
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan?"
Puspita terkejut bukan main saat satu sapaan diiringi kecvpan hangat mendarat di belakang telinga kirinya. Untung saja, seluruh kitab yang dibawa oleh Suhita sudah dia sembunyikan. Puspita harus ingat, sekarang suaminya sedang ada di rumah. Ada orang lain yang juga berkuasa di dalam kamar itu.
"Kanda ... ah, ti-tidak sedang apa-apa. Aku, aku hanya sedang beres-beres saja," jawab Puspita sekenanya, dia semakin merapatkan tubuhnya pada Mahesa.
"Maaf, ya. Aku baru bisa pulang. Ada banyak ..."
"Sssttt! Aku tahu, sayang. Tidak usah di jelaskan lagi. Kanda pasti sangat lelah, baiknya istirahat saja. Mengapa juga harus berkeliling menemui Kalagondang. Jika ada keperluan, panggil saja," Puspita menyilangkan jari telunjuknya di atas bibir Mahesa. Dia tidak pernah menyalahkan sang suami. Apa pun itu yang telah diperbuat oleh Mahesa.
"Oh, ya Kanda. Ada satu hal yang harus kanda ketahui. Jika esok Kanda mengajak Hita berlatih pasti Kanda akan terkejut. Kanda, anak kita sudah mau untuk belajar bela diri. Dia bahkan sudah belajar jurus dasar dari Nyi Gondo Arum," ucap Puspita dengan wajah berseri-seri.
"Benarkah? Sayang, ini sungguh berita yang sangat menggembirakan. Akhirnya ..." Mahesa tidak bisa sembunyikan kegembiraannya. Dia kembali memeluk erat sang istri.
Cup!
Mahesa menghadiahi istrinya satu kecvpan hangat di keningnya. Tidak ada hal yang bisa dia katakan, Puspita selalu saja bisa berikan apa-apa yang bahkan tidak terpikirkan oleh Mahesa sekali pun.
"Sekarang, Kanda harus istirahat. Besok pagi-pagi sekali pasti Hita sudah bangun dan mengajakmu olahraga pagi," Puspita membalas kehangatan yang diberikan oleh suaminya.
"Ya, sudah kalau begitu, aku memang lelah. Terima kasih, ya. Terima kasih atas segala-galanya. Aku ... aku tidak bisa berikan apa yang seharusnya kau dapatkan lebih," Mahesa menatap Puspita dengan dalam.
"Kanda, mengapa bicara begitu. Aku tidak suka, tahu," Puspita cemberut.
Sebagai balasannya, dia tidak mau berjalan menuju pembaringan. Puspita minta digendong oleh sang suami tercinta.
"Hump! Hiyaaa ... istriku memang sangat manja," Mahesa membopong tubuh Mahesa. Menimangnya seolah memanjakan bayi.
Puspita tertawa lepas. Selain senang dimanjakan oleh suami, hatinya juga lega karena Mahesa tidak curiga jika sebenarnya ada sesuatu yang Puspita simpan. Itu memang berkas milik anaknya, tapi yang benarnya tentu tidak sebaiknya Puspita menyembunyikan itu dari Mahesa, seperti dia menyembunyikan jika kemampuan meracik Racun Waktu telah dia turunkan pada Suhita dalam bentuk buku catatan.
Malam itu, ranjang yang biasanya dingin tanpa geliat berubah menjadi panas bergelora, bak dentuman ombak pantai selatan yang setiap waktu menggempur batu karang.
__ADS_1
Layaknya kucing yang tertidur karena kekenyangan, Puspita terlelap setelah lewati beberapa ronde pertempuran. Mata Mahesa juga masih sayu, kesadarannya belum sepenuhnya pulih ketika sudut penumbra matanya menangkap adanya bayangan yang berkelebat di atap bangunan samping.
"Sialan! Itu pasti si Kalagondang," Mahesa meraih pakaiannya.
Sebenarnya apa yang diinginkan oleh kakek tua itu, mengapa dia menyelundup ke dalam keluarga Puspita? Apa benar, dia tidak tahu. Atau hanya pura-pura tidak tahu? Tadi saat bicara dengan Mahesa, sepertinya Kalagondang tidak berdusta, tapi mengapa sampai sekarang masih saja penasaran?
Dalam beberapa lompatan, Mahesa sudah berada di luar rumah. Ternyata dugaan Mahesa meleset. Bayangan itu bukanlah milik Kalagondang. Karena saat yang hampir bersamaan, Kalagondang juga muncul dari dalam biliknya.
"Sssttt!" Mahesa meminta Kalagondang untuk tidak bergerak.
Mahesa mengirimkan isyarat sinyal untuk Kalagondang segera bergerak mengikuti ke arah bayangan tadi. Sementara itu, Mahesa akan mengambil jalan memutar dan menghadang jalan orang itu.
Pastinya kemampuan yang dimiliki oleh penyusup itu sangat tinggi, hingga dia bisa masuk tanpa diketahui oleh Kalagondang.
"Hemm ... ternyata kemampuan yang kalian punya berada di atas dugaanku. Apa boleh buat," sosok berjubah yang tadi menyelinap menghentikan langkahnya, dia berbalik badan dan menyambut kedatangan Kalagondang dengan tangan terbuka.
"Malaikat berjubah?! Apa aku tidak salah lihat?" Kalagondang memicingkan matanya seolah memastikan jika dia tidak salah orang.
Kalagondang tentu saja mengenali orang yang datang, karena orang itu tidak lain adalah majikannya.
"Ada kepentingan apa wahai pendekar terhormat? Malam-malam mengintai kediaman orang," Mahesa tersenyum lebar pada Malaikat berjubah, tapi kalimatnya terdengar begitu merendahkan.
"Hahaha! Siapa lagi kau? Apa kau juga pemburu tabib titisan dewa, atau malah sebaliknya? Sayangnya, hari ini kau bertemu denganku dan apa pun yang menjadi tugasmu, semuanya akan berantakan. Kau akan mati," Malaikat berjubah menyeringai pada Mahesa.
"Gkgkgk !!! Ulala-ulalaa ... ada ulat yang terbang lebih tinggi dari kupu-kupu. Mana mungkin, kadal menelan buaya," Kalagondang tertawa terpingkal-pingkal.
"Fiiihhh! Kalian memang harus diberi pelajaran!" Malaikat berjubah menyerang Kalagondang dengan kecepatan tinggi.
Dua pendekar itu langsung terlibat pertarungan sengit. Baik Malaikat berjubah dan Kalagondang merupakan para pendekar tingkat tinggi yang masing-masing memiliki kemampuan olah kanuragan yang mumpuni.
Mahesa menonton dua orang itu, dia mengukur jika Kalagondang akan mampu mengatasi Malaikat berjubah. Hingga dia memutuskan untuk kembali ke rumah.
__ADS_1
Kemunculan Malaikat berjubah ada kaitannya dengan Suhita, hingga Mahesa harus memastikan jika tidak ada orang lain yang juga datang.
Mengapa tiba-tiba para pendekar berdatangan untuk menangkap Suhita? Mungkinkah semuanya lebih mengerikan dari apa yang telah Mahesa ketahui? Atau ada hal besar lain yang telah terjadi selama dia pergi. Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di dalam benak Mahesa.
Untungnya, tidak ada kegiatan mencurigakan yang terjadi di sekitar rumah. Mahesa tidak menemukan adanya aura lain yang datang, anak dan istrinya pun masih tertidur pulas di bilik mereka masing-masing.
Mahesa mengambil beberapa sumberdaya berharga dari dalam ruang penyimpanan tenaga dalamnya. Setelah mengkonsumsi sumberdaya, tenaga Mahesa kembali pada level terbaik. Capek dan pegal yang dia rasakan, segera menghilang tanpa bekas.
Mahesa duduk bersemadi, dia memagari rumahnya dengan tenaga dalam. Siapa pun yang berniat masuk, maka terlebih dahulu harus taklukkan kekuatan tenaga dalam itu. Selesai. Kecuali anak dan istrinya yang keluar rumah, maka tidak akan ada yang bisa sakiti mereka dengan mudah. Mahesa kembali ke tempat pertarungan Kalagondang dan Malaikat berjubah.
Di sana, pertarungan masih berlangsung sengit. Meskipun Malaikat berjubah memiliki usia yang lebih muda dan lincah, tapi lingkar tenaga dalam milik Kalagondang lebih besar, hingga sangat sulit bagi Malaikat berjubah menyentuh Kalagondang.
"Kalagondang," Mahesa melambai pada Kalagondang. Memberi isyarat untuk Kalagondang menghentikan serangan.
Tanpa banyak ba-bi-bu, Kalagondang melompat mundur. Selain untuk membuka mata Malaikat berjubah, Kalagondang juga ingin melihat secara langsung bagaimana kemampuan Pendekar Elang Putih sebenarnya. Terus terang, meskipun nama Elang Putih begitu populer di dunia persilatan, tapi para pendekar tua seperti mereka tentu tidak berkesempatan untuk sekadar bertemu.
"Hahaha! Aku kira kau sudah lari dan sembunyi, masih berani menampakkan wajah, apa kau sudah bawa bala bantuan?" ledek Malaikat berjubah pada Mahesa.
"Justru aku sedang mencari-cari orang seperti dirimu. Hanya ada kau seorang, tanggung saja!" Mahesa mengibaskan tangannya di depan muka.
"Hahaha! Kita lihat saja, apakah kepalan tanganmu lebih keras daripada lidah?!" Malaikat berjubah memasang jurus dan segera menyerang.
Tapi Mahesa masih diam saja, tidak bergeming dari tempatnya berdiri, hanya tangannya saja yang memancarkan cahaya putih mengkilap.
TEP!
Mahesa menangkap kepalan tangan Malaikat berjubah ketika berjarak beberapa senti dari wajah. Dengan satu hentakan, tubuh Malaikat berjubah terangkat ke udara sebelum kemudian terbanting dengan keras menghantam tanah.
Selain mampu membuat kekuatan Malaikat berjubah memuai, Mahesa juga memperlihatkan betapa tingginya kekuatan tenaga dalam yang dia miliki. Dengan satu serangan saja, dia berhasil membuat Malaikat berjubah tidak berdaya.
Sebenarnya, Mahesa hanya memanfaatkan titik kosong dari kuatnya pukulan tenaga dalam yang dilepaskan oleh Malaikat berjubah hingga Mahesa bisa gunakan kekuatan itu untuk menghantam tubuh Malaikat berjubah itu sendiri.
__ADS_1
Mahesa tidak membunuh Malaikat berjubah, yang dia inginkan ialah sebanyak-banyaknya informasi terkait dengan putrinya. Alasan mengapa para pendekar menginginkan Suhita Prameswari.