Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pembunuh Bayaran


__ADS_3

"Bisa juga dikatakan kalau perjalan Ayah dan Ibu pula dalam bahaya?" tanya Suhita.


Danur Cakra mengangkat bahu, dia memang tidak tahu di mana asal mula bocornya informasi perihal tempat ulang tahun Kakek, tapi kecurigaan Danur Cakra terarah pada Raka Jaya. Hanya segelintir orang yang tahu kalau Suhita juga merupakan anaknya Mahesa, berbeda dengan Raka Jaya, semua orang di dunia persilatan tahu itu. Pasti seluruh mata tertuju padanya, termasuk dengan rencana Raka Jaya yang akan datang ke Pulau Cugung Karang.


"Sejak awal, aku sudah curiga. Tapi mau bagaimana, kau pasti tidak percaya padaku."


"Kak Cakra, bisa tidak kalau bicara langsung pada intinya. Tidak perlu berbelit-belit, aku tidak paham," Suhita memotong perkataan Kakaknya.


Danur Cakra menghela napas, padahal jika Suhita bicara akan lebih membingungkan dari apa yang Danur Cakra lakukan. Tapi percuma juga berdebat, poin utamanya ialah kebenaran mutlak milik Suhita.


"Heh, cobalah pakai sedikit otakmu. Sejak awal, saudaramu yang satu itu telah berkali-kali melakukan tindakan yang sama. Dia tidak akan melakukan tindakan kecuali untuk kebaikan dirinya sendiri. Harusnya kau paham, janganlah terlalu naif jadi orang!"


"Kak, Hita paham. Kakak kecewa atas tindakan Kak Raka. Tapi ... bukankah itu untuk kebaikan bersama?"


"Iya, iya. Aku juga paham! Tapi karena itu, aku jadi miliki pandangan tersendiri padanya. Bukan karena masalah yang telah berlalu, tapi dalam masalah yang sekarang kita hadapi. Aku yakin Raka Jaya yang bertindak ceroboh, hingga mata dan telinga lawan bisa mendengar akan berita yang harusnya jadi rahasia. Kita tunggu saja kabarnya, pasti perjalanan mereka tidak akan berjalan mulus!"


Danur Cakra bicara dengan penegasan, terpaksa dia buka suara. Cakra mengungkap satu persatu kecurigaannya atas tindakan yang telah Raka Jaya perbuat. Pertama, berkaitan dengan penculikan Kemuning dengan gunakan Ilmu Sirep, mereka diketahui merupakan Pasukan Sayap Kelelawar yang jelas bekerja di bawah komando Panglima Lodaya, anak buahnya Raka Jaya. Lalu, berkaitan dengan sumberdaya Mutiara Hati. Kedatangan Raka Jaya ke tempat di mana ia menemukan Suhita yang pingsan, tentu tujuannya tidak lain untuk miliki Sumberdaya Mutiara Hati karena murid padepokan rajawali itu juga merupakan pasukan Bunglon, pasukan khusus dari istana.


Suhita mengurut keningnya setelah mendengar apa yang Danur Cakra ucapkan. Ya, meskipun Cakra bukan asal menuduh dan dia miliki bukti yang kuat, tapi itu hanyalah dari sudut pandang Cakra semata. Dia tidak mendengar bagaimana penjelasannya Raja Jaya. Ada alasan kuat dari setiap tindakan yang dilakukannya.


"Kak, lantas sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Suhita kemudian.


"Melanjutkan perjalanan. Bukankah kau percaya jika masing-masing manusia akan menapak di jalan takdirnya sendiri? Lalu untuk apa kita memikirkan orang lain?"


Suhita diam, dia tidak mungkin melakukan tindakan yang ceroboh. Hita sadar jika para pendekar yang mereka akan hadapi merupakan para pendekar linuwih yang miliki kemampuan tenaga dalam di atas rata-rata. Sedikit saja melakukan kesalahan, akan berakibat fatal.


"Setelah kalian sembuh, maka kita akan lanjutkan perjalanan. Jarak yang kita tempuh tidak jauh lagi, tapi banyak hal yang perlu kita waspadai."


Suhita mengangguk tanda setuju. Pengalaman Danur Cakra akan sangat membantu mereka, pastinya Cakra sudah banyak paham mengenai teknik yang kerap dilakukan para penjahat dalam menjalankan rencana busuk.


°°°

__ADS_1


Seperti yang Cakra duga, saat itu Raka Jaya dan Dewi Api sedang dalam perjalanan. Mereka dihentikan oleh sekelompok orang yang melintangkan kayu besar di jalan lintas, hingga kuda mereka tidak bisa melintas.


Dewi Api menatap sinis, tidak biasanya kali ini mereka akan mendapatkan masalah dalam perjalanan. Apa boleh buat, sebelum untuk orang lain maka kewajiban seorang pendekar ialah untuk melindungi diri sendiri.


Dengan satu gerakan cepat, Dewi Api sudah melayang turun dari punggung kuda. Gerakannya sangat halus, nyaris tidak menimbulkan gelombang angin. Dewi Api menendang kayu yang melintang menghadang jalan mereka. Dengan satu pukulan saja, kayu besar itu melayang menuju ke tempat para pendekar yang bersembunyi.


Wuuss! Wuuss! Beberapa sosok tubuh berlompatan, keluar dari persembunyian. Mereka mendarat berkacak pinggang seraya tertawa mengejek pada Dewi Api dan anaknya.


"Hahaha! Ternyata kau masih seperti dulu. Ya, meskipun sepertinya ucapanku yang terlalu berlebihan!" dengan mengedipkan mata, seorang berkumis tipis menggoda Dewi Api.


"Tutup mulut kalian! Lagi pula, kami sama sekali tidak punya urusan dengan kalian! Baiknya kalian minggir, aku mau lewat!" Raka Jaya menunjuk pada orang-orang yang menghadang jalan mereka. Dia sangat tidak suka ada orang yang berani menghina ibunya.


"Ooo ... Jenderal Muda, kau pikir siapa dirimu? Apa karena kau seorang pejabat istana? Heh, tahu tidak kalau di tempat ini itu semua tidak ada gunanya? Kau harus bisa urus dirimu jika mungkin miliki kemampuan!" tanpa sedikit pun menaruh hormat, para pendekar senior itu menganggap Jenderal Muda seperti anak kemarin sore, tidak ada artinya. Terlebih tanpa adanya para pengawal, membuat Raka Jaya tidak ubahnya hanyalah rakyat biasa.


Raka Jaya mendekati Ibunya, membisikkan sesuatu. Yang tentunya membuat para pendekar yang menghadang tertawa terpingkal-pingkal. Semakin mengejek Raka Jaya yang hanya berani bersembunyi di balik ketiak ibu.


Dewi Api yakin jika mereka berasal dari kelompok aliran sesat. Dan kemungkinan paling besarnya ialah dari Aliansi Utara Selatan. Karena sampai kiamat sekalipun mereka akan terus menyimpan dendam pada Padepokan Api Suci. Begitu juga sebaliknya. Karena hitam dan putih akan menjadi hal yang selalu berlawanan.


"Ibu, izinkan saya untuk mengasah kemampuan," Raka Jaya membungkuk memohon izin.


Dewi Api mengangguk, lagi pula sudah saatnya Raka Jaya ditempa dalam pertarungan yang melibatkan para pendekar hebat di dalamnya. Dengan demikian Raka Jaya akan tahu, betapa luasnya dunia ini. Di mana kemampuan selalu tak terbatas, selalu ada para pendekar yang datang dengan kemampuan yang tidak disangka-sangka. Seorang jenderal yang kerap mengandalkan pasukan dan bicara tentang teknik, harus membuka mata kalau terkadang praktek lebih mengerikan.


Raka Jaya menyerang lawan-lawannya dengan kemampuan yang serupa dengan Ibunya. Dia akan memperlihatkan betapa mengerikannya kekuatan yang berasal dari Padepokan Api Suci. Padepokan nomor satu kala ini.


Beberapa jurus telah berlalu, tidak terlihat tanda-tanda jika Cakra akan keluar sebagai pemenang. Namun dengan demikian membuat Dewi Api bisa menebak dari mana lawan-lawannya berasal.


"Mereka bukan orang-orangnya Bulan Jingga. Hanya para pembunuh bayaran. Siapa yang membayar mereka untuk mengantarkan nyawa ke sini?" Dewi Api mengerutkan dahi, tangannya mengepal dengan keras, dia harus bisa mengorek keterangan dari salah satu para pembunuh bayaran itu.


Tanpa menunggu lagi, Dewi Api segera melompat dan terjun ke medan laga. Dia menyerang seorang pendekar yang bersenjatakan pedang pendek. Selain miliki kekuatan paling tinggi, pria itu merupakan pimpinan dalam kelompok penyerang itu.


Kedua tangan Dewi Api menyala merah, memperlihatkan betapa berbahayanya jika tangan itu berhasil menyentuh kulit lawan. Tidak lama berselang, sebilah pedang api muncul di tangan Dewi Api. Yang kemudian mata pedang itu berkelebat menebar aroma kematian.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, Dewi Api menghantamkan pedangnya ke arah kepala lawan. Menyadari hal itu, pedang pendek lawan langsung bergerak cepat guna menahan serangan. Tanpa terduga, Dewi Api menjatuhkan tubuhnya dengan kedua kaki mengarah ke dada lawan.


Bugh! Dengan telak kaki Dewi Api berhasil menerjang dengan amat keras. Membuat napas lawan terhenti dalam beberapa waktu lamanya.


Tidak sampai di situ, Dewi Api kembali melayangkan serangan-serangan yang sangat berbahaya. Terus menerus mendesak lawan pada posisi yang sulit. Kecepatan yang Dewi Api tunjukkan, merupakan penegasan jika dirinya menolak tua. Usia boleh bertambah, tapi Dewi Api tetaplah seorang pendekar nomor satu di Utara. Baik dekade yang lalu, dan tidak berkurang hingga saat sekarang.


Satu kesalahan besar karena telah membangunkan harimau yang tertidur. Sekarang sang harimau butuh mengisi perut untuk redakan rasa lapar.


Kraaakk! Suara tulang yang bergeser setelah Dewi Api kembali berhasil menyarangkan pukulannya. Membuat lawannya jatuh terjerembab.


Dewi Api cepat menyusul dengan ujung pedang yang langsung menyeruak memasuki lambung lawan.


"Akhhh ..." terdengar suara jerit yang tertahan. Seketika ujung pedang api mengalirkan rasa panas mengikuti arah aliran darah 


Memang tidak untuk mencelakai, tapi dengan itu sudah berhasil menciptakan ruang siksa yang amat pedih. Menempatkan lawan pada rasa putus asa.


"Mungkin nasibmu bisa berubah jika lidahmu mempu menyelamatkan! Kepa*rat, jawab pertanyaanku!" seraya berucap, Dewi Api menyertakan kemampuan tenaga dalam saat dia bicara.


Tubuh lawannya sampai bergetar merasakan begitu banyak tekanan yang membuat mentalnya terjun bebas. Dalam diri manusia, jika itu telah terjadi maka akan lenyap segala sikap brutal dan arogan. Lenyap bersama bulu kuduk yang berdiri.


"Siapa yang membayar kalian?" Dewi Api menekan ujung pedangnya lebih dalam.


"Aaaakkkhhh !!!" jerit kesakitan semakin melengking terdengar.


"Atau kau pilih celaka? Ingat, ada teman-temanmu yang aku yakin kalau dalam rasa takut!" bukan sekadar ancaman, Dewi Api akan segera melenyapkan nyawa lawannya.


"Ba-baiklah, asal kau ampuni aku, maka aku akan bicara!" akhirnya dia menyerah. Rasa sakit yang tidak kunjung mengambil nyawa berhasil kalahkan dirinya.


Dewi Api menyipitkan matanya, sedikit lawannya bergerak mencurigakan maka dia pasti akan langsung lenyapkan.


"Ayo, cepat. Bicaralah!" Dewi Api mengangkat pedangnya, memberi kesempatan lawan untuk menarik napas dan bicara terus terang.

__ADS_1


__ADS_2