
Bulan Jingga masih tidak habis pikir, mengapa bisa para pendekar yang datang masih memiliki ingatan mereka, padahal jelas-jelas jamuan yang disuguhkan mengandung ramuan yang berfungsi untuk menghilangkan ingatan mereka dalam sementara waktu. Mungkinkah ramuan itu palsu?!
Bersama dengan beberapa orang hulu balang, tabib dan asisten tabib digelandang memasuki ruangan. Mereka di hadapkan langsung pada Bulan Jingga.
"Ampun, pimpinan. Mana mungkin hamba berani untuk berkhianat. Bukankah pimpinan tahu bagaimana hamba selama ini?!" dengan gemetaran tabib itu bersujud memohon pengampunan.
"Kau masih menyimpan serbuk ramuan itu?!" tanya Bulan Jingga. Kemudian, dia meminta untuk seorang asisten tabib agar meminum ramuan tersebut.
"Pimpinan, mohon ampuni hamba. Akan tetapi, bukankah lebih bijak jika seorang yang Pimpinan percaya saja yang melakukannya. Hamba hanya takut, jika dituduh bersandiwara," jawab asisten Tabib itu.
"Berani kau membantah perintah pimpinan?! Mati saja kau!" dengan kasar seorang anak buah Bulan Jingga mendorong tubuh asisten tabib hingga terjerembab. Tangan pendekar itu telah meraih gagang pedangnya.
"Cukup! Dia benar. Kalau begitu, coba kau saja yang meminum," Bulan Jingga menunjuk pada si pendekar.
"Ah?! Pimpinan anda ..." pendekar menunjuk wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Berani kau menentang perintahku?!" Bulan Jingga mengangkat sebelah alisnya, membuat pendekar tersebut jadi salah tingkah.
"A-ampun ... pimpinan. Ba-baik, akan saya lakukan," tanpa banyak ba-bi-bu lagi, dia segera mengambil serbuk dari tangan tabib dan langsung menelannya.
Segenap orang yang hadir, tidak berkedip memandang ke arah sang pendekar. Dan memang benar, serbuk tersebut langsung bereaksi. Sang pendekar sekejap nampak terlihat sangat kelelahan, keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Beberapa saat kemudian pendekar itu terduduk dan napasnya menjadi lemah. Pertama memang karena dosis yang dia konsumsi melebihi dosis umum, hingga pengaruhnya begitu spontan dan berefek keras. Tubuh pendekar itu langsung kejang, sebelum kemudian dia jatuh pingsan dalam beberapa waktu. Saat dia terbangun, pendekar itu berubah total. Wajahnya seperti orang bodoh, dan tidak mengingat apa pun lagi. Ya, memang hal itu yang benar terjadi. Dia kehilangan ingatan masa lalunya. Dengan kata lain, serbuk obat itu berfungsi sebagaimana mestinya.
"Sudahlah, biar nanti aku yang cari tahu sendiri. Sekarang, kita alihkan sejenak perhatian kita pada pendekar terbaik di Utara itu. Perketat penjagaan, aku yakin istrinya pasti akan kembali datang," perintah Bulan Jingga pada anak buahnya.
Dan tebakan Bulan Jingga memang benar. Bahkan setiap orang pun akan menebak hal yang sama. Siapa orangnya yang akan diam saja saat menyaksikan suami atau istrinya dalam masalah. Terlebih lagi untuk seorang Dewi Api. Kemampuannya lebih dari cukup untuk bisa atasi banyak masalah yang datang. Atau jika dia datang dengan membawa bantuan, maka waktu yang dibutuhkan akan lebih lama. Jarak terdekat hanyalah Padepokan Rajawali, dan bisa diketahui bagaimana rapuhnya Padepokan Rajawali saat ini. Tidak mungkin Dewi Api datang ke sana.
"Pimpinan! Pimpinaaannn! Celaka!" seorang pengawal datang dengan tubuh bersimbah darah. Dia merupakan penjaga tahanan yang masih sempat selamat.
Bulan Jingga bergegas melompat dan berlari menuju ruang tahanan. Tidak ada keterangan yang dia dapatkan dari para penjaga yang telah tewas itu. Bagaimana bisa Mahesa membebaskan dirinya dari belenggu borgol sihir miliknya, padahal borgol itu jelas-jelas dipakai secara suka rela. Bulan Jingga tidak habis pikir, sebesar itukah kemampuan yang Mahesa miliki? Tapi rasanya tidak. Dia tetaplah manusia biasa, yang memiliki segala keterbatasan. Andaipun Mahesa punya kemampuan untuk hancurkan borgol sihir, pastinya dia butuh segenap kemampuan tenaga dalam. Sementara Bulan Jingga menyaksikan sendiri bagaimana Mahesa kerepotan saat mengahadapi serangan dari mayat hidup, kemudian dilanjutkan dengan pertarungan melawan para pendekar dari Klan Perisai Hujan. Rasanya Mahesa sudah kehilangan lebih dari separuh kekuatannya. Tidak masuk akal jika dia masih mampu untuk hancurkan borgol sihir.
"Cari korban yang masih hidup. Buyut Kafan, cepat cari cara. Bukankah kau bisa hidupkan orang yang sudah mati?!"
__ADS_1
Buyut Kafan tercengang. Kemampuannya memang mampu untuk kembali hidupkan mayat dengan beberapa ritual, tapi untuk bisa mendapatkan kembali ingatan orang yang sudah tiada, itu bukanlah jenis kemampuan yang dimiliki oleh manusia.
"Ba-baiklah ... saya akan pikiran sesuatu," Buyut Kafan membungkuk hormat dan mengajak beberapa orang untuk menyisir wilayah di sekitar jalan menuju ruang tahanan.
Dalam waktu singkat, setelah begitu banyak orang yang bergerak. Mereka menemukan jawaban atas hal yang sebenarnya terjadi. Para penjaga yang tewas bukanlah akibat perbuatan Mahesa, melainkan ada orang lain yang datang. Mereka menemukan beberapa energi lain yang tertinggal di sana. Setidaknya dua orang atau bahkan lebih.
°°°
Sementara Bulan Jingga dan segenap unsur di Klan Perisai Hujan sibuk mencari tahu keberadaan Mahesa yang diikat oleh borgol sihir, Dewi Api dan tiga orang anaknya telah kembali ke tempat mereka bersembunyi dan tentunya dengan keberhasilan rencana.
Mahesa telah berhasil mereka bawa kabur, tinggal bagaimana sekarang menghancurkan borgol sihir yang masih mengikat kedua lengannya.
"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kalian melakukan hal yang sangat berbahaya ini?! Huuuhhh ..." Mahesa menghembuskan napas panjang, seraya kepalanya menggeleng berulang kali. Terutama ketiga anaknya, Mahesa begitu mencemaskan mereka tapi sepertinya bocah-bocah itu senang telah melakukan hal yang menentang maut. Padahal, Mahesa yakin jika kemampuan yang dimiliki oleh mereka belum cukup untuk hal demikian. Tapi ... ah, mungkin Mahesa hanya terlalu berlebihan.
"Ayah, Hita punya cara, nampaknya menarik untuk dicoba. Tapi ini tidak cukup hanya sekadar mengandalkan kemampuanku. Hita sudah berjanji, jika sekarang Hita gagal maka selamanya Hita akan berhenti!" ucap Suhita dengan tatap penuh keyakinan.
__ADS_1
Mahesa tersenyum haru. Tekad anaknya begitu bulat, mana bisa untuk dicegah. Meskipun harus berpuluh kali menjadi bahan percobaan, itu jauh lebih baik dibandingkan menyaksikan kegagalan. Mahesa tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala mempersilahkan anaknya melakukan apa pun yang dia inginkan.
Suhita tersenyum, terlebih dahulu dia menoleh ke arah dua saudaranya juga pada Dewi Api. Setelah mendapatkan izin dengan sebuah anggukan kepala, Suhita memulai pengobatan. Kali ini dia melakukan taruhan yang lebih besar, menyangkut masa depan pula berkaitan dengan keselamatannya.