
"Aoi! Aoi! Kau dimana?! Ao!"
Chloe membanting beberapa pintu rumah Aoi. Benar yang dikatakan polisi tadi. Rumahnya penuh dengan becak darah. Mengerikan!
Keringat gadis ini bercucuran ketika kecemasan menghantam pikirannya. Kondisi ruangan yang berantakan. Di lantai juga ditemukan beberapa pecahan gelas kaca.
"Aoi! Aoi!"
Terakhir, Chloe menendang keras pintu kamar Aoi. Chloe terkejut bukan main mendapati kondisi kamar Aoi yang sangat berantakan. Kertas-kertas menggambarnya mewarnai lantai yang ternodai oleh darah.
"Apa-apaan ini?" tanya Chloe heran.
Nafasnya tidak beraturan namun, bukan itu yang menjadi prioritasnya saat ini. Chloe menghampiri kertas yang telah berisi coretan tangan Aoi.
"Komik..?" ia mengerutkan keningnya heran.
Chloe memperhatikan komik tersebut dengan teliti. Berharap ia bisa menemukan petunjuk dari hilangnya Aoi pagi ini.
"Siapa ini? Bukankah ini pria bertopeng yang ada di buku juga ya?" gumam Chloe. Ia menemukan sosok pria bertopeng kucing dengan ekspresi senyuman yang lebar. Rambutnya pendek berantakan sama seperti yang digambarkan di buku sejarah itu.
Di kertas itu, terdapat beberapa sosok remaja yang Aoi gambar. Diantaranya pria bertopeng kucing, dan seorang gadis. Gadis ini terlihat lebih tua darinya. Dia mengenakan kacamata bulet dan memperlihatkan ekspresi senyum liciknya.
"Gadis ini... Dia kan, Midnight? Ibu dari Megavile? Sebenarnya, apa maksud dari gambar ini?"
Tidak ada respon dari pihak manapun. Karena kenyataannya, gadis itu berdiri sendirian di dalam ruang yang berantakan.
Chloe menatap jendela kamar Aoi yang terbuka sangat luas sehingga memungkinkan angin untuk masuk ke dalam kamarnya. Satu tiupan angin berhasil mencampakkan sehelai kertas lembar dan kini jatuh tepat di ujung sepatu Chloe.
Lantas, Chloe segera mengambilnya.
"Ha?" Chloe terbelalak menemukan rentetan tulisan berwarna merah kental. Aromanya bukan tinta melainkan darah.
Mereka dalam bahaya. Temui Cermin Carneter sebelum mereka datang merampasnya!
"Tulisan ini... Punya Aoi?" gumam Chloe terjebak dalam kebingungannya. Ia berpikir, bisa jadi Aoi meninggalkan pesan singkat di beberapa kertasnya.
"Bahkan termasuk kertas komiknya sekalipun?"
Teringat akan sirine polisi yang masih berbunyi di depan rumah, Chloe segera mengambil beberapa kertas komik Aoi yang ia rasa dapat memberinya petunjuk baru. Jangan lupa, polisi-polisi di luar sana tampaknya, telah melupakan keberadaannya.
Kedua tangannya sibuk membolak-balikkan kertas Aoi. Sampai ia menemukan sesuatu yang baru.
• Pepohonan yang tumbuh secara acak.
• Di bawah minus dua puluh.
• Bagaimanapun harus kuat seperti baja.
• Luka di dalam sangat berarti baginya.
• Manik violet yang indah.
- Setelah itu, temui aku di depan perpustakaan biasanya. Good luck.
- Langit biru sulit dilihat oleh topeng kucing yang tersenyum itu.
- ****Akan ada banyak yang mengikuti.
- Bertemu dengannya adalah level yang paling sulit****.
Chloe mengerutkan keningnya tidak mengerti. Barisan kata yang tertulis berantakan dan warnanya merah. Lagi-lagi, aroma dari tulisan ini adalah kentalnya aroma darah.
Sempat ia bertanya-tanya, darah siapa ini? Aromanya tercium seperti darah manusia. Tapi kalau dipikir-pikir, di rumah ini hanya Aoi seorang yang menempatinya. Semua keluarganya bertahan di Jepang.
"Gak mungkin kan, ini darah Aoi? Gak mungkin." Pikirnya tak karuan. Genggamannya semakin kuat sampai meremuk kertas itu.
Sesuatu membuat pandangannya mengarah pada jarum pendek yang menunjukkan pukul 8. Seharusnya, hari ini ia pergi ke kampus bersama Aoi. Tapi, mengetahui kenyataan berkata lain... Yah, mau bagaimana lagi?
__ADS_1
Diam-diam, Chloe terisak. Tangannya yang tadi menggenggam erat ujung kertas Aoi melemas karena sedih. Mengingat hari ini, ia terpaksa harus menerima kenyataan yang aneh.
"Ao... Kau kemana? Apa yang harus kukatakan pada orangtuamu? Mereka pasti sangat mencemaskanmu..." batin Chloe perih.
Pada akhirnya, gadis itu memutuskan untuk mengangkat kakinya keluar dari Rumah Aoi. Sepulang kuliah nanti, Chloe akan mengunjungi rumah sahabatnya lagi.
~
Chloe kembali berjalan lesu di bawah langit oranye sore yang hangat dan menenangkan. Sebentar lagi musim salju akan melanda Amerika. Sudah pasti beberapa orang di luar sana segera menyiapkan beberapa perlengkapan yang dapat melindungi tubuh mereka dari hawa ekstrem musim salju.
Kampus yang membosankan. Tanpa Aoi, tidak ada yang bisa membuatnya senang. Hanya dia satu-satunya yang masih memperdulikannya.
"Aoi... Kau dimana? Memangnya kau apakan rumahmu sampai berantakan begitu? Kau stress ya?" Chloe bertanya-tanya secara lisan hanya untuk dirinya.
Telapak kakinya berhenti di depan Toko kentang dan kedua matanya terpaku dengan tempat duduk mereka berdua. Sepi.
"Salju?".
Chloe agak terkejut begitu menemukan sepotong salju mendarat di atas telapak tangannya. Itu membuatnya berpikir untuk segera memasuki toko kentang yang hangat itu.
Chloe masuk dan duduk di bangkunya seperti biasanya. Setelah itu mengeluarkan buku temuannya dan membaca.
Sampai saat ini, matanya masih terpaku kearah Black Aura. Sosok yang Aoi sebut sebagai Aura keberuntungan Chloe.
"Sebenarnya, kau nyata apa nggak sih? Kumohon... Aoi dimana? Gak mungkin dia hilang gitu aja!" tanya Chloe sedikit berbisik.
Orang yang ia interogasi itu hanya terdiam. Alasannya cukup masuk akal. Chloe berbicara dengan gambar.
"Hai, Chloe!".
Seseorang menyapanya dari belakang dan nyaris membuatnya loncat.
"Eh? Oh... Rara? Ada apa?".
"Ya elah... Elu ini! Kita ini Udah lama Gak ketemuan. Kenapa nyambutnya kek gitu sih?".
"Iya... Maa-" Chloe mendadak bungkam ketika menangkap sosok 3 orang gadis yang berdiri di belakang Rara. Chloe sangat mengenali mereka sejujurmya.
"Iya... Niatnya sih, mau hubungi nomor lu malah kelupaan." Ungkap Rara menggaruk-garukkan kepala belakangnya.
Bukan lupa. Memang kebiasaan kalian suka ngelupain aku!
"Hyori yang mengajak kami ketemuan disini. Hanya berempat aja sih hehe... Mau ikut? Keliatannya kau kesepian." Tambah Rara lagi.
Yah, mau bagaimana ya? Sejujurmya, Chloe gak begitu tertarik dengan acara mereka ini. Ia mengira semuanya akan berakhir menyenangkan. Eh, tahunya... Dia yang kesakitan.
"Kami duduk sini ya." Raica buka suara namun terkesan dingin bagi Chloe. Langsung nancap di dada begitu mulutnya terbuka.
Tentu saja Chloe sangat mengenali suaranya yang datar dan dingin. Memang dari SMP, Chloe selalu bertengkar dengan Raica. Karena masalah sepele.
Mereka memiliki masalah yang sama yaitu sulit sekali berbaur. Perbedaannya, Chloe masih berusaha untuk membuka dirinya dan mau menjadikan dirinya sandaran orang lain. Setidaknya Chloe mau berbagi senyuman indahnya pada orang lain.
Berbeda dengan Raica yang selalu tampil murung setiap pagi. Gadis ini memang sulit ditebak. Di pagi hari ia terlihat murung, di siang hari ia terlihat ceria. Raica juga enggan membuka dirinya dan menjadikan dirinya berbeda dari yang lain. Akan tetapi, karena jalan yang ia pilih itulah ia sulit sekali berteman.
Hingga pada akhirnya, Chloe mau tak mau terlibat dalam masalahnya. Memendam kebenciannya terhadap Raica karena gadis itu telah mencuri perhatian Rara.
Menjadikan Rara sebagai adiknya padahal baru 3 hari mereka menjalin ikatan. Gak adil. Ditambah lagi, Rara dengan santuyyy-nya menerima dirinya sebagai adik dari Raica.
Cih! Kenapa harus ada dia di saat seperti ini? Kenapa?
Chloe mencoba menarik nafasnya lalu membuangnya pelan.
"Ambil saja... Aku duluan.".
Chloe tiba-tiba angkat kaki dan melangkah menuju ke luar toko. Namun, seseorang menahan pergelangan tangannya.
"Chloe. Kau mau kemana? Kok cepat kali sih?" tanya Rara dengan raut cemas darinya.
__ADS_1
Chloe memandang Rara tiada respon. Baginya, itu hanya omong kosong. Udah kenyang Chloe diperdaya oleh kata-kata mutiara mereka.
"Maaf... Aku mau pergi ke Aoi.".
"Bukannya Aoi hilang?" celetuk Raica santai yang langsung membuat langkah kaki Chloe terhenti dengan sedikit dentuman keras di salah satu ubin lantainya.
"Bener juga... Kok bisa hilang dia? Kau apain Chloe?" Silva salah satu dari mereka menimpali setelah itu terkekeh pelan.
Bola mata Chloe membulat sempurna penuh amarah. Selain itu, ia juga bertanya-tanya. Dari mana mereka tahu perihal hilangnya Aoi pagi ini. Apa ada salah satu dari mereka yang secara tidak sengaja menemukan rumah Aoi yang dikerumuni mobil polisi?
"Aneh sumpah. Tetanggaku bilang, rumah Aoi penuh dengan darah." lanjut Hyori. "Serem deh... Eh, Chloe. Kau gak ada ketemu dia ya semalam? Yang sabar ya...".
Chloe melirik kearah Hyori yang baru saja mengolok hilangnya Aoi.
Saat ini, Chloe semakin sulit menempatkan dirinya. Antara sakit karena kehilangan dan sakit karena bertemu dengan sosok yang menyebalkan dari masa lalu.
Bola mata birunya diam-diam mengarah pada Raica yang menggandeng erat tangan Rara. Tampaknya gadis itu tidak senang jika Chloe mengambil sedikit waktu bersama dengan adiknya. Dasar.
"Aku duluan...".
"Chloe!" cegah Rara. Ia nyaris saja menarik perhatian pengunjung toko dengan teriakannya.
"Ayo, kita ngobrol dulu! Aku tahu kau sedih. Kau pasti sulit menerima kenyataan ini. Ayo! Ceritalah apapun yang mau kau ceritakan. Aku bakal dengerin semua curhatanmu."
"Rara...".
Entahlah. Sudah dibilang sebelumnya, Chloe saat ini sulit menempatkan dirinya di kelompok lamanya. Menanggapi Rara yang sudah dua kali mencegahnya pergi, Chloe ingin sekali setidaknya berbagi kesedihannya. Tapi...
"Maaf Ra... Sayangnya... Dia gak senang kalau kita punya waktu bersama." Sindir Chloe disertai dengan tatapan sinis yang sangat jelas ia utarakan pada Raica.
"Jangan sok tahu kau!" Amuk Raica dan langsung mencampakkan lengan Rara. "Bilang aja kau cemburu kan?!"
"Cih! Wajar aku cemburu! Kau main ngambil sahabat orang lain tanpa izin. Gak pake proses lagi!" Balas Chloe gak mau kalah kemudian la putuskan untuk meninggalkan toko kentang dengan emosi yang membara.
Tidak ada gunanya Chloe berurusan dengan remaja labil itu. Cuma menghabiskan tenaga dan menghancurkan Hatinya saja.
Di bawah salju yang turun secara bertahap tapi acak ini, Chloe terisak akan kenyataan ini. Sadar bahwa ia sulit sekali menerima kenyataan ini. Kehilangan sahabat secara tiba-tiba itu... Tentu saja membingungkan.
Mengingat hari yang lalu. Chloe menjalani harinya dengan ceria bersama Aoi seolah tidak ada sinyal berbahaya yang akan menghampiri mereka di masa depan.
Membuang jauh-jauh kesedihannya demi masa depan. Bertarung dengan diri sendiri. Menyimpan kisah orang lain tanpa membagikan kisahnya. Semua itu Chloe genggam sekuat mungkin.
Sampai Aoi datang dan membantunya mengurangi satu persatu rasa sakitnya dan menjadi sandaran gadis itu dikalahkan dirinya melara.
"Aoi... Kau dimana? Kenapa kau main hilang gitu aja? Masih banyak cerita yang mau kuceritakan hari ini... Aku... Aku sedih... Aku sedih hari ini." Chloe terus membatin seiring langkahnya menjauhi kota yang berisik itu.
Suhu di sekitar yang semakin menurun. Lampu jalan yang kian memudar. Suara kesibukan kota yang samar. Kini, Chloe telah mencapai level dimana dirinya berada di wilayah yang sunyi dan sepi.
Dunia yang diperlihatkan jauh berbeda dari sebelumnya. Lebih menenangkan dan dingin. Di depannya, bertebar pohon-pohon liar tanpa nama yang tertutupi oleh salju. Disana gelap. Tidak ada yang menjamin keselamatan bagi mereka yang memasuki area berbahaya tersebut. Tidak ada pula yang berani membawa tubuh mereka kesana.
Chloe dengan nafas yang tersengal itu memaku satu menit pandangannya ke arah hutan yang gelap itu. Terlintas di benaknya sosok Aoi.
"Dia gak mungkin kabur. Pasti ada alasannya." Ujar Chloe yang pada akhirnya menyerah untuk berdiri dan memilih untuk duduk.
Teringat akan ranselnya, tanpa pikir panjang langsung ia bongkar. Item pertama yang ia temukan ialah, kertas komik Aoi.
"Pepohonan yang tumbuh secara acak..." diktenya. Tulisan yang sebelumnya telah ia baca setiba dirinya di dalam kamar tidur Aoi. Tulisan yang menurutnya bisa dijadikan sebagai petunjuk.
"Eh?! Apa jangan-jangan... Aoi menyimpan pesan untukku? Pohon yang tumbuh acak..." Chloe mengangkat pandangannya ke hutan yang gelap dan tak teramat itu.
Yep! Sesuatu tertancap langsung mengenai otaknya. Secara otomatis, muncullah petunjuk baru dari dalam kepalanya maupun dari kertas tersebut. Kemudian Chloe satukan hingga menjadi keberanian.
"Hutan? Lalu... Di bawah minum 20... Apa maksudmu.. Aku bisa...".
Sebuah teka teki berhasil Chloe pecahkan. Memang terasa mudah jika ia menyadarinya. Hutan yang masih berdiri kokoh itu sepertinya menantikan dentuman kecil dari sepatunya.
Entah bahaya apa yang menghampirinya ketika ia memasuki hutan tersebut.
__ADS_1
"Aku harus membuat rencana!"
~