
Tubuh Bewok Ireng sudah terkapar tidak berdaya. Akan tetapi, terlihat jika wajahnya masih menyalakan api permusuhan. Pria itu telah tewas dua kali, dengan cara yang sama mengenaskan.
Danur Cakra menghadang pandangan mata Suhita dengan telapak tangannya. Dia mengertilah kalau Hita tidak terbiasa mendapati kondisi lawan yang mengenaskan akibat pertarungan yang mereka jalani. Parahnya Suhita akan menyalahkan dirinya, padahal terang saja dalam pertarungan hanya memiliki dua resiko. Jika tidak ingin mati, maka harus hidup sebagai pemenang.
"Kakak bilang dia sudah tewas, lalu mengapa kemampuan yang dimilikinya sama sekali tidak berubah?" tanya Suhita.
Danur Cakra menghela napas panjang, kemudian dia menjelaskan perihal ilmu sihir yang bisa bangkitkan orang yang sudah meninggal. Dalam hal ini, jasad orang itu sebenarnya tidaklah hidup lagi. Akan tetapi, kemampuan mantra dalam ilmu sihir yang meminjam raga berikut kemampuan yang pernah dipelajari. Sekilas, saat bertarung maka sosok boneka sihir akan tetap terlihat seperti pemilik tubuh. Hanya saja, dalam hal kekuatan tenaga dalam jelas berbeda, tidak berubah hanya berkurang.
Boneka Sihir tidak memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari sosok sebenarnya, kekuatan mantra memiliki tolak ukur pada kekuatan pemilik ilmu sihir. Boneka Sihir akan mengeluarkan hingga separuh kekuatan pemilik ilmu, tapi saat bertarung dia memiliki kelebihan yakni tidak merasakan namanya sakit. Karena pada dasarnya dia bukanlah mahluk hidup. Mengingat kemampuan Aki Calincing sangat tinggi, jadi wajar jika boneka sihir Bewok Ireng juga sangat kuat sampai-sampai Kencana Sari harus bekerja ekstra keras.
"Apa Kakak pernah mengenal orang yang memiliki ilmu sihir yang bisa bangkitkan mayat?" tanya Suhita lagi.
Danur Cakra menggeleng. Dia hanya mendengar dari cerita orang-orang. Bahkan semula Danur Cakra tidak percaya, karena selama ini dia belum pernah menjumpai. Akan tetapi, kemunculan para tokoh senior dunia persilatan masa lampau membuat apa yang semula hanya cerita berubah menjadi nyata. Dan mereka akhirnya bertemu, celakanya tanpa tahu cara untuk mengatasi sumber masalahnya.
"Hita, kau lanjutkan saja perjalanan lebih dulu. Biar aku yang akan menahan mereka. Ingat, sekarang bukanlah saat untuk mengedepankan ego. Aku yakin, tujuan mereka ialah untuk mencari tahu di mana keberadaan Kakek," ucap Danur Cakra.
Suhita menggelengkan kepalanya berulang kali, jelas saja Hita menolak. Bahkan Suhita tidak rela meski Cakra sedikit terluka. Meninggalkan seorang diri, sama saja Suhita membunuh Cakra secara perlahan.
"Tidak, kak. Sekali Hita bilang tidak, maka Hita tidak akan meninggalkan kakak sendirian menyambut maut. Ringan sama dijinjing, berat sama-sama kita memikulnya," tolak Suhita.
"HITA !!!" Danur Cakra melotot, dia membentak dengan tensi suara yang tinggi.
Suhita membalas tatapan mata Kakaknya dengan tidak berkedip. Keukeuh pada pendiriannya.
"Aku tahu, kau lakukan ini karena kau sayang padaku. Tapi kau harus ingat, jika kita terus bersama maka kemungkinan untuk kita berdua tewas akan lebih besar. Lebih baik untuk sementara waktu kita berpisah, dengan begitu kita berdua akan sama-sama selamat dari maut," suara Danur Cakra melemah.
Hal tidak biasa terjadi, di mana ada titik bening yang menghiasi sudut mata Danur Cakra. Kepedihan hati Danur Cakra tidak terbendung lagi. Meskipun dia merupakan seorang pendekar berdarah dingin, tapi merasakan bahwa salam perpisahan kali ini merupakan hal yang nyata, sebagai saudara kembar tentunya sangat berat bagi Cakra untuk bisa menjalaninya. Pergi menjauh dari Suhita untuk selama-lamanya, meninggalkan seorang yang sangat ia sayangi. Satu-satunya orang yang selalu mengisi hati Cakra, menjadi pelipur di saat lelah, menjadi penyemangat saat ia terpuruk.
Cakra menjadikan pertemuannya dengan Suhita sebagai obat, yang membuat dirinya bisa merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai manusia. Punya adik cerewet yang kerap membuat kesal, saling bercerita hingga sama-sama tertidur, bahkan menumpahkan isi hati yang tidak pernah didengar oleh siapa pun. Seorang adik yang juga merangkap sebagai sahabat. Mana mungkin Cakra bisa ikhlas untuk pergi. Namun jika dia terus seperti sekarang, tindakannya justru akan menjadi beban bagi Suhita.
Suhita menangis tersedu-sedan, dia memeluk Danur Cakra dengan sangat erat, seolah tidak inginkan untuk berpisah. Sebagai anak kembar, pastinya Suhita bisa merasakan bagaimana Cakra akan meninggalkannya. Walaupun Danur Cakra tidak pernah menyampaikan bahwa dia akan pergi menjauh dari Suhita. Tapi ikatan batin mereka, jauh lebih kuat dari sekadar kata yang terucap.
"Sudahlah ... sekarang cepat kau lanjutkan lagi perjalanan. Sementara waktu, aku akan menunggu perkembangan di tempat ini. Kita akan bertemu lagi di tempat Kakek," Danur Cakra menguatkan hatinya untuk tersenyum, seraya menghapus air mata di sudut pipi Suhita.
Terakhir, Danur Cakra menge*cup lembut bibir Suhita seraya mengucapkan janji untuk esok kembali berjumpa. Ya, meskipun diketahui bahwa Danur Cakra merupakan orang yang tidak pernah menepati janji. Meski demikian, nyatanya cara Danur Cakra berhasil membuat hati Suhita luluh dan mau menuruti apa yang dikatakannya. Suhita akhirnya setuju untuk berangkat lebih dulu, asalkan Danur Cakra berjanji akan menyusul.
"Iya ... aku janji!" dengan senyum lebar, Danur Cakra mengangkat jari kelingkingnya, mengucapkan janji pada Suhita.
Suhita tertawa, dia menyambut dengan jari kelingking yang sama ditautkan. Suhita akan kembali menanti Cakra menepati janji. Mereka pernah melakukan hal serupa sepuluh tahun yang lalu, tapi apa? Buktinya Cakra ingkar.
"Kakak hati-hati, ya ... kurangi marahnya ..."
__ADS_1
"Iya, kau juga hati-hati. Aku tidak akan memaafkan diriku jika nanti ku temukan kau dalam keadaan tidak baik," jawab Danur Cakra dengan mengelus kepala Suhita.
Fix! Danur Cakra memang sangat pandai mengambil hati adiknya. Dia selalu berhasil meyakinkan Suhita, membuat Suhita percaya, sampai melupakan berapa kali Cakra ingkar pada janji mereka. Sejak kecil, setiap Suhita merajuk atau Cakra berbuat salah maka jumlah janji itu tidak akan cukup dihitung oleh ruas jari.
"Kencana Sari, aku titip adikku. Tolong jaga dia! Ingatkah dia untuk makan teratur, jangan sampai seorang tabib justru terkena penyakit!" Danur Cakra menepuk pundak Kencana Sari.
"Akan selalu saya mengingatnya. Tuan, kami pergi lebih dulu. Permisi ..." Kencana Sari membungkuk hormat.
Danur Cakra melambaikan tangan melepas kepergian Adiknya. Derap kaki kuda semakin terpacu menjauh. Senyum manis di bibir Danur Cakra perlahan memudar seiring kuda Suhita yang lenyap terhalang rimbunnya pepohonan.
Barang kali, akan sulit untuk kembali bibir Cakra menyungging senyum seperti barusan. Dengan tidak adanya Suhita bersama dirinya, Cakra kembali menjadi dirinya. Menjadi Pendekar Naga Kresna yang dikenal brutal dan haus darah. Dan mungkin, Naga Hitam di alam evolusi pun tengah bersorak riang gembira mengetahui tidak lagi ada yang menghambat gerakan mereka menambah energi.
Danur Cakra lekas memeriksa sudut hutan, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang mengikuti perjalanan Suhita. Setelah dirasa cukup aman, barulah ia melanjutkan perjalanan. Jika memungkinkan, maka Danur Cakra pasti akan menjenguk dan mengucapkan selamat pada ulang tahun kakeknya yang keseratus. Tapi perjalanannya, sukar untuk ditebak.
°°°
"Aaahhh ... aahhh ..." terdengar teriakan dari sebuah gubuk di tepi hutan.
Gubuk tua yang kotor tak berpenghuni itu jelas menyimpan cerita. Suara teriakan yang semula terdengar, kini menghilang. Nampaknya telah ada yang membekap mulut orang yang berteriak. Suara seorang perempuan, jelas ini merupakan pemerkosaan. Lantas benarkah tidak ada seorang pun yang mendengarnya?
Danur Cakra menghentikan langkahnya. Sudut matanya melirik pada gubuk tua tersebut. Mendadak Danur Cakra jadi tertarik untuk ikut campur. Dia hanya kebetulan melintas, dan juga bukan tipe orang yang gemar menegakkan keadilan. Akan tetapi kepala Danur Cakra yang dipenuhi banyak pemikiran, membuat dia ingin mencoba hal baru.
Seorang wanita dipaksa untuk melayani tiga orang sekaligus. Dia diperlakukan tidak ubahnya seperti binatang saja. Ada yang menggenjot dari belakang dengan begitu kasar, ada yang menyumpal mulutnya, dan seorang lagi menghajar perbukitan. Seolah tanpa mendengar rintih dan teriak kesakitan, ketiganya seperti berlomba untuk secepatnya mencapai puncak.
BRAAAK !!! Tidak berselang detik, atap dan dinding pondok berhamburan. Membuat orang-orang yang ada di dalamnya ikut jatuh tersungkur di atas tanah, mereka semua tanpa menggunakan busana.
Yap! Empat orang yang melakukan mes*um tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebisa mungkin menutupi bagian pribadi masing-masing.
Seorang pemuda berdiri di hadapan mereka. Dialah Danur Cakra yang menghancurkan pondok tua yang kerap dijadikan tempat berbuat mes*um. Apes saja, empat orang ini yang tertangkap basah.
Danur Cakra menatap dengan tajam pada si perempuan. Di sini, Cakra baru mengetahui kalau wanita itu bukanlah korban pelecehan, akan tetapi dia memang sedang berdagang. Mendapatkan bayaran dari mereka yang bercocok tanam dengannya. Pantas saja, ekspresi wajahnya justru ketakutan saat Cakra muncul.
Seorang pria yang paling cepat mendapatkan celana pendek, lekas memakai celana dan bangkit. Tiga orang tersebut sepertinya hanyalah warga biasa, mendapatkan penghasilan lalu kemudian bersama temannya menyewa wanita penghibur untuk menuntaskan hasrat. Sungguh, hal miris yang sangat umum terjadi dan berkembang di masyarakat.
Danur Cakra menatap jijik pada mereka. Meskipun kali ini Cakra melihat secara utuh tubuh seorang wanita, tapi justru emosi yang muncul. Danur Cakra merupakan seorang pendekar yang anti hubungan bebas, dia sangat mengutuk hal tersebut.
"Kalian hanya mengotori bumi. Tidak pantas untuk tetap menikmati udara gratis. Lanjutkan permainan kalian di alam baka!" desis Danur Cakra.
Baru saja seorang dari mereka hendak mengutarakan alasan, tapi terlambat. Danur Cakra keburu menghentakkan kakinya. Seketika tanah terbelah dan empat manusia itu terperosok ke dalam lubang. Sampai lubang kembali tertutup, mereka tidak sempat lagi untuk keluar.
Seperti biasa, setelah menghabisi nyawa manusia, tanpa perasaan terbebani Danur Cakra kembali melangkah.
__ADS_1
"Sial! Ada-ada saja!" umpat Cakra.
Danur Cakra sedang memikirkan cara untuk bisa kembali ke alam evolusi dan mengambil Fragmen tanah yang tidak bisa dia sentuh. Tiba-tiba saja, ide gila muncul di benaknya.
Melihat adanya praktik jual diri di hadapannya tadi, membuat Cakra jadi berpikir untuk bisa mendapatkan tetes darah perawan dengan gunakan kepeng uang. Ya, dia cukup cari seorang anak perawan. Membayarnya untuk berikan darah keperawanan, meski tanpa harus berhubungan badan dengannya. Bukankah selaput dara akan robek meski diterobos oleh benda tumpul apa pun?
"Kalau begitu, aku harus cari tempat di mana banyak para wanita," Danur Cakra bergegas.
Tapi kemudian, Cakra berhenti. Kepalanya mengingatkan, jika datang ke rumah bordil atau menemui mucikari, akankah masih ada seorang perawan? Rata-rata mereka yang bekerja di tempat maksiat adalah suhu, yang bahkan kehilangan keperawanan di usia belia.
"Dengan uang, apa yang tidak mungkin!"
Mau tidak mau, Danur Cakra akan mendatangi tempat yang tidak pernah dia sukai. Tempat maksiat di mana manusia berada pada level setara hewan.
°°°
Seiring sore yang semakin meredup, suara gamelan terdengar mengalun. Sayup-sayup membelah suasana saat sejuk menyelimuti mayapada. Suara bunyi-bunyian itu berasal dari rumah Ki Bekel Kamto, yang menyelenggarakan pesta pernikahan putrinya.
Akad nikah telah digelar pagi tadi, hingar bingar pesta pun dimulai hingga dua hari ke depan. Maklum, Bekel Kamto merupakan seorang yang terpandang di kampungnya. Tamu-tamu yang diundang pun datang dari berbagai wilayah.
Seorang pemuda tampan telah melangkah di tengah-tengah pesta. Pakaian berkualitas mewah melekat di tubuhnya, semakin menambah pesona mengimbangi tubuhnya yang amat gagah. Mungkin dia merupakan satu-satunya orang yang luput dari pemeriksaan petugas. Karena tiba-tiba saja dia telah ada di tengah kerumunan para tamu.
Seraya menggenggam gelas berisi minuman, pemuda tampan itu berjalan lamban di tengah-tengah pesta. Dia menebarkan pandangan ke segenap penjuru, pada penabuh alat musik, penari, panitia penyelenggara pesta, termasuk para keamanan yang berjaga. Namun terkhusus pada kedua mempelai yang bersanding, senyum penuh makna ia lepaskan.
Tidak lain tidak bukan, pemuda tampan itu ialah Danur Cakra yang menyamar dengan mengenakan pakaian layaknya seorang putra bangsawan.
Danur Cakra yang dalam perjalanan mencari tempat hiburan malam dihentikan kala mendengar adanya suara pesta pernikahan. Kemudian untuk bisa masuk ke tengah-tengah pesta tentunya bukan merupakan hal yang sulit bagi pendekar dengan kemampuan setara Danur Cakra.
Bukan sekadar untuk numpang makan, tapi kedatangan Cakra juga dengan tujuan tersendiri. Apa lagi kalau bukan untuk tetes darah perawan, seperti yang sedang dia ingin dapatkan.
Fragmen tanah yang akan menjadi sumber kekuatan baru di alam evolusi Cakra, akan bisa didapat bilamana Cakra bisa penuhi salah satu dari dua syarat dari Putri Foniks. Pertama, yakni harus tidur dengan Putri Foniks atau yang kedua Cakra harus peroleh darah perawan (tidak terbatas dengan siapa pun Cakra akan tidur). Namun sayang, meskipun dia merupakan penjahat berdarah dingin, tapi Danur Cakra bukanlah tipe pria yang gemar mengumbar hawa nafsu. Bahkan sangat membenci dan anti yang namanya s3x bebas.
Intinya, Danur Cakra akan dapatkan darah perawan dengan caranya sendiri. Tentu saja karena memang Cakra selalu inginkan sesuatu dengan cara dan daya akalnya sendiri. Dia benci berada di bawah aturan dan tekanan.
Selembar kain putih telah terbentang di atas dipan pengantin. Dengan taburan bunga-bunga yang mewangi, siapa yang menduga jika kain itu sengaja disiapkan untuk nanti diambil sesaat setelah pasangan pengantin menyelesaikan bercocok tanam pertama kali.
Danur Cakra tinggal menunggu waktu saja, setelah malam semakin merangkak naik dan pengantin kembali ke dalam kamar. Kebahagiaan pasangan baru, akan juga menjadi senyum untuk Cakra.
Putri Foniks akan menangis darah melihat apa yang Danur Cakra lakukan. Memilih susah padahal ada yang gampang. Gengsi? Sama sekali bukan! Ada saatnya kala prinsip hidup merupakan satu-satunya hal yang harus dipertahankan setara harga diri.
Danur Cakra miliki banyak orang yang begitu menyayanginya, gadis yang pastinya akan rela menyerahkan segalanya untuk bisa membantu. Namun apa artinya, tentu Danur Cakra lebih memilih untuk dirajam daripada merusak masa depan mereka yang menyayangi.
__ADS_1