
"Ibu, mengapa ayah tidak kunjung pulang? Hita takut terjadi sesuatu pada ayah. Apa tidak sebaiknya kita cari ayah, bu?" tanya Suhita seraya menopang dagu.
Puspita mengelus kepala anaknya dengan lembut. Kasihan Suhita, hingga sebesar ini dia belum ketahui hal yang sebenarnya. Bagaimana tanggapannya nanti jika tahu bahwa ternyata ayahnya tidak sedang mencari nafkah, melainkan tinggal di rumah seorang istrinya yang lain.
"Ibuuu ... Hita kangen ayah. Percuma saja Hita belajar ilmu silat kalau ayah tak kunjung melihatnya. Hita malas latihan lagi," ucap Suhita merajuk. Bocah perempuan itu lantas bangkit dan meninggalkan ibunya yang tidak bisa berikan jawaban pasti.
"Non, Non Hita, mau kemana Non? Sebentar lagi akan turun hujan," Kalagondang mengejar Suhita, mencoba menghalangi langkah Hita.
"Aku mau jalan-jalan sebentar. Ibu tidak mau bicara denganku, ayah juga tidak pulang. Bukankah kakek pernah bilang, jika ada masalah baiknya aku mencari kesibukan supaya tidak memikirkan masalah hingga berlarut-larut. Masa kakek lupa," Puspita menggendong kotak pengobatan tanpa menyurutkan langkahnya.
Kalagondang tidak bisa bicara lagi. Dia menoleh ke arah Puspita, tapi Puspita tidak bereaksi apa-apa. Yang ada, Nyi Gondo Arum yang datang dengan tongkatnya.
"Dasar aki-aki busuk! Kau sudah mempengaruhi Non Hita. Katakan dengan jujur, apa yang sudah kau katakan. Kau meracuni otaknya, kau ini! Benar-benar cari mati!" Nyi Gondo Arum mengalirkan tenaga dalam pada tongkat di tangannya.
"Nenek peot! Kau jangan sembarang bicara. Aku hanya menghibur Non Hita, aku tidak ingin dia sedih makanya menyarankan untuk cari kesibukan. Apa kau pernah lihat Non Hita bersedih? Yang ada dia semakin giat belajar," Kalagondang membela diri.
"Sudah! Sudah! Mengapa kalian malah bertengkar. Kalian semua tidak salah, ini adalah kesalahanku. Sudahlah, baiknya temani Suhita," Puspita melerai kedua kakek - nenek yang hampir bertarung.
"Ah, ba-baik Nyonya," serentak Kalagondang dan Nyi Gondo Arum membungkuk hormat. Mereka bergegas menyusul Suhita.
"Tunggu dulu!" Puspita Dewi menghentikan langkah keduanya. Serentak kakek - nenek itu berhenti dan langsung berbalik badan, menunggu kalimat Puspita selanjutnya.
"Terima kasih, atas kebaikan hati kakek dan nenek. Karena kalian, Suhita selalu terhibur dan tidak pernah bersedih. Aku tidak tahu, harus bicara apa lagi. Terima kasih, aku pasti akan sampaikan ini pada suamiku."
"Nyonya terlalu berlebihan. Semuanya tidak sebesar itu, Nyonya. Baiknya Nyonya janganlah sungkan."
Puspita tersenyum manis, kemudian mengangguk lemah. Dia kemudian segera masuk ke dalam rumah.
"Ah, kasihan Nyonya. Dia begitu baik, tapi mengapa Tuan tidak pulang-pulang, ya? Apa tidak rindu pada Nyonya?" ucap Nyi Gondo Arum setengah bergumam.
__ADS_1
"Hayo! Bicara apa kamu. Awas, ya. Saat Tuan kembali nanti, aku pasti akan melaporkan ini semua. Biar tahu rasa kau!" Kalagondang melotot. Telunjuknya terarah begitu lurus menunjuk hidung Nyi Gondo Arum.
"Fiiihhh! Nyambung saja, dasar aki-aki busuk!" Nyi Gondo Arum meludahi telunjuk Kalagondang. Untung Kalagondang segera menarik jarinya, hingga tidak sampai basah.
"Non Hitaaa! Tunggu, Non. Tunggu nenek!" tanpa memperdulikan Kalagondang, Nyi Gondo Arum meluncur mengejar Suhita.
°°°
"Non, mau kemana? Ini ... ini gua tanpa dasar itu?" Nyi Gondo Arum menunjuk pada gua yang Suhita datangi.
"Pernah ada orang yang sakit, katanya dia beristirahat di sini. Memangnya, ada apa Nek?" Suhita mengerutkan dahi.
Di gua tanpa dasar ini, paling-paling hanya penjahat yang bersembunyi. Bagaimana Suhita bisa mengenal penjahat? Anak kecil ini benar-benar tidak takut mati.
Wuusshh! Wuusshh! Wuusshh!
"Non, Hita! Berlindung di belakangku," Nyi Gondo Arum langsung bergerak cepat, memberikan perlindungan pada Suhita.
"Siapa kalian?! Beraninya datang ke sini. Apa kalian tahu sedang berhadapan dengan siapa? Sengaja, ya. Ingin menyerahkan nyawa?!" seorang dari mereka bicara sambil menunjuk menggunakan pedang.
"Apa peduliku, siapa pun kalian, entoh kita sama sekali tidak punya urusan. Kami hanya kebetulan melintas. Kecuali kau ingin membuat masalah, maka biarkan kami lewat!" Nyi Gondo Arum menahan kesabarannya. Dia menghitung kekuatan yang dimiliki lawan. Bukannya untuk melihat siapa yang lebih hebat, tapi keselamatan Suhita adalah hal yang paling utama.
"Aku ingin melihat keadaan Paman Marunda, apa diantara kalian ada yang tahu di mana dia tinggal?" teriak Suhita. Suaranya yang kecil membelah suasana, menghentikan mereka yang sedang adu mulut.
"Hei, anak kecil. Dari mana kau kenal nama pimpinan kami? Jangan-jangan kalian ini mata-mata. Ada mata-mata! Ada mata-mata!" orang itu berteriak.
"Hei bodoh, apa kau tidak lihat. Dia adalah tabib kecil itu. Dia tabib yang ditunggu-tunggu. Tidak perlu mencari dia datang sendiri. Teman-teman, kita mendapatkan berkah, cepat tangkap dia! Ayo cepat! Jangan sampai ada orang lain yang mendahului!"
"Kurang ajar, kalian. Kalian pikir gampang, apa?!" Nyi Gondo Arum mendengkus kesal, dia segera menghajar siapa pun yang berusaha mendekat.
__ADS_1
Pertarungan sengit tidak bisa dihindari lagi. Kelompok pasukan yang mengepung, segera melakukan serangan. Mereka menyergap Nyi Gondo Arum dari berbagai arah. Medan yang menyulitkan, membuat Suhita tidak bisa berlari mencari tempat berlindung. Terkadang dia harus dipapah untuk bisa melewati bebatuan terjal. Nyi Gondo Arum tetap mengutamakan keselamatan Suhita dari pada konsentrasi pada pertarungannya. Hingga beberapa pukulan harus mengenai tubuhnya.
"Nek, bagaimana ini?" Suhita kehabisan akal, dia tidak berani melanjutkan langkah. Lokasi di sekitar gua tanpa dasar begitu berbahaya. Terlebih untuk anak kecil seperti dirinya.
"Non Hita, ayo naik ke gendongan Nenek. Kita harus memanjat tebing ini," Nyi Gondo Arum langsung mengangkat Suhita ke punggungnya, tangan tuanya menggenggam akar pohon dan bebatuan untuk menaiki sebuah tebing yang terjal.
Sebenarnya, itu bukanlah hal yang terlalu sulit. Hanya saja, serangan dari para pendekar yang ada membuat Nyi Gondo Arum harus ekstra waspada. Selain untuk menopang berat tubuhnya dan Suhita, sekali-kali tangan Nyi Gondo Arum juga digunakan untuk menangkis dan menjatuhkan lawan yang berusaha menangkapnya. Dia terus naik.
Setelah beberapa kali menjatuhkan lawan dari atas tebing, akhirnya Nyi Gondo Arum bisa mencapai puncak tebing. Di sana lokasinya cukup datar, hingga dia bisa bertarung dengan leluasa.
"Aku dataaanggg!" Kalagondang berteriak sambil menghajar beberapa orang pendekar.
"Dasar aki-aki busuk! Kedatanganmu sangat tidak diharapkan. Harusnya, kau datang sepuluh menit lebih awal!" gerutu Nyi Gondo Arum.
Sungguh mengherankan, mengapa tiba-tiba saja sumur tanpa dasar di sini muncul banyak sekali kelompok pendekar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Sungguh Nyi Gondo Arum tidak habis pikir. Dari seragam yang mereka gunakan, paling tidak mereka berasal dari tiga kelompok yang berbeda.
"Tabib kecil itu di sana! Ayo, tangkap!" teriak seorang yang baru datang.
"Sial!" Kalagondang mendengkus kesal, dia segera melompat menghampiri kelompok yang baru datang itu.
Ya, puluhan orang harus dihadapi oleh kakek tua tersebut. Beruntung dia memiliki kemampuan ilmu bela diri yang sangat tinggi. Meskipun kalah usia, dia tetap bisa meladeni permainan para pendekar muda.
"Paman Marunda! Ini aku, paman!" Suhita melambaikan tangannya pada seorang pimpinan penyerang.
Nyi Gondo Arum mengerutkan dahi mendapati Suhita nampak begitu akrab dengan penjahat itu. Jelas-jelas dari penampilannya saja, Marunda bukanlah orang baik-baik. Pasti ada udang di balik batu jika sampai orang seperti Marunda berpura-pura baik pada Suhita.
"Heh, nenek peot. Ini jelas-jelas upaya penculikan. Mereka semua menginginkan Non Hita. Kau cepat bawa Non Hita pulang, aku akan membukakan jalan," Kalagondang melompat mendekati Gondo Arum.
Di sebelah kanan, ada Marunda dan kelompoknya. Di sebelah kiri ada Kelabang Pitu dan kelompoknya. Depan dan belakang masing-masing diisi oleh Buto Cakil dan Barno. Semuanya adalah para pendekar aliran sesat yang membawahi para perampok dan pencuri. Mereka datang untuk menangkap Suhita, sudah jelas ada sesuatu yang mereka inginkan.
__ADS_1