Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Menuju Wisma Pendekar Tongkat Emas


__ADS_3

Di bawah pondok-pondok yang dibuat oleh pemburu, Mahesa dan Suhita beristirahat. Dalam waktu yang singkat, Mahesa telah menangkap dua ekor ayam hutan yang gemuk-gemuk. Api pun sudah membara, membuat wangi daging panggang terhantar ke segenap penjuru hutan mengikuti arah angin yang berhembus.


Suhita mengoleskan bumbu seadanya, dalam kondisi perut yang lapar, maka makanan itu akan berubah menjadi santapan yang sangat lezat tidak kalah dengan hidangan mewah di restoran yang mahal.


"Wah, anak ayah sangat pandai meracik bumbu," puji Mahesa setelah panggangan matang.


"Aku hanya memberi garam dan sedikit saus tomat, lagi pula kita 'kan tidak membawa banyak bumbu. Tapi enak 'kan, Yah?" tanya Suhita seraya menggigit bagiannya.


"Tentu saja, sangat enak. Rasanya ayah ingin menangkap sebanyak-banyaknya ayam hutan di sekitar sini," canda Mahesa.


Seteguk air sungai yang dingin, menambah kelezatan yang mereka rasakan. Mahesa memandang wajah putrinya dengan dalam. Banyak perasaan tak tergambarkan menyelip di relung hatinya. Harusnya, Suhita tidak perlu berbuat seperti ini. Mahesa juga sanggup mengangkat segala beban yang saat ini Suhita pikirkan.


Namun, sebagai seorang generasi masa depan yang akan sangat dibutuhkan kelak, juga tidak salah jika Suhita mulai membina diri sejak dini. Hingga dia akan tumbuh menjadi seorang tabib hebat di usianya yang masih muda. Akan banyak hal yang bisa Suhita lakukan kelak. Semangat tersebut yang membuat Mahesa tetap bersemangat untuk membina sang buah hati. Tidak membiarkan bermanja-manja apa lagi bermalas diri. Suhita harus berkembang, dan mulai sekarang pun dia telah berdikari.


"Hita, apa kau sudah kuasai seluruh kemampuan yang berkaitan dengan cincin mustika yang ibumu berikan itu?" tanya Mahesa ketika matanya tertuju pada cincin yang Suhita pakai.


Mahesa ingat, itu adalah cincin mustika milik istrinya. Selain segenap sumberdaya dan harta benda, juga ada sebuah pusaka masa lalu yang Puspita Dewi simpan. Panah Bidadari. Sebuah pusaka yang merupakan pemberian Dewi Srikandi di wilayah kerajaan Selatan tempo dulu.


"Iya. Ibu memberikan mustika ini pada Hita. Dengan tenaga dalam yang ayah ajarkan, Hita bisa dengan mudah mengontrol segalanya. Emmm ... apa ibu tidak memberi tahu ayah?" Suhita memandangi cincin di jari manisnya.


"Ah, tidak begitu. Yang ayah maksud ialah pusaka yang ibumu simpan di dalamnya. Apa ibu sudah memberi tahumu, semuanya?!" tanya Mahesa lebih lanjut.

__ADS_1


"Pusaka? Iya, bahkan ibu telah menjelaskan satu persatu. Saat itu ayah sedang pergi, jadi hanya ibu dan nenek Gondo Arum yang tahu," Suhita kemudian menceritakan secara gamblang saat di mana dia membedah segala isi cincin mustika tersebut.


Panah Bidadari, Suhita sudah pernah menarik busurnya. Dan yang lebih menggembirakan, panah tersebut ternyata pula berjodoh dengan Suhita. Setidaknya, Ibunya yang berkata demikian. Belum lagi pedang pusaka dan yang lain, Suhita telah menghafal semua nama, kekuatan serta cara guna pakai pusaka-pusaka milik ibunya saat masih menjadi seorang pendekar.


Semenjak Puspita memutuskan untuk tidak kembali ke dunia persilatan dan hanya menjadi ibu rumah tangga, maka sejak itu pula pusaka-pusaka yang sebagian besar adalah milik 'Cahaya Langit' menjadi tidak berguna. Bahkan, hingga sekarang telah menjadi milik Suhita pun begitu. Mana pernah tabib kecil itu gunakan senjata tajam. Kecuali pisau belati yang digunakan untuk mencincang bahan obat.


"Oh, baguslah. Ayah sangat lega mendengarnya," Mahesa tersenyum dan mengusap kepala Suhita. Pada saatnya nanti, mungkin Suhita akan memerlukan bantuan pusaka-pusaka itu.


"Sekarang kita istirahat. Tidur, untuk esok kembali melanjutkan perjalanan. Butuh waktu setengah hari penuh untuk mencapai hutan perintis," ucap Mahesa.


Hutan perintis adalah tempat di mana salah satu wisma atau kediaman Pendekar Tongkat Emas. Diketahui, dalam beberapa tahun terakhir dia selalu terlihat di sana. Mahesa akan membawa Suhita untuk mencari tahu mengenai keberadaan tumbuhan langka Teratai Berduri.


°°°


Kuda itu yang membawa Mahesa dan Suhita berangkat meninggalkan hutan jati. Pagi-pagi sekali, mereka harus segera menyeberangi padukuhan di tepi hutan jati. Terus bergerak mengarah pada matahari terbit, untuk menyambangi kediaman Pendekar Tongkat Emas yang dibangun di sebuah lembah tepatnya di hutan perintis.


Sebagai sesama tokoh yang tergabung dalam organisasi yang sama, Mahesa telah mengetahui jalan pintas untuk memotong waktu agar cepat tiba di wisma Pendekar Tongkat Emas.


"Setelah menyeberangi sungai ini, kita akan tiba di sebelah barat hutan perintis. Kurang dari dua jam, kita akan memasuki wilayah wisma Pendekar Tongkat Emas," Mahesa memberikan penjelasan. Tangannya menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Sepertinya, sungai ini berpenghuni. Apa ayah tidak pernah bertemu dengan buaya muara?" tanya Suhita sambil matanya mengawasi arus sungai yang begitu tenang. Tenang seperti tiada kehidupan di dasarnya.

__ADS_1


"Matamu jeli, makanya tidak ada jasa perahu di sekitar tempat ini. Mereka lebih sayang nyawa dari pada mengais rejeki hingga ke tempat ini," jawab Mahesa.


"Lalu, bagaimana kita bawa kuda untuk menyeberang?"


"Tentu saja tidak kita bawa. Maksud ayah tadi, dua jam berjalan kaki," jawab Mahesa ringan.


Suhita mengerutkan dahi. Lalu apakah akan meninggalkan kuda mahal ini dengan begitu saja? Bagaimana jika diambil orang atau diterkam binatang buas? Sepertinya Mahesa tidak meresahkan hal itu. 


Dan benar, tiba di satu sudut sungai yang tinggi, Mahesa mengajak Suhita untuk turun dari kuda. Mereka akan melompati sungai itu dengan gunakan kemampuan ilmu meringankan tubuh.


Mahesa menggendong tubuh Suhita sebelum kemudian mengambil ancang-ancang dan melompat menyeberangi sungai. Menghadiahi buaya lapar hanya dengan bayangan tubuh.


Tanpa kesulitan berarti, Mahesa berhasil menyeberangi sungai yang dipenuhi oleh buaya-buaya lapar. Suhita sempatkan diri untuk menoleh ke seberang. Memastikan apa yang dilakukan oleh kuda yang telah berjasa mengantarkan mereka dalam perjalanan sejauh ini. Hati Suhita begitu lembut. Pola pikirnya pun penuh cinta kasih.


"Ah, pergi kemana kuda itu?" batin Suhita. Dia tidak melihat kuda di tempat semula.


"Hahaha! Jangan takut. Ayah membawanya bersama kita," tawa Mahesa mengejutkan Suhita.


Saat Mahesa membuka telapak tangannya, bola kristal es muncul dan melayang di udara. Saat turun dan menyentuh ujung rumput, bola tersebut pecah dan memunculkan kuda gagah di hadapan mereka.


Suhita tercekat menyaksikan kejutan-kejutan yang dilakukan ayahnya. Tidak disangka, ternyata sang ayah begitu suka bergurau. Suhita baru menyadarinya, karena memang mereka baru sedekat ini.

__ADS_1


"Waktu kita tidak banyak. Bahkan untuk bisa masuk ke dalam wisma itu, kita butuh persiapan matang," ucap Mahesa. Dengan kembali menggebrak kuda semakin mendekat ke tempat tujuan mereka. Wisma Pendekar Tongkat Emas.


__ADS_2