Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 154 {Season 2: Api dan Matahari}


__ADS_3

“Rasakan ini!” seru Jacqueline seraya mencakar kepala naga Alter


dengan cakaran Devil Mask. Disusul dengan Megawave yang membuka sepuluh portal


dan membiarkan petir-petir dari dunia nyata menyambar Alter.


“Eh? Itu petir dari mana, Meg?” tanya Jacqueline menyadari


latar belakang di dalam portal milik Megawave terasa sangat familiar baginya.


“Dunia kalian,” balas Megawave singkat.


“Woah! Keren juga kekuatanmu! Kalau begitu, boleh nggak


beliin cola…”


Saat Aoi berbicara, Megawave dengan cepat melayangkan


tatapan dingin kea rah pria Jepan itu. Seketika, Aoi membeku dan terdiam.


Memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya ketimbang berkonflik dengan


Megawave.


Alter yang tengah mengamuk itu terus menerus menyemburkan


api lewat paruhnya. Juga, terdapat lingkaran sihir besar di atas punggungnya


yang menjadi senjatanya untuk mengeluarkan ribuan api tanpa akhir.


“Sumpah, dari semua Aura, aku paling benci melawan Alter,”


ujar Megawave. Aura bertopeng visor itu mengeluarkan canon-nya karena berpikir


kalau portalnya tadi tidak mampu menumbangkan Alter. Mengingat wujudnya yang


saat ini adalah naga, besar kemungkinan waktu pertarungan mereka bisa berjalan


sampai tiga jam lebih. Pertarungan non-stop yang sangat Megawave benci karena


dirinya tidak memiliki ruang untuk beristirahat.


Alter menghentakkan kaki depannya bersamaan dengan ekornya


yang berputar mengarah ke Megawave dan kedua pasangan itu.


Menyadari sinyal bahaya tersebut, Megawave cepat-cepat


membuka portal raksasa di depan mereka sehingga, ekor Alter yang tadinya hendak


menyerang mereka jadi menyerang pohon kelapa di pantai.


“Meg, portalnya ditutup aja!” usul Aoi dengan suara lantang.


Megawave mengangguk, setelah itu menutup portalnya dan


membiarkan ekor Alter terjebak disana. Tak lupa dengan canon yang sudah ia


siapkan, Megawave tanpa pikir panjang langsung menarik pelatuknya dan


tembakannya tersebut berhasil melukai leher naga Alter.


Alter terkejut bukan main sambil meringis menahan sakit.


Bola api dari lingkaran sihir di atas punggungnya ia perbanyak. Kali ini,


levelnya ia tingkatkan menjadi bola api yang dibaluti dengan larva dari gunung


berapi. Tidak terbayang seberapa panasnya tempat itu. Jacqueline dan Aoi sampai


bercucuran deras keringat mereka.


“Panas banget…” keluh Aoi. Kedua matanya merasa silau


memandang ribuan api yang tak lama lagi akan menghantam tanah mereka.


Untunglah, Megawave masih memiliki banyak cara untuk


menetralisir serangan Alter. Jika api kelemahannya adalah sesuatu yang dingin


atau cair maka, Megawave akan menggunakan badai salju untuk memadamkan ribuan


bola api tersebut. Tak peduli dari mana asal badai tersebut, yang terpenting


adalah keselamatan kedua remaja ini.

__ADS_1


Megawave sudah berjanji pada dirinya untuk melakukan apapun


yang menurutnya benar baginya. Meskipun sakit melihat temannya mati, Megawave


bagaimanapun caranya harus bangkit demi menghidupkan kembali dunia mereka yang


mati akan kekosongan. Dia yakin, perubahan itu pasti ada di dalam diri setiap


orang. Bahkan Megaville yang anggotanya tidak mengenal belas kasih dan senang


menyakiti Aura lain itu pasti ada kemungkinan akan berubah. Ya, seperti saat


ini dimana Megawave melihat Black Aura memiliki banyak teman dari dunia


manusia.


“Kalian berpeganganlah denganku!” perintah Megawave pada Jacqueline


dan Aoi.


Kedua remaja itu mengangguk mantap lalu berpegangan erat


pada tiga tentakel yang Megawave berikan pada mereka. Badainya kuat sekali.


Kaki Aoi nyaris saja terangkat dibuatnya.


Jacqueline mendengus geli pada Aoi, “Makanya, jadi cowok tuh


yang kekar dikit napa? Seenggaknya delapan roti aja udah cukup.”


“Apa? Cukup kau bilang? Prosesnya HEY!” sambar Aoi tak lama


kemudian ikut tertawa


Di lain sisi, Alter semakin sulit bergerak lantaran ekornya


yang tersangkut di salah satu portal Megawave dan badai salju yang mengganggu


penglihatannya. Alter mengibas berulang kali sayapnya agar badai salju tersebut


menghilang dari wilayahnya. Tapi sayang, portal Megawave yang menghubungkan


dunia manusia dengan Carnater masih terbuka. Alhasil, badai salju itu tak akan


“Dingin…” gumam Alter. Tidak tahan dengan suhu rendah yang


ekstrim tersebut, Alter membaluti seluruh tubuh naganya dengan api. Ditambah


lagi dengan lingkaran sihir yang masih melayang di atas punggungnya. Kini


lingkaran itu mengeluarkan ribuan panah larva.


Megawave tersenyum menyeringai, “Bodoh. Mau sebanyak apapun


api yang kau keluarkan, badai inilah pemenangnya!” katanya penuh percaya diri.


Aoi dan Jacqueline ikut tersenyum sombong karena merasa


lebih unggul dari Alter. Padahal aslinya, mereka sama sekali tidak berbuat


apa-apa kecuali menyerang. Itupun hana sebentar.


“Begitu ya?” Alter akhirnya merespon. “Kalau api bisa padam,


bagaimana kalau cahaya?” tanyanya. Setelah itu, di tengah salju itu, muncullah


sesosok Aura dengan pedang yang menyala di dalam tebalnya badai salju.


Aura bertelinga kucing yang sekilas terlihat mirip dengan


Shizukana Aoi. Tangan kanannya terangkat ke atas dengan telapaknya yang terbuka


lebar. Di atas telapak tangan tersebut terdapat lima belas bola cahaya.


“Ma-matahari?!” Aoi dan Jacqueline membeku begitu


mendapatkan tambahan musuh yang merupakan anggota dari kelompok Yui itu


sendiri.


Megawave hanya diam sambil menyusun rencana lagi dalam kepalanya.


Sosok Aura yang membantu Alter kali ini tak lain adalah abang kandung dari Aoi


Shizukana. Ace namanya. Memiliki kemampuan yaitu memanipulasi tenaga nuklir dan

__ADS_1


Ace merupakan Aura yang skuat jika dia tidak malas.


Selain kehadiran Ace yang mengejutkan Megawave, masih ada


satu hal lagi yang mengganggu pikirannya. Benar atau tidak, dunia nyata masih


menyimpan banyak misteri menurut Megawave. Sejak Afra teman manusia


satu-satunya dipindah ke dunia nyata oleh Midnight, Megawave sudah tidak lagi


mendapatkan kabar apapun dari Afra.


Kalau dulu Afra selalu datang menghampirinya dan meminta


solusi, kali ini, Afra tidak lagi bisa mengetuk dan memanggil namanya.


“Sebenarnya, ada apa dengan Yui?” gumam Megawave penasaran.


Yui adalah sahabat Afra. Di dunia nyata mereka berteman baik. Sementara di


Carnater, diri lain mereka merupakan musuh. Meskipun musuh, diri Afra yang lain


selalu berusaha untuk berteman dengan Yui di dunia Carnater.


“Megawave! Kita harus apa?” tanya Aoi dengan nada tinggi.


Megawave tersentak dan langsung mengalihkan perhatiannya ke


Aoi. “Hmm… Sebentar…”


Cih! Bukan saatnya bilang ‘sebentar! Gerutu


Megawave dalam hati.


“Aoi! Jacqueline! Ikuti aba-abaku!” seru Megawave usai


menyusun matang rencana di kepalanya.


Aoi dan Jacqueline mengangguk secara bersamaan.


Ace yang sudah siap bertarung itu, tanpa pikir panjang


melempar lima belas bola cahaya berukuran raksasa kea rah Aoi dan Jacqueline.


Tak hanya bola, Ace juga menyiapkan puluhan panah dengan ujungnya yang


mengeluarkan cahaya yang bisa saja menyilaukan mata lawannya.


“Aoi, Jacqueline! Lompat ke belakang!” perintah Megawave


bersamaan dengan Aoi dan Jacqueline yang melompat sesuai yang Megawave


perintahkan pada mereka. Saat melompat ke belakang, Megawave membuka portal


menuju tempat di mana Midnight dan kedua youtuber itu berjalan.


“Lho, kalian? Kenapa basah kuyup begitu?” tanya Midnight


agak terkejut mendapati kehadairan Aoi dan Jacqueline yang muncul tiba-tiba.


“Ah! Bukan itu yang harus kita bahas Midnight! Pokoknya,


kita semua dalam bahaya!” Aoi juga tidak lupa menunjukkan foto Alter yang


berubah menjadi naga. Dia memotretnya saat Megawave tengah menghajar Alter


dengan sengit.


“La-lalu, Chloe dan Aura?” tanya Okka khawatir.


“Mereka… Mungkin disini?”


Seketika, semua atensi mereka mengarah ke gedung


terbengkalai yang berdiri tepat di samping mereka. Tanah luas dengan rerumputan


yang basah, bau lembab yang menguar mengincar hidung mereka, dan gesekan pedang


dari dalam gedung itu membuat mereka semakin yakin akan omongan Aoi sebelumnya.


Midnight tersenyum menyeringai. “Oke! Kalian semua, ikuti


rencanaku ya!”


~

__ADS_1


__ADS_2