
"Ayah mengatakan jika sesuatu yang diperoleh dari hasil keringat sendiri, maka akan dapatkan hasil yang lebih memuaskan. Kalian berdua, tunggu aku di sini," Suhita menanggalkan kotak pengobatan dari gendongannya.
"Non Hita, sangat berbahaya. Non jangan ..."
Suhita kembali gunakan cara yang dipakai ayahnya saat memotong perkataan ibunya. Mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan kalimat Nyi Gondo Arum.
"Ratu Naga, kau jauh lebih tahu dari apa yang aku tidak mengerti. Maka dari itu, aku mohon untuk bimbingannya," Suhita melompat mendekati Ratu Naga yang telah menunggu sejak tadi.
Murid Pendekar Elang Putih itu akan bertarung untuk dapatkan Pil Kelopak Surgawi yang berada di tangan Ratu Naga. Sudah saatnya Suhita gunakan kemampuan yang telah dilatih selama bertahun lamanya untuk kepentingan masa depannya. Dengan sumberdaya tersebut, maka Suhita akan miliki kemampuan tenaga dalam yang cukup untuk menaklukkan berbagai jenis racun tenaga dalam nantinya. Cita-citanya menjadi tabib penebar darma akan bisa terwujud.
Dengan tangan dan hasil keringat kerja kerasnya sendiri. Itu yang Suhita inginkan. Tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah. Lakukan selagi mampu dan berhenti andalkan orang lain. Itu adalah prinsip hidup mandiri.
Beberapa jurus berlalu, Nyi Gondo Arum dan Kalagondang sampai menggelengkan kepalanya. Mereka tidak selalu bisa menyaksikan saat Suhita dan Mahesa berlatih. Tapi melihat hasilnya, mereka yakin jika Elang Putih bersungguh-sungguh dalam membina kemajuan putrinya.
Selain itu, tentu dikarenakan Suhita merupakan seorang anak yang berbakat. Bisa dikatakan jika dia merupakan yang paling berbakat dari tiga orang anak Mahesa. Sayangnya, anak ini tidak memiliki keinginan untuk terjun ke dunia persilatan. Dia memilih menjadi seorang juru sembuh.
Berbeda dengan Mahesa yang kuasai berbagai jenis jurus rahasia dan berbahaya, dari yang terkenal sampai jurus yang tidak dikenal. Sementara Suhita belajar bela diri, hanya sekadar untuk bisa membela diri. Suhita hanya mempelajari Jurus Tarian Naga. Jurus yang merupakan jurus tangan kosong sebagai dasar untuk imbangi tenaga dalam Sepuluh Tapak Penakluk Naga.
Meskipun hanya Jurus Tarian Naga, tapi kemampuan tenaga dalamnya sangat mendukung. Hingga sejauh ini Suhita masih bisa mengimbangi permainan Ratu Naga yang juga gunakan jurus naga.
Naga bertemu naga, tidak mesti yang bertubuh besar yang akan menang. Percuma besar kalau sisiknya renggang dan tidak keras. Dari celah itu, maka ancaman bisa datang.
DAARRR !!!
__ADS_1
Letupan terjadi ketika dua tangan mereka saling bertemu. Ratu Naga terdorong kembali ke tempat semula, di atas batu seperti saat dia pertama muncul.
Sementara itu, Suhita terjajar ke belakang lebih jauh. Dia tidak mampu mengontrol keseimbangan dengan baik, hingga jatuh terlentang di lantai gua.
"Non, Non Hita baik-baik saja?" Nyi Gondo Arum cepat memburu dan membantu Suhita berdiri.
Ada noda berwarna merah menghiasi sudut bibir mungil Suhita. Tapi dia masih baik-baik saja. Luka itu, tidak begitu berarti.
"Aku pasti bisa mengambil kotak sumberdaya itu. Kakek dan nenek tenang saja," Suhita meyakinkan pengasuhnya. "Ratu Naga, apa kau masih memberiku kesempatan?"
"Haha! Pejuang sejati tidak pernah memikirkan hasil, dia akan menikmati setiap waktu yang berlalu dalam perjuangan yang dilakukan. Sampai kau lelah kemudian menyerah, akan aku layani," Ratu Naga kembali membuka serangan. Kali ini, dia terlihat gunakan segenap kemampuan.
Suhita melakukan variasi gerakan. Dari cerita ayahnya, Suhita menarik kesimpulan jika ilmu bela diri bukanlah hanya berarti menang dan kalah tapi juga seni. Dimana dari seni itu muncul keindahan yang kemudian membuat lawan terlena saat bahaya serangan terbalut dalam pertunjukan seni yang indah.
"Tapak Naga Es - Jari Penghancur Es" Suhita melepaskan satu pukulan tenaga dalam paling dasar dalam Tapak Naga Es.
Dugh! Bruuukk!
Ratu Naga terkejut bukan kepalang. Dia coba menghindar, tapi Suhita terlalu cerdas. Kotak kayu berisi sumberdaya yang menjadi taruhan terjatuh dan menggelinding di lantai. Suhita Prameswari cepat mengambilnya. Setelah di buka dan memastikan jika itu bukan barang yang asli, Suhita kembali menutupnya dan mengembalikan pada Ratu Naga.
"Kotak itu telah menjadi milikmu, aku tidak berhak memilikinya lagi," Ratu Naga menolak.
Nyi Gondo Arum dan Kalagondang juga mengingatkan untuk Suhita mengingat tujuan utama mereka yakni untuk sumberdaya, bukannya untuk kalah dan menang dalam pertarungan.
__ADS_1
"Kau berikan benda tiruan untukku. Ratu Naga, kau simpan saja. Dengan rempah-rempah yang sudah ku ambil dari sini, aku bisa meracik dengan dosisku sendiri," Suhita memaksa, meletakkan kotak kayu tersebut di atas batu.
"Hahaha! Tabib Dewa, kau begitu teliti. Mengapa tidak kau minta saja ayahmu yang datang padaku? Dengan satu petikan jari saja, dia bisa dapatkan apa yang kau mau. Tidak perlu kau sakiti dirimu seperti ini," Ratu Naga tertawa sambil memandangi Suhita penuh keheranan.
"Terkadang, hanya diri pribadi yang berhak atas satu alasan. Maaf, aku tidak bisa jelaskan atas apa yang kau ingin."
Ratu Naga mengambil kembali kotak kayu yang Suhita letakkan di atas batu, dengan tertawa-tawa kecil Ratu Naga membuka dan memandangi sumberdaya yang ada di dalam kotak kayu itu. "Aku telah salah. Ternyata kau tidak seperti anak kecil yang terlihat. Kau sangat teliti. Tidak salah kau disebut sebagai Tabib Titisan Dewa."
Ratu Naga berjalan membelah ruangan, dia mengambil kotak lain yang sangat mirip seperti kotak di tangannya. Ya, itu adalah Pil Kelopak Surgawi yang asli.
Dengan senyum, Ratu Naga memberikan kedua kotak kayu tersebut pada Suhita. Memang Suhita yang berhak atas kotak tersebut. Takdir telah disuratkan. "Terima kasih, kau telah membebaskan tugasku."
Setelah Suhita menerima kotak kayu tersebut, perlahan-lahan tubuh Ratu Naga menerawang dan lenyap. Dia kembali menjadi seorang ular naga yang sangat besar. Melayang dan kemudian menghilang menembus dinding gua. Tugasnya sudah selesai, dia kembali ke tempat asalnya.
"Non, apa Non Hita baik-baik saja? Non masih kuat berjalan?" Nyi Gondo Arum memeriksa tubuh Suhita yang pakaiannya telah kotor karena tadi berulang kali terjatuh.
"Aku baik-baik saja, nek. Sebentar lagi juga kondisiku akan pulih," Suhita tersenyum. Dia sudah mengkonsumsi herbal penyembuh buatannya.
Kalagondang telah bergerak sendiri, dia mengambil lebih banyak tanaman obat di dalam ruangan itu.
"Dasar aki-aki busuk. Bukankah lain kali bisa datang lagi?" umpat Nyi Gondo Arum.
Suhita Prameswari hanya tertawa kecil. Dia menyimpan hasil petik Kalagondang dan segera mengajak keluar ruangan. Jika hujan reda, jauh lebih baik mereka segera meninggalkan bukit hujan malam itu juga.
__ADS_1
Betapa terkejutnya mereka saat tiba di mulut gua, kereta kuda yang ditinggalkan di sana telah hancur berantakan. Kedua kuda pun tergeletak bersimbah darah.
"Kurang ajar! Pasti ada orang yang datang. Mereka tidak menemukan kita dan sengaja merusak kereta kuda supaya gerakan kita menjadi lambat," Kalagondang mendengkus kesal, "ini pasti perbuatan Pasopati dan kelompoknya!"