Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Tiga Saudara


__ADS_3

"Bagaimana kau bisa mendadak tahu? Sungguh sangat tidak masuk akal."


"Jangan berisik! Kau tahu mengapa aku adalah Kakakmu? Tentu saja hal itu menunjukkan kalau banyak hal yang lebih dari yang kau punya."


Suhita mengangkat bahu, Suhita tidak perduli lagi pada kakaknya. Terserah dia mau bicara apa. Hanya harapan terbesar dalam hati Hita, yakni apa yang dikatakan oleh Danur Cakra merupakan kebenaran. Jika harus mengangguk pada semua ucapan Cakra, itu bukanlah hal yang sulit. Yang terpenting ialah bisa membebaskan Raka Jaya dari ruang tahanan ilusi. Tidak perduli siapa dia, entah itu seorang sahabat atau bahkan saudaranya, dalam hati Suhita  Raka Jaya merupakan seseorang yang begitu spesial.


"Nah, kita sudah sampai," ucap Danur Cakra ketika mereka tiba di sebuah ruangan. "Cukup kau robohkan dinding itu, maka Raka Jaya bisa terbebas tak ubahnya kita," imbuh Danur Cakra penuh percaya diri.


Sejujurnya Suhita masih sangsi pada ucapan Danur Cakra. Hanya dengan bersemadi sebentar, bagaimana bisa anak itu langsung mengetahui dengan jelas. Kemampuan semacam itu, belum pernah Suhita dengar sebelumnya. Terlebih lagi, dengan gangguan dinding ilusi di sepanjang ruang tahanan. Untuk sekadar berkonsentrasi penuh saja merupakan pekerjaan berat.


"Hei, mengapa bengong?! Cepat lakukan!" Danur Cakra menyadarkan Suhita. Suhita tersenyum sekilas. Melihat kepercayaan diri yang Danur Cakra tunjukkan, nampaknya kakaknya itu tidak sedang bercanda. Membuat Suhita pun yakin jika kali ini mereka sedang serius.


BRAAAKKK !!! Benturan keras menggetarkan ruangan. Diiringi dengan hancurnya dinding pembatas setelah Suhita melepaskan pukulan tenaga dalam.


"Hmmm ... ternyata Hita telah menguasai tahapan ilmu Tapak Naga, bahkan lebih baik dariku. Sayangnya dia lebih mencintai keranjang obat-obatan dari pada berlatih. Sayang sekali, bakat yang baik harus disia-siakan," gumam Danur Cakra dalam hati.


"Hita?!" dari dalam ruangan, Raka Jaya terbelalak menyaksikan Suhita berdiri di sana. Bahkan gadis kecil itu jua yang telah membantuya keluar dari dalam penjara ilusi.

__ADS_1


Seorang lagi anak duduk dengan santai di belakang Suhita. Dia adalah Danur Cakra, seorang teman sekaligus saingannya kala memperebutkan gelar juara di Padepokan Giling Wesi kemarin. Kiranya mereka bertiga mengalami hal yang sama. Belum sempat sampai ke rumah, tapi telah lebih dulu dihentikan dan menjadi tawanan.


Suasana terasa canggung. Nampaknya setelah apa yang mereka ketahui barusan membuat hubungan mereka yang semula sangat akrab sekarang seolah memiliki jurang pembatas. Terutama tatapan Danur Cakra. Saat matanya bertemu pandang dengan Raka Jaya terlihat jika ada rasa tidak senang di sana.


Dalam heningnya suasana di tengah kebersamaan tiga anak tersebut, suara dentuman pertarungan menjadi lebih jelas terdengar. Mereka bisa melihat dengan jelas ayah mereka masih bertarung di luar sana.


Setelah menghabisi pasukan mayat hidup, bukan berarti pekerjaan Mahesa telah selesai. Kali ini dia dan Dewi Api dipertemukan dengan perlawanan para pendekar besar di bawah perintah Wira Lodra sebagai pimpinan Klan Perisai Hujan. Buyut Kafan pun turut dalam pertarungan. Meskipun sebenarnya dari mereka bukanlah lawan yang sepadan untuk Mahesa atau Dewi Api, tapi mengingat mereka menang jumlah, membuat perlawanan tetap bertahan lama. Tidak mudah untuk Mahesa mengakhiri perlawanan para pendekar aliran sesat tersebut dengan sekaligus.


Bulan Jingga dan para tokoh besar dunia persilatan menampakkan diri. Sangat jelas jika Bulan Jingga belum siap untuk kehilangan seluruh anak buahnya. Dia muncul dan langsung menarik pasukan yang tersisa.


"Kepa*rat! Mengapa baru datang, aku kira kau sudah tidak punya nyali!" dengan ekspresi mencibir, Dewi Api bahkan meludah mendapati kemunculan pimpinan besar Aliansi Utara Selatan tersebut.


"Hahaha !!! Suatu kejutan bagiku, saat seorang pendekar terhormat telah merencanakan kematiannya. Sungguh, tidak pernah terbersit barang sedikit pun," tawa Bulan Jingga meledak.


"Fuuiiihhh !!! Meskipun seluruh tokoh aliran sesat kau datangkan, sedikit pun aku tidak akan melangkah mundur!" tantang Dewi Api.


"Menghilangkan nyawa, menyerahkan nyawa, itu bukan perkara gampang. Namun juga tidak sulit. Kau tahu, kami adalah tipikal salah satu diantaranya. Sekarang, baiknya kau perjelas dulu mengenai bagaimana kita bisa sampai berkumpul di tempat ini. Bulan Jingga ... sebagai penggerak peran baiknya kau yang bicara," ucap Mahesa dengan suara yang pelan juga halus. Tidak nampak adanya amarah dan kebencian di dalamnya. Namun dengan iringan tenaga dalam yang sempurna, membuat suara Mahesa bisa didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada, bahkan mereka yang berjarak cukup jauh.

__ADS_1


"Hahah! Pendekar Elang, kau begitu cerdas dan bijak. Baiknya kau ajari istri pertamamu agar mulutnya tidak begitu culas."


"Kau menyandera anak-anakku, harusnya kita tidak perlu banyak bicara. Menanyakan tujuanmu dengan baik-baik, merupakan suatu tanda jika aku begitu menghargaimu. Bisa kita lanjutkan pembicaraan ini tanpa banyak basa-basi?!" potong Mahesa.


"Sa, apa yang kau lakukan?! Merendah, hanya membuat mereka menginjak kepala kita," bisik Dewi Api yang sudah diselimuti amarah.


"Jangan sombong, cobalah untuk tetap tenang. Jika kita tidak merendah, maka orang lain tidak akan senang. Carilah cara paling bijak saat mendekati kematian," jawab Mahesa santai.


"Apalah artinya nyawa ini. Anakku jauh lebih berharga dari semuanya."


Bulan Jingga tertawa terkekeh mendengar pembicaraan suami istri di hadapannya. Dengan kemampuannya, dia kemudian menciptakan sebuah lingkaran besar. Di dalam lingkaran itu, Mahesa dan Dewi Api bisa melihat adanya sebuah penjara ilusi. Di mana anak-anak mereka ada di dalamnya.


"Apa yang kau inginkan?! Mereka sama sekali tidak bersalah," ucap Mahesa. Hatinya bergetar melihat ketiga anaknya berada di tempat yang sama.


"Pimpinan kami. Jika kau mau mengembalikan pimpinan besar kami, maka anak-anakmu akan kami kembalikan. Pertukaran yang adil bukan?!" ucap Bulan Jingga.


Bulan Jinggajuga menambahkan, jika Mahesa harus mengembalikan seluruh kekuatan Cahaya Langit yang sekarang menghilang. Perkataan Bulan Jingga, seluruhnya menyudutkan Mahesa. Dia mengatakan kalau Mahesa sengaja menghamili Cahaya Langit untuk mengikat wanita itu agar tidak berpikir untuk kembali menjadi pendekar. Hingga hubungan terlarang itu memberikan Mahesa dua orang anak.

__ADS_1


"Ya, mungkin kalian bisa membantuku untuk sampaikan pada dunia, jika dua orang anak haram itu adalah anak dari pimpinan kami, Dewi Cahaya Langit yang dinodai oleh dan pendekar sok suci ini," Bulan Jingga berkata lantang pada para pendekar yang hadir.


Diantara para pendekar itu, banyak juga pendekar dari aliran netral yang Bulan Jingga sengaja undang. Semuanya, menatap Mahesa dengan rendah.


__ADS_2