Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Bantuan Pasukan Regu Kedua


__ADS_3

"Jala sutra !!!" dengan teriakan keras, pimpinan Rompi Merah menghentakkan kedua tangannya, melepas pukulan tenaga dalam yang membentuk jaring laba-laba.


Kemuning terbelalak, dia berusaha untuk membantu Kencana Sari untuk menahan pukulan tenaga dalam tersebut, sementara di hadapannya ada seorang pendekar Rompi Merah yang terus menggempur. Kemuning hanya punya dua pilihan sulit, dia harus memilih untuk terus bertahan menghindari serangan lawan atau membantu Kencana Sari dengan resiko terkena pukulan.


Kemuning mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, melemparkan pedang miliknya ke arah pimpinan Rompi Merah. Setelah itu, Kemuning melompat dengan cepat menubruk tubuh Kencana Sari agar terhindar dari jala sutra.


Tenaga dalam Jala Sutra merupakan satu ilmu yang menyerupai serangan jaring laba-laba. Pencipta ilmu tersebut sangat terinspirasi akan kemampuan laba-laba yang bisa menangkap mangsa dengan gunakan jaring yang diciptakan. Ketika kekuatan tenaga dalam digabung dengan energi murni dalam diri sang pemilik, maka tepat ketika dihentakkan pukulan tenaga dalam yang dikeluarkan mampu membentuk seperti jala ikan yang besar. Dan siapa pun yang terkurung di dalam jala tersebut, maka akan terpengaruh kekuatan ilmu hingga sulit untuk bergerak layaknya ikan tergulung jala.


Selain itu juga, tali-tali yang terbentuk sangat kuat dan juga lengket. Sungguh menyulitkan bagi lawan untuk bisa keluar. Pedang? Selain pusaka langit dan atau pusaka legenda lainnya, maka akan kesulitan untuk bisa memutuskan tali jala.


Bruuuk! Tubuh Kencana Sari dan Kemuning jatuh berguling di atas bebatuan licin. Beruntung Kemuning datang tepat waktu, hingga dia bisa menyelamatkan Kencana Sari dari kurungan Jala Sutra.


Bugh! Desshh! Baru saja Kemuning hendak bangkit, serangan lawannya tadi sudah datang mengenai tubuhnya. Membuat tubuh Kemuning kembali terguling di atas bebatuan.


"Nona Kemuning ..." Kencana Sari terbelalak lebar. Baru saja Kemuning menyelamatkan dirinya, jika tidak mungkin telah terjadi pembunuhan karakter, ketika Kencana Sari tidak berdaya di dalam Jala Sutra.


"Hup! Yaaaatttt !!!" sambil melompat bangun, Kencana Sari melepaskan satu pukulan tenaga dalam ke arah seorang lawan.


Tepat sekali, Kencana Sari memilih lawan terlemah untuk menerima pukulannya. Hingga hasilnya sangat memuaskan ketika lawannya tidak berdaya sebelum kemudian tersungkur tidak bernyawa.


"Sial!" Kencana Sari mengumpat, dia sadar jika kemampuan bertarung lawan-lawannya berada pada level yang berbeda. Terlalu banyak teknik curang yang tidak terduga oleh Kencana Sari.


Brukk! Bruuuk! Dua gadis cantik itu akhirnya tersungkur di tempat yang sama, kemampuan mereka memang tidak rendah, makanya sangat kesulitan bagi Rompi Merah untuk bisa meringkus. Keduanya saling melengkapi, Kencana Sari punyai olah kanuragan yang lebih tinggi, tapi Kemuning lebih kaya pengalaman. Saat mereka bergabung tentu tidak mudah untuk disentuh.


Namun sekali lagi, tingkat kemampuan bukanlah satu-satunya faktor penentu untuk seorang meraih kemenangan dalam bertarung. Pada akhirnya, Kencana Sari dan Kemuning harus mengakui keunggulan lawan. Setelah perjuangan mereka yang amat panjang, hingga terjatuh dalam usaha.


Sebaliknya, Rompi Merah juga alami kerugian yang sangat besar. Mereka kehilangan semua anak buah, dan para pemimpin pun terluka. Harusnya itu impas, sepadan dengan hasil tangkapan besar yang didapat. Asalkan. Asalkan tidak lagi muncul penghalang lain.


Bukan perlombaan namanya jika hanya diikuti oleh satu kelompok saja. Tidak bisa dinamakan hidup jika semua berjalan sesuai rencana. Belum juga senyuman tersungging di bibir Kelompok Rompi Merah, apa yang dikhawatirkan telah muncul.


Keadaan berbalik tidak menguntungkan. Lebih dari sepuluh orang datang dan langsung menyerang Rompi Merah yang hanya tinggal bertiga. Mata pisau berterbangan dengan kecepatan tinggi, dan arah tujuan mata pisau yang sangat terarah. Sangat berbahaya, dengan jumlah mata pisau yang berhamburan layaknya hujan. Ninja? Mungkin bisa disebut demikian. Karena sebagian besar wajah mereka tertutup kain hitam.


Sebenarnya mereka bukan ninja, akan tetapi pasukan khusus dari kerajaan, yang dikirim oleh Raka Jaya. Ada beberapa pasukan yang dibentuk oleh Raka Jaya, dengan tugas berbeda. Sayangnya satu pasukan, yakni Pasukan Sayap Kelelawar telah lenyap dibantai oleh Danur Cakra. Hingga pasukan itu tidak ikut andil dalam misi kali ini.


Pasukan Sayap Kelelawar ditugaskan untuk mengikuti Kemuning, jika ada kesempatan maka mereka pula miliki wewenang untuk bisa membawa Kemuning kembali. Mereka tidak salah, hanya gagal saja. Mengetahui hal tersebut, atas persetujuan Raka Jaya, Panglima Lodaya kembali mengirim pasukan elit yang sekarang datang. Pasukan yang menutupi wajah mereka seperti ninja. Tugas mereka yakni melanjutkan misi Pasukan Sayap Kelelawar, untuk membawa Kemuning. Menghindarkan Kemuning dari serangan anak buah Panglima Braja dan pendekar bayaran Bangsawan Cokro.


Rompi Merah gelagapan dalam menghadapi serangan mendadak yang dilancarkan pasukan ninja. Selain itu, kemampuan yang dimiliki oleh pasukan itu sangatlah tinggi. Bahkan tidak jarang yang miliki kemampuan setara tumenggung.


Dalam waktu singkat, Rompi Merah langsung terpojok. Mereka berharap adanya bantuan yang datang. Paling tidak, ada kelompok lain yang juga ingin dapatkan Kemuning. Tentunya semakin meramaikan suasana. Semakin memanas.


Kencana Sari membuka matanya, dia melihat jika belum ada orang yang menghiraukan mereka berdua. Dengan cepat, Kencana Sari menelan beberapa sumberdaya untuk menahan rasa sakit dan mengembalikan tenaga dalamnya.


"Nona, bagaimana keadaanmu?" Kencana Sari membantu Kemuning untuk bangkit.

__ADS_1


Kencana Sari memberikan beberapa pil sumberdaya pada Kemuning. Situasi semakin genting, mereka harus segera melarikan diri. Kencana Sari baru menyadari jika kemampuan yang dia banggakan tidak lebih setitik buih di lautan.


"Sari, harusnya kau tidak perlu terlibat. Ini adalah masalah pribadiku, mereka datang untuk menangkapku ..." Kemuning berkata lirih.


"Kau jangan berkata begitu, bukankah hidup kita untuk saling membantu? Percayalah, kau pasti sependapat saat kau memahaminya," Kencana Sari tersenyum, ketulusan yang biasa Suhita lakukan, sudah menular padanya. Kencana Sari sangat senang miliki seorang yang menuntun dirinya pada kebaikan.


Kemuning dan Kencana Sari melarikan diri, mereka meninggalkan kuda dan segenap perbekalan yang dibawa. Mengambil jalan pintas secara sembunyi-sembunyi. Berharap tidak seorang pun yang menyadari kepergian mereka.


Mereka terus berlari dengan sekuat tenaga, meskipun darah tetap meninggalkan jejak menetes di sepanjang jalan. Selain luka dalam, beberapa goresan pedang pula menghiasi permukaan kulit keduanya.


"Uhuukkk ... uhuukkk ..." Kemuning memegangi dadanya. Dia menderita luka dalam yang cukup serius.


"Baiknya kita istirahat dulu. Biar aku coba obati lukamu," Kencana Sari mengajak Kemuning berhenti di antara batu gajah.


Kemuning duduk bersandar, dia mengatur napas dalam beberapa waktu. Dadanya terasa panas terbakar, belum lagi luka-luka kecil di sekujur tubuhnya membuat darah cukup banyak keluar.


"Sari, aku baik-baik saja. Baiknya kau obati saja luka dalammu. Kita sama-sama terluka, dan kau ... kau lebih dibutuhkan banyak orang, Hita akan sangat kehilanganmu. Dan aku pun tidak akan pernah bisa memaafkan diriku, karena ini terjadi karena kesalahanku."


"Hahah! Kau bicara apa? Dengar, keadaan seperti ini siapa yang inginkan? Tidak seorang pun. Kerja sama ialah solusi terbaik," Kencana Sari mengabaikan perkataan Kemuning. Meskipun dia dalam keadaan terluka, sebisa mungkin Kencana Sari membantu Kemuning.


"Tidak lama lagi kita akan sampai ke pertigaan jalan di mana Hita meminta untuk kita menunggu. Ayo, kita pasti bisa sampai tepat waktu," Kencana Sari menyemangati Kemuning.


"Ah, sialan! Sari, kau pergi saja lebih dulu. Cepat kembali saat kau bertemu Tabib. Aku sudah tidak tahan lagi," Kemuning menghentikan langkah, dadanya semakin sakit. Jika terus dipaksa, takutnya hanya akan menambah luka.


"Kau masih kuat 'kan? Ayo, apalagi yang kau tunggu? Cepat temui Suhita," Kemuning mendorong pundak Kencana Sari, meminta Sari untuk tidak ragu meninggalkan dirinya.


"Baiklah! Kau harus bertahan, aku pasti akan segera kembali," Kencana Sari tidak punya pilihan lain, kecuali pergi seorang diri untuk menemui Suhita dan meminta bantuan. Di sana ada Danur Cakra, sudah pasti bisa diandalkan.


Akan tetapi ... belum juga tiga langkah Kencana Sari berjalan, dari arah belakang mereka telah muncul empat orang berseragam hitam, datang dengan kecepatan tinggi.


"Huuuhhh ..." Kencana Sari dan Kemuning hanya bisa saling bertukar pandang, tersenyum pasrah.


Dengan sisa tenaga, mereka bangkit dan menyambut kedatangan lawan. Tidak peduli, meskipun celaka paling tidak mereka gugur sebagai kesatria.


°°°


"Sari, apa kau tahu bagaimana kita bisa selamat?" tanya Kemuning.


"Mungkin kau tidak percaya, karena memang tidak masuk akal. Tapi kau harus tahu, orang-orang yang datang menyerang kelompok Rompi Merah yang membawa kita ke tempat ini. Mereka adalah pasukan elit yang dikirim kerajaan," jawab Kencana Sari dengan senyum tipis.


Kemuning mengerutkan dahi, pasukan kerajaan? Bagaimana mungkin? Lantas siapa yang berperan di belakang ini semua?


"Jenderal Muda, beliau yang mengutus prajurit elit sengaja untuk membantu kita. Pesan seorang prajurit tadi, untuk kita tetap menunggu di sini hingga mereka datang. Dan tebak, apa kabar gembiranya?"

__ADS_1


"Ka-kabar gembira? Kabar gembira apa yang kau maksud?" Kemuning tidak mengerti.


"Kita tunggu saja. Tapi aku yakin, mereka bicara benar. Ada dua regu pasukan lainnya yang juga ditugaskan untuk menjemput Tabib Dewa. Dan, di tempat inilah lokasi yang dijanjikan," jelas Kencana Sari.


Kemuning tertawa kecil, masih tidak mengerti. Rasanya dia belum terjaga dari tidur, kenyataan membuat otaknya tidak mampu menjangkau.


Sesaat Kemuning termenung, dia mulai menelaah atas apa yang sebenarnya terjadi. Atas mengapa dan apa alasan yang membuat Jenderal Muda ikut turut campur dalam masalah ini. Atau mungkinkah Jenderal Muda merupakan orang yang bertanggung jawab atas bocornya identitas Kemuning, hingga sekarang para pendekar bayaran Bangsawan Cokro berlomba untuk menangkap Kemuning?


"Ah, rasanya tidak mungkin. Masa iya, setelah menanam benih api, juga tangan Jenderal Muda yang datang menyiram air. Justru karena dia tahu cerita hidupku, makanya tanpa diminta sekalipun hatinya terketuk untuk membantuku," Kemuning mencampakkan pemikiran aneh yang hinggap di benaknya. Harusnya dia berterima kasih pada Raka Jaya.


Kencana Sari dibekali dengan pengetahuan yang cukup dalam hal ilmu pengobatan. Pengalamannya mendampingi Suhita, membuat Sari punya kepandaian untuk membuat tubuh mereka bangkit dari luka dalam dengan waktu singkat.


Di dalam bangunan besar tempat mereka bersembunyi itu, ada bekas pemandian yang tidak lagi terurus. Sumber air yang digali dari dalam tanah, membuat air bersih mengalir terus menerus. Setelah memperbaiki pancuran dan membersihkan tempat di sekitarnya, pemandian itu sudah layak untuk lagi digunakan.


Kuda dan seluruh perbekalan yang tertinggal, telah pula di bawa ke sana. Pasukan elit yang dikirim Raka Jaya telah mempermudah segalanya. Membuat hati Kencana Sari dan Kemuning bisa tentram, menunggu hingga Suhita datang. Sambil mereka memulihkan diri dari luka yang diderita.


°°°


Kita tinggalkan para bidadari yang sedang berjuang untuk kesembuhan mereka. Sekarang mari kita kembali ke medan laga, pertarungan yang ditinggalkan oleh Suhita dan Cakra.


Para pendekar yang datang bukanlah pendekar kemarin sore yang baru menguasai satu atau dua jurus. Beberapa dari mereka bahkan tokoh besar yang namanya telah dikenal oleh dunia persilatan.


Beberapa serangan tenaga dalam yang dilakukan, sudah cukup untuk merobohkan para prajurit dan pendekar berkemampuan rendah. Energi hitam dan jari petir yang dilepaskan oleh Cakra hanya bertahan beberapa waktu, meskipun itu sudah cukup untuk membuat mereka pergi, tapi tentunya pula membuka mata para petarung jika Tabib Dewa sudah tidak lagi ada di lokasi.


Jubah Ungu mendengkus kesal. Kiranya ada seorang pendekar yang miliki kemampuan tinggi yang pula diimbangi teknik licik tahap sempurna. Bahkan pemuda dengan usia di bawahnya itu berhasil membawa Tabib Dewa kabur tanpa diketahui. Jubah Ungu merasakan adanya kotoran binatang yang dilemparkan tepat mengenai wajahnya.


"Kepa*rat! Dia pikir, sedang berhadapan dengan siapa? Lihat saja, akan ku beri paham!" kedua tangan Jubah Ungu mengepal keras, pria berusia 23 tahun itu merasa sangat tertantang.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" seorang anak buah Jubah Ungu bertanya.


Pertanyaan yang wajar, seorang pimpinan haruslah miliki banyak rencana. Bahkan saat keadaan terdesak dan tanpa arah, maka saat itulah keputusan bijak seorang pemimpin dibutuhkan.


"Habisi para prajurit busuk itu!" perintah Jubah Ungu.


Setelah titah diturunkan, tanpa menunggu lebih lama, anak buah Jubah Ungu langsung menggeruduk ke dalam gua. Di dalam sana, para prajurit regu penjemput Suhita yang menjadi incaran.


"Sialan! Ini sama sekali di luar rencana!" Purwa Anom, orang yang bersusah payah membawa Suhita ke tempat itu. Tapi rencana yang disiapkan menjadi gagal total. Bahkan Suhita sekarang tidak diketahui di mana keberadaannya.


Purwa Anom lekas berteriak lantang, memerintahkan rekan-rekannya untuk mundur. Mereka lebih paham lokasi, jalan rahasia di dalam gua akan menjadi pilihan alternatif.


"Huuuhhh ... huuuhhh ... aku harus secepatnya tiba. Semoga, Jenderal Muda sudah sampai," Purwa Anom terus menambah kecepatan larinya. Tidak peduli semak belukar dan tumbuhan berduri, semua tidak menjadi halangan dalam langkahnya.


Murid dari Padepokan Rajawali, sudah pasti Purwa Anom memiliki kemampuan yang tidak rendah. Kemampuan lari cepatnya sangatlah sempurna. Semakin dia menambah tenaga dalam, maka semakin tak terlihat gerakannya.

__ADS_1


Purwa Anom menghela napas lega, ketika matanya melihat ada empat buah tenda yang berdiri di tepi sungai. Itu artinya, Raka Jaya sudah tiba di sana.


__ADS_2