
Kerumunan orang-orang langsung terbelah ketika muncul dua orang yang mereka tunggu. Seorang nenek tua yang bersama seorang gadis kecil yang membawa peralatan pengobatan.
"Tabib kecil, tolong suami saya. Tiba-tiba saja dia terjatuh dan tubuhnya kejang-kejang," seorang ibu-ibu muda berlari dan langsung menjatuhkan lututnya di depan Suhita.
"Tabib, tolong kami juga ..." beberapa lainnya ikut memohon.
Suhita diikuti Nyi Gondo Arum terus berjalan mendekati mereka yang terkena penyakit aneh. Seperti biasa, Suhita hanya bisa menghela napas panjang menemukan fenomena yang sama di mana pun tempat yang dia kunjungi.
Hampir setiap kali ada orang yang sakit dan jatuh pingsan di tengah kerumunan, bukannya cepat ditolong tapi malah dijadikan bahan tontonan gratis. Dengan berbagai macam alasan, orang-orang berusaha menghindar dan tidak mau menyentuh.
"Tuan dan Nona, bisa bantu saya untuk pindahkan mereka ke tempat yang lebih pantas?" pinta Suhita.
Keluarga pasien segera menuruti ucapan Suhita. Membawa mereka yang pingsan ke tempat yang lebih bersih dan lindap.
"Nek, maaf. Tolong nenek cari air aren dan kalau ada beli madu juga ya, nek."
Nyi Gondo Arum mengangguk, lalu kemudian nenek tua yang masih sangat lincah itu kembali menerobos kerumunan orang-orang yang sibuk menonton Suhita mengobati.
"Wah, wah, bocah se kecil ini sudah pandai mengobati. Dia pasti akan menjadi tabib terkenal. Ckckck, saat besar nanti wajahnya pasti cantik."
"Itu pasti. Lagi pula dia pasti bisa membuat sendiri ramuan yang semakin membuat kulitnya halus dan sehat."
"Alllaahhh! Percuma juga cantik, pandai mengobati kalau nanti dia sudah tahu bagaimana sulitnya cari uang, pasti dia akan gunakan kemampuannya untuk perkaya diri."
Beberapa komentar terdengar samar dari sekian banyak tanggapan yang diberikan setiap mata yang menyaksikan cara Suhita mengobati.
Tajamnya mulut orang-orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Mereka hanyalah memelihara sifat iri dengki di dalam diri yang akhir menggerogoti hati. Menilai orang lain layaknya diri sendiri. Karena cara pandang, adalah satu cara untuk bisa tentukan kualitas mental lawan bicara kita.
Nyi Gondo Arum sudah kembali dengan membawa beberapa tabung wedang aren dan juga madu. Madu herbal yang di ambil langsung dari sangkarnya, tentu miliki khasiat yang luar biasa bagusnya.
__ADS_1
Suhita mengurut titik akupuntur di kaki para korban dengan menggunakan sedikit madu. Sementara beberapa teguk madu juga diminumkan pada mereka yang baru sadarkan diri.
Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, Suhita sudah berhasil kembalikan kesadaran orang-orang yang hampir kehilangan nyawa tersebut. Sungguh di luar nalar manusia biasa. Ada juga yang menganggap Suhita adalah seorang malaikat yang menyamar.
Saat ditanya perihal asal mula penyakit yang datang, Suhita tidak bisa menjawabnya. Tabib kecil itu hanya berjanji untuk menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi. Yang penting, sekarang penyakit aneh itu sudah bisa disembuhkan.
"Non Hita, terus terang nenek juga penasaran mengenai penyakit aneh itu. Mengapa Non Hita tidak berikan sedikit pun penjelasan seperti biasanya," Nyi Gondo Arum bicara berbisik pada Suhita kala keduanya berisitirahat di batas desa.
"Aku tidak bicara, ya karena memang aku tidak tahu, nek. Mengapa nenek juga ikut memaksaku?" Suhita balik bertanya, membuat Nyi Gondo Arum mengernyitkan dahi. Mana mungkin seorang Suhita tidak mengenali penyakit jenis apa yang di derita pasiennya.
"Hahaha! Sudahlah, nek. Tidak perlu dipikirkan. Tidak lama lagi juga, nenek akan tahu sendiri," canda Suhita.
"Hehe ... nenek cuma penasaran saja, Non. Masa tabib setara Non Hita sampai tidak tahu nama penyakit. Bagaimana jadinya?"
Suhita tidak perlu menjelaskan panjang lebar, karena jawaban yang dinantikan oleh Nyi Gondo Arum telah datang.
"Itu mereka! Ayo cepat tangkap!"
Tidak mau ketinggalan, Nyi Gondo Arum juga segera kerahkan tenaga dalam untuk hadapi orang-orang yang datang. Nyi Gondo Arum melompat dan langsung menyergap pimpinan pasukan.
Bertarung beberapa jurus, dan setelah mendapati jika kemampuan yang dimiliki oleh Nyi Gondo Arum begitu tinggi, barulah pimpinan pasukan tersebut mengangkat tangannya, memberi peringatan pada anak buahnya untuk menahan serangan dan berhati-hati.
"Nenek peot, siapa kalian sebenarnya? Mengapa tiba-tiba kalian muncul di desa Cagak Gelagah ini dan langsung membuat kehebohan?" tanya pimpinan pasukan.
"Fiiihhh! Terlambat! Sudah hampir mati baru bertanya. Apa guru kalian sama sekali tidak mengajari kalian sopan santun?" Nyi Gondo Arum meludah.
Sebenarnya, yang membuat Nyi Gondo Arum begitu keki ialah sebutan nenek peot yang disematkan kepadanya. Hal itu mengingatkan dia pada Kalagondang yang selalu memanggil dengan nama itu. Dan hasilnya ialah, Nyi Gondo Arum tidak terima.
"Namaku Ki Pasopati, guruku ialah Pendekar Naga Sayap Tunggal. Masih berani singgung nama guruku?!" dengan tekanan khas pada nada bicaranya, Ki Pasopati mencoba untuk gunakan nama besar itu untuk menggertak.
__ADS_1
"Hahaha!" tawa Nyi Gondo Arum meledak. Nenek tua itu mentertawakan gaya Ki Pasopati yang sudah seperti pendekar senior saja.
"Heh, Naga satu sayap yang tidak bisa terbang itu?! Kalau tidak salah, bukankah dia murid Raja Langit? Hooo ... sungguh aku terkejut," nada bicara Nyi Gondo Arum terdengar begitu mengejek.
Kontan saja, hal itu membuat Ki Pasopati dan para anak buahnya naik pitam. Mereka melotot, seperti hendak menelan Nyi Gondo Arum.
"Nenek, apa yang nenek bicarakan? Jangan buat masalah, nek. Kita ini bukan untuk cari lawan. Baiknya berdamai saja," Suhita menahan Nyi Gondo Arum supaya tidak melakukan serangan.
"Ah, Tuan-tuan pendekar sekalian. Maaf atas kelancangan yang nenek perbuat. Percayalah, tidak sedikit pun niatan kami untuk menyinggung perasaan kalian," Suhita membungkuk berulang kali.
Ki Pasopati menatap Suhita dengan dalam. Kemudian dia menoleh pada anak buahnya, "Hei, apa kau tidak salah lihat?" tanyanya.
"Ti-tidak, Tuan. Dia adalah tabib itu. Dengan peralatan dan obat-obatan yang ada di punggungnya itu, dia hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sembuhkan penyakit di pasar tadi," nampak anak buah Ki Pasopati itu bersungguh-sungguh.
Ki Pasopati kemudian turun dari punggung kudanya, kemudian melangkah menghampiri Suhita dengan senyum.
Suhita Prameswari balas tersenyum. Dia akan menerima siapa saja orangnya yang ingin menjalin persahabatan. Suhita benci kekerasan, prinsip hidupnya ialah banyak kawan banyak rejeki.
"Hei, hei. Dasar buaya darat! Mesam-mesem tidak jelas. Apa yang kau inginkan dari Nona kecil kami?" Nyi Gondo Arum lebih dulu bergerak ke depan Suhita dan menghadang jalan Ki Pasopati.
"Aku ingin bicara dengan majikanmu, baiknya kau minggir!" usir Pasopati.
"Jika niatmu baik, maka tidak ada orang yang dilarang untuk bertemu majikanku. Tapi jika sebaliknya, maka aku adalah orang pertama yang harus kalian jadikan mayat!"
Baamm! Baamm!
Ledakan menggetarkan lokasi di sekitar tempat itu. Muncul seorang kakek tua bertubuh kurus. Dengan senyum dia membungkuk hormat pada Suhita.
"Hei, ada aku juga. Langkahi mayatku lebih dulu jika kalian ingin tangkap majikan kami!" Kalagondang menunjuk hidung Ki Pasopati.
__ADS_1
"Kalagondang! Kau masih berhutang nyawa padaku. Hari ini, aku pasti akan membunuhmu!" ucap Ki Pasopati dengan mata menyala.