
Pimpinan Klan Macan Api (Maung Hitam) bersama sahabatnya (Kala Munding) pula telah menyisir wilayah timur Gunung Songgo Langit. Keduanya yang sengaja berangkat dengan niat membalas dendam, terus berusaha untuk menemukan Danur Cakra.
"Mencari seseorang di muka bumi yang bulat ternyata tidak semudah menyem*belih seekor kelinci," ucap Kala Munding seraya menyantap daging kelinci panggang sebagai makan siang.
"Hahaha! Aku pun mulai berpikir, jika kita sedang berburu katak sawah. Pendekar ingusan yang bahkan tidak diketahui wajahnya, bagaimana bisa dunia persilatan mengenali," timpal Maung Hitam.
Keduanya mengistirahatkan kuda, seraya mempelajari kondisi hutan tempat mereka berhenti. Sejak kepergian mereka dari Kota Binar Embun, tidak seorang pun mata-mata dari Organisasi Utara Selatan yang mereka temui. Akankah wilayah Kedutan ini amat tidak berarti?
"Rejeki memang tidak kemana! Hei, lihat!" teriak Kala Munding dari puncak pohon.
Maung Hitam lekas melompat naik menghampiri sahabatnya. Ketua Klan Macan Api tersebut mendapati bahwa ada empat pedati bermuatan penuh melintas lamban di bawah sana.
"Bawa apa mereka? Kecuali emas, kita sama sekali tidak memerlukan barang dagangan," ucap Maung Hitam.
"Eee ... apa matamu buta! Lihat pedati paling belakang. Di dalamnya pasti menyimpan peti uang, dan yang pasti wanita cantik," Kala Munding terkekeh.
Pedati yang dimaksud merupakan pedati yang ditumpangi oleh pemilik barang. Seorang saudagar kaya bersama dengan anak istrinya. Memang pasukan pengawal yang bersama mereka tidak kepalang tanggung. Bahkan sampai menyewa prajurit kerajaan.
Bukan masalah berarti bagi penjahat setara Kala Munding dan Maung Hitam. Mereka akan mampu menggapai kereta utama tanpa harus lebih dahulu bertarung dan melumpuhkan semua pengawal. Kalau saudagarnya sudah disandera, mau apa lagi, pasukan pengawal tidak akan mampu berbuat banyak.
"Kita tunggu dulu, jika ada wanita cantik. Maka jangan tanya lagi!" seru Maung Hitam.
Berkuda seharian, menempuh perjalanan berdua saja dengan Kala Munding, membuat Maung Hitam butuh pelemasan otot. Sejenak dia ingin bersantai, mencurahkan segala rasa, menuntaskan hasrat yang telah menggebu.
Ketika bola mata mereka seolah tercuci oleh pemandangan apik, Maung Hitam dan Kala Munding secepatnya keluar dari persembunyian. Wajah cantik istri saudagar seperti magnet. Keduanya bagikan paku yang meluncur tersedot. Sudah terbayang bagaimana fantasi kala berada 'di atas'.
"FORMASIII !!!" teriak pimpinan pengawal kala menyadari ada dua sosok yang menyerang secara mendadak.
Sontak, seluruh pasukan menghunus senjata masing-masing. Sebagai pengawal khusus, tentunya mereka sangat terlatih dalam segala kondisi.
Ting! Ting! pedang milik seorang pengawal patah menjadi dua ketika berbenturan dengan pedang Kala Munding. Detik selanjutnya, Kala Munding melemparkan tubuh si pengawal hingga membentur pintu pedati.
"Lindungi Saudagar !!!" teriak pimpinan pengawal sekali lagi.
Sementara itu, serangan berbahaya dilancarkan oleh Maung Hitam ke arah pimpinan pengawal hingga dia tidak bisa mendekati kereta majikannya. Serangan mendadak dua orang pendekar besar aliran sesat tersebut membuat formasi para pengawal jadi kacau balau.
BRAAAKKKK !!! Pintu pedati hancur berkeping-keping. Tulang punggung seorang pengawal ikut hancur setelah dibenturkan dengan keras. Kala Munding berhasil membuat keluarga saudagar panik.
Maung Hitam tersenyum sinis, dia segera mengambil kesempatan tersebut untuk bisa masuk ke dalam pedati, menyandera istri saudagar.
Bugh! Desh! Tubuh saudagar tersungkur keluar pedati setelah menerima satu tendangan keras.
BRAAAKKKK !!! Kali ini, dinding berikut atap pedati tersebut benar-benar hancur. Maung Hitam berdiri tegak, dia menempelkan kuku tajamnya di leher istri saudagar. Sementara, sebelah kakinya pula menempel di kepala salah satu anak saudagar.
"Jangan ada yang coba untuk bergerak! Atau ... !!!" ancam Maung Hitam.
"Kurang ajar!" maki pimpinan pasukan pengawal. Cara yang Maung Hitam gunakan merupakan cara yang sangat licik. Terlebih dia tidak segan menyandera anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Tunggu ... tunggu dulu ..." Tuan Saudagar berteriak keras meminta pasukan pengawalnya untuk tidak melakukan serangan. Wajahnya pucat pasi mendapati nyawa istri dan anaknya berada di ujung tanduk.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Saudagar pada Maung Hitam.
"Berikan seluruh uang yang kau punya!"
Tanpa berpikir panjang, saudagar tersebut menunjukkan peti yang berisi kepeng uang. Harta bisa dicari, keselamatan keluarga adalah yang paling penting.
__ADS_1
Kala Munding segera mengamankan peti kayu berisi ratusan kepeng uang emas. Mereka mendapatkan tangkapan besar, pengalaman matang Maung Hitam membuat mereka tersenyum lebar.
"Hahaha !!! selain itu, aku pun membutuhkan istrimu barang semalam. Selamat tinggal orang baik!" selesai berkata, Maung Hitam dan Kala Munding segera melompat pergi.
"JANGAAANNNN !!!!" Saudagar berteriak lantang, menyaksikan istri tercintanya digondol oleh manusia bejat Maung Hitam.
"KEJAAARRR !!!" pimpinan pengawal memerintahkan anggotanya untuk segera melakukan pengejaran.
Serentak, hampir seluruh pasukan pengawal mengikuti arah lari Kala Munding dan Maung Hitam. Dengan sekuat tenaga, mereka berupaya untuk tidak kehilangan jejak.
Tinggallah si saudagar kaya yang menangis tersedu-sedan seraya memeluk erat anak laki-lakinya. Selain kehilangan uang emas, yang lebih menyakitkan ialah dia harus ditinggalkan oleh istri tercinta.
Pada saat saudagar masih larut dalam kesedihanan, dari arah belakang muncul satu rombongan berkuda. Jumlah mereka tidak lebih dari sepuluh orang, tapi dari aura yang dipancarkan jelas mereka tidak berasal dari orang biasa.
Mereka segera menghentikan laju kuda, menghampiri saudagar tersebut guna menanyakan keadaan sang saudagar yang terlihat sangat terpuruk.
"Bede*bah! Jika dibiarkan, binatang-binatang seperti ini akan semakin banyak tumbuh dan berkembang," seorang wanita yang bersenjatakan dua bilah pedang pendek lekas berdiri, kemudian dia berlari dan mengejar ke arah yang dikatakan oleh si saudagar.
"Tunggu! Hei, Kemuning! Tunggu dulu!" teriak teman-temannya.
Tanpa menghiraukan panggilan, Kemuning terus berlari memasuki hutan. Mau tidak mau, teman-temannya ikut menyusul. Mereka sama sekali tidak menduga jika yang akan mereka hadapi ialah Maung Hitam dan Kala Munding. Dua pendekar sesat kaki tangan Organisasi Utara Selatan.
°°°
Sementara itu, Arsita dan ayahnya nampak begitu gelisah menunggu di dalam gua. Keduanya sangat cemas, melalui waktu dengan penuh harap. Sementara yang ditunggu belum juga terdengar kabarnya.
"Arsita ... sepertinya ayah harus menyusul, ada sesuatu yang janggal. Jangan-jangan terjadi sesuatu di jalan."
Arsita menghela napas berat. Ingin rasanya dia ikut serta, tapi takutnya nanti malah menjadi beban.
Arsita memandangi punggung Ayahnya hingga keluar dari gua persembunyian. Setelah Ayahnya pergi, Arsita kembali teringat jika ada orang lain di dalam gua tersebut. Seorang pendekar misterius yang bukan tidak mungkin memiliki tujuan tertentu.
"Hmmm ... sekarang aku harus bagaimana?" Arsita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedikitnya rasa takut dan khawatir membayangi pikiran karena dia merupakan seorang gadis. Kalau pria itu berbuat macam-macam, dia bisa apa?
Perlahan Arsita kembali masuk ke dalam ruangan gua. Di pinggangnya terselip sebilah pisau tajam yang bisa dicabut kapan saja.
"Kemana dia?" Arsita celingukan mendapati bahwa Danur Cakra sejak tadi tidak terlihat. Bahkan tidak ada sedikitpun suara yang terdengar dari dalam.
Penasaran, Arsita memberanikan diri untuk berjalan memasuki gua lebih dalam. Di tempat kemarin dia temukan Cakra menggunakan kekuatan tenaga dalam tidak ada, di arah lain pun tidak ada, lantas kemana perginya pemuda itu?
"Masa bodoh! Lagi pula, bukankah lebih baik kalau dia pergi? Itu artinya tidak akan ada orang yang akan menggangguku?!" Arsita tersenyum, pikirannya sedikit lebih tenang sekarang.
Lantas di mana Danur Cakra kala itu? Benarkah dugaan Arsita kalau Cakra telah pergi?! Sama sekali tidak benar. Justru Danur Cakra tengah memasuki gua lebih dalam. Ruang rahasia, ruang persembunyian sekaligus jalan pelarian telah dirancang sedemikian rupa. Sangat cocok menggunakan gua tersebut sebagai tempat persembunyian.
"Tempat apa lagi ini?" Danur Cakra melongok ke arah bawah. Dari celah lubang dia melihat adanya ruang lain di bawah sana. Tidak ada tangga, tidak pula ditemukan adanya jalan lain. Tempat itu lebih mirip dengan sumur.
"Hup!" Danur Cakra menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk bisa menuruni lubang tanpa takut akan terjerumus.
Benar saja, di dasar lubang tersebut merupakan sumber air. Sumur yang cukup luas, lebih mirip seperti muara karena terasa ada aroma buaya yang menghuninya. Bebatuan yang tidak seluruhnya tergenang air, menjadi tempat pijakan untuk bisa menjangkau tempat yang lebih luas di seberang.
"Huuuhhh ..." Danur Cakra tertawa kecil.
Dalam beberapa tarikan napas, ia telah mendarat di sebuah peti kayu yang besar. Ada beberapa peti yang lain tersusun di tempat tersebut. Sudah berlumut, itu artinya tidak ada manusia yang menjangkau tempat tersebut.
"Gila! Hahaha !!!" Danur Cakra membuka peti kayu dan luar biasa! Emas berkilauan menyambut pandangan mata Cakra.
__ADS_1
WUUUSSS! WUUUSSS !!! Seiring dengan dibukanya peti kayu, dari dinding batu bermunculan tombak berkarat yang meluncur deras ke arah Danur Cakra.
Danur Cakra menghentakkan energi tenaga dalam. Gelombang berwarna hitam keluar dari tubuhnya. Menghantam habis seluruh tombak yang datang hingga hancur menjadi debu.
"Arggghhh !!!" setelah itu, muncul pula tiga sosok manusia batu yang langsung mengerang.
"Baiklah! Aku beritahu, jika aku adalah pemilik tempat ini!" teriak Danur Cakra seraya melepaskan serangan pada ketiga manusia batu, penunggu dasar gua.
Pertarungan sengit terjadi, tiga manusia batu seperti berlomba untuk bisa menyarangkan pukulan di tubuh Danur Cakra. Tugas mereka yakni menjaga agar tidak ada orang yang berani mengambil sepeserpun kepeng emas dari sana.
Jurus demi jurus telah berlalu, meskipun tidak tergolong mahluk hidup yang memiliki rasa lelah, tapi tiga sosok manusia batu tersebut juga punya batas kemampuan. Pada fase tertinggi, mereka tidak lagi mampu untuk menambah kekuatan. Baik itu kecepatan serangan, bobot dan kekuatan pukulan, bahkan pola serang dan jurus yang digunakan juga otodidak, kurang variatif. Membuat Danur Cakra bisa membaca kekuatan mereka.
Danur Cakra berkelit ke samping kemudian tubuhnya berputar, melakukan gerakan salto. Pada saat yang bersamaan, telapak kakinya bersarang di rahang manusia batu.
Bugh! Tendangan yang amat keras itu berhasil membuat kepala manusia batu terlepas dan membentur dinding dengan keras.
Ah, kiranya kelemahan mereka ada pada rahang. Dengan kecepatan penuh Danur Cakra melakukan serangan susulan. Dua manusia batu yang tersisa merupakan targetnya. Dia akan membuat tubuh ke tiga makhluk tersebut hancur berkeping. Meskipun pada akhirnya manusia batu bisa kembali bangkit dan bersatu pada wujud semula, tapi hal yang berbeda akan terjadi. Mereka akan mengenali wajah manusia pertama yang mereka lihat sebagai majikan. Dengan kata lain, mereka akan tunduk di bawah perintah Danur Cakra.
Dan benar ... Danur Cakra cukup berdiri dengan tangan bersedekap ketika bebatuan bagian-bagian tubuh mereka kembali menyatu. Tanpa diperintah, ketiganya menjatuhkan lutut menundukkan kepala. Kemenangan besar Danur Cakra dapatkan. Peti emas, juga pengawal tahan pukul.
"Baiklah! Aku akan pergi untuk sementara waktu. Jaga tempat ini baik-baik," ucap Danur Cakra.
Sebelum pergi, Danur Cakra mengisi beberapa kantong uang dengan emas-emas yang sekarang menjadi miliknya. Persetan siapa yang menyimpannya di tempat itu.
Danur Cakra kembali ke atas. Berjalan santai seolah tidak terjadi apa pun juga. Dia merasa sedikit kaget mendapati Arsita hanya seorang diri.
"Heh, anak kecil. Mana ayahmu?" tanya Danur Cakra mengejutkan Arsita.
Arsita mencoba menutupi rasa terkejutnya. Seberapa besar pun rasa takut itu, Arsita coba untuk sembunyikan. Jika tidak, takutnya Danur Cakra malah semakin semena-mena.
"Eh, oh. Tuan pendekar ... anu, Tuan. Ayah sedang keluar sebentar," jawab Arsita dengan gugup.
Danur Cakra menangkap gelagat yang mencurigakan, terlihat kalau Arsita menyembunyikan sesuatu.
"Oh, ya. Mana teman-temanmu yang katanya mau datang. Ya, ya, ya ... aku tahu, ayahmu pasti pergi karena itu," Danur Cakra manggut-manggut.
Arsita tidak bisa mengelak lagi. Dengan terpaksa dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Memangnya ... apa yang kalian sembunyikan hingga miliki begitu banyak musuh?" tanya Danur Cakra kemudian.
Arsita terlihat ragu-ragu. Berulang kali dia mencuri pandang pada Danur Cakra, mencoba untuk mencari tahu siapa sebenarnya pemuda tersebut. Di satu sisi, Arsita merasa kalau orang itu bukanlah orang jahat. Tapi di sisi lain, bukankah mereka baru kenal? Bisa saja Danur Cakra hanya bersandiwara.
"Benarkah, kau bukan bagian dari mereka?"
Danur Cakra menoleh, dengan tajam dia menatap wajah Arsita, membuat gadis lugu tersebut sampai gemetaran. Meskipun hatinya belum yakin, akhirnya Arsita mau mengawali cerita.
Kelompok sirkus mereka, awalnya baik-baik saja. Tidak miliki musuh. Para anggota bisa hidup bebas tanpa bayang-bayang ketakutan. Hingga satu waktu tanpa sengaja mereka berurusan dengan seorang yang mengaku kepercayaan Gubernur. Meskipun nyatanya mereka adalah kelompok penjahat yang berniat untuk menguasai kelompok sirkus terutama para gadis muda. Namun dikarenakan rata-rata anggota sirkus memiliki kemampuan beladiri, hingga akhirnya mereka bisa lolos.
Lepas dari mulut buaya, masuk ke dalam kandang singa. Kelompok sirkus kembali mendapatkan masalah dengan seorang pejabat kerajaan. Pejabat tersebut merasa kecewa dan tidak mau membayar sewa. Meskipun kenyataannya itu hanyalah sebuah dalih semata. Mereka mengetahui sesuatu, ada seorang dari anggota pemain sirkus yang menarik perhatian. Tapi menolak untuk menerima tawaran dan lebih memilih menjadi pemain sirkus.
"Tidak ada konflik berarti. Namun kenyataannya, dari waktu ke waktu kami terus diteror oleh berbagai kelompok penjahat yang sama sekali tidak kami kenal. Puncaknya, markas sementara milik kami dibakar," tutup Arsita.
"Lalu, siapakah Kundalini itu?" tanya Danur Cakra.
Arsita terbelalak. Menelan ludah pun terasa mengganjal. Kundalini?! Nama itu lagi.
__ADS_1