersiap siaga. Nampaknya mereka akan menyambut kedatangan tamu yang sangat istimewa. Seperti mau perang besar saja.
Apa maksudmu ini semua? Dan siapa yang bakal datang, mungkinkah mereka yang berkepentingan dengan penculikan ini?!