
Semakin larut malam ini semakin larut pula dirinya dalam ketakutan. Pikiran yang dibaluti oleh ketakutan dan rasa bingung itu membuat gadis itu sulit menempatkan diri.
Nafas yang tak beraturan. Hati yang diwarnai kecemasan. Perasaan kehilangan yang masih berdiri di belakangnya saat ini. Semua itu ia rengkuh dalam diam.
Tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya bahwa dirinya akan terlibat sejauh ini.
"Baiklah Chloe. Saatnya kau beraksi!" ucapnya mantap sembari mengacak-acak isi tasnya dan tak terduga ia menemukan sebilah pisau di dalammya. Itu cukup membuatnya heran.
Dari mana asal pisau ini? Siapa yang meletakkannya? Sudah jelas, sejak kecil Chloe selalu dilarang oleh kedua orangtuanya untuk tidak menyentuh benda tajam tersebut.
"Sumpah! Aku gak bawa ini tadi!" ujarnya sedikit berbisik. "Tapi... Aku bisa berjaga-jaga dengan ini."
"SIAPA DISANA!!"
Oh, tidak! Tampaknya pria tersebut menyadari keberadaan Chloe. Jantungnya yang baru saja terkejut langsung diajaknya berlari menghindari pria tersebut.
Begitu langkah kakinya menapak ke tanah, muncul suara kecil yang membuat dirinya dan pria tersebut terkejut. Tentu saja bunyi ini akan membantu si pria menemukan jejak kakinya.
"Sial!"
Chloe berlari sekuat tenaga dan berusaha menyamai kecepatan angin malam. Agak menggigil karena suhu malam ini semakin turun. Salju yang berjatuhan sedikit demi sedikit membanyak.
"OI BOCAH! KEMARI KAU!" teriaknya.
Pria itu langsung mengejar Chloe disusul dengan beberapa pedang dan dilemparkannya ke arah Chloe.
Kalau saja ia tidak menyadari keberadaan pedang-pedang itu, kemungkinan besar dia sudah tewas di tempat.
Untunglah, Chloe menyadari pedang-pedang tersebut dan refleks menundukkan kepalanya. Alhasil, pedang-pedang itu tertancap di salah satu batang pohon.
Chloe tersenyum lega sekaligus memuji dirinya yang sudah berhasil menghindari serangan tersebut. Walaupun tetap saja takut.
Derap langkah gadis ini semakin kencang seiring kedua kakinya menapak keras tupukan salju dibawahnya. Chloe berlari seraya menyingkirkan beberapa ranting pohon yang menghalangi pemandangannya. Sesekali, ia menoleh ke belakang memastikan jaraknya dengan pria misterius itu semakin jauh.
Ya, benar saja. Jaraknya semakin jauh dan kemungkinan Chloe aman untuk saat ini.
Sejenak, Chloe mengatur irama nafasnya dan membiarkan tubuhnya bersandar di batang pohon. Tubuhnya gemetar menahan dingin. Namun, sesuatu terbesit dalam pikirannya dan mengharuskannya untuk mencari tahu apakah yang dikatakan si pria misterius tadi benar adanya?
"Aoi bilang, aku akan sangat beruntung bertemu dengan Black Aura. Apa jangan-jangan, Aoi udah ketemu Black Aura sebelumnya lalu menyuruhnya untuk bertemu denganku melalui teka teki yang ia buat?" pikir Chloe.
Yang jelas, hari ini bukan hari yang menyenangkan bagi Chloe. Melintasi hutan di bawah salju yang berjatuhan dalam diam, mencari Aoi yang hilang secara misterius, bertemu dengan pria aneh dan berakhir tersesat di dalam hutan.
Jujur, Chloe lelah. Ia merasakan seluruh tubuhnya lelah ektrim. Ia bahkan belum menyantap sepiring kentang goreng. Benar-benar melelahkan!
"Aku mau pulang..." ujar Chloe ketika kedua matanya dipertemukan dengan luasnya langit malam yang ditaburi bintang-bintang. Setidaknya istirahat sebentar Chloe merasa jiwanya membaik. Meskipun tidak sepenuhnya.
Kesepian tetap saja kesepian. Meskipun menjalin ikatan dengan orang sebanyak apapun, jiwanya masih tak lepas dari rantai kesepian.
Chloe telah mengalami banyak hal yang membuat jiwanya benar-benar kesepian. Beragam insiden menimpa keluarganya dan mengharuskannya untuk hidup sebatang kara tanpa mempercayai orang lain. Memang dari awal, Chloe tidak pernah meletakkan kepercayaannya sembarangan. Bahkan termasuk keluarga besarnya sendiri.
"Aoi... Kau dimana? Aku sendirian. Aku gak punya siapa-siapa lagi selain dirimu. Aku cuma mau main denganmu saja... Itu saja."
Gadis itu terus bergumam mengekspresikan kesedihannya. Sampai tanpa sadar sebilah pisau melayang dan tertancap tepat di samping lehernya.
Sontak, Chloe langsung membuka kedua matanya selebar mungkin. Ia juga menoleh ke samping. Benar. Sebilah pisau berlumuran darah tertancap disampingnya.
Pucat seketika wajahnya. Chloe beranjak dari posisi duduknya dan memberanikan dirinya mencari sosok yang baru saja melempar pisau tersebut.
Tak perlu jauh-jauh, Chloe berhasil menemukan pria misterius itu yang berdiri tak jauh dari dirinya. Pria itu sedikit berbeda dari beberapa menit sebelumnya.
Kini ia tampil dengan menggenggam kapak besar. Kapaknya bercahaya merah. Mungkin saja ini pertanda akhir dari nafas Chloe.
Chloe ketakutan. Ia berdiri lalu mundur selangkah dua langkah ke belakang. Sampai tanpa sadar bahwa punggungnya menyentuh dinding rapuh yang akan menghalangi keselamatannya. Kalaupun lari ke samping, pria misterius itu akan semakin tertarik untuk mengejarnya.
Kesempatan karena mangsannya belum berlari dari pandangannya, pria aneh itu langsung mengunci pergerakan Chloe dengan mengandalkan beberapa ranting pohon tua disekitarnya.
Ranting-ranting itu dengan sendirinya memeluk Chloe. Ruangnya begitu sempit. Sulit baginya untuk kabur.
"Mau lari kemana kau gadis kecil? Lembut sekali Aura-mu... Keliatannya banyak sekali yang menyakitimu." Entah apa tujuannya ia membicarakan hal itu.
Chloe pribadi bingung harus merespon apa? Pilihan terpenting adalah diam.
"Kurasa... Kau manusia kedua yang menyadari keberadaan kami. Buku yang kau pegang sepertinya gak sengaja ketemu di suatu tempat..." lanjutnya.
__ADS_1
Dalam hati Chloe berkata, "Cakap ape ni budak? Tak paham saye."
Entah bagaimana caranya, jarak mereka semakin dekat. Tidak ada jalan keluar bagi Chloe. Sekali kapak itu melayang, tamat sudah hidupnya.
Chloe menelan ludah bersamaan dengan rasa takutnya. Ketakutan akan kematian. Ketakutan akan rasa sakit yang akan ia terima. Bola matanya menampilkan sosok pria aneh itu telah mengangkat kapaknya dan sepertinya hendak menebas pundak Chloe.
"Begitu kau mati, tubuhmu dan jiwamu akan menjadi pengikut kami."
Dilayangkannya kapak tersebut dengan cepat.
Chloe yang mengetahui hal itu refleks memejamkan kedua matanya. Ia tak ingin sesuatu yang mengerikan terekam di penglihatannya. Meskipun di dalam dirinya, ada secercah harapan untuk terus hidup.
"Siapapun tolong aku!".
Craaattttt!
Lantai, tanah, dinding, pohon, dan tubuh mereka sekalipun tersiram darah segar. Kapaknya meneteskan tetesan darah kental yang sangat menyeramkan bunyinya.
Chloe yang masih memejamkan matanya itu merasa aneh. Ia mencium bau amis disekitarnya. Tapi, ia tidak merasakan rasa sakit yang teramat pedih di bagian pundaknya.
Tidak ada rasa sakit. Lalu, siapa?
Perlahan, ia membuka kedua matanya yang terpejam tersiram cipratan darah dan terbelalak kaget melihat pemandangan yang sungguh tak biasa ini.
"Heh...?" Chloe mematung ketakutan plus bingung.
Bukan merah warnanya. Cairan yang ia sangka darah itu tidak seperti darah pada umumnya. Warnanya hitam tapi amisnya setara dengan darah manusia pada umumnya. Selain itu, Chloe lagi-lagi dibuat terkejut oleh kenyataannya kali ini.
Hutan yang sepi ini ditambah dengan posisi dirinya yang sangat jauh dari keramaian mustahil jika ada seseorang yang mendengar suara tebasan kapak yang mengerikan ini.
Bukan! Bukan itu...
Darah hitam ini bukan berasal dari pria aneh itu. Dan jelas sekali bukan dari dirinya. Darah hitam itu... Asalnya...
"Black Aura?"
Chloe menyebut nama itu lagi begitu menemukan sosoknya yang asli berdiri tepat di depannya dengan pundak yang tersobek sangat lebar. Bahkan darahnya masih mengalir deras dan membasahi bagian kanan tubuhnya.
"Aaaa... Akhirnya, kau muncul juga Black Aura. Padahal kalian dikenal kejam dan jahat. Kenapa mendadak jadi sok protagonis begini? Apa yang membuatmu jadi seperti ini, hah?" sekali lagi, pria itu menebas lengan kiri Black Aura hingga terputus.
"Aura seperti kalian yang selalu menindas Aura lain kenapa jadi sok protagonis begini? Seharus kami yang menempatkan posisi protagonis. Bukan kalian!" serangan ketiganya tak lama lagi akan menebas lawannya
Sayangnya, ditangkis dengan cepat oleh pedang Black Aura.
Chloe yang melihat pemandangan itu syok. Syok melihat adegan sadis itu. Ia tidak menyangka bahwa kejadian selanjutnya akan berjalan sesadis ini. Ia tidak tahu seberapa sakit luka Black Aura. Tapi, remaja itu tetap diam dan tidak berteriak.
"Pergilah..."
Kalimat itu, Black Aura keluarkan khusus untuk Chloe. Seperti yang dikatakan buku. Suaranya sedingin es di musim dingin. Disusul dengan manik violet yang mengarah padanya.
Bola matanya seperti permata amethyst. Bukannya menjauh, Chlie justru dibuat berbinar matanya. Sulit baginya mengangkat kakinya dari wilayah tersebut. Sampai pada akhirnya, Black Aura turun tangan menarik jaket Chloe dan dilemparnya gadis itu sampai menjauh dari dirinya.
"Aduh!"
DRAAAASSSS!!
Chloe kembali membeku ketika disuguhkan pemandangan penuh darah untuk kedua kalinya.
Kini, Black Aura-lah yang melayangkan pedangnya ke atas lalu di belah menjadi dua pria aneh tersebut. Dibelah miring seperti kue.
Yang kali ini tidak terlalu mengerikan karena Chloe menemukan perbedaan unik disana. Cipratan darah yang disemburkan pria aneh itu berwarna ungu. Itu menambah pertanyaan di kepala Chloe.
"Apa mereka ini benas-benar Aura?"
"Tunggu! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membunuhnya? Dia manusia kan?" tanya Chloe lantang.
"Bukan."
Chloe terdiam. Dia kembali larut dalam pikirannya. Ia juga bingung dengan kenyataannya saat ini. Chloe berusaha berdiri dari posisi duduknya. Perlahan-lahan, berusaha mendekati Black Aura.
Dirinya yang kali ini masih sulir menerima kenyataan. Bahkan untuk yang ia lihat sekalipun. Kekuatan magis, senjata yang aneh dan penampilan mereka yang agak berbeda dari manusia pada umumnya. Apa semua itu nyata?
"Dia bangun. Kalau gitu..."
__ADS_1
Tiba-tiba, gadis itu mencengkram lengan kanan remaja Aura itu. "Kita pergi!"
Black Aura langsung menoleh ke samping heran. Ia melirik ke arah lengannya yang dicengkram kuat gadis itu.
"Baiklah, kalau itu pilihanmu."
Begitu tahu apa yang gadis itu inginkan, Black Aura segera menarik gadis itu dan menggendongnya. Karena tangannya tersisa satu, dia hanya bisa menggendongnya dari belakan.
"Pegangan yang kuat."
Chloe mengangguk pelan.
Akhirnya, mereka berdua meninggalkan tempat tersebut dengan cara berlari.
Di tengah berlari, Chloe hanya memandang pundak Black Aura yang sobek dan lengan kirinya yang putus. Antara kasihan dan penasaran.
Memang sesakit apa luka yang dialami remaja ini? Kenapa dia tidak berteriak? Dia bahkan membiarkan lukanya tersapu oleh angin musim salju. Benar-benar hebat.
"Anu... Boleh turunkan aku disana?" pinta Chloe. Ia menunjuk ke tempat yang berada tak jauh dari pagar pembatas hutan.
Tentu saja Black Aura langsung menurutinya dan membawa gadis itu ke tempat yang diinginkannya.
"Terima kasih ya, udah nyelamatin aku..." ucap Chloe tersipu malu.
Black Aura tidak merespon kecuali hanya memasang raut datarnya saja.
"Lukamu... Kau gak kesakitan kan?"
Black Aura menggeleng pelan lalu berbalik dan meninggalkan gadis itu seorang diri.
"Tunggu..." tahan Chloe membuat langka remaja itu terhenti.
"Kumohon jangan pergi dulu... Namamu Black Aura bukan?"
Remaja itu berbalik perlahan begitu sadar namanya disebutkan.
"Sebenarnya, kau asli atau bagaimana? Aku membaca buku aneh kemarin bersama sahabatku..."
"Saat membaca buku itu, aku merasa bahwa kau ini benar-benar nyata. Meskipun aku mengakui keberadaan kalian, tapi anehnya kedua mataku ini mendadak jadi sulit menerima kenyataan yang aneh ini. Kalau saja Aoi ada disini... Mungkin dia bakal lompat kegirangan melihatnya." lanjutnya.
Black Aura bingung namun ia tetap berdiri disana sampai apa yang Chloe bicarakan itu benar-benar siap.
"Hari ini aneh sekali. Banyak kejadian aneh menimpaku. Jujur, aku juga merasa sakit dengan hari ini. Aoi-sahabatku menghilang secara misterius, aku melalui siang dan soreku seorang diri dan aku juga gak sengaja bertemu dengan orang-orang yang membuatku kesal. Seperti tadi, aku nyaris dibuat mati oleh pria aneh tadi."
Black Aura tidak merespon.
"Kukira, hari ini aku bakal mati. Kukira aku gagal mencari Aoi. Tapi, semua bayangan itu pecah begitu kau datang. Aku... Sebenarnya aku..." air matanya mengalir tanpa izin.
"Chloe kesepian kan?" Black Aura angkat suara.
Chloe tertegun. Ia segera melirik cepat ke arah Black Aura begitu merespon suara dinginnya.
"Chloe membutuhkan Aoi, kan? Kurasa aku gak salah orang. Kau Chloe yang selalu menyebut namaku, kan?" Black Aura berjalan menghampiri Chloe yang tengah dihiasi air mata.
Chloe mengangguk pelan menanggapinya. "Kau tau dari mana?"
Black Aura tersenyum. Senyuman yang berhasil menghilangkan kesedihan Chloe.
"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku bisa merasakan Aura manusia yang secara tidak sengaja menyadari keberadaan kami. Meskipun kalian sekedar menebak-nebak, namun bagi kami hal itu sangat penting. Terima kasih..."
"Gak perlu berterimakasih! Akulah yang harusnya..."
"Kau ingin Aoi kembali, kan?" tanya Black Aura.
Chloe tertegun mendengarnya. Ia sejenak berpikir, apa remaja ini ingin membantunya mencari Aoi?
"Ya. Aku ingin dia kembali. Aku ingin bermain dengannya lagi!" jawab Chloe mantap.
Black Aura tersenyum simpul sebelum pada akhirnya kembali menjadi datar.
"Akan kucari! Misiku selain membunuh Legend Aura, aku juga harus mencari manusia-manusia yang hilang. Sebaiknya kau pulang saja. Aku akan memberitahumu begitu Aoi kembali." Jelas Black Aura.
"A-aku juga mau membantumu! Aoi adalah sahabatku! Satu-satunya orang yang memahami rasa sakitku. Aku juga punya projek ingin menulisnovel dan bila selesai nanti akan kutunjukkan padanya. Aku ingin menjadikan kisahku ini sebagai hadiah kepulangan Aoi nanti. Aku ingin... Bersenang-senang dengan Aoi seperti biasanya!" tegas Chloe berkaca-kaca.
__ADS_1
"Begitu ya..." Black Aura memajukan selangkah agar lebih dekat dengan Chloe bersamaan dengan sang fajar yang terbit.
~