Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pagi yang Mencekam


__ADS_3

Kokok ayam yang saling bersahutan, suara nyanyian burung-burung kecil yang menyambut datangnya pagi, semuanya tidak didapati. Yang ada hanyalah hiruk pikuk kesibukan masing-masing orang yang tiada jeda. Kedai dan pusat perbelanjaan yang buka dua puluh empat jam selalu ramai orang. Suasana asri tentu tidak mungkin ditemukan di Kota Raja. Tiada jeda waktu, orang-orang sibuk mengais rejeki.


Kemuning membuka matanya, dia merasakan seluruh persendiannya terasa linu. Dada pun semakin sakit, sesak kala bernapas. Dia sadar, penyakit yang dideritanya semakin parah. Kemuning coba bangkit lalu memandang berkeliling, di atas sofa dia melihat selimut menutupi sesuatu dengan rapi. Kemuning menduga sosok di balik selimut adalah Danur Cakra yang masih tertidur. Dia tidak ingin mengusiknya. Kasihan, segala sesuatu masa harus merepotkan pria itu. Dengan menekan rasa sakit, Kemuning turun dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya tertatih. Jika saja tanpa Danur Cakra, Kemuning yakin kalau jasadnya sudah dikuburkan empat atau lima hari yang lalu.


"Awww ..." dengan cepat Kemuning membekap mulutnya sendiri, menahan supaya suaranya tidak sampai keluar.


Aliran darah di dalam tubuhnya seakan terhenti, mungkin juga degup jantungnya yang sudah tidak lagi normal. Kemuning bersandar di dalam kamar mandi, merenungkan takdir yang dia alami. Apa mungkin ini adalah karma? Atau ini adalah kutukan kedua orang tuanya yang diijabah oleh Tuhan? Kemuning tidak menyalahkan ayah ataupun ibunya. Mereka sama sekali tidak bersalah. Justru sebagai seorang anak, Kemuning termasuk anak yang durhaka, tidak berbakti, membangkang, hanya mengikuti hawa napsu untuk bersenang-senang, sampai-sampai nekat pergi dari rumah tanpa memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tua yang telah melahirkan dan merawat dirinya sejak masih bayi. Pasti mereka sangat hancur.


Kemuning menanggalkan seluruh kain yang semula melekat di tubuhnya. Sejenak dia berdiri terpaku, memandangi tubuh polosnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apa yang bisa dia banggakan dari semua yang dia miliki itu? Dia hanya lebih beruntung sehingga bisa menyombongkan diri pada mereka yang tidak memiliki bentuk tubuh yang sempurna.


Seiring air dari gayung yang mengalir membasahi, Kemuning sangat bersyukur karena masih bisa menjaga diri. Dia bahkan memiliki seorang teman yang juga begitu penuh perhatian. Satu-satunya nikmat yang dia terus rasakan ialah adanya sosok pria yang menghargainya, turut menjaga kehormatan terbesar yang dia punya. Lahir dan batin. Bukan pria yang hanya menaruh kagum sekadar untuk bisa memiliki.


Cinta dan kasih seorang pria pada wanita dapat dilihat dari perbuatannya. Dia yang benar tulus dari hati, maka tidak mungkin akan menodai seorang yang dikasihi. Dan itulah cinta sejati, melindungi.


Dalam beberapa hari terakhir, Kemuning selalu bersama dengan Danur Cakra. Bahkan mereka kerap tidur saling berdekatan. Jikalau sekadar mencivm ataupun meraba-raba, tentu suatu hal yang wajar dan naluri manusiawi. Namun Danur Cakra tidak pernah bertindak lebih jauh dari itu. Dari seratus, atau mungkin seribu, akan sulit ditemukan satu.


Dengan hanya memakai handuk, Kemuning keluar dari kamar mandi. Kakinya terasa semakin berat, kondisinya lebih buruk setelah terkena guyuran air.


"Cakra ... Cakra ..." Kemuning memangil nama Danur Cakra berulang kali.


Namun sampai Kemuning selesai berganti pakaian, Danur Cakra belum juga menyahut. Kemuning jadi curiga, tidak biasanya Danur Cakra begitu. Padahal sudah lebih dari dua kali Kemuning terjatuh, nyatanya selimut Danur Cakra tidak bergerak. Apa mungkin, yang ada di balik selimut hanyalah bantal? Lalu ke mana Danur Cakra?


Kemuning memandang berkeliling, matanya mencari-cari sesuatu yang tidak ingin dia lihat. Bayangan ketakutan membayangi. Kalau setingkat Danur Cakra bisa dilumpuhkan, bagaimana dengan dirinya? Atau mungkin Danur Cakra tertangkap oleh prajurit kerajaan?


"Ahhh?!" Kemuning cepat sembunyi di balik ranjang ketika terdengar suara langkah memasuki kamar. Meski dengan gemetaran, tangan Kemuning menggenggam sebilah pisau. Saat darurat, dia masih bisa melindungi diri.


"Kemuning ..." suaranya dari arah kamar mandi, tapi itu suara Danur Cakra.


Pelan-pelan Kemuning mengintip dari balik ranjang. Syukurlah, orang itu benar Danur Cakra. Nampaknya Cakra mencari-cari sampai ke kamar mandi.


"Cakra !!!" Kemuning berteriak.


"Hei, kau kenapa?" Danur Cakra mendekat.


Kemuning memeluk Danur Cakra dengan erat. Dia menangis tersedu-sedan, membuat Danur Cakra jadi serba salah.


"Aku takut ... mengapa kau pergi tinggalkan aku? Bukannya kau sudah janji tidak akan tinggalkan aku sendiri? Huhu ... huuu ...."


Berulang kali Danur Cakra meminta maaf, dia juga kembali mengikrar janji untuk selalu menjaga Kemuning. Setelah dibujuk, barulah Kemuning sedikit tenang.


"Aku sudah tahu di mana Tabib Dewa sekarang. Habiskan makananmu, kita berangkat secepatnya," ucap Danur Cakra.


"Uhuukkk ... uhuukkk ..." Kemuning sampai tersedak mendengarnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Danur Cakra nampak sangat khawatir, dia memberi Kemuning beberapa teguk air seraya memastikan tidak terjadi apa-apa pada Kemuning.


Semua yang Danur Cakra lakukan untuknya, semakin membuat hati Kemuning bimbang. Dia tidak ingin kehilangan pria istimewa, tapi Kemuning juga tidak mungkin bisa sembunyikan jati dirinya untuk selama-lamanya. Jika dia jujur sekarang, takutnya Danur Cakra kecewa.


"Cakra, aku takut Tabib Dewa tidak mau mengobatiku," ucap Kemuning pelan.


"Tidak mungkin. Aku tahu siapa Tabib Dewa. Bahkan dia pernah menyembuhkan aku, meskipun dia tahu kalau aku seorang buronan kerajaan. Kau tenang saja, urusan Tabib Dewa serahkan saja padaku. Tidak ada alasan untuk kau menolak berobat," Danur Cakra meyakinkan.


"Tapi Cakra ..."


"Tidak ada tapi-tapian. Kau mau atupun tidak mau, aku akan tetap membawamu padanya. Ingat, hanya dia yang bisa sembuhkan luka dalammu," potong Danur Cakra.


Bahkan Danur Cakra sendiri yang tidak memberikan kesempatan pada Kemuning untuk bercerita. Dia sama sekali tidak mau mendengar apa pun itu alasan Kemuning. Padahal, Kemuning baru saja akan menceritakan perihal serangan yang mereka lakukan pada Tabib Dewa. Kemuning pernah coba celakai Tabib Dewa.


Seandainya saja Danur Cakra tahu, jika orang yang dia lindungi pernah memiliki niat untuk mencelakai saudara kembarnya.


°°°


Di rumah tempat Suhita bermalam.


Pagi-pagi sekali Raka Jaya telah datang dengan makanan sebagai buah tangannya. Dia datang bersama seorang Panglima perang yang berada di pihak Pangeran. Seperti diketahui, dalam tubuh kepemerintahan kerajaan terdiri dari beberapa kubu dan masing-masing kubu tidak begitu sepemikiran.


Arya Winangun datang menyambut keduanya. Pelayanan sekaligus orang kepercayaan Suhita tersebut membawa Jenderal Muda dan sang Panglima untuk menunggu di ruang depan.


Arya Winangun mengangguk dengan sopan, "saya tidak tahu kapan pastinya, Gusti. Akan tetapi mengingat pekerjaan di sini sudah selesai, juga sudah terlalu lama kami meninggalkan Rumah Pengobatan."


Panglima Lodaya tersenyum, kemudian dia melirik pada Raka Jaya. Usia Panglima Lodaya hampir dua kali lipat usia Raka Jaya, tapi karena posisi Raka Jaya lebih tinggi darinya maka dia bersikap begitu santun. Meskipun karena mereka berteman baik, maka tidak jarang candaan Lodaya lontarkan pada Raka Jaya.


"Aku merasa, ada seseorang yang akan sangat kehilangan. Walaupun jarak tidak mengikat, tapi langkanya kesempatan membuahkan rindu yang mendalam," ucap Lodaya seraya memandang birunya langit.


Raka Jaya hanya tersenyum tipis. Ya, dialah yang Lodaya maksud. Karena tidak ada yang mengetahui bahwa hubungan Raka Jaya dan Suhita merupakan saudara seayah, pastinya mereka menganggap kedekatan keduanya sebagai kedekatan antara lawan jenis. Tidak masalah, karena memang tiada yang salah akan hal itu.


Seorang pasukan khusus datang mengetuk pintu, nampaknya ada sesuatu mendesak yang hendak dia laporkan.  Raka Jaya segera mohon pamit. Dia meminta Arya Winangun menemani Panglima Lodaya sementara dia keluar sebentar.


"Jenderal Muda, ampun ..." prajurit khusus tersebut menjatuhkan lutut. "Ada seorang pria dengan membawa wanita terluka dalam, memaksa untuk bertemu dengan Tabib Dewa."


"Bagaimana bisa, ada orang yang mengetahui tempat ini. Baiklah, bawa aku padanya!" Raka Jaya berusaha menebak, siapa gerangan orang yang datang.


Semalam, setelah mengirimkan makanan untuk Suhita, sebelum pergi terlebih dahulu Raka Jaya mengerahkan kemampuan tenaga dalam Labirin Api Suci untuk melindungi tempat peristirahatan tersebut. Kekuatan tenaga dalam tingkat sempurna yang merupakan salah satu andalan dari Padepokan Api Suci. Sejauh ini kemampuan itu bisa dikatakan belum pernah meleset. Jika ada seorang, atau pendekar yang coba untuk masuk pastinya Raka Jaya merupakan orang pertama yang mengetahuinya.


Apa mungkin orang itu sengaja memata-matai dirinya? Sejak Raka Jaya keluar dan bersama Panglima Lodaya, pula dia tidak merasakan adanya aura asing yang membuntuti. Ataukah ini hanya kebetulan, kemujuran yang melindungi diri sang pasien hingga berjodoh untuk bertemu Tabib Dewa.


"Kalian sudah pastikan jika mereka hanya berdua?" tanya Raka Jaya.

__ADS_1


"Ampun Jenderal Muda. Tidak ada orang lain yang tahu tempat ini. Tapi maaf, saya merasakan kekuatan besar pada diri si pria nampaknya dia bukanlah orang sembarangan," jelas prajurit.


Raka Jaya semakin penasaran. Meskipun demikian, dia berharap kedatangan orang itu benar-benar untuk membawa teman wanitanya berobat, bukan untuk tujuan lain. Jika ternyata dia punya rencana jahat, alangkah malangnya orang itu harus berhadapan dengan Jenderal nomor satu di Kerajaan Utara.


"Jenderal Muda ..." beberapa orang prajurit yang siap siaga setelah kedatangan pasangan pria dan wanita asing, serentak membungkuk hormat kala Raka Jaya datang.


Raka Jaya mengerutkan dahi, memandangi pasangan muda tersebut. Masih sangat muda, tidak ubahnya seusia dirinya. Namun yang memancing perhatian Raka Jaya ialah pakaian yang dikenakan. Tidak nampak seperti seorang pendekar, meskipun aura yang terasa jelas menyatakan mereka berasal dari dunia persilatan. Mereka menyamar. Raka Jaya memberi isyarat pada prajuritnya untuk selalu siap siaga pada segala kemungkinan yang buruk.


"Tuan, ada apa dengan teman wanitamu?" tanya Raka Jaya dengan sopan.


Pria itu membungkukkan badan, memberi salam hormat. Setelah dia mengangkat wajah dan saling bertemu pandang dengan Raka Jaya, barulah Raka Jaya sadar akan siapa pendekar muda yang menyamar itu.


Wajar saja, pria itu bisa menemukan keberadaan penginapan yang Suhita tempati. Dia pasti menyimpulkan karena mencium kekuatan energi tenaga dalam yang Raka Jaya gunakan sebagai pagar. Memang saat malam dia tidak coba untuk menerobos, kiranya dia pergi dan sekarang kembali dengan membawa seorang wanita terluka parah.


"Danur Cakra?!" desis Raka Jaya dalam hati.


Begitu beraninya Danur Cakra menampakkan diri di siang hari, bahkan di depan Jenderal Muda Kerajaan Utara. Apakah dia tidak sadar, kalau kepalanya berharga ratusan kepeng emas? Yang dia lakukan sungguh melampaui batas.


"Dia kenapa?" Raka Jaya jongkok lalu meraih urat nadi di lengan Kemuning. Denyut nadinya sangat kacau dan lemah, dia benar-benar sedang terluka parah.


"Jenderal Muda, mohon belas kasihanmu. Aku tahu, Tabib Dewa ada di dalam. Hanya dia yang bisa mengobati temanku," pinta Danur Cakra.


Raka Jaya melirik para prajuritnya, mengangguk lemah, kemudian bangkit. Setelah memastikan keadaan di sekitar yang terkendali, Raka Jaya melangkah memasuki bangunan, "Ikuti aku!"


Danur Cakra cepat membopong tubuh Kemuning dan mengikuti langkah kaki Raka Jaya. Mereka tidak melewati ruang utama, melainkan masuk dari samping dan langsung menuju ruang belakang, di mana biasanya pagi-pagi Suhita berlatih olah napas.


"Kemuning, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Danur Cakra di telinga Kemuning.


"Cakra, bagaimana jika penyamaranmu terbongkar? Aku tidak ingin, hanya karena aku hingga membuatmu dalam masalah. Aku tidak rela jika sampai kau terluka. Aku sangat menyayangimu," air mata Kemuning mengalir di pipinya yang mulus.


"Jika kau benar menyayangiku, aku mohon untuk hargai perjuanganku. Jangan khawatirkan aku, yang terpenting kau lekas sembuh. Ingat, aku juga sayang kamu!" Danur Cakra tersenyum, memandang Kemuning dengan penuh kasih.


"Andai saja, kau adalah orangnya. Maka aku tidak mungkin sampai minggat dari rumah. Mengapa tidak dari dulu kau datang, aku yakin kita sudah hidup bahagia. Nanti ... setelah aku sembuh, aku pasti akan melakukan apa pun untuk bisa buat kau selalu tersenyum, seperti sekarang. Meskipun aku harus mengorbankan diriku," Kemuning berjanji pada dirinya sendiri.


Menatap Danur Cakra dari jarak yang sangat dekat, senyumnya, semangatnya, menghapuskan segala ketakutan dalam diri Kemuning. Dia harus percaya, ini adalah cara terindah Tuhan membalas segala derita yang dia rasa.


Kemuning memejamkan matanya, membiarkan angin menyapu tetes air mata di pipinya. Meskipun sebentar lagi dia akan bertemu dengan Tabib Dewa, dengan para pelayannya, yang pasti akan menghakiminya atas kesalahan yang pernah Kemuning lakukan di masa lalu. Tapi perjuangan Danur Cakra, lebih dari cukup sebagai alasan Kemuning untuk bertahan dari apa pun.


Dug! Dug! Dug! Debar jantung Kemuning semakin tidak karuan, pintu yang mereka tuju semakin dekat. Kemuning hanya bisa berharap Tabib Dewa tidak melibatkan Danur Cakra atas segala kesalahan yang pernah Kemuning lakukan. Meskipun harus menerima cacian dan hinaan, dia akan ikhlas, semuanya akan dia tanggung sendiri.


Kemuning mungkin miliki kesalahan yang besar, yang dia anggap akan membuat Tabib Dewa menolak untuk menolongnya. Dia tidak ingin membuat Danur Cakra mengemis karena itu. Akan tetapi satu hal yang tidak Kemuning ketahui ialah, masalahnya jauh lebih rumit dari semua yang dia tahu.


"Masuklah ... Tabib Dewa ada di dalam," ucap Raka Jaya.

__ADS_1


Danur Cakra menatap Raka Jaya dengan dalam. Dirinya yang berdosa, semestinya tidak harus menyeret saudara.


__ADS_2