Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Malaikat Pelindung


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Suhita telah siap. Ramuan yang harus di konsumsi oleh anak Saudagar Nyoman telah dia persiapkan semuanya. Sekarang, Hita tinggal menunggu kesiapan pengawal Saudagar Nyoman yang akan mengantarnya untuk bisa masuk ke arena kompetisi.


"Tabib kecil, aku akan ikut serta. Meskipun aku tidak begitu suka pada seni beladiri, akan tetapi demi memenuhi keinginanmu maka aku akan melakukannya," Saudagar Nyoman berkata dengan sungguh-sungguh.


Dengan menunggang kereta kuda mewah milik Saudagar Nyoman, Suhita akan disulap menjadi anggota keluarga. Nyonya Jelita pun ikut serta dalam rombongan. Nampaknya semua ini adalah ide wanita itu. Betapa senangnya Suhita karena bertemu dengan orang-orang yang menepati janji.


Saudagar Nyoman telah berhutang nyawa pada tabib kecil Suhita, maka dia akan membayarnya juga dengan jasa. Terlepas Suhita yang memang tidak begitu tertarik pada uang dan perhiasan.


"Tabib kecil, sejak awal kami tidak tahu siapa namamu. Bagaimana jika kau kami panggil Melati, kau tidak keberatan 'kan?" ucap Nyonya Jelita saat mereka berada di dalam kereta.


Suhita setuju-setuju saja. Hal terpenting bagi Suhita ialah bisa menyaksikan pertandingan dua orang yang begitu berarti baginya. Sungguh, Suhita begitu sangat mendamba-dambakan setiap kali melihat Raka Jaya beraksi di arena. Hal itu, membuat Suhita bahagia. Tanpa alasan yang pasti.


"BERHENTI !!!"


Pasukan penjaga pintu gerbang menghentikan laju kereta kuda yang membawa Suhita dan keluarga Saudagar Nyoman.


Meskipun dengan hati yang berdebar-debar karena tidak terbiasa, Saudagar Nyoman segera turun dari kereta. Dia berjalan mendekati prajurit jaga dan mengutarakan maksud dan tujuannya.


Dengan pengaruh dan ketenaran yang dimiliki oleh Saudagar Nyoman sebagai salah seorang pemilik usaha besar di Giling Wesi, membuat dia bisa meyakinkan prajurit jaga dan masuk ke dalam padepokan dengan tidak banyak pertanyaan. Pastinya dengan menggunakan jurus pamungkas kepeng emas. Ada uang, urusan lancar tidak akan pernah sulit.


"Melati, ke mana kau akan menuju?" tanya Saudagar Nyoman setelah mereka masuk.


"Tuan, saya ingin menyaksikan pertandingan final di kompetisi ini. Ada dua orang teman saya yang ikut bertanding. Celakanya, orang yang iri justru menuduh jika saya berbuat curang untuk membuat mereka sampai ke tahap ini," ucap Suhita.

__ADS_1


Kemudian, Suhita turun dari kereta kuda ketika mereka tiba. Tanpa dicurigai, dengan bebas Suhita bisa bergerak bersama dengan keluarga Saudagar Nyoman. Mereka semakin mendekat ke arena pertandingan.


Merasakan keadaan yang berada di bawah kendali, Suhita bersikap acuh pada orang-orang yang ada. Dia mengayunkan kaki semakin mendekat arena kompetisi. Hingga tanpa dia sadari, ada beberapa pasang mata yang mengawasi setiap gerak-geriknya.


Penampilan orang yang menghampiri Suhita pun sama. Sama sekali dia tidak menunjukkan jika berasal dari padepokan atau kelompok mana pun. Mereka menyamar jadi orang biasa yang datang sekedar untuk menonton kompetisi final hari itu.


Jarak mereka semakin dekat. Tingkat profesionalitas yang dimiliki oleh orang itu jauh berada di atas Suhita. Sepertinya mereka telah terbiasa melakukan penyamaran semacam itu. Sangat halus dan tidak ketara sedikit pun.


Seorang pria berbadan sedang telah berhasil mendekati Suhita dengan cerdiknya. Tanpa menunggu waktu, tangannya diayun ringan untuk melemparkan jarum kecil yang merupakan senjata rahasia. Dia hendak membokong Suhita dari belakang.


Cleeebb! Tusukan jarum menghunjam tanpa menimbulkan suara yang gaduh. Bahkan mulut pun tidak sempat berteriak mengeluarkan suara.


Suhita masih meneruskan langkahnya. Itu tandanya anak tersebut masih baik-baik saja. Lalu, siapa yang terkena oleh jarum?!


Tep! Set! Ada satu tangan yang tiba-tiba menarik lengan Suhita.


Suhita terkejut, dengan segera dia mengerahkan kekuatan tenaga dalam Tapak Naga untuk berontak dan melepaskan diri. Suhita menduga jika pria yang menarik lengannya merupakan pendekar yang ditugaskan untuk menangkapnya.


Namun, sekuat apa pun Suhita berusaha melepaskan diri, kekuatan tenaga dalam yang dia kerahkan seolah lenyap bagaikan seember air yang disiramkan ke tengah danau. Hilang tak berbekas.


"Hisss ... lepaskan! Apa maumu?!" Suhita melepas secara paksa genggaman tangan pria yang memakai caping gunung. Mereka baru berhenti di sudut bangunan saat suasana telah sepi.


"Hei, ini aku!" akhirnya suara emas dari mulut orang itu terdengar.

__ADS_1


Suhita mengernyitkan dahinya, dia mengenali suara orang yang bicara padanya. Itu suara ayahnya.


"Ayah, ini benar ayah?!" Suhita memastikan jika orang itu benar adalah ayahnya.


"Iya, sayang. Maaf, ayah berpenampilan seperti ini hingga tidak kau kenali," Mahesa tertawa kecil.


Ya, memang Mahesa yang bekerja sebagai pembersih jalan, menghentikan orang yang hendak mencelakai Suhita. Hingga tidak seorang pun yang berhasil mendekati Suhita. Termasuk orang yang hendak membokong Suhita dengan menggunakan jarum rahasia, di tangan Mahesa semuanya beres tanpa jejak.


Mahesa adalah seorang pendekar besar yang sangat berpengalaman dan tentunya sangat cerdik. Dia punya bermacam cara untuk bisa menjalankan apa pun misi yang dia ingin. Terlebih untuk melindungi putrinya. Mahesa tidak akan segan menumpahkan darah bahkan pertaruhkan keselamatan.


"Hita, ayah tau kau sengaja dijebak. Mereka berpikir jika tanpamu, maka pertandingan bisa mereka kendalikan. Tapi kau tenang saja, semuanya akan aman terkendali. Ayah akan pastikan Putri kesayangan ayah tidak akan bisa mereka jadikan kacung," Mahesa membelai rambut Suhita dengan lembut.


"Ayah, terima kasih. Ayah adalah pahlawan terbaik sepanjang hidupku," Suhita mendekap ayahnya dengan erat. Betapa senang hatinya, mendapati bahwa ayahnya begitu percaya pada semua yang Suhita ceritakan. Dengan begitu, tidak ada hal yang harus Suhita takutkan lagi.


"Baiklah. Sekarang jaga dirimu. Berhati-hatilah! Jangan pernah percaya pada siapa pun orang yang baru kau temui. Kau tahu, yang paling berbahaya dari ular ialah bisanya," Mahesa kembali mengingatkan Suhita sebelum mereka kembali berpisah.


Mahesa bisa menemukan di mana pun Suhita berada, bahkan dalam balutan tampilan yang berbeda pun. Tiada lagi yang Suhita takutkan. Mati hanya sekali, tapi jalan kematian itu sangatlah jauh.


Saat ini, fokus utama Suhita ialah menjangkau lokasi VIP di pertandingan. Hingga dia bisa melihat dengan dekat berlangsungnya kompetisi final hari itu. Suhita bukanlah orang yang curang seperti yang dituduhkan, tapi dia tidak akan tinggal diam jika ada orang yang berusaha berbuat curang pada Danur Cakra dan Raka Jaya. Lihat saja, jika ada yang coba menggunakan racun jarak jauh atau sejenisnya, maka orang itu akan berhadapan dengan Suhita si Tabib Titisan Dewa.


Langkah Suhita semakin dekat dengan ring. Dia juga mendapatkan kabar gembira lain, jika yang akan berlaga di babak pertama ialah Danur Cakra melawan seorang murid dari Padepokan Soarga Loka. Sangat menarik, itu artinya doa Suhita terjawab. Kedua orang yang dia sayang tidak bertemu di babak awal.


"Hei, kau mau ke mana?!"

__ADS_1


__ADS_2