
"Tabib kecil, apa kau yakin dengan sumberdaya yang kau peroleh itu? Bisa kau jabarkan secara transparan pada semua yang hadir?! Maaf, bukannya aku meragukan kemampuan yang kau miliki. Namun sebagai juga orang yang telah merawat Pendekar Tongkat Emas, aku rasa aku punya hak untuk pastikan keselamatan pasienku," Tabib Asih Cangkar Kemuning mempertanyakan kemampuan sumberdaya yang Suhita bawa.
"Saya yakin, Kakek guru telah mengetahui akan hal yang sebenarnya belum sepenuhnya saya tahu," ucap Suhita keberatan untuk ikuti keinginan Tabib Asih. Bukan karena dia takut jika ilmunya dicuri, melainkan Suhita tidak mungkin untuk katakan perihal tanaman Teratai Berduri yang dia yakini begitu dirahasiakan oleh Pendekar Tongkat Emas.
Pendekar Tongkat Emas berusaha tenang. Dia mengatur napasnya yang mendadak memburu ketika melihat Suhita sengaja menunjukkan lembar daun Teratai Berduri saat menjawab pertanyaan Tabib Asih. Seolah anak itu sengaja menggunakan tanaman Teratai Berduri untuk menekan Pendekar Tongkat Emas hingga tidak berdaya di hadapan banyak orang. Bagaimana pun, dia harus merahasiakan keberadaan Teratai Berduri dari mata dunia persilatan. Pertanyaan besar mengenai jati diri Tabib kecil itu semakin menderu di dalam dada sang pendekar sepuh. Sebagai seorang pendekar yang kuasai berbagai kemampuan tingkat tinggi, merupakan suatu hal yang memalukan kala dia harus menjadi terlihat begitu bodoh dalam mencari jati diri hanya seorang anak. Harusnya, hanya dengan satu tepukan tangan dia telah peroleh apa yang dia mau.
"Hahaha! Tabib Asih, anak ini benar. Aku yang terlalu tua hingga begitu pelupa. Bagaimana bisa aku tidak mengingat jika salah satu obat yang dibutuhkan ternyata tersimpan di wisma milikku," Pendekar Tongkat Emas tertawa seraya menepuk jidatnya. Pura-pura melupakan sesuatu yang sebenarnya dia sendiri masih sangat kebingungan. Anak kecil itu benar-benar telah membuat nama besarnya runtuh bagaikan sebutir pasir hitam di tepian pantai.
Jaka Pragola ikut tertawa kecil, dia yang tidak tahu apa-apa segera meng-iyakan dan mengimbangi perkataan Pendekar Tongkat Emas. Jaka Pragola mencium bau-bau kebohongan yang terbersit dari sana. Jika orang sekelas Pendekar Tongkat Emas saja sudah berbohong untuk tutupi sesuatu, itu berarti memang ada apa-apa di balik sakitnya sang pendekar sepuh itu. Sungguh sangat menarik. Jaka Pragola semakin tidak sabar untuk bisa bertemu dan bicara langsung dengan orang yang disebut guru oleh Suhita. Jaka Pragola yakin, orang itu pasti Pendekar Elang Putih yang hingga sekarang belum juga menampakkan batang hidungnya di hadapan dunia persilatan. Alasannya Jaka Pragola sudah bisa menduga-duga, meskipun dia tidak yakin.
"Ah, Tabib kecil. Apa bisa kau mulai sekarang?! Aku yakin, paman guru juga sudah tidak sabar," dengan sopan Jaka Pragola mempersilahkan untuk Suhita memulai pengobatan. Dia mengabaikan Tabib Asih dan asistennya yang nampak tidak begitu senang.
__ADS_1
Suhita mengangguk. Dengan segera dia membuat ramuan obat. Menumbuk daun Teratai Berduri untuk diborehkan pada luka di kaki Pendekar Tongkat Emas. Suhita juga menyiapkan beberapa ramuan lain yang akan dia gunakan untuk membantu menetralisir racun yang masih tersisa di dalam tubuh Pendekar Tongkat Emas.
Tidak lama kemudian, Suhita memulai pengobatan. Dia meletakkan jari tangannya di atas dada Pendekar Tongkat Emas. Suhita menekan tepat di atas meridian paru-paru Pendekar Tongkat Emas. Titik Meridian itu merupakan titik pusat yang harus dibersihkan untuk bisa alirkan segala jenis penyakit ke titik meridian ibu jari. Di sana, Suhita akan mengeluarkan segala jenis racun berbahaya yang menyakiti Pendekar Tongkat Emas.
"Bagus ... bagus ... semakin anak ini kerahkan kemampuan tenaga dalamnya, aku yakin akan bisa kenali dari mana dia berasal," gumam Pendekar Tongkat Emas dalam hati. Sungguh dia sangat penasaran.
"Aaaa ... aaakkhhh !!!" kejadian serupa kembali terjadi. Seperti halnya beberapa hari yang lalu, saat kali pertama Suhita menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk mengobati Pendekar Tongkat Emas.
"Sialan! Anak ini membuatku tidak bisa lakukan apa-apa!" maki Pendekar Tongkat Emas. Dia tidak punya kesempatan untuk kerahkan sedikit pun kemampuan yang bisa digunakan sebagai deteksi atas kemampuan yang Suhita miliki. Namun sedikit banyak, Pendekar Tongkat Emas tahu kalau tenaga dalam yang digunakan oleh Suhita serupa dengan kemampuan Tapak Naga. Ya, Naga Terbang di langit. Pendekar Tongkat Emas sangat hapal jurus itu. Kendati dia hampir kehilangan kesadaran tapi untuk hal ini dia masih bisa mengingat semuanya dengan baik.
Keringat mengalir deras di dahi tabib kecil itu. Wajahnya pun nampak sedikit pucat. Kekuatan tenaga dalam yang dia kerahkan sudah cukup untuk menghisap lebih separuh kekuatan yang Suhita miliki. Beruntung, Suhita memiliki banyak sumberdaya berharga yang mampu kembalikan tenaga dalamnya hingga dia tidak banyak kehilangan kesempatan untuk hindari dunia dalam istirahat total.
__ADS_1
°°°
Di tempat lain, tepatnya di atas atap bangunan yang tinggi. Seorang pendekar berdiri tegap dengan kedua tangan tersilang di atas dada. Pandangan mata pendekar tampan itu tidak beralih dari arah sebuah bangunan di dalam Padepokan Giling Wesi. Di mana dari tempatnya berdiri dia bisa mengawasi kegiatan pengobatan yang Suhita lakukan. Meskipun dari jarak yang cukup jauh, tapi kemampuan ilmu mata naga yang dia punya membuat dia bisa mengetahui hal yang terjadi di sana.
"Aku telah melakukan kesalahan besar. Satu kebohongan yang telah aku lakukan, membuat banyak orang yang terimbas oleh kebohongan-kebohongan lain yang terus mengikuti," Mahesa menghela napas berat.
Hatinya berdebar, bertabur dengan siraman air garam dalam puluhan sayatan pedih dari sembilu yang terus-menerus menggores. Kepedihan yang Mahesa rasakan tatkala dia harus menghadapi kenyataan jika anak kesayangannya harus dia sembunyikan dari mata dunia persilatan.
Mahesa terus berlari dan sembunyikan diri dari pandangan orang. Dia bahkan takut jikalau ada orang yang melihat saat dia bersama dengan anak kandungnya. Atas dasar apa Mahesa lakukan itu? Harus sampai kapan dia menyembunyikan kalau ada anak lain yang merupakan darah dagingnya, anak yang tidak terlahir dari rahim seorang Dewi Api yang notabene-nya merupakan istri syah Mahesa (setidaknya orang-orang di dunia persilatan yang menganggap demikian).
Egois. Satu kata itu mampu mewakili beribu alasan yang akan Mahesa ungkapkan. Alasan-alasan yang tentunya hanya berkaitan dengan nama besarnya semata. Apa Mahesa pernah memikirkan perasaan anak-anaknya? Sejak membuka mata, mereka selalu dijejali dengan kebohongan-kebohongan yang berbalut manisnya kata-kata dusta. Sampai kapan? Haruskah mereka mengetahui justru dari mulut orang lain?
__ADS_1
"Tidak! Ini adalah kali pertama dan terakhir aku memaksa putriku untuk bersandiwara. Dia adalah anakku. Bukan semata seorang murid yang tidak wajib memanggilku dengan kata ayah," desis Mahesa.
Semakin dia merenung, maka semakin dalam goresan luka itu mengalirkan darah di dalam sanubarinya. Mahesa harus berani ambil segala resiko terburuk sekalipun. Karena keluarga adalah nomor satu.