
Rencana Dewi Api berjalan dengan mulus, tanpa kendala. Itu semua berkat bantuan dan kerjasama tiga bocah yang menyertainya. Kekuatan tenaga dalam milik Dewi Api banyak terkuras setelah dia melalui berbagai pertarungan yang mengharuskan keluarkan segenap kemampuan. Belum lagi dalam pelarian membawa anak-anak menjauh dari Klan Perisai Hujan, jika harus bicara jujur mungkin Dewi Api sudah terlampau lelah.
"Bibi ... saya harap, ini bisa membantu," Suhita menyodorkan bungkusan berisi sumberdaya.
Dewi Api menatap Suhita dengan dalam. Tangannya tidak serta-merta langsung menerima, nampak seperti menimbang sesuatu. Meskipun akhirnya, dengan senyum yang dipaksakan Dewi Api menerima sumberdaya langka tersebut. Kombinasi sumberdaya yang Suhita peroleh dari Gua Badai Salju yang dipadukan dengan ramuan racikannya, sudah barang pasti sumberdaya tersebut merupakan yang terbaik, setidaknya untuk saat ini.
Setelah beberapa saat, Dewi Api mengkonsumsi sumberdaya tersebut dia merasakan tenaga dalamnya kembali lebih dari separuh. Harus diakui, kemampuan pengobatan yang saat ini Suhita kuasai telah mencapai tingkat seorang tabib profesional. Tidak berlebihan jika orang-orang menyebut tabib kecil itu sebagai Tabib Titisan Dewa.
"Baiklah, anak-anak. Seperti apa yang telah kita rencanakan, maka lakukan dengan baik. Jangan memaksakan diri, ingat bahwa mundur bukan berarti hancur dan mengalah bukan berarti kalah. Ayo," Dewi Api melompat dan menghabisi empat orang prajurit jaga dalam sekali serangan. Diikuti anak-anaknya, mereka bergegas berlarian menyusuri lorong menuju ruang tahanan.
Ada sesuatu yang berbeda, di mana keempat orang itu sama-sama menggenggam senjata. Ya, untuk pertama kalinya Suhita menggunakan senjata pusaka milik ibunya, Panah Bidadari. Dengan senjata tersebut, cukup membantu untuk memperlancar perjalanan mereka.
Bahkan sudah belasan orang yang terkapar tidak bernyawa. Demi ayahnya, Suhita harus menutup mata dan telinga hingga berusaha abai akan nyawa manusia.
Dewi Api mendobrak paksa pintu penjara, sementara tiga orang anaknya berpencar melakukan penjagaan. Gerakan mereka begitu cepat dan sangat mendadak, hingga Bulan Jingga dan pendekar besar yang lain tidak menduga akan kedatangan mereka. Lalai dan kecolongan.
"Tunggu! Tunggu dulu!" seorang pria paruh baya mengangkat tangannya tanda menyerah. Dia tidak menunjukkan sikap perlawanan, membuat Suhita tidak langsung melepaskan anak panah yang dilapisi Pukulan Tapak Naga.
Dari pakaian yang dikenakan, nampaknya pria paruh baya tersebut merupakan seorang tabib atau paling tidak dia bekerja untuk tabib. Asisten Tabib.
"Saya tahu jalan pintas menuju ruang tahanan Tuan Pendekar Elang. Mohon untuk ikut dengan saya," pintanya.
"Saya tidak sendirian, lagi pula Bibi Dewi telah masuk ke dalam penjara," jawab Suhita.
__ADS_1
Pria itu cepat pergi menyusul Dewi Api, sepertinya dia memang bermaksud baik. Suhita terkejut bukan kepalang ketika menyaksikan jika dalam perjalanan masuk pria paruh baya itu menanggalkan topeng yang membungkus wajahnya. Dia adalah seorang wanita.
Suhita dan Raka Jaya bergegas menyusul, tapi langkah mereka terhenti ketika menemukan Dewi Api dan wanita asing tersebut telah keluar dengan memapah Mahesa yang terikat oleh borgol sihir.
"Ayah ..." desis mereka. Karena Mahesa memasang borgol tersebut secara sukarela, membuat seluruh kemampuannya tidak bisa digunakan.
"Bukan saatnya untuk saling berkomentar. Yang harus kita lakukan ialah cepat keluar dari tempat ini!" ucap Dewi Api.
Danur Cakra merupakan putra Mahesa dengan pukulan Tapak Naga terbaik. Dia bertugas melindungi dari arah belakang, sementara Suhita dan Raka Jaya bertugas membuka jalan.
Dengan bantuan wanita yang menyamar sebagai asisten tabib itu, Dewi Api bisa dengan mudah meninggalkan ruang penjara Klan Perisai Hujan.
"Bagaimana aku bisa membalas jasamu?!"
Meskipun dalam keadaan terikat, tidak terlihat adanya derita terpancar di wajah Mahesa. Entah di sembunyikan atau apa, yang jelas Mahesa nampak baik-baik saja.
Wanita asing yang semula menyamar sebagai asisten Tabib, tidak lain adalah bekas pelayan Mahesa. Dialah Endang Kusuma Gandawati. Satu-satunya pelayan terbaik setelah Puspita.
Singkat cerita, bagaimana bisa Endang Kusuma Gandawati tiba pula di tempat itu, berawal dari kedatangannya ke kota Giling Wesi. Tujuan Kusuma Gandawati tidak lain untuk menyusul putranya, Arya Winangun. Tidak disangka, di perjalanan pulang Kusuma Gandawati melihat Si Putih (burung elang peliharaan Mahesa) melintas. Dari keterangan Si Putih yang bermaksud menuju kediaman Pendekar Naga Suci (Raditya - ayah Mahesa), Kusuma Gandawati mengetahui hal yang menimpa Mahesa dan anak-anaknya.
Dengan kemampuan langka yang dia miliki, Endang Kusuma Gandawati berhasil masuk ke dalam Klan Perisai Hujan dan menjalankan misinya tanpa halangan. Kusuma Gandawati jua lah yang telah menukar serbuk penghilang ingatan yang disiapkan dalam hidangan para pendekar tamunya Bulan Jingga. Hingga para pendekar tersebut tidak kehilangan ingatan.
"Mereka adalah anak-anakku, sayangnya aku belum miliki kesempatan untuk menjelaskan pada dunia persilatan," Mahesa tersenyum masam.
__ADS_1
Endang Kusuma Gandawati mengerti atas apa yang terjadi, dia paham bagaimana sulitnya situasi yang Mahesa hadapi. Namun, dalam hatinya amat senang saat mengetahui bahwa Puspita Dewi ternyata masih hidup, bahkan telah memiliki sepasang anak kembar.
Suhita telah menyelesaikan ritual dan berbagai macam persiapan telah disimpan. Suhita meminta Mahesa untuk bersiap dan mengumpulkan segenap kemampuan yang masih tersisa. Sementara, Suhita pun akan mengerahkan segenap kemampuan tenaga dalam yang dia miliki.
Dewi Api, Endang Kusuma Gandawati, Raka Jaya, dan Danur Cakra ikut ambil bagian. Enam kekuatan sekaligus berkeliling mengarah pada borgol sihir. Kekuatan mereka berkumpul dan melebihkan batas kekuatan yang Mahesa punya. Dalam waktu sekejap, pancaran cahaya melebur dari tubuh Mahesa. Saat ada celah, Mahesa pun langsung mengerahkan tenaga dalam. Hingga membuat borgol sihir tersebut hancur menjadi debu. Ya, mereka berhasil.
Suhita menghela napas lega, itu menandakan bahwa dirinya memang telah ditakdirkan untuk menjadi seorang tabib.
Dengan penuh kasih sayang, Mahesa membelai kepala anak-anaknya satu persatu. Inilah anugerah terindah yang dia miliki. Saat ini, esok bahkan untuk selamanya.
Mahesa telah berjanji pada dirinya untuk tidak menyembunyikan perihal anak-anaknya. Apa pun resikonya, dia sudah tidak perduli lagi. Padepokan Api Suci, atau siapa saja tidak akan yang bisa mengehentikan tekad Mahesa. Entoh, cepat atau lambat semuanya pasti akan diketahui khalayak. Rasanya, sekarang belum terlambat untuk mengakui semuanya.
"Hmm ... ada yang datang. Kalian terlampau lelah, biar aku saja yang menyambut," ucap Mahesa.
Sebelum yang lain sadar, Mahesa telah berdiri dan melangkah keluar gua. Di bawah sana, bermunculan para pendekar dari Klan Perisai Hujan yang diutus untuk mengejar. Mahesa akan memberi mereka kejutan besar. Mungkin dari mereka ada yang belum sempat tahu, siapa dan bagaimana sepak terjang Pendekar Elang Putih.
Mahesa akan melakukan sekarang. Mungkin ini adalah yang terakhir, karena setelah ini Mahesa akan fokus untuk mendidik dan mencurahkan perhatiannya pada ketiga anaknya, tanpa harus memikirkan hal-hal yang terjadi di dunia persilatan. Pensiun?! Bisa dikatakan demikian. Bagaimanapun juga, keluarga adalah nomor satu.
_____________________________________________
SELESAI.
_____________________________________________
__ADS_1
Terimakasih atas kesetiannya. Pembaca sekalian. BANYAK CINTA ❤️❤️❤️