
“Rasakan ini!” seru Jacqueline seraya mencakar kepala naga Alter
dengan cakaran Devil Mask. Disusul dengan Megawave yang membuka sepuluh portal
dan membiarkan petir-petir dari dunia nyata menyambar Alter.
“Eh? Itu petir dari mana, Meg?” tanya Jacqueline menyadari
latar belakang di dalam portal milik Megawave terasa sangat familiar baginya.
“Dunia kalian,” balas Megawave singkat.
“Woah! Keren juga kekuatanmu! Kalau begitu, boleh nggak
beliin cola…”
Saat Aoi berbicara, Megawave dengan cepat melayangkan
tatapan dingin kea rah pria Jepan itu. Seketika, Aoi membeku dan terdiam.
Memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya ketimbang berkonflik dengan
Megawave.
Alter yang tengah mengamuk itu terus menerus menyemburkan
api lewat paruhnya. Juga, terdapat lingkaran sihir besar di atas punggungnya
yang menjadi senjatanya untuk mengeluarkan ribuan api tanpa akhir.
“Sumpah, dari semua Aura, aku paling benci melawan Alter,”
ujar Megawave. Aura bertopeng visor itu mengeluarkan canon-nya karena berpikir
kalau portalnya tadi tidak mampu menumbangkan Alter. Mengingat wujudnya yang
saat ini adalah naga, besar kemungkinan waktu pertarungan mereka bisa berjalan
sampai tiga jam lebih. Pertarungan non-stop yang sangat Megawave benci karena
dirinya tidak memiliki ruang untuk beristirahat.
Alter menghentakkan kaki depannya bersamaan dengan ekornya
yang berputar mengarah ke Megawave dan kedua pasangan itu.
Menyadari sinyal bahaya tersebut, Megawave cepat-cepat
membuka portal raksasa di depan mereka sehingga, ekor Alter yang tadinya hendak
menyerang mereka jadi menyerang pohon kelapa di pantai.
“Meg, portalnya ditutup aja!” usul Aoi dengan suara lantang.
Megawave mengangguk, setelah itu menutup portalnya dan
membiarkan ekor Alter terjebak disana. Tak lupa dengan canon yang sudah ia
siapkan, Megawave tanpa pikir panjang langsung menarik pelatuknya dan
tembakannya tersebut berhasil melukai leher naga Alter.
Alter terkejut bukan main sambil meringis menahan sakit.
Bola api dari lingkaran sihir di atas punggungnya ia perbanyak. Kali ini,
levelnya ia tingkatkan menjadi bola api yang dibaluti dengan larva dari gunung
berapi. Tidak terbayang seberapa panasnya tempat itu. Jacqueline dan Aoi sampai
bercucuran deras keringat mereka.
“Panas banget…” keluh Aoi. Kedua matanya merasa silau
memandang ribuan api yang tak lama lagi akan menghantam tanah mereka.
Untunglah, Megawave masih memiliki banyak cara untuk
menetralisir serangan Alter. Jika api kelemahannya adalah sesuatu yang dingin
atau cair maka, Megawave akan menggunakan badai salju untuk memadamkan ribuan
bola api tersebut. Tak peduli dari mana asal badai tersebut, yang terpenting
adalah keselamatan kedua remaja ini.
__ADS_1
Megawave sudah berjanji pada dirinya untuk melakukan apapun
yang menurutnya benar baginya. Meskipun sakit melihat temannya mati, Megawave
bagaimanapun caranya harus bangkit demi menghidupkan kembali dunia mereka yang
mati akan kekosongan. Dia yakin, perubahan itu pasti ada di dalam diri setiap
orang. Bahkan Megaville yang anggotanya tidak mengenal belas kasih dan senang
menyakiti Aura lain itu pasti ada kemungkinan akan berubah. Ya, seperti saat
ini dimana Megawave melihat Black Aura memiliki banyak teman dari dunia
manusia.
“Kalian berpeganganlah denganku!” perintah Megawave pada Jacqueline
dan Aoi.
Kedua remaja itu mengangguk mantap lalu berpegangan erat
pada tiga tentakel yang Megawave berikan pada mereka. Badainya kuat sekali.
Kaki Aoi nyaris saja terangkat dibuatnya.
Jacqueline mendengus geli pada Aoi, “Makanya, jadi cowok tuh
yang kekar dikit napa? Seenggaknya delapan roti aja udah cukup.”
“Apa? Cukup kau bilang? Prosesnya HEY!” sambar Aoi tak lama
kemudian ikut tertawa
Di lain sisi, Alter semakin sulit bergerak lantaran ekornya
yang tersangkut di salah satu portal Megawave dan badai salju yang mengganggu
penglihatannya. Alter mengibas berulang kali sayapnya agar badai salju tersebut
menghilang dari wilayahnya. Tapi sayang, portal Megawave yang menghubungkan
dunia manusia dengan Carnater masih terbuka. Alhasil, badai salju itu tak akan
“Dingin…” gumam Alter. Tidak tahan dengan suhu rendah yang
ekstrim tersebut, Alter membaluti seluruh tubuh naganya dengan api. Ditambah
lagi dengan lingkaran sihir yang masih melayang di atas punggungnya. Kini
lingkaran itu mengeluarkan ribuan panah larva.
Megawave tersenyum menyeringai, “Bodoh. Mau sebanyak apapun
api yang kau keluarkan, badai inilah pemenangnya!” katanya penuh percaya diri.
Aoi dan Jacqueline ikut tersenyum sombong karena merasa
lebih unggul dari Alter. Padahal aslinya, mereka sama sekali tidak berbuat
apa-apa kecuali menyerang. Itupun hana sebentar.
“Begitu ya?” Alter akhirnya merespon. “Kalau api bisa padam,
bagaimana kalau cahaya?” tanyanya. Setelah itu, di tengah salju itu, muncullah
sesosok Aura dengan pedang yang menyala di dalam tebalnya badai salju.
Aura bertelinga kucing yang sekilas terlihat mirip dengan
Shizukana Aoi. Tangan kanannya terangkat ke atas dengan telapaknya yang terbuka
lebar. Di atas telapak tangan tersebut terdapat lima belas bola cahaya.
“Ma-matahari?!” Aoi dan Jacqueline membeku begitu
mendapatkan tambahan musuh yang merupakan anggota dari kelompok Yui itu
sendiri.
Megawave hanya diam sambil menyusun rencana lagi dalam kepalanya.
Sosok Aura yang membantu Alter kali ini tak lain adalah abang kandung dari Aoi
Shizukana. Ace namanya. Memiliki kemampuan yaitu memanipulasi tenaga nuklir dan
__ADS_1
Ace merupakan Aura yang skuat jika dia tidak malas.
Selain kehadiran Ace yang mengejutkan Megawave, masih ada
satu hal lagi yang mengganggu pikirannya. Benar atau tidak, dunia nyata masih
menyimpan banyak misteri menurut Megawave. Sejak Afra teman manusia
satu-satunya dipindah ke dunia nyata oleh Midnight, Megawave sudah tidak lagi
mendapatkan kabar apapun dari Afra.
Kalau dulu Afra selalu datang menghampirinya dan meminta
solusi, kali ini, Afra tidak lagi bisa mengetuk dan memanggil namanya.
“Sebenarnya, ada apa dengan Yui?” gumam Megawave penasaran.
Yui adalah sahabat Afra. Di dunia nyata mereka berteman baik. Sementara di
Carnater, diri lain mereka merupakan musuh. Meskipun musuh, diri Afra yang lain
selalu berusaha untuk berteman dengan Yui di dunia Carnater.
“Megawave! Kita harus apa?” tanya Aoi dengan nada tinggi.
Megawave tersentak dan langsung mengalihkan perhatiannya ke
Aoi. “Hmm… Sebentar…”
Cih! Bukan saatnya bilang ‘sebentar! Gerutu
Megawave dalam hati.
“Aoi! Jacqueline! Ikuti aba-abaku!” seru Megawave usai
menyusun matang rencana di kepalanya.
Aoi dan Jacqueline mengangguk secara bersamaan.
Ace yang sudah siap bertarung itu, tanpa pikir panjang
melempar lima belas bola cahaya berukuran raksasa kea rah Aoi dan Jacqueline.
Tak hanya bola, Ace juga menyiapkan puluhan panah dengan ujungnya yang
mengeluarkan cahaya yang bisa saja menyilaukan mata lawannya.
“Aoi, Jacqueline! Lompat ke belakang!” perintah Megawave
bersamaan dengan Aoi dan Jacqueline yang melompat sesuai yang Megawave
perintahkan pada mereka. Saat melompat ke belakang, Megawave membuka portal
menuju tempat di mana Midnight dan kedua youtuber itu berjalan.
“Lho, kalian? Kenapa basah kuyup begitu?” tanya Midnight
agak terkejut mendapati kehadairan Aoi dan Jacqueline yang muncul tiba-tiba.
“Ah! Bukan itu yang harus kita bahas Midnight! Pokoknya,
kita semua dalam bahaya!” Aoi juga tidak lupa menunjukkan foto Alter yang
berubah menjadi naga. Dia memotretnya saat Megawave tengah menghajar Alter
dengan sengit.
“La-lalu, Chloe dan Aura?” tanya Okka khawatir.
“Mereka… Mungkin disini?”
Seketika, semua atensi mereka mengarah ke gedung
terbengkalai yang berdiri tepat di samping mereka. Tanah luas dengan rerumputan
yang basah, bau lembab yang menguar mengincar hidung mereka, dan gesekan pedang
dari dalam gedung itu membuat mereka semakin yakin akan omongan Aoi sebelumnya.
Midnight tersenyum menyeringai. “Oke! Kalian semua, ikuti
rencanaku ya!”
~
__ADS_1