
BAAAMMMM !!!
Kilau cahaya merah seakan membakar seantero hutan. Bahkan Suhita terpaksa menutup matanya, api panas itu amat menyilaukan.
BAAAMMM !!!
Sekali lagi dentuman keras terjadi. Namun kali ini bukan percikan api yang terlihat, melainkan aura hitam yang sekaligus menghapus kilau cahaya di langit.
Praakkk! Bugh! Tubuh Pendekar Tongkat Malaikat terhempas keras, punggungnya menghantam tanah hingga terbenam.
"Ti-tidak mungkin ..." Pendekar Tongkat Malaikat mengabaikan darah segar yang mengalir dari mulut, hidung dan telinganya. Yang dia khawatirkan justru kondisi tongkat pusaka miliknya yang retak.
"Uhuukk ... uhuukk ..." dengan sekuat tenaga, Pendekar Tongkat Malaikat bangkit dari dalam tanah. Kepalanya mendongak, mencari tahu siapa gerangan pemilik dua kekuatan yang menyerangnya bertubi-tubi.
Meskipun tatapannya masih sedikit buram, tapi Pendekar Tongkat Malaikat bisa melihat dengan jelas jika pemilik pedang api dan naga hitam merupakan dua orang yang berbeda. Usia mereka sepantaran, juga sepantar dengan Tabib Dewa. Para pendekar muda dengan kemampuan olah kanuragan cukup sempurna. Yang jelas keduanya telah ikut campur membantu Tabib Dewa, Pendekar Tongkat Malaikat memandang mereka sebagai musuh.
Pemilik pedang api, berdiri gagah dengan balutan pakaian yang amat mewah dan gagah. Ah, tidak. Itu merupakan seragam resmi Jenderal Kerajaan Utara. Bisa dilipat dari lambang gagang pedang yang berbalut emas.
Sementara seorang lagi, juga seorang pendekar muda. Tatapan matanya merah menyala, aura hitam sangat kental menyelimuti di sekelilingnya. Kebencian yang terpancar bahkan jauh melampaui rasa kesal dalam hati Tongkat Malaikat pada Suhita. Dan mungkin, pendekar itu jauh lebih berdarah dingin dari yang terlihat.
Tidak perlu terlalu lama menduga-duga, saat itu juga praduga Pendekar Tongkat Malaikat telah diwujudkan. Seekor naga hitam muncul dan melilit kedua kakinya, tanah telah berubah menjadi naga, itu artinya si pendekar juga menguasai kemampuan Tapak Naga Bumi. Apa yang sedang dia temui? Pendekar Tongkat Malaikat sungguh tidak mengerti.
"Akhhh !!!" kembali, tubuh Pendekar Tongkat Malaikat terjatuh dengan keras sebelum sempat dia banyak mengira.
"Apakah semuanya harus berakhir seperti ini?" Pendekar Tongkat Malaikat tercengang menyaksikan tongkat pusaka miliknya hancur berkeping-keping. Disusul pula dengan luka dalam yang ditambah menghantam tubuhnya. Dia berpikir beginilah caranya menyambut kematian.
Tidak kalah kaget, jantung Suhita justru semakin riuh berdebar. Setelah beberapa detik yang lalu dia dihadapan pada kematian, sekarang suasana justru berbanding terbalik. Kerongkongan Suhita menjadi kering kerontang, tidak tahu harus bicara apa.
"KAKAAAKKK !!!" teriak Suhita seraya melambaikan tangan. Wajahnya mencerminkan kegembiraan tak terbendung.
Danur Cakra menoleh, kemudian berlari meninggalkan Pendekar Tongkat Malaikat begitu saja.
"Hei, kau terluka!" Pendekar Naga Kresna terlihat shock melihat kondisi tubuh Suhita yang kotor, selain itu wajahnya lebam dan berdarah di pelipis mata.
Seorang pendekar lain pula menghambur mendekat. Dengan menggunakan sapu tangan dari kain sutera, dia lekas menghapus noda darah di pelipis Suhita. Dia tidak kalah khawatirnya dari Danur Cakra. Jenderal Kerajaan Utara pula merupakan saudara Suhita, meskipun mereka terlahir dari rahim perempuan yang berbeda. Raka Jaya.
Suhita melirik ke kiri dan kanan. Dua sosok yang amat dia rindukan. Akhirnya Suhita bisa bertemu dengan keduanya. Senyum mengembang di bibir manisnya, meskipun tidak terucap kata semuanya terpancar dari pancaran sinar matanya.
Kesempatan itu, dimanfaatkan oleh Pendekar Tongkat Malaikat untuk kabur. Meskipun sekarang dia tidak lagi memiliki tongkat pusaka, juga kondisi tubuhnya yang terluka sangat parah, hanya untuk sekadar melarikan diri tentu saja dia masih bisa memaksa. Terlebih lagi, tidak ada seorang pun yang memperdulikan keberadaannya lagi.
°°°
"Terus terang, meskipun pertemuan ini sangat menggembirakan. Akan tetapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Kau tahu, ada banyak mata di dalam hutan ini. Semuanya berkaitan dengan nama baikmu, Jenderal," ucap Danur Cakra.
Mungkin dari mereka semua yang paling merasa sakit ialah Suhita. Hati seorang perempuan diciptakan dengan sisi yang berbeda dibanding pria. Apa sih yang sebenarnya mereka dapatkan dari semua ini? Tidak ada! Yang pasti hanyalah saling menyakiti satu sama lain.
"Apa kau keberatan karena pakaian ini?" tanya Raka Jaya seraya menunjuk lambang kerajaan yang menghiasi bajunya.
"Sama sekali tidak. Aku justru bangga, bahkan begitu banyak orang yang begitu mendambakannya. Masalahnya ada padaku. Harusnya kau menangkap dan memenjarakan aku," jawab Danur Cakra.
Raka Jaya tertawa kecil, "sungguh, aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk itu. Tidak menjadi korban selanjutnya, aku sudah sangat beruntung."
"Hisss! Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa tidak ada topik yang lebih menarik?" Suhita menyela. Telinganya terasa panas mendengar percakapan dua saudara laki-lakinya.
__ADS_1
Seorang buronan, sementara satu lagi merupakan penegak hukum. Keadaan yang membuat semuanya jadi rumit. Tidak ada kerugian bagi Danur Cakra. Tapi untuk Raka Jaya pastinya akan menjadi petaka bilamana ada orang yang melihat dirinya justru bersahabat dengan seorang penjahat.
Sebelum pergi, Danur Cakra memastikan keadaan Suhita. Luka di wajahnya, juga bagian lain akibat pertarungan tadi. Meskipun seharusnya dia sadar kalau orang yang dia cemaskan merupakan seorang yang jauh lebih mengerti. Tapi bagi Danur Cakra, tetap saja Suhita adalah gadis yang lemah. Nama besarnya, hanyalah sanjungan dari mereka yang berhutang jasa.
"Kakak ... harusnya kau tetap di sini," rengek Suhita. Dia tidak mau melepaskan pelukannya.
"Jangan cengeng! Berpisah untuk bertemu, bertemu untuk berpisah. Lalu apa yang kau risaukan?" ucap Danur Cakra.
"Hei, hati-hati. Jaga dirimu, jangan sampai terkena sabetan pedang api ini," kelakar Raka Jaya seraya berjabat tangan.
Danur Cakra tersenyum tipis, dia tidak menjawab lalu kemudian berlalu.
°°°
Pimpinan kelompok Merpati Putih, Ki Tirta sudah hampir sembuh. Sebagai kelompok aliran putih, tentunya mereka akan dapat membantu para prajurit untuk menangani kekacauan-kekacauan yang ditimbulkan oleh para penjahat maupun kelompok aliran hitam.
Satu persatu masalah rumit sudah dipecahkan. Itu artinya Suhita sudah tidak memiliki kepentingan lagi di kota Binar Embun. Bahkan seluruh sumur dan semua sumber air sudah dibersihkan. Tidak lagi ada sisa-sisa racun di sana.
Kelompok Merpati Putih, telah menjelaskan segala kemungkinan pada Suhita. Kendati para penjahat Lipan Utara sewaktu-waktu bisa muncul dan kembali membuat kerusuhan, mereka akan bisa atasi. Namun yang ditakutkan justru keselamatan Tabib Dewa. Dalam perjalanan jauh, melewati hutan rimba dan geografis yang sulit bukan tidak mungkin bahaya mengancam di segala kondisi.
Bersama dengan seorang pria berseragam, tentunya keselamatan Suhita akan terjaga dengan baik. Jenderal besar kerajaan Utara adalah salah satu orang yang akan rela mempertaruhkan nyawanya untuk Tabib Dewa.
Pergi dan pulang ditemani oleh dua orang yang berbeda. Mungkin tidak terasa aneh di mata penduduk Binar Embun. Akan tetapi, amat janggal dirasakan oleh para pembantu Suhita. Terutama Kencana Sari. Gadis itu mencari kesempatan untuk bisa bicara dengan Suhita.
Siang itu juga, Suhita berkemas untuk segera melanjutkan perjalanan. Sudah terlalu lama mereka tertahan di Kota Binar Embun. Dan yang terpenting, suasana kota telah kondusif.
"Hita ... bukannya kau pergi bersama pendekar Cakra, bagaimana bisa pulang diantar Jenderal. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Sari kala keduanya tengah berkemas.
Suhita mengangkat wajahnya, sejenak dia menghentikan kegiatan. Apa yang harus dia katakan? Suhita menggaruk kepala.
Kencana Sari mengangguk. Dengan kata lain, Suhita menjelaskan jika buronan kerajaan itu pergi, tanpa tertangkap. Padahal Kencana Sari sangat berharap Hita menjawab kalau Cakra sudah dijebloskan ke dalam bui. Terus terang saja, hati para pelayan Suhita sangat tidak tenang menyaksikan Suhita bergaul dengan seorang pendekar aliran hitam.
Para penduduk kota Binar Embun berbaris di sepanjang jalan, mereka seakan tidak ingin melewatkan untuk melepas kepergian Suhita. Terlebih lagi, dengan keberadaan Raka Jaya. Bahkan wali kota sendiri yang turun ke jalan, menyampaikan kata-kata perpisahan.
Lambaian tangan para penduduk mengiringi di setiap putaran roda kereta kuda yang membawa Suhita. Sementara Raka Jaya menunggang kuda, berjalan di depan kereta.
"Apakah Jenderal muda sengaja datang untuk menyusul kita?" tanya Arya Winangun.
Suhita mengangkat bahu. Dia tidak yakin, karena dari sekilas pembicaraannya dengan Raka Jaya, tidak menunjukkan kalau Raka Jaya memiliki hubungan baik dengan pangeran yang akan Hita obati. Lagi pula, waktu satu pekan yang mereka kejar akan jatuh pada hari esok. Seandainya mereka tiba di Kota Raja, itu artinya Suhita terlambat tiga hari.
Di depan, Raka Jaya menghentikan langkah kudanya. Dia menemukan jalanan sempit di sisi dua tebing yang terjal. Secara logika, pastinya tempat seperti itu merupakan sarang bagi para perampok.
"Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya lebih dulu," ucap Raka Jaya.
"Jenderal, maaf. Apa tidak berlebihan? Kami sudah terbiasa menempuh perjalanan seperti ini, jadi rasanya itu tidak perlu," tolak Suhita.
"Kau lihat wajahmu sekarang? Itu membuktikan kalau di muka bumi ini semuanya serba mungkin."
"Iya, tapi masalahnya kau bukanlah pasukan pengawal kami. Kau seorang Jenderal, haruskah melakukannya?"
"Sama sekali tidak ada hubungannya. Aku hanya melakukan semua untukmu. Untuk keselamatanmu. Jadi diam, dan tunggu sampai aku kembali."
Selesai bicara, Raka Jaya segera melompat mendaki tebing untuk mengawasi kawasan di sekitar tempat tersebut. Lokasi yang sangat menguntungkan bagi para perampok. Dari atas tebing, mereka bisa melakukan apa pun untuk mencelakai target yang melintas di bawah.
__ADS_1
Tentu saja feeling dari seorang Jenderal tidak akan meleset. Baru saja Raka Jaya berhasil menjangkau puncak tebing, dia telah menemukan sosok pengintai yang mencoba untuk lari.
"Mau ke mana kau?!" tanya Raka Jaya yang berhasil memotong jalan.
Rampok tersebut sangat kaget. Dia merasa kalau tidak ada orang lain yang bakal jago dalam menaklukkan curamnya tebing. Ternyata bagi pendekar muda itu, seperti membalikkan telapak tangan saja.
"Ah, Tuan. Maaf, saya hanya kebetulan melintas sedang mencari kayu bakar," ujarnya bersandiwara.
Raka Jaya tertawa kecil. Mencari kayu bakar mengapa harus di tempat yang berbahaya, sebuah alasan klasik yang sangat tidak masuk akal.
"Di mana kelompokmu?" tanya Raka Jaya.
Pengintai tersebut masih untuk coba mencari-cari alasan. Hal besar yang tidak dia sadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan seorang Jenderal tertinggi di kerajaan.
"Aku tidak punya banyak waktu, bicara baik-baik atau aku akan memaksa!" tekan Raka Jaya.
"Bocah sialan!" maki pengintai.
Tidak ada jalan lain. Sebelum dipukul, akan lebih baik kalau bisa lebih dulu memukul. Tanpa menjawab, dia langsung menyerang Raka Jaya.
Tap! Tap! Bugh! Hanya dalam satu gerakan, Raka Jaya berhasil menjatuhkan serta meringkus lawannya. Sebelah tangan lawan dia pelintir ke belakang, membuat si pengintai meringis kesakitan.
"Ayo, cepat bawa aku ke tempat temanmu bersembunyi!" bentak Raka Jaya seraya memelintir tangan lawan dengan lebih keras.
"A ... ampuun! Baiklah, akan aku tunjukkan!"
"BRUUUKKK !!!" suara benda besar yang terjatuh seketika menghentikan suara tawa yang semula terdengar riuh rendah.
Serentak kelompok begundal rampok itu menoleh ke arah suara, menemui seorang rekan mereka yang tergeletak. Tidak terdengar suara kedatangannya, tapi kali ini mereka mendapatkan tamu istimewa. Salah seorang dari mereka sadar jika sosok yang datang merupakan prajurit kerajaan.
"Sialan!" umpat yang lain.
"Ingat! Hari apes tidak ada di dalam kalender. Serahkan diri kalian, bertaubat dan jangan ulangi kesalahan. Masih terlalu banyak pekerjaan baik yang bisa di lakukan. Kalian tahu, hukuman bagi rampok ialah hukuman mati!" tutur Raka Jaya.
Pimpinan rampok, bukannya takut malah tertawa terbahak. Dengan songongnya, dia berdiri berkacak pinggang. Kekerasan merupakan hal yang biasa mereka lakukan. Bahkan mati, bukanlah suatu hal yang ditakuti.
"Tugasku ialah menjaga rakyat agar hidup tenang. Rampok busuk semacam kalian, sungguh tidak pantas menjadi bagian dari rakyat Kerajaan Selatan."
"Fuuiiihhh !!! banyak bacot! Habisi dia!!!" teriak pimpinan rampok.
Serentak para rampok bergerak menyerang dengan senjata masing-masing. Tidak sedikit pun rasa takut di wajah mereka, yang ada hanyalah keserakahan, mencari harta dengan jalan yang mudah. Tidak peduli meski harus mengisap darah orang lain.
Raka Jaya menyambut serangan para perampok dengan tangan kosong. Gerakannya begitu cepat, satu persatu rampok dijatuhkan dengan hanya satu kali pukul.
"Sekali lagi aku peringatkan, serahkan diri kalian!" teriak Raka Jaya.
Karena tidak seorang pun yang mau mendengar, terpaksa Raka Jaya mengambil tindakan tegas. Dengan satu serangan, dia melepaskan pukulan untuk membuat seluruh rampok terkapar. Selepas itu, Raka Jaya bergegas pergi.
"Syukurlah ... jalannya aman. Sekarang kita bisa lanjutkan perjalanan," Raka Jaya telah kembali ke kereta Suhita.
"Jenderal, terima kasih."
Mereka segera melanjutkan perjalanan, melintasi jalan sempit nan terjal tersebut. Harusnya Raka Jaya merasa lega karena tidak akan ada penghalang perjalanan mereka. Kelompok rampok yang biasanya beroperasi sudah dia tangani. Namun entah mengapa, hati kecilnya mengatakan sesuatu yang berbeda. Raka Jaya merasa jika ada yang mengawasi mereka. Atau jangan-jangan penguasa tebing bukan hanya para perampok tadi, ada kelompok lain yang juga kerap melancarkan kejahatan di tempat itu.
__ADS_1
"Tidak! Aku harus tetap terlihat tenang," batin Raka Jaya. Meskipun begitu, dia meningkatkan kewaspadaan pada level yang paling tinggi. Sewaktu-waktu muncul serangan mendadak, maka kemungkinan untuk menghindar akan lebih besar.
Luas jalan hanya bisa untuk satu kereta kuda. Seandainya harus berpapasan, maka salah satu kereta harus mencari lokasi untuk menepi. Sangat sempit.