
Beda cerita seperti halnya Danur Cakra. Dalam pertandingan kedua babak final ini menyajikan tontonan yang bisa dikatakan kurang menarik. Di mana wakil dari Padepokan Api Suci, Raka Jaya bisa mengungguli lawannya dalam setiap pertandingan. Kemampuan yang mereka miliki memang tidak jauh berbeda, akan tetapi Raka Jaya terlihat begitu menguasai mentalitas lawan hingga menyebabkan lawannya kalah sebelum bertanding.
Saat pertandingan dimulai, Raka Jaya langsung menyerang dan menunjukkan kebesaran nama Padepokan Api Suci pada sang lawan. Membuat tongkat yang di pegang lawannya terjatuh hanya dalam beberapa gerakan. Sorak-sorai penonton semakin membuat ciut nyali lawannya, hingga pada pertandingan yang lain dia tidak bisa keluarkan potensi diri secara sempurna. Alhasil, Raka Jaya yang berhasil menyusul Danur Cakra ke partai puncak. Dua saudara satu ayah tersebut akan bertarung untuk perebutkan tempat tertinggi. Mereka harus berjuang untuk satu gelar juara.
Tidak lagi ada yang spesial di hati Suhita saat menyaksikan dua orang yang berarti baginya berdiri saling berhadapan. Di satu sisi, Suhita jauh-jauh datang ke Giling Wesi yakni untuk menyaksikan Raka Jaya sahabatnya itu peroleh gelar sebagai yang terbaik. Akan tetapi, sekarang kenyataannya berbeda ketika Suhita mengetahui jika saudara kembarnya juga menjejak jalan yang sama.
Jika harus dipaksa untuk jujur, Suhita masih sedikit berharap jika Raka Jaya yang menjadi pemenang. Sesuai dengan predikat padepokannya yang juga telah termasyhur. Namun Suhita juga tidak menampik jika dia malah telah membekali Danur Cakra dengan beberapa sumberdaya. Hati dan tindakan yang Suhita lakukan, nampaknya berlawanan. Hal itu, yang membuat hati Tabib Titisan Dewa semakin bingung.
Satu hal yang Suhita inginkan yakni siapa pun yang nantinya keluar sebagai pemenang, pada yang kalah diharapkan bisa berlapang dada. Sedikitnya, Suhita bersyukur masih diberi harapan.
"Hei, sekarang siapa yang kau dukung? Aku ingin bertaruh satu kali lagi," tanya Arya Winangun pada Suhita yang mendadak kalem.
"Ah?! Apa maksudnya, keduanya adalah temanku. Mana mungkin aku dukung salah seorang," jawab Suhita.
Arya Winangun tertawa kecil, "Kau tidak perlu berbohong padaku. Dari tatapanmu saja aku sudah tahu. Kau mendukung wakil Padepokan Api Suci itu 'kan? Ya, sudah. Kalau begitu, aku ambil alih jagomu yang tadi. Danur Cakra, pasti menang," Arya Winangun bicara sambil mesam-mesem.
"Sembarangan, aku pun masih berharap Danur Cakra yang menang," kilah Suhita.
__ADS_1
Arya Winangun justru tertawa terbahak, "dari matamu saja sudah terlihat. Kau suka pada Raka Jaya, hehehe ... tidak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya."
Suhita hanya bisa melotot, mulutnya terbuka tapi tiada kata yang terucap. Hita kehabisan kata-kata. Hingga dia memilih untuk diam dan tidak membahas hal itu lagi. Itu tandanya, Suhita perlu belajar lebih giat lagi. Supaya orang-orang tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Ataukah itu rasa suka? Tidak mungkin. Suhita tahu betul betapa bilangan usianya saat ini.
Kembali ke atas ring. Dua anak berbakat yang terpilih telah saling berdiri di tempat mereka masing-masing. Tinggal satu posisi juara yang mereka perebutkan.
"Raka, kau harus ingat. Aku tidak akan mengalah begitu saja padamu. Meskipun, jalanku sejauh ini juga berkat dirimu. Karena kau aku bisa ada di sini. Tapi, aku sangatlah berbahaya," ucap Danur Cakra.
Raka Jaya tersenyum, "Kedatanganku jauh-jauh dari Kota Bilah Api, tentu tidak mengharapkan kemenangan cuma-cuma. Justru aku akan tersinggung jika kau sengaja mengalah."
Keduanya sepakat, setelah terompet berbunyi tanda pertandingan dimulai maka tidak ada lagi persahabatan itu. Mereka akan berhadapan layaknya musuh yang menjadikan kemenangan adalah tujuan.
Dua nama bocah itu diteriakkan dari berbagai sudut. Suasana di sekitar arena pun bertambah ramai sekali. Banyak orang yang menantikan pertarungan puncak final kali ini. Meskipun yang menyedihkan ialah tidak ada wakil dari padepokan sekutu penyelenggara yang menjadi wakil, tetap saja tokoh aliran putih yang datang berharap banyak dari kedua bocah berbakat tersebut.
"MULAIII !!!" diiringi teriakan wasit pemimpin pertandingan, terompet berbunyi nyaring.
Danur Cakra dan Raka Jaya segera memainkan tongkat di tangan mereka. Menggunakan kemampuan terbaik untuk bisa melumpuhkan lawan atau paling tidak membuat senjata tongkat kayu terlepas dari tangan lawan. Mereka harus berkonsentrasi penuh.
__ADS_1
Kali ini, Raka Jaya tidak mudah untuk merengkuh kemenangan. Yang menjadi lawannya ialah seorang anak yang sama sekali memiliki mental baja, tidak silau pada nama besar padepokan apa lagi merasa jika dirinya lebih kecil. Sebaliknya, Danur Cakra malah semakin menggebu untuk bisa patahkan cara pandang orang-orang yang memiliki cara pandang demikian. Dia ingin tunjukkan jika siapa pun berhak untuk berdiri di tempat tertinggi.
Di satu kesempatan, Raka Jaya memukulkan tongkat kayunya ke arah kaki Danur Cakra, meski demikian sebenarnya yang merupakan incaran Raka Jaya ialah disaat Danur Cakra menghindar dengan cara melompat dan berputar di udara, maka saat itulah serangan yang sebenarnya akan Raka Jaya lakukan.
"Sial! Hampir saja aku terpedaya," umpat Danur Cakra.
Disaat yang hampir bersamaan, Danur Cakra pun menyadari rencana serangan yang diatur oleh Raka Jaya. Dengan segera Danur Cakra menusukkan tongkatnya ke arah datang tongkat milik Raka Jaya.
Braaakkk!!! Kedua ujung tongkat yang mereka genggaman bertabrakan dengan keras.
Diikuti aliran tenaga dalam yang cukup tinggi, membuat ledakan terjadi begitu besar. Terutama Raka Jaya, tubuhnya terdorong jauh ke belakang. Tenaga dalam yang Danur Cakra miliki, harus diakuinya jika berada pada tahap yang lebih sempurna dibandingkan dirinya. Raka Jaya sadar, makanya dia harus lebih berhati-hati.
Wasit pemimpin pertandingan melompat ke tengah-tengah arena. Tangannya menunjuk ke arah Raka Jaya, dan menyebut jika Raka Jaya adalah pemenangnya.
Danur Cakra terbelalak. Dia menyadari jika di tangannya sudah tidak tergenggam sedikit pun tongkat kayu. Semuanya hancur akibat tidak sanggup menahan aliran tenaga dalam yang terlalu besar. Berbeda dengan Raka Jaya, di tangannya masih tergenggam tongkat kayu meskipun panjangnya tidak melebihi lengan. Tapi paling tidak, Raka Jaya masih bisa pertahankan keberadaan alat pembantu tersebut.
Keputusan wasit pemimpin pertandingan tidak bisa diganggu gugat. Bagaimanapun juga kesalnya Danur Cakra, dia harus menerima kenyataan jika Raka Jaya merengkuh satu poin dengan cerdik.
__ADS_1
"Apakah persahabatan harus berakhir seperti ini?! Tidak, dia terlalu baik bagiku. Aku tidak boleh jadi orang yang tidak tahu budi," Danur Cakra berusaha menenangkan diri dan menekan kebenciannya pada Raka Jaya.
Meskipun itu sulit, tapi Danur Cakra harus berusaha. Dan jangan sampai pada babak selanjutnya dia kelepasan tangan hingga berpotensi celakai Raka Jaya yang sebenarnya merupakan saudaranya sendiri. Meskipun sejauh ini tidak ada seorang pun yang mengetahui akan hal itu.