Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Duduk Nikah, Tegak Cerai


__ADS_3

Untuk sekadar diingat, angin yang datang membawa kabar sama sekali tidak terikat tanggung jawab atas kabar baik ataupun buruk. Meskipun karenanya akan banyak timbul masalah yang tidak diharapkan.


Tak ubah pula karma baik dan karma buruk, datang beriringan bersama dengan guratan takdir. Saat dia mendekat, tidak mungkin ada kuasa yang bisa tuk menolak.


"Hehehe ... sayangku, sekarang kita sudah resmi menjadi suami istri. Kau tahu, apa kewajiban utama seorang istri? Melayani suaminya. Hehehe ... bahkan cahaya matahari tidak akan mampu hentikan aku, terlalu lama untuk menunggu gelap. Biar aku bantu untuk tanggalkan pakaianmu," Juragan Abdi menyeringai penuh nafsu. Wajahnya terlihat seperti seekor anjing yang mendapatkan tulang.


Kemuning justru menangis, air matanya tumpah tidak tertahankan. Meskipun dia telah dijadikan istri, tapi pernikahan itu tidak sah. Kemuning sama sekali tidak pernah berkata iya. Menikah hanya karena terpaksa, disebabkan Kemuning dalam keadaan luka parah. Bahkan untuk bangkit saja dia tidak mampu. Sekarang haruskah dia menyerahkan mahkota dara yang selama ini dia jaga pada seorang yang justru dia benci? Tidak mungkin Kemuning mau melakukannya.


"Hehehe! Percuma kau coba berontak, tidak akan ada yang bisa mengubah keadaan. Bahkan dewa sekali pun tidak mungkin bisa lindungi. Dirimu, tubuhmu, semua tentangmu adalah milikku. Sekarang aku inginkan, maka kau harus menyerahkan!" Juragan Abdi membuka jubah pengantinnya. Saat itu juga, dia ingin memiliki Kemuning seutuhnya.


BRAAAKKKK !!!!


Belum juga sempat melanjutkan aksi, Juragan Abdi dikejutkan oleh suara pintu yang didobrak. Bukan di dobrak, melainkan sesosok tubuh yang menghantam pintu tersebut hingga jebol. Seorang pendekar menggelepar hembuskan napas terakhir, punggungnya hancur setelah menghantam pintu dengan keras. Bukan main! Juragan Abdi terkesiap menyaksikan pendekar yang merupakan pengawal pribadinya mati mengenaskan.


Dari balik debu asap yang mengepul, muncul sosok pemuda bertubuh tegap. Menatap nanar dengan mata merah menyala. Juragan Abdi tidak mengenali siapa pendekar muda itu. Tapi instingnya mengatakan kalau dia datang karena Dewi Kundalini alias Kemuning.


"Si-siapa kau?! Ada perlu apa?!" tanya Juragan Abdi dengan suara bergetar.


Sementara Juragan Abdi menjadi pucat pasi, justru secercah harapan terpancar dari wajah Kemuning. Diambang rasa putus asa, di ujung harap yang hampir hampa, akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu muncul. Danur Cakra datang untuk membebaskan dia dari segala derita.


"Serahkan gadis itu padaku!" Danur Cakra menunjuk pada Kemuning.


"Tidak! Dia adalah istriku yang sah. Tidak seorang pun akan bisa pisahkan kami berdua," tolak Juragan Abdi.


Gigi geraham Danur Cakra sampai gemertukan, bersuara cukup keras. Dia benar-benar marah. Memang benar Juragan Abdi telah berhasil membuat dia sekarang jadi suami Kemuning. Tapi sama sekali Danur Cakra tidak inginkan hal itu, pernikahan secara paksa, pernikahan yang hanya sepihak semata. Danur Cakra sama sekali tidak bisa menerima.


"Ceraikan dia sekarang!" bentak Danur Cakra.


"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan melakukannya," Juragan Abdi bersikeras untuk tetap mempertahankan Kemuning.


"Dalam peperangan, banyak wanita yang mendadak jadi janda. Karena apa? Karena suaminya meninggal, gugur dalam pertempuran. Kau tahu, kejadian tersebut bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Tidak terkecuali di sini," suara Danur Cakra begitu dingin, seperti hembusan napas malaikat penjemput nyawa.


Bulu kuduk Juragan Abdi seketika berdiri. Dia paham betul apa yang dimaksud oleh Danur Cakra. Dengan kata lain, Danur Cakra akan membunuh Juragan Abdi supaya Kemuning tidak lagi miliki ikatan dengan siapa pun juga. Ikatan suami dan istri akan seketika terputus setelah salah satu dari mereka meninggal dunia.


Sebisa mungkin Juragan Abdi coba untuk mengulur waktu hingga para pengawalnya datang. Dia tidak pernah rela untuk melepaskan Kemuning begitu saja. Sudah begitu banyak pengorbanan yang dia keluarkan. Harta bendanya sudah banyak terkuras, masa iya harus kandas sebelum dapatkan apa-apa.


Set! Set! Selenteng muncul diikuti Tukang pukul berbadan robot yang tadi melepas Danur Cakra. Tebakan Juragan Abdi tidak meleset. Anak buahnya muncul.


Danur Cakra langsung menyambut keduanya dengan pukulan tenaga dalam Tapak Penakluk Naga. Seketika bayangan dua ekor naga menggeliat, berputar dan langsung menyergap dua orang yang baru datang tersebut.


Di dalam kamar yang harusnya menjadi tempat yang paling menyenangkan untuk pasangan pengantin baru, sekarang justru berubah menjadi medan laga. Di mana satu sama lain saling mempertaruhkan selembar nyawa. Mengerikan!


Mulut Juragan Abdi cuma bisa ternganga menyaksikan satu persatu barang-barang mahal di kamarnya hancur akibat terkena pukulan dan sabetan senjata tajam. Terlebih lagi kala pukulan tenaga dalam yang Danur Cakra lepaskan, kerusakan kamar semakin parah.


Beberapa jurus berlalu, tidak nampak tanda-tanda jika Danur Cakra akan bisa dilumpuhkan. Justru tukang pukul yang semula tegap seperti robot, sekarang tidak lagi berdiri dengan sempurna. Beberapa tulang rusuknya patah setelah menerima pukulan Danur Cakra. Dalam kesakitan, dia tidak lagi miliki kemampuan sempurna dalam menghindar. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Danur Cakra untuk menyarangkan satu pukulan keras.

__ADS_1


BAAMMM!!! Tubuh si tukang pukul terhantam dengan keras, terdorong jauh ke luar ruangan. Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, hembusan napas terakhirnya telah lebih dulu terhenti. Dia tewas bahkan tanpa bergerak sedikit pun.


Tidak berselang lama, Selenteng mengambil satu keputusan yang salah. Dia yang semula menduga kalau Danur Cakra lengah, segera melompat dan menghentakkan tenaga dalam kekuatan penuh. Berharap pukulannya membuatkan hasil dengan memberi luka dalam pada diri Pendekar Naga Kresna.


Berharap menelan madu, tapi justru air tuba. Danur Cakra membuka tangannya, menyambut serangan Selenteng dengan suka cita. Naga hitam yang dia gunakan mengembalikan pukulan Selenteng hingga menghantam dirinya sendiri, sekaligus memberikan bonus berupa energi gelap yang menutup aliran pernapasan Selenteng. Menderita luka dalam yang parah, ditambah dengan gangguan pernapasan. Tentu saja membuat Selenteng kehabisan cara untuk bertahan.


Danur Cakra muncul tepat di hadapan Selenteng, tatapan mata malaikat pencabut nyawa terakhir kali Selenteng lihat sebelum kemudian bilah pisau menembus jantungnya. Pukulan Kuku Naga membuat dada Selenteng seperti dirajam.


Danur Cakra mengerahkan tenaga dalam pada telapak tangannya. Suhu menjadi meningkat dalam sekejap. Di telapak tangan Danur Cakra perlahan muncul butiran api yang terus membesar hingga membentuk bola api yang besar.


"TIDAAAKKK !!!!" Juragan Abdi berteriak keras ketika menyaksikan Danur Cakra melemparkan bola api tersebut. Dengan cepat, api melahap bangunan rumah utama yang begitu megah.


Danur Cakra berkelebat, tiba-tiba dia sudah berada di sisi Juragan Abdi, memelintir tangan Juragan Abdi dengan keras. Sampai-sampai sang juragan meringis hampir menangis.


"Ceraikan dia sekarang!" bentak Danur Cakra terus memaksa.


Tubuh Juragan Abdi diangkat dan dibuat berlutut di hadapan Kemuning. Danur Cakra terus memelintir tangan Juragan Abdi sampai pria tua itu mengucapkan kalimat ceria pada Kemuning.


KRAAAKK! AAAAKKHHH!!!


Jerit pilu terdengar menyayat hati setelah sendi dari lengan kanan Juragan Abdi terlepas dari tempatnya. Juragan Abdi kelojotan menahan sakit. Air matanya mengalir, menangis menikmati kesakitan yang amat sangat.


Danur Cakra meraih lengan kiri Juragan Abdi, memelintir dan pasti akan kembali dipatahkan jika Juragan Abdi tidak segera mengucapkan kata cerai.


"Baik! Baik! Aku akan ceraikan dia!" akhirnya Juragan Abdi menyerah. Siksa di luar prikemanusiaan memaksanya untuk melupakan segala pengorbanan dan merelakan Kemuning lepas dari sisinya.


"Kundalini, aku menceraikan mu! Kau bukan istriku lagi!" ucap Juragan Abdi dengan suara lantang.


Sah. Mereka telah resmi bercerai. Menikah karena terpaksa, bercerai di bawah ancaman. Kemuning menjadi janda dalam waktu kurang dari satu hari. Duduk menikah, berdiri cerai.


"Bagus! Kau sekarang tidak lagi miliki hak apa pun. Mantan istrimu bebas pergi ke mana dan bersama siapa saja. Andaipun kau tidak menceraikan, aku bisa buat kalian berpisah," ucap Danur Cakra.


Juragan Abdi merasa kalau Danur Cakra tidak akan membebaskan dirinya dengan begitu saja. Ada hal lain yang diinginkan pendekar muda itu. Apa mungkin, dia pula seorang perampok? Juragan Abdi menebak-nebak berapa kiranya jumlah harta yang bakal Cakra minta.


Api semakin melebar ke mana-mana, kebakaran besar terjadi. Sebelum melakukan apa yang dia ingin, Danur Cakra lebih dulu menyeret Juragan Abdi keluar untuk melihat bagaimana tempat kediaman yang dia banggakan sekarang dilahap si jago merah.


"Bersama harta benda yang ku sayang, maka pergilah dengan tenang."


Krakk! Kepala Juragan Abdi menghadap ke belakang. Berputar seratus delapan puluh derajat. Setelah tangan Danur Cakra diangkat, tubuh Juragan Abdi roboh ke bumi menunggu api melahapnya. Hangus bersama bangun mewah dan harta benda yang berlimpah.


Secepatnya Danur Cakra membopong tubuh Kemuning, membawa gadis pujaan hatinya segera pergi dari lautan api.


°°°


"Cakra ... aku takut," suara Kemuning bergetar.

__ADS_1


"Ada aku di sini. Tenanglah ... hanya ada kita berdua," Danur Cakra membelai lembut kepala Kemuning.


Keduanya telah jauh meninggalkan kota. Danur Cakra beristirahat di sebuah pondok kecil, di ladang tempat petani berteduh kala terik. Untuk membasahi kerongkongan yang kering, Danur Cakra mengambil setandan kelapa muda. Airnya bisa mereka minum, kemudian mengganjal perut dengan memakan daging kelapa tersebut.


Kemuning begitu ketakutan, dia mengalami trauma yang parah. Bahkan lebih parah dari yang pernah dia alami. Rasa takut yang sangat berlebihan, bahkan tidak berani sekadar untuk melihat wajah manusia. Ya, kecuali Danur Cakra.


Dengan erat, lengan Kemuning terus mencengkeram baju Danur Cakra. Dia tidak ingin Cakra meninggalkan dirinya meski hanya sekejap. Dan tentu saja, hingga malam yang begitu larut, keduanya belum tersentuh air bersih apalagi berganti pakaian.


Danur Cakra perlahan-lahan mencoba untuk membujuk Kemuning agar mau duduk bersila, tanpa harus mencengkeram tubuhnya. Ada hal yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar rasa ketakutan pada diri Kemuning, yakni luka dalam yang hampir memasuki tahap kritis. Cakra harus segera mengalirkan energi murni mengurangi rasa sakit di sekujur tubuh Kemuning. Sebelum kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan.


Setelah cukup lama waktu berlalu, Kemuning akhirnya bisa dibujuk. Dia duduk bersila dengan kedua tangan ditaruh di atas lutut. Coba untuk mengatur napas, membuat tubuhnya sedikit rileks.


Kedua tangan Danur Cakra memancarkan cahaya putih kebiruan, yang kemudian menjalar menyelimuti sekujur tubuh Kemuning.


Napas Danur Cakra naik-turun, tidak sewajarnya dia kerahkan begitu banyak tenaga dalam sampai-sampi wajahnya sangat pucat. Cakra baru saja bertarung melawan banyak pendekar kuat, belum lagi dia menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk kabur, dan sekarang harus menyalurkan energi murni. Jika dia terus memaksa, dikhawatirkan justru akan melukai dirinya sendiri.


"Huuuhhh ... huuuhhh ..." keringat dingin mengalir di dahi Danur Cakra. Tapi hatinya lebih tenang karena kondisi Kemuning jauh lebih baik.


"Cakra ... tidak! Kau jangan sakiti dirimu. Kau harus istirahat," Kemuning berbalik badan, kemudian langsung membaringkan tubuh Danur Cakra di pangkuannya.


"Huuuhhh ... aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir," ucap Danur Cakra.


Kemuning sama sekali tidak percaya. Dia bisa merasakan telapak tangan Cakra yang begitu dingin. Memaksa Danur Cakra untuk beristirahat, di pangkuannya, berselimutkan pelukan hangat, berbantalkan sutra lembut kulit putih gadis nan mulus. Merekat dan semakin hangat, membawa Danur Cakra terbang ke alam mimpi.


Siang menikah, sore menjadi janda, lalu malam hari tidur memeluk pria lain. Satu kisah yang tidak pernah dikhayalkan sejak lahir ke dunia. Namun Kemuning benar mengalaminya. Parasnya sangat menawan, tapi siapa sangka cerita hidupnya begitu pilu. Dia bahkan lupa, apa itu kasih sayang.


Hangatnya terpaan sinar matahari pagi, kicauan burung-burung kecil di ladang, tidak berhasil menyadarkan dua insan yang tertidur dengan sangat lelap. Berpelukan, saling menjaga satu sama lain.


Sepasang suami-isteri paruh baya, pemilik ladang yang baru sampai begitu kaget mendapati pondok berteduh mereka kedatangan tamu. Sebelum mulai bekerja suami-isteri tersebut berniat menaruh bekal di pondok, siapa sangka mereka menemukan dua sejoli tertidur di sana.


"Nak ... naaakkk! Heh, bangun ..." dengan hati-hati sang suami memberanikan diri untuk membangun keduanya.


Danur Cakra merupakan seorang pendekar dengan kemampuan tenaga dalam yang tinggi. Dia segera terbangun kala ada tangan yang menyentuh kakinya. Cakra membuka mata dan berniat untuk segera bangkit, tapi pandangannya justru tertuju pada keindahan yang berada tepat di depan hidungnya.


Kemuning masih tertidur dengan pulas, memeluknya dengan sangat erat. Danur Cakra bisa merasakan halusnya kulit bidadari, dan dia tahu ini bukan mimpi. Wajah Kemuning yang begitu dekat, membuat jakun Cakra naik-turun. Dia mendapati keindahan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. 


Dengan sangat hati-hati, Danur Cakra bergerak bangun. Dia membaringkan tubuh Kemuning di balai bambu. Sekarang di hadapannya, telah berdiri sepasang suami-isteri paruh baya pemilik ladang.


"Nak, kalian mau ke mana? Mengapa sampai bermalam di sini?" tanya sang suami.


Danur Cakra menghela napas panjang. Dia menceritakan secara singkat, kalau tujuan mereka adalah Kota Raja. Teman wanitanya dalam keadaan sakit, tertidur di sana karena kelelahan. Cakra hendak mencari keberadaan Tabib Dewa yang katanya sedang berada di Kota Raja.


Meskipun terasa janggal karena si wanitanya masih mengenakan gaun pengantin, tapi petani itu tidak banyak mulut. Justru dia menawarkan nasi dan lauk yang dia bawa untuk Cakra dan Kemuning sarapan.


"Terima kasih, pak. Saya minta bapak jangan beri tahu siapa pun pernah melihat kami berdua. Takutnya kalian akan terkena masalah," ucap Danur Cakra pelan.

__ADS_1


Sebelum meminta petani tersebut untuk pergi, sebagai ganti pekerjaan mereka yang tertunda Danur Cakra memberi mereka sekantong uang yang berisi kepeng perak dan perunggu. Dengan jumlah segitu, mereka bisa libur untuk beberapa minggu ke depan.


__ADS_2