
"Cukup! Apa yang kalian lakukan? Saling mencelakai?! Jika memang bisa, lakukan saja nanti di kompetisi!" suara Suhita terdengar menggelegar, menghentikan perkelahian.
Satrio Watu bisa menghela napas lega. Paling tidak, dia bisa selamat untuk kali ini. Meskipun demikian, tentu saja dia terlalu malu untuk mengakui semuanya dengan jujur. Tetap saja, kepalanya terangkat. Memandang Suhita dengan angkuh.
"Kurang ajar! Hita, minggir. Biar ku habisi saja dia!" Danur Cakra sangat murka melihat polah Satrio Watu yang begitu tinggi hati.
Bertindak di luar batas kemampuan, sungguh akan membuat celaka diri sendiri. Hanya mengutamakan ego dan tidak mengukur kemampuan, sama saja menggali lubang untuk kubur diri sendiri.
"Kakak, kau baik-baik saja?!" Suhita memeriksa luka lebam di wajah Danur Cakra.
"Aku tidak apa-apa. Empat anak seperti mereka, sama sekali bukanlah lawan yang sepadan untuk diriku!" Danur Cakra menepis tangan Suhita yang hendak menyentuh dahinya.
"Kakak, aku melihat kau beberapa kali terkena pukulan. Setidaknya, biarkan aku memeriksanya. Anggap sebagai ucapan terima kasih," Suhita memohon, wajahnya terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi sang kakak.
"Meskipun kau seorang tabib, bukan berarti kau bisa mengkhawatirkan semua orang. Aku bukanlah anak yang lemah. Lagi pula, aku adalah Kakakmu! Selama tidak ada ayah, aku adalah orang yang bertanggung jawab atas keselamatan dirimu!" tegas Danur Cakra.
Suhita Prameswari tersenyum haru. Tidak perlu Danur Cakra mengatakan, Suhita sudah tahu akan hal itu.
"Hei, hei! Mau apa kau?!" Danur Cakra melotot ketika Suhita terus mendekatinya.
"Biasanya, ayah selalu memeluk untuk menenangkan aku. Apa tidak boleh aku memeluk kakakku?" tanpa menunggu persetujuan lagi, Suhita memeluk kakaknya dengan erat. Menumpahkan kerinduan yang dalam, setelah sekian lamanya mereka tidak berjumpa.
__ADS_1
"Sudah! Sudah! Memalukan!" Danur Cakra mendorong tubuh Suhita menjauh darinya. Sungguh, Danur Cakra sangat risih ketika ada mata yang menatap ke arah mereka.
Suhita cemberut. Dia merogoh satu tabung kecil sumberdaya dari sakunya. "Ini, ambil! Bisa berfungsi untuk kembalikan tenaga dalam dan obati luka! Dasar tidak asik!" Suhita segera berlalu pergi. Meninggalkan Danur Cakra yang mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Kau yang aneh! Awas jangan pergi jauh-jauh. Cari aku di arena kompetisi nanti!" teriak Danur Cakra.
Suhita Prameswari mendengar dengan jelas perkataan kakaknya. Tapi dia sama sekali tidak menoleh, menjawab pun tidak. Kakinya terus terayun, menyusuri jalanan kota. Pertemuan dengan kakaknya selalu saja tidak mengasikkan. Danur Cakra seperti buku undang-undang saja, selalu saja banyak peraturan. Suhita tidak suka.
Meskipun demikian, bagaimanapun anehnya sang kakak, Suhita tidak menampik jika Danur Cakra begitu perhatian padanya. Setiap kali mereka berpisah, Danur Cakra akan mengkhawatirkan keadaan Suhita.
°°°
Tiinggg! Tiingggg!
Lokasi pertandingan telah penuh oleh para penonton. Selaku penyelenggara, Jaka Pragola membuka pertandingan semifinal hari itu dengan menurunkan jago mereka. Seorang anak berusia sepuluh tahun, yang merupakan murid terbaik di Padepokan Giling Wesi. Dalam pertandingan pembuka tersebut, yang menjadi lawan adalah wakil dari Padepokan Anggrek Jingga.
Kedua peserta telah berada di posisi masing-masing. Peraturan utama dalam pertandingan ialah bertindak sportif dan tidak diperbolehkan untuk menggunakan senjata rahasia yang berbahaya. Kompetisi adalah sebuah wadah yang menampung bakat lalu membina secara bersama-sama untuk kebaikan kelompok aliran putih di masa mendatang. Karena itu, saling menyakiti apa lagi sampai menyimpan dendam adalah hal yang harus dihindari. Bahkan diharamkan.
Tiingggg! Lonceng kembali berbunyi, menandakan pertarungan siap untuk dimulai.
"Siapa yang menurutmu lebih unggul?" tanya Danur Cakra pada Ateng.
__ADS_1
"Aku dukung Prawira (wakil Padepokan Giling Wesi), aku tahu bagaimana kuatnya pukulan yang dia miliki. Dia juga sangat pandai manfaatkan situasi," jawab Ateng yakin.
"Haha! Aji Selenteng, kau bicara begitu karena dia telah mengalahkanmu kemarin?! Apa menurutmu lawannya adalah sosok yang lebih lemah atau setara denganmu?" ledek Danur Cakra. Sedangkan, Danur Cakra sendiri menjagokan wakil Padepokan Anggrek Jingga.
"Ya, kita lihat saja nanti!" tantang Ateng.
Sementara para penonton saling mengomentari pertandingan yang berlangsung, di atas arena nampak jika wakil Padepokan Giling Wesi mulai kewalahan. Dia merupakan satu dari dua wakil yang tersisa. Sebagai penyelenggara, nampaknya Padepokan Giling Wesi begitu sulit untuk bisa keluar sebagai pemenang dalam kompetisi kali ini. Ya, meskipun itu pada akhirnya menunjukkan jika padepokan tersebut memperlihatkan jika mereka adalah padepokan yang bersih dan fair dalam menjalankan kompetisi.
"Hahaha! Apa sekarang kau lihat?! Kurang dari lima jurus lagi, jagomu itu akan tumbang," Danur Cakra tertawa mengejek Ateng.
Dan benar saja, petarung itu di menangkan oleh wakil Padepokan Anggrek Jingga. Membuat Padepokan Anggrek Jingga merupakan yang pertama mengamankan satu tiket pada pertandingan selanjutnya.
Jika dihitung-hitung, Padepokan Api Suci merupakan satu-satunya padepokan yang mengirimkan banyak wakil. Padahal di atas kertas, Padepokan Api Suci bukanlah anggota dari persatuan yang tergabung bersama Padepokan Giling Wesi, Anggrek Jingga, Walet Merah dan yang lain. Nampaknya, hal ini akan menjadi konflik tersendiri yang akan terjadi suatu saat nanti.
Satu padepokan lain yang juga mirip dengan Padepokan Api Suci ialah Padepokan Menara Kematian. Padepokan yang belum lama berdiri itu masih memiliki empat orang wakil di semifinal kali ini. Setidaknya, mereka berkesempatan untuk dapatkan dua slot pada pertandingan selanjutnya.
"Raka, kau harus hati-hati. Menara Kematian merupakan padepokan yang belum kita pahami siapa mereka sebenarnya. Aku curiga, jika empat wakil yang masih mereka miliki kuasai kemampuan aneh," bisik Justa Jumpena pada Raka Jaya yang bersiap jalani pertandingan.
Raka Jaya mengangguk mengerti. Sebenarnya, dia juga telah menaruh curiga. Kemampuan wakil Menara Kematian terlihat seperti kekuatan seorang pendekar yang telah lama malang melintang di dunia persilatan. Tapi meskipun begitu, Raka Jaya tetap optimis. Dia merupakan murid sekaligus anak seorang Dewi Api. Mengingat nama besar yang berhasil Dewi Api torehkan dengan kemampuan yang serupa, maka hal apa yang harus Raka Jaya takutkan?!
Dengan mantap, Raka Jaya memasang kuda-kuda yang merupakan ciri khas Padepokan Api Suci. Dia bertarung menggunakan tangan kosong, dan mengandalkan kemampuan Inti Api untuk menjalani pertarungan kali ini.
__ADS_1
"Sungguh suatu kehormatan yang begitu besar, dalam kompetisi perdana yang aku jalani, lawanku merupakan seorang pendekar yang berasal dari padepokan nomor satu di Utara. Mohon untukmu berbelas kasih," dengan tersenyum lebar, lawan Raka Jaya yang bernama Pati Unus membungkuk memberi hormat.
Tentu saja semuanya merupakan basa-basi semata. Siapa orangnya yang tidak ingin menang. Keluar sebagai seorang juara, adalah tujuan dari setiap orang yang ikut dalam kompetisi.