
Gua lima belokan. Di dalam gua tersebut konon terdapat lima pintu yang saling terhubung. Hanya saja, perbedaannya ialah jarak yang ditempuh setiap pintu. Yang mana meskipun pintu-pintu tersebut saling terhubung, keanehan gua itu memiliki panjang lintasan yang tidak sama.
Danur Cakra Prabaskara berdiri di depan mulut gua, dengan konsentrasi penuh dia mengawasi keadaan di sekitarnya. Takutnya kera-kera yang ada telah bersiap untuk melakukan serangan.
"Sialan! Kera-kera itu tidak ada yang keluar. Padahal aku ingin secepatnya tangkap pimpinan mereka," Danur Cakra berdecak kesal. Itu artinya, dia harus berjuang lebih keras untuk bisa masuk dan secepatnya mencapai tempat pimpinan kera.
Tidak ada waktu untuk menunggu, sudah saatnya untuk bertindak. Danur Cakra segera berlari ke dalam gua. Cukup jauh dia memasuki gua, hingga yang dirasakannya suasana dingin dan gelap. Minim sekali cahaya matahari, belum lagi ditambah dengan udara yang lembab membuat lumut tumbuh di sepanjang sisi gua menjadikan jalan lebih licin.
Lima pintu dengan masing-masing satu penjaga telah terlihat. Mata kera-kera penjaga itu nampak menyala dilihat dari kejauhan. Danur Cakra bersiap, mereka pasti akan langsung menyerang mendapati ada manusia yang mengusik gua kediaman mereka.
"Apa?!" Danur Cakra mengerutkan dahi, dia hampir tidak percaya ketika mendapati tidak seekor kera pun yang menyerangnya.
Kera penjaga pintu tersebut hanya bersiap kala Danur Cakra menghadap pada pintu yang mereka jaga. Dengan demikian, Danur Cakra cukup hadapi satu ekor kera saja untuk menaklukkan satu pintu.
"Kalau begitu, aku pilih pintu ini," Danur Cakra menunjuk pada pintu yang dijaga oleh seekor kera yang miliki tubuh paling tinggi besar.
Ada lima jenis dan kriteria kera penjaga, ada yang kurus, kecil, tinggi, gemuk dan tinggi besar. Danur Cakra memilih seekor kera yang menurutnya paling menyeramkan. Pasti tenaga kera itu yang paling kuat.
Danur Cakra langsung menerjang dada kera tinggi besar itu. Konsentrasi yang dia gunakan cukup untuk membuat kekuatan tenaganya meningkat berkali lipat. Sangat cukup untuk bisa kalahkan sang kera.
Pertarungan tidak bisa dihindarkan. Ternyata Danur Cakra salah, dia yang begitu percaya diri akan mampu kalahkan kera penjaga dengan mudah ternyata tidak seperti yang terjadi. Kera tinggi besar itu begitu kuat, meski beberapa kali pukulan keras yang Danur Cakra lepaskan bersarang dengan telak, tapi tidak serta merta membuatnya menyerah. Malah sebaliknya, kera itu menjadi marah dan mengamuk sejadi-jadi.
Breett!
__ADS_1
Pakaian Danur Cakra sobek ketika tangan kera yang kasar berhasil menangkapnya. Kuku kera yang tajam bahkan menggores beberapa bagian tubuh Danur Cakra.
"Kurang ajar! Dasar kera busuk!" Danur Cakra membalas perlakuan kera. Dengan menggunakan batu, Danur Cakra menghantam kepala kera penjaga.
Bruuggg!
Batu sebesar kepala bayi yang di pegang Danur Cakra sampai pecah menjadi beberapa bagian ketika membentur kening kera penjaga. Tubuh kera penjaga oleng, dan saat itulah digunakan oleh Danur Cakra untuk melepaskan pukulan berulang kali, menghantam dada dan wajah kera dengan sekuat tenaga.
Danur Cakra melompat dan menduduki dada kera yang jatuh terlentang. Dengan masih mengayunkan tangan, Danur Cakra tidak berhenti memukul sampai napasnya ngos-ngosan. Kera di bawahnya telah tewas entah kapan tadi.
"Huuuhhh ... huuuhhh ... dasar kera busuk!" Danur Cakra bangkit dan berlari memasuki gua.
Sekitar dua puluh ayunan langkah, Danur Cakra menghentikan larinya. Dia menoleh ke belakang. Pintu gua sudah tidak terlihat, itu tandanya tidak akan ada kera yang bisa melihatnya dari luar. Danur Cakra duduk dan beristirahat. Dia membuka bungkusan perbekalan, minum beberapa teguk air dan mengganti pakaian.
Kakeknya bercerita, jika ayahnya kembali dalam waktu dua hari. Sementara sekarang sudah sore, waktu perjalanan mencapai gua lima belokan adalah satu siang. itu artinya waktu yang dibutuhkan oleh Mahesa dalam menyelesaikan misi di dalam gua ialah satu malam saja. Perjalanan keluar gua, kemudian dilanjutkan perjalanan pulang ke rumah, hingga waktunya cukup dua hari.
Buru-buru Danur Cakra bangkit. Dia tidak boleh kalah oleh ayahnya, apalagi sampai tidak bisa pulang. Keyakinan Danur Cakra mengatakan jika dia memiliki bakat yang lebih baik dari ayahnya.
"Raja kera, aku akan mencabuti seluruh bulu yang kau miliki!" Danur Cakra berteriak dan berlari memasuki gua semakin dalam.
Sudah letih rasanya kakinya melangkah, tapi gua itu seolah tanpa tepi. Untuk kembali, tentu bukanlah pilihan. Danur Cakra terus memaksa untuk dirinya berjalan.
Hampir habis persediaan air minum yang dia bawa, Danur Cakra bingung harus cari air di mana. Padahal di kaki bukit naga hijau ini mengalir sungai yang sangat jernih. Danur Cakra menyesal tidak membawa cukup air dari sana. Sungguh, perjalanan kali ini memberinya banyak pelajaran berharga. Danur Cakra Prabaskara juga harus bisa menyingkirkan pemikiran jika dia bisa melampaui pencapaian yang ditorehkan ayahnya.
__ADS_1
Ada kemungkinan, jalan yang Mahesa tempuh kala itu merupakan rute terdekat, hingga dia bisa cepat sampai.
"Haduuuhhh ... baiknya aku istirahat dulu di sini. Lelah sekali," Danur Cakra akhirnya menyerah. Kondisi fisiknya tidak sanggup untuk mengikuti keinginan kepalanya. Mau tidak mau, ambisi itu harus mengalah.
Letih yang menggempur tubuh Danur Cakra membuat bocah itu langsung tertidur pulas beberapa saat setelah dia duduk.
Seharusnya, sudah sejak tadi Danur Cakra memutuskan untuk beristirahat bukannya malah memaksakan diri demi untuk bisa cepat sampai. Yang ada, hanyalah mengejar celaka. Bayangkan saja jika dalam kondisi capek dan tidak prima, tiba-tiba tubuh dipaksa untuk menghadapi lawan yang tangguh. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi.
Sungguh, Danur Cakra begitu berbeda dengan ayahnya. Rata-rata anak-anak Mahesa tidak seberuntung ayahnya. Ada seorang yang sangat berbakat, yakni Suhita Prameswari. Tapi justru anak itu tidak tertarik untuk belajar beladiri, dia malah memilih jalan untuk menjadi tabib.
Memang sudah goresan takdir, jika keturunan Mahesa tidak seberuntung, tidak akan mengguncang dunia persilatan seperti layaknya sang ayah yang muncul sebagai pendekar dengan kemampuan tenaga dalam tak tertandingi pada usia 17 tahun.
Danur Cakra tersentak bangun, dia sudah tertidur cukup lama. Bisa dirasakannya jika di luar, hari sudah siang. Dengan mengumpat panjang pendek, Danur Cakra bangkit dan melanjutkan perjalanan.
"Akhirnya ..." Danur Cakra boleh menghela napas lega karena matanya sudah bisa melihat ujung gua yang dia lewati.
Tanpa menunda sejenak waktu untuk istirahat, Danur Cakra segera keluar dari pintu gua dan melakukan serangan.
Puluhan kera yang ada di dalam ruangan serentak berbalik badan dan mengepung ke arah Danur Cakra. Satu persatu dari mereka memang bisa diatasi, tapi dengan jumlah yang begitu banyak, membuat Danur Cakra menjadi kerepotan. Terutama, stamina yang dia miliki yang semakin berkurang.
Suara riuh rendah gerombolan kera yang ada, membuat Danur Cakra semakin sulit berkonsentrasi. Tangannya sudah mulai terasa sakit karena terus menerus memukul tubuh kera yang menyerangnya.
"Apa?!" Danur Cakra terkejut bukan kepalang saat dia melihat raja kera yang bersorak dari singgasananya ternyata seekor kera botak. Di bawah mahkota yang dia pakai, sama sekali tidak ada rambut (bulu) yang tumbuh.
__ADS_1
Apa kakek bercanda?! Lalu bagaimana ini? Danur Cakra tercekat. Untuk bisa hadapi pasukan kera saja, sudah sangat kesulitan. Bagaimana pula caranya untuk bisa ambil bulu ubun-ubun di kepala raja kera yang botak?