Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Singa yang Terjaga


__ADS_3

"Sari! Cepat bawa masuk!" ucap Suhita dengan suara yang agak keras. Sementara Suhita sendiri sedang berada di ruang sebelah, baru saja menyelesaikan latihan.


Raka Jaya hendak mengatakan sesuatu pada Suhita, tapi sepertinya Suhita tidak memberi kesempatan untuk itu. Penyakit apa pun itu, tidak mungkin bisa diobati kalau tidak diusahakan. Sebagai seorang tabib tentunya harus sigap, melakukan tindakan bukan bicara nyanya-nyenye panjang lebar. Solusi tidak akan datang dengan sendirinya untuk tahu bisa diobati atau tidak tentu setelah ditatangani.


Apa yang bisa Raka Jaya lakukan? Tentu saja hanya berdiri seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi ketika Suhita tahu jika orang yang datang adalah saudara kembarnya. Sementara selama beberapa malam terakhir Suhita selalu marah-marah tidak jelas, uring-uringan mendengar kabar atas Danur Cakra. Suhita benar-benar marah, kecewa, kesal, benci dan segenap rasa tidak suka. Sebentar lagi mereka bertemu, mungkinkah Suhita akan menyuntik mati Danur Cakra?


"Tabib ..." Kencana Sari menyudahi kalimatnya sebelum menjadi beberapa kata.


Suhita tidak menghiraukan gejala-gejala tidak biasa pada Raka Jaya dan Kencana Sari. Dia berjalan sedikit terburu-buru menghampiri Kemuning yang terbaring lemah.


"Hei, kiranya dirimu. Apa yang kau rasakan?" tanya Suhita.


Tentunya sekadar basa-basi semata Suhita bertanya demikian. Nyatanya dia langsung meraba pergelangan tangan Kemuning untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya. Suhita cepat memberikan beberapa totokan pada titik-titik syaraf di tubuh Kemuning. Selain merasakan jika kondisi Kemuning sangat darurat, Suhita juga mendapati hal yang janggal.


"Kau sangat beruntung. Sanggup bertahan hanya dengan bantuan energi murni. Tapi, energi ini ..." Suhita mengerutkan dahi. Ada yang aneh, terasa seperti Hita sedang menggenggam lengannya sendiri.


"Siapa yang menolongmu sebelum ini?" tanya Hita dengan suara sedikit gemetar.


Kemuning tidak menjawabnya, justru bulir bening mengalir di sudut matanya. Entahlah apa yang menyebabkan gadis itu justru malah menangis, Suhita tidak tahu.


Untuk pertama kalinya, Suhita menoleh ke arah sosok yang membawa Kemuning. Membuat jantungnya berhenti berdetak dalam beberapa waktu. Tiada kata yang terucap dari bibir siapa pun yang ada di sana. Sepi, sunyi.


PLAAAKKK !!! Tiba-tiba satu tamparan keras Suhita layangkan dan tepat mendarat di pipi kanan Danur Cakra.


"Hita!" Raka Jaya terbelalak, dia cepat memburu Suhita untuk tidak melakukan serangan lanjutan.


Raka Jaya menangkap lengan kanan Suhita yang sudah kembali terangkat. "Hita !!! Hita !!! Cukup, Hita. Jangan lakukan lagi."


Suhita tidak pernah semarah ini. Bahkan dia tidak pernah memukul orang. Meskipun orang itu berbuat jahat padanya. Tapi kali ini dengan melihat wajah Danur Cakra, Suhita benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Kenapa kau ke sini? Untuk apa?!" teriak Suhita. Suaranya parau, "Aku benci kamu. BENCI !!!"


"Hita, tenang!" Raka Jaya coba menenangkan Suhita. Tapi Suhita tetap berontak, mendorong Raka Jaya dengan kasar. Sampai-sampai Raka Jaya terjajar ke belakang.


"Kau! Jenderal Muda, mengapa kau justru melindungi PENJAHAT ini?! Mengapa hukum menjadi tumpul karenanya?! Jika kau tidak bisa, setidaknya biar aku saja yang lakukan. JANGAN HALANGI AKU !!!!" Suhita bicara dengan berteriak, meluapkan segala amarah dan kekesalan dalam dadanya. Tatapan matanya nanar, memerah bercampur dengan tetesan air mata yang tak terbendung.


Seperti jiwa yang tertukar. Sebaliknya, Danur Cakra malah menjadi seorang yang kalem, tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Dia tidak coba untuk menghindari tamparan yang Suhita berikan. Hanya diam.


Danur Cakra menjatuhkan lututnya, matanya terpejam, pasrah, memberikan ruang yang luas pada Suhita untuk melakukan apa pun, bahkan mencabut selembar nyawanya.


"Bangun kau pengecut! Brengsek! Cepat bangun, ayo hadapi aku! Mana kemampuan naga hitam yang katanya hebat itu. Aku ingin lihat, Jurus Dewa Naga yang mengerikan. Tunjukan padaku baji*ngan!!" Suhita datang mendekat, mencengkeram pundak Danur Cakra, memaksa Danur Cakra untuk berdiri menghadapi dirinya.


"Baiklah, jika kau tidak mau. Jangan salahkan aku! Juga jangan menyesal kau mati dalam kehinaan!" Suhita menendang dada Danur Cakra hingga jatuh terlentang.

__ADS_1


Akan tetapi, Danur Cakra kembali bangkit pada posisi berlututnya, "maafkan aku," hanya itu kata yang dia ucapkan pada Suhita.


Raka Jaya kehabisan cara untuk bisa menahan Suhita. Dia meminta bantuan Kencana Sari untuk pikirkan sesuatu, tapi apa gunanya. Kencana Sari justru lebih ketakutan. Selama bertahun-tahun menjadi pelayan, tidak pernah Sari melihat Suhita marah. Tapi kali ini dia seperti bertemu dengan iblis neraka, sangat menakutkan. Kata-kata kasar, memaki, tadinya Kencana Sari mengira Suhita tidak bisa berkata demikian.


"Ah, celaka!" Raka Jaya menepuk jidat.


Suhita menarik busur panah di tangannya, panah berbalut kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi. Ya, Panah Bidadari. Dengan panah itu, Suhita bisa mengakhiri nyawa siluman besar, bahkan kemampuan jenis apa pun tidak akan mampu menahan tajamnya anak panah.


Mana mungkin Danur Cakra tahu, matanya terpejam dengan erat, telinganya ditutup dari segenap suara. Bahkan saat anak panah tersebut meluncur deras ke arahnya.


WUSS! WUUUSSS!!! Puluhan anak panah melaju dengan kecepatan yang tidak terlihat oleh mata biasa.


TRINGG! TIIING! TIIIINGG!!! Benturan keras disertai dentuman terjadi. Dengingnya terasa menusuk gendang telinga. Pedang Api milik Raka Jaya yang menepis anak panah bidadari, menyelamatkan Danur Cakra dari kematian.


Suhita ngos-ngosan, kemarahannya telah melampaui batas. Sementara hatinya yang hancur memaksa tangis terus mengiringi. Suhita berhenti melakukan serangan, kali ini lututnya menjadi lemah hingga jatuh bersimpuh. Menangis tersedu-sedan.


"Cakra, kau pergilah ke luar untuk sementara waktu. Biarkan aku menenangkan Hita. Dia ... dia begitu terpukul. Kasihan dia, jadi aku harap kau jangan keras kepala," Raka Jaya meminta Danur Cakra untuk keluar.


Danur Cakra tertawa kecil, sebenarnya dia menangis. Sungguh dia seorang yang sangat tidak berguna. Jangankan memberi sesuatu yang berharga, justru hanya bisa menggores luka. Sama sekali tidak bisa dibanggakan. Dia bisa merasa, betapa Suhita amat menyayanginya. Dan sekarang dia patahkan begitu saja.


"Ayo, cepatlah pergi ..." Raka Jaya mendorong Danur Cakra untuk sejenak menghilang dari pandangan Suhita. Kasihan adiknya, sekarang begitu hancur.


"Kencana Sari ... kau, kau bantu Nona ini lebih dulu. Tolong untuk tidak katakan apa pun, pada siapa pun," setengah berbisik, Raka Jaya memberi pesan pada Kencana Sari. Siapa pun? Ah, mungkin ini cara Raka Jaya untuk buat Suhita tenang.


Kencana Sari terus mengikuti langkah Raka Jaya yang dengan hati-hati membawa Suhita meninggalkan ruangan. Terlihat sekali kasih sayang yang ditunjukkan oleh Jenderal Muda pada Suhita. Perlahan, air mata Kencana Sari tanpa terasa membasahi pipi. Terharu.


Beberapa waktu lamanya, suasana ruangan menjadi sangat lengang. Hanya udara dan air mata yang bergerak, mengalir di pipi Kemuning juga Kencana Sari. Dua gadis itu hanyut dalam perasaan masing-masing.


"Em, eh, maaf ..." Kencana Sari segera menghapus air mata di pipinya. Dia sadar, ada tugas yang harus segera dia kerjakan.


Kemuning melakukan hal yang sama, dia pula tidak ingin terlihat menangis. Suasana canggung dirasakan oleh Kemuning, dia menjadi serba tidak enak. Bahkan Tabib Dewa yang semula dia duga hanya sekedar menolak untuk mengobati, ternyata lebih dari itu. Bahkan Tabib Dewa nyaris mencelakai Danur Cakra. Tapi anehnya lagi, Jenderal Muda justru menyelamatkan Danur Cakra. Jika masalahnya ada pada pembunuhan yang di lakukan oleh Danur Cakra, bukankah itu merupakan tugas Jenderal Muda?


Berkomunikasi dengan saling menyebut nama panggilan, itu tandanya tiga orang itu telah saling mengenal sebelumnya. Wajar jika mereka semua mengenal Tabib Dewa. Tapi yang sulit dicerna akal ialah kedekatan Danur Cakra yang merupakan seorang pendekar berdarah dingin, dengan Jenderal Muda Kerajaan Utara yang notabenenya sebagai penegak hukum. Ada apa di balik semua itu?


"Nona, apakah kau dan Pendekar Cakra tergabung dakam kelompok pemberontak yang sama?" tanya Kencana Sari.


Kemuning menggeleng lemah, dia tidak mengakui jika dianggap sebagai pemberontak. Mereka hanya terjebak.


"Jangan pura-pura polos, Nona. Jangan kau pikir, aku sudah lupa kejadian tempo hari. Mungkin Tabib Dewa bisa memaafkan, tapi aku rasa diriku tidak sebaik itu. Kau tahu, aku menolongmu karena TERPAKSA! Kalau bukan demi perintah Jenderal Muda dan demi nama baik Tabib Dewa, aku lebih senang melihat kau meregang nyawa!" Kencana Sari bicara blak-blakan pada Kemuning. Dia tidak perduli pada air atau Kemuning. Namanya juga air mata bawang, menangis hanya demi belas kasih. Menjijikkan!


"Lagi pula, aku heran pada Tabib Dewa. Bisa-bisanya dia terlena pada seorang penjahat. Apa di dunia ini tidak ada pria lain? Jelas-jelas Jenderal Muda lebih perhatian!" Kencana Sari terus menggerutu.


"Jika semua ini terjadi karena kesalahanku di masa lalu, aku mohon untuk tidak libatkan Cakra. Dia ... dia sama sekali tidak tahu apa-apa, aku mohon padamu, juga pada Tabib Dewa ..." ucap Kemuning.

__ADS_1


"Wow, mesra sekali kau menyebut namanya. Cakra ..." Kencana Sari menirukan cara Kemuning berucap. Tapi kemudian mendadak dia diam, menghentikan pekerjaannya. Tatapannya tajam, menatap wajah Kemuning dengan lekat seolah inginkan sesuatu.


"Aku akui, kau sangat cantik. Jangan katakan jika kau yang menggoda Pendekar Cakra dengan tubuhmu. Membuat dia terjebak dalam situasi yang kalian ciptakan hingga sekarang menjadi buron kerajaan. Jika itu benar, jangan harap kau bisa lolos dariku!" Kencana Sari menunjuk lurus hidung Kemuning. Kemudian dia mengepalkan tangan penuh intimidasi hanya beberapa inci di atas wajah Kemuning.


Kemuning tidak mengerti arah pembicaraan yang Kencana Sari maksud. Apa hubungannya dengan wanita itu seandainya benar Danur Cakra punya hubungan dengannya. Tiba-tiba saja, dia bicara penuh ancaman seolah ada suatu kesalahan yang Kemuning lakukan, berkaitan dengan Danur Cakra.


"Heh! Mengapa diam?! Jawab pertanyaanku. Apa kau yang menjebak Pendekar Cakra?!"


"Nona, aku tidak tahu apa maksud pembicaraanmu. Pendekar Cakra hanya menyelamatkan aku, jadi wajar jika aku merasa berhutang budi padanya ..."


"Aku tidak percaya, kau pasti berbohong. Penjahat sepertimu, mana bisa dipercaya. Jika kau tidak mau bicara, jangan salahkan aku jika sekalian menghentikan jalan darahmu!"


Wajah Kemuning pucat pasi. Apa yang harus dia jelaskan? Bukan masalah dirinya, tapi ini berkaitan erat dengan Danur Cakra. Kemuning menyaksikan sendiri bagaimana kemarahan Tabib Dewa pada Danur Cakra, lalu apa yang akan terjadi pada Cakra jika sampai dirinya salah bicara? Kemuning yakin, Kencana Sari hanya coba untuk memancing-mancing dan mencari tahu sesuatu yang tujuannya sama sekali tidak Kemuning ketahui. Apa rahasia yang mereka pegang, Kemuning buta akan hal itu. Salah sedikit saja, takutnya akan berakibat fatal. Tidak. Kemuning tidak akan menambah beban orang yang dia sayang. Andainya harus menerima hukuman, yang paling pantas adalah dirinya. Dia lebih rela mati daripada hal buruk terjadi pada Cakra.


Detik-detik yang begitu panjang dan genting yang dirasakan oleh Kemuning akhirnya tertolong oleh kedatangan beberapa orang. Diantaranya ialah Panglima Lodaya.


Suara benturan benda pusaka antara anak panah bidadari dan pedang milik Raka Jaya, menyebabkan getaran hebat dari tenaga dalam keduanya. Meskipun cukup jauh, getaran tersebut terasa sangat jelas sampai ke ruang depan. Di mana Panglima Lodaya dan Arya Winangun sedang berbincang. Di belakang mereka turut pula datang belasan prajurit khusus yang berjaga di sekitar penginapan. Mereka datang tentunya dalam keadaan siap tempur.


"Kencana Sari, ada apa? Apa yang baru saja terjadi?!" tanya Arya Winangun. Meskipun terlihat kebingungan besar di wajahnya karena tidak terjadi pertarungan di sana. Bahkan Tabib Dewa dan Jenderal Muda juga tidak terlihat.


Panglima Lodaya bergegas memeriksa beberapa titik mencurigakan di ruangan tersebut. Dia menemukan sisa-sisa energi yang tersebar pada ubin dan patahan kursi. Panglima Lodaya sedikit kaget, karena dia mengenali tenaga dalam tersebut merupakan milik Raka Jaya juga Tabib Dewa. Apa yang terjadi, masa iya keduanya beradu tenaga dalam. Jika benar, apa alasannya? Sungguh kenyataan tersebut membuat mereka pusing tujuh keliling.


"Aduuhhh ... aku harus bicara apa?" Kencana Sari kebingungan mencari-cari alasan yang masuk akal, supaya mereka semua tidak curiga.


"Sari, benturan apa barusan?" Arya Winangun mengulang pertanyaannya.


"Benturan tenaga dalam? Tenaga dalam apa, di sini tidak terjadi apa-apa ..." dengan tergagap Kencana Sari menjawab.


Panglima Lodaya datang mendekat. Sejenak dia menatap pada Kemuning yang terbaring lemah, tapi kemudian dia kembali pada Kencana Sari.


"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Panglima Lodaya.


"..." Kencana Sari ternganga, dia memutar otak dengan keras.


"Tidak terjadi apa-apa katamu? Sementara sisa-sisa energi yang berserak bahkan mampu untuk merobohkan kuda jantan," Panglima Lodaya menunjukkan sisa energi yang dia maksud.


"Di mana Tabib Dewa?"


"Bisa tidak, kalian dengarkan penjelasan ku lebih dulu. Lihat, ada seorang sekarat di sini," Kencana Sari menunjuk pada Kemuning.


"Jangan bertele-tele, aku tahu apa yang kau sembunyikan. Kau mencoba untuk membohongi aku?!" Panglima Lodaya mulai meningkatkan tekanan suaranya.


"Gusti, Panglima ... ti-tidak begitu ... aduuhhh ..." Kencana Sari mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


Bingung, Kencana Sari tidak mungkin bicara jujur dan apa adanya. Yang ada hanya membuat masalah semakin rumit. Dia harus berbohong dan menutupi semuanya, seperti yang diperintahkan Raka Jaya. Tapi masalahnya, Sari harus bicara apa? Jelas-jelas dia berhadapan dengan orang cerdas dan berpengalaman sekelas Panglima Lodaya. Haduh, mati!


__ADS_2