Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Di Penginapan


__ADS_3

"Hei, kenapa cemberut? Jangan begitu, nanti cantiknya hilang," Raka Jaya menggoda Suhita yang duduk melamun seorang diri.


Suhita diam saja, dia hanya melirik sekilas dengan senyum tawar yang dipaksakan.


Raka Jaya menghela napas dan tersenyum lebar, kemudian dia mengambil posisi duduk di samping Suhita.


"Hita, dengar. Semua orang pernah berada pada posisimu sekarang. Mengapa kau sampai tidak mengetahui semua itu? Itu karena mereka berhasil menguasai diri. Dunia sekarang ini, tidak seperti cerita di atas kertas."


"Apa aku ditakdirkan sebagai seorang pembunuh? Betapa buruknya takdirku," suara Suhita terdengar lemah.


"Takdir? Siapa yang bisa bernegosiasi. Tapi kau harus tahu, Hita. Kematian Pendekar Naga adalah takdirnya, bukan takdirmu. Dia ditakdirkan untuk mati berdarah. Hanya saja, KEBETULAN kau dan aku yang menjadi jalan. Andaipun bukan kita, pastinya ada orang lain yang akan mencelakainya. Mungkin Paman Justa Jumpena, atau bahkan Aki Kalagondang. Jalan hidupnya telah ditakdirkan," Raja Jaya bicara panjang. Suhita mendengarkan dengan seksama.


Kemudian Raka Jaya menjelaskan lagi, seperti apa yang pernah kakeknya jelaskan padanya. Memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda. "Sebaik-baik orang yang berdosa ialah mereka yang menyesali perbuatannya. Kemudian mengimbangi penyesalan itu dengan menebar kebaikan."


"Lalu, apakah kau juga menyesal?" Suhita balik bertanya pada Raka Jaya.


Raka Jaya tertawa kecil. Dia kemudian mengambil belati kecil di pinggang Suhita.


"Apa yang akan kau lakukan?" Suhita cepat menangkap lengan Raka Jaya.


"Aku ingin membelah dadaku. Biar kau bisa lihat, seperti apa penyesalan itu."


"Iiihhh, bercandamu tidak lucu," Suhita memalingkan wajahnya.


"Eh, aku serius. Kau lihat mengapa tidak ada debu yang melekat di jendela kamar ini? Itu karena selalu dibersihkan. Coba wajahmu saja, kalau tidak dibersihkan satu hari saja. Pasti, hehehe ..."


"Raka, aku tidak suka kau terus menggodaku," Suhita mendorong tubuh Raka Jaya menjauh darinya.


"Makanya jangan cemberut. Jika kau mau tersenyum, maka aku akan segera pergi. Membawa senyumanmu itu ke dalam mimpiku."

__ADS_1


"Menyebalkan, pergi saja sana!" Suhita mengusir Raka Jaya.


Setelah Raka Jaya benar pergi, Suhita celingukan seorang diri. Dia tersenyum jika mengingat Raka Jaya menggodanya. Memangnya wajahnya kotor apa? Dasar bocah nakal.


"Nah ... jika kau tersenyum begitu, bukannya kau semakin cantik," suara Raka Jaya terdengar dari balik tiang. Rupanya sejak tadi dia bersembunyi.


Ketika Suhita menoleh, Raka Jaya tersenyum lebar, lalu kemudian dia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu. Membuat Suhita jadi keki.


"Rakaaa! Awas kau!"


°°°


Setelah melewati pergulatan batin, dini hari yang semakin dingin pada akhirnya mampu membalut Suhita dalam buaian mimpinya yang indah.


Dalam mimpi, Suhita Prameswari berlari di taman bunga yang sangat luas. Dia tertawa dan menari. Ada ayah, ibu juga saudaranya. Danur Cakra, yang memang sudah lama tidak berjumpa dengannya.


Yang aneh ialah, di taman bunga itu ada juga Raka Jaya. Wajahnya berseri dan bersinar cerah. Raka Jaya terlihat begitu akrab dengan Mahesa. Mereka bersama-sama menggoda Suhita.


Matahari yang merekah di ufuk timur tidak serta merta bisa menggugah Suhita dari tidurnya. Tidak biasanya Suhita bangun kesiangan. Hanya beberapa kali saja hal itu terjadi dalam hidupnya.


"Oh, Non Hita sudah bangun?" Nyi Gondo Arum sudah menunggu di sana. Pakaian ganti dan perlengkapan mandi sudah Nyi Gondo Arum siapkan.


"Nenek, huuhhh ... aku kesiangan," Suhita bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Oh ya, nek. Apa Raka Jaya sudah pergi?"


"Belum, Non. Dia masih menunggu Non Hita untuk sarapan bersama. Baiknya, Non Hita mandi dan berganti pakaian dulu."


Suhita terbelalak, tanpa kata dia langsung menyambar handuk dan berlari menuju kamar mandi. Apa yang Raka Jaya pikirkan tentang dirinya jika pertama kali bertemu saja sudah bangun kesiangan. Padahal, tidak sebulan sekali Suhita melakukan hal memalukan itu. Ah, sial.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Suhita bergegas turun dan menemui Raka Jaya di kedai penginapan.

__ADS_1


Ah, ramai sekali? Tadi malam, orang-orang yang bersama Raka Jaya tidak sebanyak itu. Selain Raka Jaya, juga ada beberapa anak lainnya. Dengan pengawalan yang begitu ketat, nampaknya mereka adalah utusan padepokan yang akan mengikuti perlombaan atau sejenisnya.


"Tabib kecil, mari silahkan duduk," Justa Jumpena menyambut kedatangan Suhita dan mengantarnya ke tempat duduk yang disediakan di meja makan bersama Raka Jaya.


Beberapa pasang mata, terlihat memandangi Suhita penuh tanda tanya. Seorang anak teman Raka Jaya bersiul menarik perhatian Suhita.


Ateng memang begitu, tidak bisa diam jika melihat sesuatu yang baru. Dia adalah murid paling heboh jika ada hal yang berkaitan dengan Raka Jaya. Bicara Ateng sangat jujur dan terkesan ceplas-ceplos tanpa disaring. Suka pamer dan selalu ingin dipuji. Meski begitu, dia memiliki hati yang baik dan tidak dibekali sifat iri dengki. Hanya saja iseng yang berlebihan.


"Ka, dia teman wanitamu? Ckckck! Tumben kau punya nyali," komentar Ateng sambil menyuap iga sapi.


"Maaf, baiknya kau jangan dengarkan dia. Silahkan duduk," Raka Jaya tersenyum dan menyiapkan peralatan makan ke depan Suhita.


"Ehem, ehem!" lagi-lagi Ateng mengganggu dengan batuk yang dibuat-buat.


"Namanya Aji Selenteng, biasa dipanggil Ateng. Mulutnya melebihi wanita, harap maklum," Raka Jaya bicara pelan-pelan.


"Wah-wah, demi menarik perhatian seorang wanita cantik. Kau begitu tega hancurkan pesona sahabat sendiri. Dunia memang mengerikan," Ateng tidak pernah berhenti bicara.


Mulutnya sangat tajam dan penuh dengan sayatan yang pedih. Itu semua karena Ateng selalu bicara apa adanya. Hingga di padepokan, tidak banyak dia memiliki teman akrab. Hanya Raka Jaya dan dua orang anak lain. Tapi dalam perjalanan kali ini, Hanya Raka Jaya yang menjadi rekan Ateng.


Raka Jaya, Ateng dan beberapa murid berbakat dari Padepokan Api Suci akan mengikuti kompetisi tahunan. Untuk tahun ini, kompetisi pencarian bakat muda itu akan di laksanakan di Padepokan Giling Wesi. Padepokan besar di bawah pimpinan Jaka Pragola.


Meskipun Padepokan Api Suci bukanlah anggota aliansi yang tergabung dalam kelompok Padepokan Giling Wesi dan lima padepokan besar lainnya, tapi sebagai padepokan aliran putih yang besar Padepokan Api Suci memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam kompetisi.


"Dari kompetisi ini, akan mencatatkan nama pemenang yang akan diakui oleh dunia persilatan utara. Padepokan yang ikut serta, akan menjamin keselamatan dan sokongan sumberdaya bagi mereka yang terpilih. Hita, ini adalah kesempatan untuk kau tunjukkan kemampuanmu supaya dunia mengenal dirimu. Paling tidak, kau akan memiliki banyak pelindung dari tangan mereka orang-orang serakah yang inginkan dirimu," usul Raka Jaya.


Raka Jaya akan berusaha untuk beri Suhita satu slot kursi agar dia bisa berkompetisi.


Suhita tersenyum, dia sangat berterima kasih. Tapi sayangnya dia tidak bisa mengikuti kompetisi untuk tahun ini. Dia harus segera pulang dan bicarakan kemungkinan tampil tahun depan dengan ayahnya. Suhita tidak bisa ikut serta.

__ADS_1


Meski dengan sangat berat hati, Raka Jaya menerima keputusan Suhita. Dia tidak bisa memaksa untuk itu, meskipun hatinya sangat berharap.


Suhita segera pulang. Ancaman pada keselamatannya melibatkan Nyi Gondo Arum dan Kalagondang. Jika di rumah, Suhita punya ayah yang lebih bisa diandalkan. Yang paling penting, Suhita akan menyatukan dan melebur karomah Pil Kelopak Surgawi yang dia dapat di gua badai salju untuk bisa sempurnakan kemampuan tenaga dalamnya.


__ADS_2