Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Dua Kitab Beda Warna


__ADS_3

"Kepa*rat kau! Apa maumu?" Malaikat berjubah mengumpat. Dia berusaha untuk meronta, tapi tubuhnya tidak sedikit pun bisa digerakkan.


Mahesa jongkok di depan wajah Malaikat berjubah. Dengan tangan kiri, Mahesa mengangkat kepala Malaikat berjubah agar menatap wajahnya.


"Dengar baik-baik. Aku hanya ingin dengar sejujur-jujurnya, apa tujuanmu datang ke rumahku. Kau tahu, apa yang akan ku lakukan pada orang yang berani mengusik keluargaku. Tidak terkecuali dirimu," Mahesa memetik kening Malaikat berjubah dengan iringan tenaga dalam. Membuat darah di dalam tubuh Malaikat berjubah seperti tersendat jalannya.


"Kedengarannya, kau sedang mengancamku. Apa kau pikir aku takut?" Malaikat berjubah membalas tatapan Mahesa dengan sinis.


"Harus, kau harus takut. Karena aku akan perkenalkan rasa ketakutan itu," Mahesa menyeringai.


Jari telunjuk Mahesa menekan pelipis kanan Malaikat berjubah. Seketika ada aliran yang begitu dingin memasuki tubuh Malaikat berjubah dan menekan segenap organ dalamnya, termasuk otak.


"AAAKKHHH !!!" Malaikat berjubah melolong kesakitan ketika energi tenaga dalam yang Mahesa kerahkan memporak-porandakan pertahanan yang dia ciptakan. Kemampuannya tidak cukup kuat untuk menahan tekanan yang datang. Semakin dilawan, maka tubuhnya semakin merasakan sakit yang luar biasa. Sungguh, Malaikat berjubah seperti berada di ambang kematian tapi dia tak kunjung melepaskan nyawa. Mahesa sengaja membuatnya merasakan sakit.


"Baik, baik, baik! Aku akan ceritakan!" Malaikat berjubah akhirnya menyerah. Semisal dicelakai, tentunya dia akan lebih bisa terima kematian. Namun berada antara hidup dan mati merupakan suatu hal yang sangat tidak menyenangkan.


"Nah, begitu. Jika saja kau tidak bandel, semuanya akan menjadi mudah," Mahesa mengacungkan jempolnya.


Suhita Prameswari, memang tidak banyak yang tahu nama bocah kecil itu. Akan tetapi, kemunculannya yang telah mengobati beberapa penyakit aneh serta dia mampu tangani racun. Diusia yang masih belia, Suhita telah memiliki kemampuan mengobati yang sangat sempurna. Kabar dari langit menyebutkan jika Suhita merupakan seorang tabib titisan dewa. Siapa yang mampu menjadikan Suhita sekutu, maka dia akan menjadi awet muda bahkan kekal. Selain itu juga, kepandaian Suhita dalam meracik racun akan menjadi kelompok ataupun padepokan yang dia tinggali akan sulit ditaklukkan. Malah sebaliknya.


Satu hal lagi, tabib titisan dewa secara otomatis akan memiliki kitab pengobatan dewa dan juga mewarisi kitab sesat wasiat iblis. Menjadikannya sebagai juru sembuh yang bisa menjadikan segala mimpi menjadi kenyataan. Dan Suhita telah digariskan untuk miliki semua itu.


"Fiiihhh! Bagaimana kau bisa begitu yakin? Apa kau sudah melihat sendiri kitab pengobatan dewa dan kitab wasiat iblis itu? Kau pasti hanya mengada-ada. Meskipun kau berada di ambang maut, tapi bicaramu sungguh tidak masuk akal," Mahesa segera berdiri.


Mahesa hanya melirik sekilas pada Kalagondang, matanya mengisyaratkan agar Kalagondang segera habisi penyusup itu.

__ADS_1


Tanpa menoleh dan tidak hirau pada permohonan Malaikat berjubah, Mahesa bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sepenuhnya, Malaikat berjubah dia serahkan pada Kalagondang.


"Hei, majikanku tidak pernah ingkar janji. Dia katakan tidak akan mencelakaimu, tapi maaf jika aku harus mengambil alih tugas ringan ini," Kalagondang tertawa terkekeh.


Malaikat berjubah menatap Kalagondang dengan penuh kebencian. Hanya matanya saja yang menyala, karena sedikit pun badannya tidak bisa digerakkan.


"Ah, apa kau sudah tidak bisa bicara lagi? Atau kau begitu takut mati? Ya, sudah. Jika itu memang yang kau inginkan, terpaksa aku harus mempercepat tugas memalukan ini," Kalagondang menggeleng berulang kali.


Malaikat berjubah memejamkan matanya, dia tidak ingin melihat saat Kalagondang mengayunkan tangannya, melepas pukulan tenaga dalam untuk menghabisi nyawanya dengan sekali pukul.


Hingga saat itu tiba, Malaikat berjubah tidak kunjung membuka mata, dia menutup mata dalam kesunyian. Untuk selama-lamanya.


"Ah, memalukan sekali. Ini adalah kali pertama aku membunuh orang yang tidak berdaya. Tapi kalau aku tidak lakukan ini, pasti aku yang dibunuh," Kalagondang ngedumel sambil menggali kuburan untuk menanam tubuh Malaikat berjubah.


"Huuuhhh ... beres!" Kalagondang menghembuskan napas panjang.


Mahesa tidak meminta Kalagondang untuk membereskan jasad Malaikat berjubah, hanya saja Kalagondang yang berinisiatif. Takutnya akan semakin mempersulit tugasnya sebagai pengasuh.


"Sudah beres?!" suara Mahesa mengejutkan Kalagondang yang baru saja tiba di pelataran rumah.


Keberadaan Mahesa sama sekali tidak tercium oleh Kalagondang yang sedang dalam keadaan siaga penuh, menandakan jika kemampuan yang sedang Mahesa terapkan berada jauh di atasnya.


"Sudah beres, Tuan. Oh, ya. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Kalagondang membungkuk penuh hormat.


"Sudah berapa lama kau ikut di sini?" tanya Mahesa kemudian.

__ADS_1


Kalagondang menghitung, yang jelas kedatangannya tidak berselang lama dengan Nyi Gondo Arum. Selama Mahesa tidak pulang, itulah hitungan hari Kalagondang berada di sisi Suhita.


"Sekarang, apa kau tahu apa saja yang sedang Suhita pelajari? Apa kebiasaannya akhir-akhir ini, ke mana dia sering pergi serta dengan siapa dia sering berhubungan. Aku merasa ucapan Malaikat berjubah ada benarnya," Mahesa bicara dengan serius.


Dia yakin kalau Malaikat berjubah bicara benar, hanya saja Mahesa harus mengumpulkan bukti. Terutama mengenai Kitab Pengobatan Dewa dan Kitab Sesat Wasiat Iblis. Orang menyebutnya dua kitab beda warna.


Kalagondang berpikir keras, dia heran mengapa Mahesa bisa percaya pada perkataan Malaikat berjubah. Kitab pengobatan dewa, kitab rahasia wasiat iblis, apa itu? Kecuali malam hari dan sedang bersama dengan ibunya, Suhita selalu berada dalam pengawasan Kalagondang dan Nyi Gondo Arum. Satu-satunya orang yang paling sering bersama yakni ibunya, Puspita Dewi. Mengapa Mahesa tidak tanya istrinya saja? Kalagondang menggigit bibir bawahnya. Logikanya memang benar-benar konyol.


"Non Hita hanya bersama kami, Tuan. Paling-paling dia membaca dan pelajari catatan pengobatan dan beberapa catatan penting lainnya, semuanya berada di bawah pengawasan Nyonya Dewi. Saya yakin, Malaikat berjubah terlalu membesar-besarkan. Mereka terlalu kagum pada kemampuan pengobatan yang Non Hita miliki," papar Kalagondang.


Tidak lama kemudian, dia mohon izin untuk membangunkan Nyi Gondo Arum. Kalagondang butuh satu saksi lagi untuk meyakinkan jika dia bicara jujur.


Mahesa memejamkan matanya, semua ini memang merupakan kesalahannya. Kalau saja dia punya banyak waktu untuk menjaga buah hatinya, pasti kejadian seperti ini tidak akan pernah ada.


Meskipun begitu, dalam hati Mahesa merasa bangga pada Suhita. Anak itu memang tidak tumbuh seperti apa yang dia inginkan, dia bukan calon seorang pendekar seperti ayahnya, seperti ibunya dulu, tapi jalan kehidupan Suhita nampaknya juga tidak salah. Menjadi tabib adalah pekerjaan yang sangat mulia.


Tabib titisan dewa. Ah, benarkah itu?! Kalau memang benar, Mahesa tidak akan banyak berbuat lagi. Bagi Mahesa yang terpenting ialah Suhita Prameswari harus menjadi seperti apa yang telah digemborkan. Tabib titisan dewa, ya terserah. Tidak setengah-setengah, juga bukan bualan semata. Artinya, mulai besok Mahesa harus mendidik Suhita dengan segenap kemampuan.


Mahesa segera memasuki kamarnya, dia ingat jika dia pernah melihat Puspita menyimpan sesuatu di dalam lemari. Mahesa segera memeriksanya, meskipun tidak ada sedikit pun pemikiran yang macam-macam, karena Mahesa sepenuhnya percaya pada Puspita.


Mahesa sama sekali tidak menduga jika catatan yang sedang dia cari ialah berupa kitab rahasia yang diceritakan oleh Malaikat berjubah tadi.


Ya, kitab pengobatan dewa dan kitab wasiat iblis. Dua kitab beda warna itu memang sudah jatuh ke tangan Suhita, begitu tepat apa yang diramalkan oleh para pendekar aliran sesat.


Dengan demikian, harusnya Mahesa cepat tanggap dan siapkan rencana untuk bisa lindungi putrinya.

__ADS_1


__ADS_2