Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Tujuh Laba-laba


__ADS_3

"Aku tidak percaya, Pedang Inti Api milikku tidak berarti menghadapi jaring laba-laba sutra ini. Siluman sialan! Akan ku hancurkan gua mereka!" Dewi Api mengumpat. Sungguh harga dirinya sebagai seorang pendekar tak terkalahkan seperti diinjak-injak.


Mahesa membelai rambut istrinya dengan lembut. Sadar jika istrinya ini sangat keras kepala. Berbeda dengan seorang istrinya yang lain. Bukannya bermaksud membandingkan, akan tetapi memang kenyataannya demikian. Dewi Api memang sangat mencintai Mahesa, tapi dia terlalu posesif. Posesif tahap paling tinggi, hingga tidak seorang pun wanita lain yang boleh mendekati apa lagi menggoda suaminya. Dewi Api menganggap jika setelah menjadi suami maka Mahesa adalah miliknya seutuhnya. Kendati demikian, Dewi Api termasuk tidak begitu patuh pada suami. Dia kerap membantah perkataan Mahesa, apa lagi jika dianggap berseberangan paham dengan pendapatnya. Beruntung Mahesa memiliki lautan kesabaran yang tiada tepi. Setiap saat selalu dia yang harus mengalah.


Sangat bertolak belakang dengan Puspita. Sikap istri kedua Mahesa itu bagaikan langit dan bumi dengan Dewi Api. Puspita adalah satu-satunya wanita yang paling mengerti Mahesa. Tidak pernah membantah apa lagi bicara kasar, dia sangat menghormati sang suami. Jika ingin memberi masukan atau sekadar tukar pendapat, terlebih dahulu Puspita minta izin. Jika diperbolehkan maka baru akan bicara. Hanya Puspita seorang yang tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Tentang pandangan istri pertama Mahesa yang begitu membencinya, tentang Mahesa yang harus membagi kasih sayang, dan tentang semuanya yang begitu menekan hati dan perasaannya. Hanya karena Puspita menjalani semuanya dengan ikhlas hati, maka menjadi lancar dan baik-baik saja. Terlebih bagi yang hanya bisa melihat.


Kedua istrinya adalah sosok wanita yang begitu sayang dan mencintai dengan sepenuh hati. Hanya mereka memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan rasa sayang itu. Mahesa sadar, semua adalah buah dari keserakahannya. Dengan alasan tidak menginginkan salah satu dari mereka terluka hati, hingga memutuskan untuk mengambil keseluruhan. Dengan sadar dan dalam senyum justru Mahesa melukai kedua-duanya. Apa pun yang terjadi di rumah tangganya, sepenuhnya merupakan resiko yang harus dia tanggung. Maka dari itu, Mahesa kerap melumuri lidahnya dengan dusta. Melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan hati kecilnya. Semuanya dia lakukan demi masa depan anak-anaknya.


"Mengapa malah bengong?! Kau ini berpikir apa berkhayal? Lama sekali!" Dewi Api mendorong tubuh Mahesa. Menyadarkan Mahesa pada kesulitan yang harus dihadapinya dalam mengatasi siluman laba-laba di gua laba-laba ini.


"Kita cari jalan lain. Pasti ada pintu belakang. Ayo," Mahesa menarik Dewi Api untuk sebentar melupakan kebenciannya pada siluman laba-laba yang mengalahkannya.


Konon, siluman laba-laba yang ada di dalam gua laba-laba berjumlah tujuh orang. Mereka semuanya adalah perempuan, cantik dan pemangsa daging, termasuk daging manusia pun mereka makan.


Yang keluar baru dua ekor. Laba-laba kedua dan ketiga. Jika saja mereka bertarung di alam terbuka, bisa dipastikan kekuatan seluruh siluman laba-laba itu bukanlah tandingan mereka. Akan tetapi, ceritanya berbeda saat mereka berada di dalam gua laba-laba yang banyak sekali terdapat jaring sutra yang begitu lengket dan mampu menggulung lawan seperti benda hidup.


"Sa, kita mau ke mana?" tanya Dewi Api ketika tiba-tiba mereka telah tiba di sebuah danau yang teramat jernih.


Mahesa memandang berkeliling. Dia menggunakan Ilmu Mata Naga untuk mendeteksi lokasi di sekitar tempat itu. Berharap ada lubang gua yang merupakan jalan untuk masuk ke dalam gua laba-laba. Secara logika, harusnya gadis-gadis cantik itu kerap datang ke danau ini untuk membersihkan diri. Ikan juga tidak lagi ada yang besar-besar. Semakin meyakinkan kalau siluman laba-laba itu kerap datang ke danau itu. Sambil mandi, tentunya mereka memangsa ikan yang ada sebagai cemilan.


Mulut gua laba-laba ada di balik bukit ini. Jika mereka hendak mandi ke danau, pastinya mereka tidak mungkin mengambil jalan yang memutar. Kalau tidak di sisi tebing, pastinya di tepi danau atau bahkan tidak menutup kemungkinan jalan rahasia itu ada di dalam danau.

__ADS_1


Ketemu! Mahesa segera memasuki gua tersebut. Dewi Api mengikuti di belakangnya. Sama sekali dia tidak ingin ada seorang pun siluman laba-laba yang menggoda suaminya. Apa lagi kalau sampai pamer tubuh. Sungguh, Dewi Api akan langsung membakarnya saat itu juga.


Ruangan gua di dalam tidaklah seperti pintu masuk. Rupanya mereka sengaja menyegel pintu masuk gua agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk. Jika tidak celaka, maka orang-orang akan menyerah dan segera kembali menyelamatkan diri. Siluman laba-laba dengan jaring sutra yang mereka miliki memang tidak mungkin bisa ditaklukkan dalam pertarungan di dalam gua laba-laba. Mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat apik. Andaipun ada pendekar yang sanggup untuk hancurkan atau membakar jaring sutra yang ada di dalam gua, mereka bahkan tidak melukai seekor siluman pun. Dengan demikian, terlalu mudah untuk para siluman laba-laba itu berpindah tempat.


"Tidak disangka, kalian para siluman begitu pandai menata ruangan," ucap Dewi Api saat menjumpai ada siluman laba-laba yang sedang menata vas bunga.


Mendengar ada suara manusia, sontak bukan hanya satu saja yang datang melainkan ketujuh gadis siluman itu datang mendekat. Mereka menatap dengan kebencian. Sudah pasti, tujuan kedatangan manusia ke dalam gua mereka tidak lain hanya untuk membuat kerusakan. Karena manusia yang berani datang hanya mereka yang memiliki kemampuan untuk membasmi siluman.


"Kau masih penasaran pada jaring sutra milik kami?" tanya siluman laba-laba yang memakai gaun merah.


"Adik kelima, kau jangan permalukan pendekar hebat itu. Mereka beranggapan bahwa kemampuan mereka adalah yang terkuat. Kasihan sekali," timpal gadis yang berpakaian kuning.


"Siluman rendah! Begitu terobsesinya pada suami orang. Kalianlah yang harus dibinasakan!" Dewi Api kembali menghunus pedang inti api miliknya. Bertarung di tempat yang terbuka seperti ini, dia akan menunjukkan bagaimana semestinya kekuatan pedang pusaka di tangannya.


Tiga siluman laba-laba menyergap Dewi Api, sementara empat yang lain justru menembakkan jaring sutra mereka ke arah Mahesa.


Aksi saling serang segera terjadi. Dalam sekejap mata, ruangan tempat istirahat para siluman laba-laba itu berubah seperti tempat sampah yang berserak tidak beraturan. Banyak pula tengkorak kepala manusia yang menggelinding karena tempat penyimpannya hancur terkena pukulan.


Bertarung di tempat terbuka seperti itu, menempatkan Mahesa dan Dewi Api pada posisi yang jauh lebih unggul. Lagi dan lagi, para siluman laba-laba harus terbanting dengan keras. Tidak satu pun jaring sutra yang mereka kerahkan bisa mengenai sasaran. Sepasang suami istri yang mereka hadapi terlalu tangguh. Kemampuan tenaga dalam mereka begitu tidak terukur.


"Adik-adik, bergabung dalam formasi!" teriak siluman laba-laba kesatu.

__ADS_1


Siluman laba-laba sadar, di dalam ruangan ini mereka tidak bisa memanfaatkan jaringan sutra seperti layaknya di dalam gua. Hanya gunakan pukulan jaring sutra dan jerat yang mereka lemparkan, semuanya bisa dihindari dengan mudah. Kali ini, mereka akan melakukan formasi yang mengepung Mahesa dan Dewi Api dari berbagai sisi, termasuk dari atas langit-langit. Mereka akan gunakan jaring sutra tak berujung. Salah satu teknik tertinggi yang akan menciptakan jaring sutra layaknya di pintu masuk.


"Kalian yang memaksa. Jadi, jangan salahkan aku!" Mahesa mengikuti Dewi Api, dia menghunus pedang pusaka andalannya. Pedang Rembulan. Pedang yang sangat jarang dia gunakan.


Mahesa dan Dewi Api bergerak cepat dengan kemampuan mereka masing-masing. Pedang Rembulan dan Pedang Inti Api terayun bersamaan menebas jaring sutra tak berujung yang mengepung tubuh mereka.


BYAARRR! Dengan satu tebasan saja, jaring sutra tak berujung hancur berantakan.


Tujuh siluman laba-laba jatuh tersungkur dengan darah segar mengalir dari mulut mereka. Kemampuan andalan tingkat tinggi mereka dihancurkan, menyisakan luka dalam yang parah. Bahkan untuk berdiri saja, mereka sudah tidak mampu lagi.


"Kalian ditangkap! Jika tidak menyerah, maka kami akan lakukan dengan cara kami sendiri," ucap Dewi Api.


"Kepa*rat! Kalian pikir kami sudi menjadi pesakitan? Bertarung secara kesatria, mati pun secara kesatria!" meskipun terluka, ketujuh siluman laba-laba tidak menyerah. Dengan sisa-sisa tenaga, mereka menyerang ke arah Dewi Api.


Kontan saja, saat Dewi Api mengibaskan tangannya dengan kekuatan energi api, tubuh ketujuh siluman laba-laba itu hangus terbakar.


Sebelum api merambat dan menghanguskan seluruh isi gua, Mahesa dan Dewi Api segera berlari ke luar. Mereka menyaksikan dari kejauhan bagaimana api melahap seluruh tempat persembunyian siluman laba-laba. Sekaligus menutup segala cerita kekejaman yang mereka ciptakan.


"Huuuhhhh ... sekarang, kita ke mana?" Dewi Api mengangkat alisnya.


Mahesa menghela napas sejenak. Dia menatap berkeliling. Mungkin, Sukoco memang telah memperdaya mereka. Akan tetapi, orang itu setidaknya telah mengantarkan mereka menuju tempat persembunyian Ki Wijen. Mahesa yakin, jika pasti akan ada petunjuk yang muncul mengenai keberadaan Ki Wijen. Karena hidup tidak ubahnya seperti dalam perlombaan, siapa pun yang lebih dulu sampai. Maka dia adalah pemenang.

__ADS_1


__ADS_2