
Dengan susah payah, Danur Cakra akhirnya berhasil melewati lorong tempat awal dia terjerumus. Kembali ke dalam gua yang merupakan satu-satunya jalan untuk bisa keluar.
"Ki Basar Nawa pasti sudah menungguku di jalan keluar. Sialan, bagaimana aku bisa keluar dengan mulus?" Danur Cakra memutar otaknya. Dia tidak ingin sampai kitab bumi dan langit yang baru saja dia dapatkan harus kembali berpindah tangan.
Ki Basar Nawa sendiri pasti belum pernah memasuki ruang rahasia yang merupakan tempat penyimpanan kitab. Pantas saja, dia mengaku tidak mengetahui perihal kitab bumi dan langit ini. Tidak, jangan sampai Danur Cakra gagal keluar dari dalam gua. Kecuali, dia harus rela untuk melepaskan kitab pusaka bumi dan langit atau bahkan nayawanya sekalian.
Danur Cakra Prabaskara menghentikan langkahnya. Sayup-sayup telinganya mendengar suara pertarungan. Ya, itu pasti Raka Jaya yang masih berusaha untuk melawan pengawal Ki Basar Nawa.
Salah siapa ngotot untuk ikut masuk. Bukankah dalam perjanjian, mereka telah sepakat untuk menanggung apa pun resiko yang bakal terjadi? Itu berarti, kesalahan tidak terletak pada Danur Cakra.
Danur Cakra menghembuskan napas panjang, dia menatap Raka Jaya sekali lagi. Sebelum kemudian mengendap menjauh. Dia tidak ingin mengambil resiko terlalu besar dengan mempertaruhkan kitab bumi dan langit hanya demi orang yang sama sekali tidak dia kenal.
"Hei, mau kabur ke mana kau?!"
Sial! Gerakan Danur Cakra rupanya terlihat oleh seorang pengawal yang langsung melompat menyerang.
Akan tetapi, langkah pengawal tersebut berhasil dihentikan oleh Raka Jaya yang mengambil keuntungan dari kelengahan yang dilakukan oleh pengawal tersebut.
"Cakra, cepat lari!" teriak Raka Jaya.
Danur Cakra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melepaskan beberapa pukulan tenaga dalam guna menjadikan sebuah perisai untuk bisa lari dengan leluasa. Tidak perduli pada keselamatan rekannya di dalam, yang terpenting ialah menyelamatkan Kitab Bumi dan Langit.
Danur Cakra berhasil keluar dari dalam gua. Di sana, tidak lagi ada ancaman yang berbahaya. Para penjahat pemilik gua belum kembali dari pertempuran. Dengan mudah, dia meninggalkan gua jurang gerowong.
__ADS_1
Bukannya Danur Cakra sama sekali tidak punya hati. Setelah menyimpan kitab bumi dan langit di tempat yang aman, dia bergegas menuju penginapan di mana para pendekar dari Padepokan Api Suci menginap. Meminta mereka untuk membantu Raka Jaya yang terlibat pertarungan di dalam gua jurang gerowong.
Justa Jumpena dan seluruh pasukan pengawal terlihat ragu pada perkataan Danur Cakra. Pertama, mereka tidak mengenali siapa anak yang melapor, jangan-jangan ini hanyalah merupakan siasat untuk memancing mereka meninggalkan penginapan. Kedua, atas alasan apa Raka Jaya meninggalkan penginapan dan terlibat pertarungan di gua jurang gerowong?!
"Kalian percaya ataupun tidak, apa peduliku. Yang jelas, salah seorang anak terbaik yang dimiliki padepokan kalian sedang berada dalam bahaya besar. Kalianlah yang bakal rugi, tidak ada hubungannya dengan diriku!" tutup Danur Cakra.
Mendapati dia tidak dipercaya, maka Danur Cakra memutuskan untuk segera pergi. Dia telah terbebas dari tanggung jawab. Bukannya tidak ada usaha untuk bisa membantu Raka Jaya, tapi kenyataannya ucapannya tidak didengar.
"Baiklah! Tunjukkan di mana gua jurang gerowong yang kau maksud," Justa Jumpena mengajak lima orang pasukan untuk mengikuti Danur Cakra. Andaipun ini adalah jebakan, paling tidak masih ada pasukan yang mengawal anak-anak lain hingga tiba di Padepokan Giling Wesi.
"Anak ini memiliki kemampuan olah kanuragan yang sangat tinggi, siapa sebenarnya dia?" Justa Jumpena berpikir dalam hati. Dia yakin, kalau sekadar untuk mengalahkan Raka Jaya rasanya bukanlah perkara yang begitu sulit. Paling tidak, mereka berada pada tahap yang sama.
"Hei, mau kemana kita?"
"Itu guanya, Raka Jaya ada di dalam." Sambil menunjuk, Danur Cakra bergegas masuk. Memaksa Justa Jumpena dan yang lain meningkatkan kewaspadaan. Tingkah bocah itu sangat mencurigakan.
"Kau tunggu di sini. Biar kami yang masuk. Jika ada yang mencoba mengurung kami di dalam gua, cepat kirim isyarat," perintah Justa Jumpena pada seorang pendekar.
Sementara itu, di dalam gua masih terjadi pertarungan. Lebih tepatnya, Raka Jaya yang menjadi bulan-bulanan. Selain tubuhnya yang masih anak-anak, beberapa orang yang menjadi lawannya pun bukanlah pendekar biasa.
"Raka, aku datang!" Danur Cakra melepaskan bayangan seekor naga, untuk menahan sebilah keris yang mengarah pada Raka Jaya.
Raka Jaya tersenyum, melihat kedatangan Danur Cakra bersama dengan Justa Jumpena dan para pendekar lain. Awalnya, Raka Jaya telah berburuk sangka dan kecewa pada Danur Cakra karena begitu tega meninggalkan dirinya seorang diri. Tapi melihat apa yang dia lakukan sekarang, rasanya tidak berlebihan. Memanggil bantuan memang salah satu keputusan yang tepat.
__ADS_1
Berbeda dengan Raka Jaya yang begitu gembira, Justa Jumpena dan tiga anak buahnya justru terheran-heran menyaksikan kemampuan yang Danur Cakra peragakan.
Ya, kemampuan itu mengingatkan pada ciri khas Elang Putih. Mirip, bahkan sangat mirip. Meskipun jenis energi yang digunakan berbeda. Atau mungkin anak kecil itu memiliki guru yang sama dengan Pendekar Elang?!
Justa Jumpena harus menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hatinya. Karena di depan muka, lawan telah menanti dengan senjata yang amat tajam.
Mendapati Justa Jumpena dan empat pendekar lain telah mengambil alih lawan, Danur Cakra segera memapah Raka Jaya keluar dari dalam gua.
"Terima kasih, ya," Raka Jaya tersenyum.
"Tidak perlu sungkan. Ayo, kita pulang saja. Keberadaan kita di sini, hanya akan menjadi beban." Danur Cakra segera membawa Raka Jaya untuk pergi.
Meskipun kurang setuju, Raka Jaya tidak bisa menolak. Prinsip yang Danur Cakra terapkan berbeda dengan dirinya. Anak itu cenderung tidak perduli pada orang lain. Yang ada di dalam benaknya hanya keberhasilan misi pribadi. Sangat cocok jika dia bergabung dengan Padepoka Api Suci. Rata-rata pasukan elit di Padepokan Api Suci berpikiran begitu. Termasuk ibunya, Dewi Api.
°°°
"Cakra, ada baiknya kau ikut kami ke Padepokan Giling Wesi. Kompetisi besar itu, masa kau tidak tertarik menyaksikan," pinta Raka Jaya.
Danur Cakra menghela napas, "Aku tidak tertarik jika sekadar untuk menonton. Kecuali jika kau punya cara untuk bisa bawa aku naik gelanggang. Akan ku pastikan untuk menyingkirkan semua pesaing. Termasuk juga dirimu!"
Raka Jaya mengangkat alisnya, ucapan Danur Cakra bisa dikatakan sebagai jawaban tanda dia telah setuju untuk ikut.
Sudah banyak para peserta yang berkurang, setidaknya ada empat sampai lima orang anak laki-laki yang di celakai dalam perjalanan. Membuat ada banyak slot kosong yang bakal bisa diisi oleh Danur Cakra. Dengan mengandalkan pengaruh yang dimiliki oleh Padepokan Api Suci, Raka Jaya yakin jika akan bisa membuat Danur Cakra mengisi salah satu slot tersebut.
__ADS_1