
Dewi Api dan putranya, Raka Jaya. Telah mencapai perbatasan Kota Bukit Hijau. Mereka yang melakukan perjalanan terus menerus tentu memangkas waktu. Karena selama perjalanan kali ini, mereka tidak mendapatkan halang dan rintang.
Setelah berhasil lolos dari pengaruh racun yang dikonsumsi di padang tandus, Dewi Api dan Raka Jaya tidak menyusul Suhita yang mencari keberadaan Danur Cakra. Melainkan mereka langsung menuju Kota Bukit Hijau dengan memotong jalan melewati hutan curam. Sontak saja, perjalanan Dewi Api luput dari pengawasan Raja Iblis maupun Bhadrika Djani. Kedua tokoh besar tersebut sudah cukup direpotkan oleh perlawanan tak terduga dari Pendekar Naga Kresna dan juga Tapak Penakluk Naga yang tidak disangka dikuasai oleh Suhita. Sudah cukup mengurangi begitu banyak pasukan mereka.
"Ibu, apakah Ayah sudah tiba di Pulau Seribu Pandan?" tanya Raka Jaya.
"Ibu yakin, ayahmu pasti mementingkan acara ini. Juga Bibi Puspita, dia telah tiba dan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Sekarang, yang terpenting kita harus bisa mencapai Pulau Seribu Pandan tanpa menimbulkan jejak," jawab Dewi Api.
Bukannya tidak menyadari jika kebocoran berita disebabkan oleh kecerobohan putranya, akan tetapi sebagai seorang ibu tentunya sudah menjadi kewajiban bagi Dewi Api untuk membantu Raka Jaya untuk bisa keluar dari masalah. Paling tidak, jangan sampai mereka membawa musuh memasuki wilayah Pulau Seribu Pandan.
Pulau kecil di barat daya Kota Bukit Hijau, bernama Pulau Seribu Pandan. Konon, seluruh pulau tersebut diselimuti aroma wangi, hingga dinamai Pulau Seribu Pandan. Pulau yang merupakan tujuan wisata para pelancong, pulau yang masih asri dan indah. Sangat jarang orang-orang datang kecuali di hari libur seperti saat sekarang. Tentu saja, selain keindahan alam yang mempesona, Pulau Seribu Pandan Mahesa pilih sebagai tempat untuk merayakan ulang tahun ayahnya karena banyak alasan. Yang jelas tempat itu tidak dicurigai oleh musuh, karena tidak termasuk dalam daftar tempat atau pulau rahasia. Justru merupakan suatu tempat yang terbuka untuk umum, siapa pun bisa datang untuk berwisata.
Dewi Api dan juga Raka Jaya memasuki Kota Bukit Hijau dengan merubah penampilan mereka. Ya, mereka nampak seperti kakak dan adik. Membuang segala kesan, serta sikap hormat dari rakyat jelata pada seorang jenderal besar kerajaan. Tapi, karena Raka Jaya merupakan seorang yang tidak gila hormat, tentu hal tersebut bukanlah merupakan suatu yang berarti.
"Ah, Nona ... jika tidak keberatan, mari ikutlah bersama rombongan kami. Aku jamin, tidak akan ada orang yang mengganggu perjalananmu," seorang saudagar datang menghampiri Dewi Api dan Raka Jaya. Tanpa malu-malu, dia mengungkapkan tujuannya.
Di usia yang hampir kepala empat, tentu tidak mengubah apa pun. Wajah Dewi Api masih terlihat segar dan juga fresh, dia justru semakin terlihat cantik dan juga bersih. Mungkin dikarenakan aktivitas Dewi Api yang tidak lagi sering terpapar sinar matahari, berbeda seperti saat dia masih muda, ketika hidup dalam pengembaraan.
Ketika mengawali perjalanan sebagai seorang pendekar muda, Dewi Api dikenal sebagai seorang pendekar wanita yang mudah marah. Emosinya sangat tinggi, meskipun diimbangi dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Di kelasnya, hanya satu orang yang tidak pernah bisa Dewi Api kalahkan yakni Elang Putih dari Padepokan Rajawali. Yang kemudian menjadi suaminya.
Namun ... Dewi Api bukanlah pendekar kacangan yang tidak miliki perhitungan. Meskipun dalam hati menggebu-gebu, tentu sikapnya masih bisa menutupi. Dia sangat berbeda dengan Danur Cakra yang langsung main gebuk. Makanya, Dewi Api begitu dikagumi oleh lawan maupun kawan.
"Tuan, kau tidak melihat aku sedang bersama dengan seorang pria? Jika bukan untuk menciptakan masalah, lalu apa namanya kau menyebut sebagai perlindungan?!" jawab Dewi Api.
Sementara Raka Jaya memilih untuk diam. Dia begitu menghormati ibunya, mana mungkin berani ikut campur. Pengalaman yang sangat kaya, tentu merupakan bekal untuk Dewi Api bertindak.
__ADS_1
Setelah bicara basa-basi yang cukup lama, akhirnya Dewi Api setuju untuk ikut serta dalam rombongan saudagar tersebut. Dan memang hal itulah yang menjadi tujuannya, cuma Dewi Api membalut sebagai sebuah sandiwara agar terlihat nyata.
Dan begitulah, perjalanan Dewi Api dan Raka Jaya semakin lancar tanpa sandungan. Tidak lama lagi, mereka akan segera tiba di Pulau Seribu Pandan. Bergabung bersama Mahesa dan Puspita Dewi yang telah lebih dulu tiba.
°°°
Berbeda kisahnya dengan Raka Jaya, perjalanan Suhita justru lebih menantang. Kendati Hita dan Kencana Sari tidak lagi terlibat dalam perseteruan dengan anak buah Raja Iblis ataupun Bhadrika Djani, ada-ada saja kejadian yang membuat mereka terpaksa gunakan kekerasan.
Keributan, kekerasan, bahkan pertarungan yang cenderung melibatkan nyawa manusia di dalamnya, merupakan hal yang paling dibenci oleh Suhita. Sebagai juru sembuh, Suhita sangat anti melukai orang. Akan tetapi ... kenyataan memaksanya untuk melakukan hal yang bertolak belakang dengan hatinya.
Kelompok terakhir dari pasukan bayaran Raja Iblis yang Suhita hadapi ialah mereka yang membeku di dalam hutan. (Sebelum kemudian kembali dihidupkan oleh Aki Calincing dan akhirnya diselesaikan oleh Danur Cakra). Setelah itu, tidak seorang pun mata-mata yang berhasil menyusul perjalanan Suhita. Bisa dikatakan, mereka lolos dari kejaran kelompok yang berniat buruk untuk melakukan serangan pada pesta ulang tahun Raditya.
"Huuuhhh ... apa yang telah aku lakukan? Sebenarnya kesalahan apa hingga menjadikan tanganku berlumuran darah," Suhita mendesis lirih.
Hati Suhita hancur, bagai teriris sembilu berbisa. Dia heran pada rencana sang pencipta yang menempatkan dirinya menjadi manusia yang tega mencabut nyawa sesama manusia.
Suhita mengangguk, dia paham, dia mengerti, tapi bagaimana pun juga sulit untuk bisa membuat dirinya menerima. Cara pandang yang terlanjur berbeda.
"Lalu, bagaimana dengan Kak Cakra? Apa dia baik-baik saja?"
"Pendekar Cakra pasti bisa menjaga dirinya. Bukankah kau akan merasakan jika hal buruk menimpanya? Sekarang, tiada hal apa pun," Kencana Sari tersenyum.
Suhita menepuk jidatnya, mengapa akhir-akhir ini seolah otaknya berhenti bekerja? Bukankah Suhita merupakan seorang yang jenius sejak terlahir?
"Lepaskan semua beban yang ada di pundakmu, maka langkahmu akan ringan. Hita, jika kita menatap masalah dengan kepala dingin maka sekusut apa pun itu, pasti akan bisa terurai."
__ADS_1
Suhita menghela napas. Menghirup dengan dalam, kemudian menghembuskannya, lalu mengulangi lagi sampai dia merasakan ketenangan mengelompokkan jiwanya. Dia adalah seorang Tabib Dewa, tidak layak terpengaruh oleh hal apa pun. Hatinya harus kuat dan tegar. Karena angin berhembus kencang bukanlah untuk menggoyangkan daun, melainkan menguji seberapa kuatnya akar.
Kota Bukit Hijau masih berjarak ratusan mil, dan tentu saja Suhita tidak bisa terus berjalan tanpa membekali tubuh mereka. Ya, mereka hanyalah manusia biasa. Butuh asupan makanan juga minum. Belum lagi, kuda yang mereka gunakan sudah sangat kelelahan. Nampaknya Suhita harus mengganti kuda, karena tidak mungkin kuda-kuda itu terus dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan. Biasanya, di tempat jual beli kuda akan selalu ada metode tukar tambah. Tidak perlu pusing untuk hal itu.
"Permisi, pak. Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar ..." Kencana Sari berjalan menghampiri seorang petani yang kebetulan melintas. Pada petani tersebut, Kencana Sari menanyakan tempat penjual kuda serta kedai.
Dengan juga penuh sikap sopan, petani tersebut menjelaskan apa yang Kencana Sari ingin tahu. Dia memberikan beberapa referensi tempat yang mungkin bisa didatangi.
"Bagaimana? Apa masih jauh?" tanya Suhita setelah Kencana Sari kembali.
"Di pertigaan jalan nanti, kita ambil arah kiri. Beberapa ratus meter ada peternakan kuda yang bagus, tapi setelah itu kita harus kembali mengambil arah kota," jelas Kencana Sari menyampaikan apa yang dia dengar dari petani tadi.
"Baiklah, ayo!"
Keduanya segera menggebrak punggung kuda, melanjutkan perjalanan. Dan benar saja, tidak lama kemudian mereka tiba di pertigaan jalan dan mengambil arah kiri. Terus menyusuri jalan sampai terlihat bangunan yang cukup luas, yang tidak lain ialah tujuan mereka, peternakan kuda.
Dari kejauhan bisa dilihat jika ada beberapa orang yang tengah berada di peternakan tersebut. Nampaknya mereka juga para pendekar yang hendak menukar kuda. Firasat Suhita mengatakan jika akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Para pendekar yang keseluruhnya merupakan laki-laki, pasti akan banyak tingkah ketika bertemu dengan wanita muda yang cantik. Terlebih, penampilan Suhita dan Kencana Sari tidak menunjukkan kalau keduanya berasal dari padepokan mana pun.
"Hita, kau tunggu saja di sini. Biar aku yang ke sana," ucap Kencana Sari.
"Ah, tidak. Itu bukan solusi. Mana ada buaya yang tidak mencium bau darah."
Mata dengan pandangan liar menyambut Suhita dan Kencana Sari yang datang dengan menuntun kuda. Mengingat hanya ada mereka berdua sebagai wanita, tentu paras keduanya tidak bisa dibandingkan dengan sosok siapa pun di situ.
"Hehehe ... nona manis, kebetulan sekali. Kuda seperti apa yang kalian cari? Sebelumnya, harus kalian tahu jika ada yang melebihi tangguhnya kuda liar. Hehehe!" seorang pendekar gemuk menyambut kedatangan Suhita, bahkan sebelum pemilik peternakan angkat bicara.
__ADS_1
Suhita hanya mengurai senyumnya yang amat manis, semakin memancing keberanian para pendekar untuk terus melontarkan kalimat menggoda. Namun seolah tidak terganggu, Suhita dan Kencana Sari melanjutkan langkah dan melakukan transaksi dengan pemilik peternakan.
"Kang, barang bagus ini ..." bisik seorang dari mereka.