
Black Aura memandang langit sore yang tak lama lagi kekuasaannya diambil alih oleh kegelapan malam yang tidak pernah lupa membawa pasukannya, bulan dan bintang. Di waktu peralihan antara sore dan malam itu, Black Aura duduk di atas atap sambil pula menunggu perempuan-perempuan itu selelsai memasak makan malam.
Ini kali pertamanya dia makan malam bersama di mansion Midnight. Karena dulunya, Black Aura jarang sekali makan malam bersama lantaran Midnight yang kala itu memilih tinggal di bumi dengan alasan pekerjaan dan Carmine karena urusan sekolahnya.
Begitu tahu hari ini akan diadakannya acara makan malam bersama terutama dengan orang-orang asing yang tidak ia kenali, kesan pertama yang akan Black Aura rasakan adalah canggung dan aneh.
Tentu saja canggung. Sebagian dari remaja-remaja yang datang ke Carnater hampir semuanya adalah manusia. Belum lagi dirinya yang sudah pasti makan malam satu meja dengan Ethan.
Meja makan Midnight itu berbentuk persegi panjang dan itu cukup untuk dua belas orang. Lebar sekali bukan?
Black Aura berdecak sebal setiap kali membayangkan senyuman Ethan. Pria itu baik diundang maupun tidak, selalu saja mengganggu waktu kebersamaannya dengan Chloe. Yang Black Aura takutkan dari hubungannya dengan Chloe nanti adalah rapuh. Dia takut jika semakin jauh Black Aura dengan Chloe karena kehadiran Ethan di samping gadis itu, maka akan memicu perasaan nyaman di hati Chloe setiap saat gadis itu berada di dalam dekapan pria beridentitas dua itu.
Black Aura mengeluarkan pedangnya yang baru saja ia bersihkan sepuluh menit yang lalu. Benda itu terlihat berkilau dan tampak seperti baru. Indah sekali ujungnya. Bahkan, Black Aura bisa melihat dengan jelas pantulan wajah datarnya dari pedangnya tersebut.
Bosan. Ingin sekali rasanya, Black Aura membunuh para Aura. Sejak berpacaran dengan Chloe, kebebasannya dalam bertarung sedikit terhalang. Lantaran Black Aura yang belakangan ini mulai memahami sedikit demi sedikit mental seorang perempuan dan juga perasaan Chloe kala kedua iris birunya berpapasan langsung dengan pemandangan sadis yang tentu saja tidak layak untuknya ditonton.
“Chloe… Kenapa sejak kita pacaran, kau justru semakin jauh dariku?” gumamnya sedih. Rambutnya menari-nari tersapu oleh angin yang bertiup dari arah barat. Hatinya saat ini sedih. Black Aura bisa merasakan dengan jelas kesedihan apalagi di saat hujan turun sederas-derasnya.
Kesedihan yang setiap kali Midnight atau Carmine rasakan disaat bersamaan. Mereka berdua tidak menjelaskan pada Black Aura secara langsung bagaimana menyakitkannya dikhianati seseorang.
Semisal mereka yang sudah terlanjur percaya akan kebohongan, kemudian tersakiti dan menyesal begitu tahu bahwa perkataan orang itu hanya sebatas omong kosong yang manis.
Midnight dan Carmine biasanya menyebut omong kosong itu dengan ‘janji yang manis’. Mereka perempuan, mungkin wajar jika batin mereka tertekan saat mengalami masa-masa patah hati.
Akan tetapi, bagaimana dengan Aura yang bahkan tak pernah merasakan apalagi mengetahui betapa menyebalkannya patah hati itu?
Black Aura sebagai Aura terkejam di Carnater selalu menghabiskan 24 jam waktunya dengan bertarung, membunuh perasaan orang lain, dan mencari tahu alasan dibalik kesedihan orang lain. Dari pertarungannya tersebut, Black Aura bisa memahami sedikit demi sedikit penyebab kesedihan itu muncul.
Yah, meskipun waktu itu, dia tidak terlalu memperdulikan perasaan manusia dan tetap memprioritaskan pekerjaannya sebagai pembunuh demi menjaga kemampuan bertarungnya agar tetap meningkat, hingga akhirnya ditakuti oleh semua orang.
Bosan melamun, Black Aura mengaktifkan kemampuan mata pelacaknya. Aura itu berniat mencari tahu kegiatan yang tengah Chloe kerjakan saat ini. Apa gadis itu sudah selesai memasak atau malah ada pekerjaan lain menghampirinya.
“Eh?” Black Aura tertegun ketika manik violetnya menemukan Chloe yang saat ini tengah menaiki beberapa anak tangga dengan kedua tangannya yang membawa piring berisikan kentang goreng dan tiga potong bolu pandan.
Dari arah jalannya, tampaknya Chloe hendak menghampiri atap, tempat Black Aura bersantai saat ini.
Black Aura pun memejamkan kedua matanya. Yah, sebenarnya tidak ada yang salah dengan gadis itu. Hanya saja…
Kenapa dia mendatangiku? Kenapa nggak Ethan saja? Kalau dia memang suka dan nyaman dengan Ethan, kenapa nggak datangi saja pria itu?
__ADS_1
Cemburu. Itulah yang Black Aura rasakan saat ini. Sisi terburuk yang paling buruk bagi Black Aura adalah rasa cemburu tersebut. Walau demikian, dia membenci sifat itu, di lain sisi Black Aura tidak bisa menyalahkan sifat tersebut lantaran semua orang memilikinya. Jadi, mungkin wajar jika Aura sepertinya merasa tidak nyaman melihat orang yang ia cintai merasa nyaman dan tentram saat bersama orang lain.
Kriet…
Bukannya menoleh ke suara pintu yang terbuka itu, Black Aura justru mempertahankan posisinya yang membelakangi pintu tersebut. Dia lebih memilih menghadap ke arah tenggelamnya matahari ketimbang pintu yang pada akhirnya ditutup oleh seseorang karena, orang tersebut kini berada tepat di depan pintu yang baru saja ditutupinya itu.
“Ayo, makan malam,” ajaknya.
“Hah?”
~
Chloe tertegun mendapati respon ‘hah’ dari Black Aura yang saat itu sedang memandang tenggelamnya matahari senja. Tidak biasanya responnya seperti itu. Bahkan ini kali pertamanya Aura itu mengatakan ‘hah’ di depan Chloe langsung. Mungkinkah, Aura itu masih marah dengannya atas apa yang ia perbuat bersama Ethan beberapa jam yang lalu.
Chloe menunduk, lagi-lagi merasa bersalah. Dia menyesal tapi berpikir, tidak ada gunanya menyesal karena Black Aura sendiri kelihatannya sudah lelah mendengar ocehan indah tak bermakna yang keluar dari mulutnya.
“Iya, makan malam. Yang lainnya udah pada nunggu di ruangan,” lanjut Chloe berusaha menghiraukan respon Black Aura yang lumayan menyakitkan baginya.
“Kau duluan saja,” balas Black Aura datar. Pandangannya masih tertuju lurus ke matahari yang saat itu sudah benar-benar tenggelam.
“Tapi, aku mau makan bersama denganmu juga. Aku juga buat bolu kesukaanmu.”
Chloe mengeryit tak percaya. Jawaban yang ia dapat dari Black Aura semuanya terkesan dingin sekali. Seakan kehadirannya saat ini tidak berarti apa-apa bagi Aura itu.
Sakit memang. Akan tetapi, Chloe tidak ingin terlihat cengeng dihadapan Black Aura. Karena itulah, ia berusaha memasang raut biasa saja dan berterus terang pada Black Aura mengenai perasaan Aura itu saat ini.
“Aura, kau pasti marah kan?”
Tidak ada jawaban dari Black Aura, bukan masalah besar bagi Chloe. Gadis itu paham kalau Aura itu juga berusaha memaafkan dirinya dengan mengabaikannya. Setiap perbuatan pasti ada balasannya. Chloe paham itu. Juga, setiap orang punya caranya masing-masing membalas setiap perbuatan dari orang lain yang telah menyakitinya.
Chloe baru sadar bahwa Black Aura tercipta dari perasaan dendam Carmine. So, wajar saja jika Aura itu berusaha menahan untuk tidak dendam pada orang yang ia cintai.
Chloe menunduk dengan senyuman tipis di wajahnya. “Aku kejam ya. Seenak perutku sendiri. Padahal, kau sudah mempercayaiku. Tapi, aku malah mengkhianatimu. Pasti sakit kan?”
Pertanyaan Chloe itu dijawab oleh keheningan sore yang perlahan-lahan dicat oleh kelamnya malam. Aura itu masih bertahan dengan posisi duduknya menghadap ke tempat dimana matahari itu telah tenggelam.
“Aura, kalau aku bisa memperbaiki sifat jelekku, kau mau nggak bersamaku lagi? Aku nggak bakal janji tapi membuktikan kalau aku ini bisa berubah!”
“Mungkin sulit bagimu menerimaku saat ini karena aku sudah terlanjur berbohong berkali-kali. Tapi, terus terang, jujur saja! Aku mencintaimu! Aku menyayangimu, Aura! Saat bersama Ethan, aku merasa ada yang kurang dan aneh. Aku merasa, orang yang harusnya bersamaku bukanlah Ethan tapi…”
__ADS_1
“Aoi…” potong Black Aura masih dengan posisi yang sama.
Nafas Chloe tercekat mendengar ucapan Black Aura barusan. Cepat-cepat ia menyangkalnya sebab yang Black Aura katakan bukanlah jawaban yang akan keluar dari mulut Chloe.
“Black Aura! Orang itulah yang sejak pagi sampai malam ini yang harus menemaniku!” teriak Chloe dengan lantang. Saking lantangnya, air mata Chloe sampai berjatuhan dengan deras membasahi permukaan atap di depan ujung sepatunya. Dan juga, kata-kata yang Chloe ucapkan itu tak hanya sebatas keluar dari mulutnya melainkan dari lubuk hati serta alam bawah sadarnya yang terdalam
“Aura, kumohon… Jangan tinggalkan aku lagi! Jujur, aku sangat menikmati waktu-waktu sebulan yang lalu dimana kita berdua selalu bersama-sama. Aku… Benar-benar menikmatinya! Aku yang selalu kesepian, iri, dan merasa nggak dianggap, perlahan-lahan bisa terbuka dengan orang lain karenamu! Kau telah membuka mataku, Aura.
“Kau juga telah menyelamatkanku dari egoku yang berlebihan. Kau yang membuatku bisa menghadapi semua masalah yang kukira nggak akan ada jalan keluarnya,” beber Chloe sambil terisak.
Tangannya bergetar karena air mata yang mengalir di pelupuk matanya juga ikut menguras energinya.
Chloe menyeka air matanya. Dia sedih, tapi di lain sisi sadar bahwa yang dia katakan sekarang ini sudah tidak ada gunanya lagi Black Aura yang sudah terlanjur ia sakiti.
“Hiks… Yah, kurasa… Percuma aja sih aku ngomong begini. Toh, aku bakal ngulangin kesalahan yang sama dan lagi-lagi menyakitimu. Aura, aku pamit mau makan malam dulu. Kentang gorengnya aku taruh disini ya…”
Chloe yang menyerah itu, berjalan perlahan ke arah Black Aura kemudian, meletakkan piring berisikan kentang goreng dan tiga potong bolu pandan buatannya di samping Aura itu.
Saat ini, Chloe tak berani memandang wajah Black Aura. Ia yakin dua ratus persen kalau Aura itu sedang tidak berminat memandang wajahnya yang berantakan karena air matanya.
“Dihabisin ya! Soalnya, ini pertama kalinya aku buat bolu,” ucap Chloe sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Black Aura seorang diri di atap.
Saat berjalan, langkah Chloe tiba-tiba tertahan oleh Black Aura yang menahan lengannya tanpa suara.
Melihat tindakan Black Aura itu, tentu saja membuat Chloe tersentak kaget sekaligus terharu karena dirinya masih diberi harapan untuk terus bersama dengan Aura yang ia cintai tersebut,
Di hadapannya, jelas sekali sosok Black Aura berdiri dan memperlihatkan wajahnya yang ternyata ikut menangis saat mendengar ungkapan isi hati Chloe beberapa saat yang lalu.
Chloe tentu tidak bisa berkata-kata mengetahui penampilan Black Aura yang tak jauh beda dengan dirinya. Sama-sama berantakan karena air mata.
“Aura? Kenapa kau menahanku? Kau membenciku, kan? Ya, kan? Kau nggak capek aku khianati terus?”
Black Aura tersenyum tipis. Air matanya kembali mengalir. “Ya, capeklah, bodoh.”
Chloe terdiam. Dia mengerti jawaban Black Aura yang satu ini.
“Tapi, kalau sudah terlanjur cinta bagaimana? Kau menyebalkan tapi sulit kulepaskan. Gimana caranya agar aku bisa bertahan tanpamu kalau aku sendiri udah terlanjur cinta denganmu, Chloe?”
~
__ADS_1