Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 63


__ADS_3

“I-ini?” Devil Mask dan Yumi nyaris saja tersedak saat menerima ponsel Jacqueline yang menampilkan sebuah artikel yang tidak biasa.


“Nggak mungkin, kan?” Yumi melirik Devil Mask dengan tatapan ngeri.


“Hei, apa-apaan wajahmu itu? Kenapa mengarahnya padaku?” tanya Devil Mask heran.


Sedangkan Jacqueline, dia sibuk meresapi apa yang dibeberkan sang penulis lewat artikel tersebut. “Bisa-bisanya ya, ibu kalian masuk dalam artikel ini… Tapi, mungkin saja cewek ini memang kebetulan mirip dengan ibu


kalian.” Ujar Jacqueline.


“Nggak! Ini beneran ibu kami! Rambutnya, kacamatanya, dan… Ibu kami selalu tersenyum.” Sangkal Yumi segera.


“Hmm… Masa sih? Halah! Anggap aja, cewek ini orang lain. Kalau seandainya ibumu melihat artikel ini, dia pasti langsung menyangkal bahwa cewek yang ada di artikel itu bukan dia.”


“Penulisnya juga tidak diketahui. Tidak ada foto profilnya juga.” Devil Mask bergumam sembari mengembalikan ponsel Jacqueline pada


pemiliknya. “Tapi yang jelas, pasti ulah Yuuki. Aku jamin itu.”


“Iya! Ah, Jacqueline! Kita harus segera mengabarkannya pada Chloe. Aura juga harus tahu kalau ada artikel ini!” Yumi merampas kembali ponsel Jacqueline kemudian, mencari kontak Chloe dengan terburu-buru. Bisa


dilihat dengan jelas bayangan beberapa kontak yang bergeser cepat ke atas lewat


lensa kacamatanya.


Jacqueline menghela nafas dan mengambil ponselnya kembali. “Pemiliki ponsel ini masih hidup. Setidaknya, izin dulu!” cibirnya. Karena


kontak Chloe sudah ditemukan, Jacqueline tanpa pikir panjang menekan kontak


tersebut dan menelponnya.


~


Sementara itu, masih di dalam kamar Minji...


Chloe dan Rara menelengkan kepala mereka serempak. "Salju dan kebahagiaan? Apa artinya? Beritahu kami, Black Aura!" Pinta Chloe menyerah.


Black Aura terkekeh melihat kedua gadis itu yang sudah menyerah dengan pertanyaan yang ia ajuka beberapa menit yang lalu. Ya, sebelumnya, Black Aura menyuruh mereka untuk mengartikan apa makna dibalik 'salju dan kebahagiaan.' itu.


"Artinya... Yuki. Dalan bahasa jepang, nama Yuki bisa diartikan sebagai salju maupun kebahagiaan. Sampai disini harusnya kalian sudah paham." Jelas Black Aura.


"Wah, begitu ya! Jadi jawabannya Yuki!"


Bukannya panik, kedua gadis itu justru merasa senang dan puas mendengar jawaban dari Black Aura. Saking senangnya, sampai-sampai tidak menyadari ada suara ponsel yang berdering.


"Chloe... Ponselmu!" Tunjuk Black Aura datar.


Chloe terkejut dan dengan terburu-buru mengambil ponselnya dan menemukan nama Jacqueline tertera di layar.


Tanpa pikir panjang, Chloe langsung mengangkatnya.


"Halo?"


“*Oh, halo C*hloe? Kau di mana?” tanya Jacqueline tanpa basa-basi.


“Masih di rumah Minji. Ada apa Jacqueline?” Chloe menjawab dan balik bertanya.


“Buka media berita atau cari artikel hari ini di internet!”


“Hmm? Oke…”


Sambungan mereka terputus.


Sesuai yang diperintahkan Jacqueline, Chloe membuka ponselnya. Rara dan Black Aura teralihkan pandangannya dari surat ke layar


ponsel dimana ada puluhan artikel tertera di sana. Chloe mengkerutkan keningnya. Ada apa dengan hari ini, memangnya? Batinnya dalam hati.


“Tadi, Jacqueline menelponmu, ya?” tanya Black Aura menghampiri Chloe.


“Iya. Dia menyuruhku mencari artikel. Tapi, dia tidak memberitahuku mana artikel yang harus di buka.”


“Oh! Aku punya aplikasi khusus berita dan artikel hari ini. Pakai punyaku saja!” usul Rara.


“Oke. Bukalah!”


Dengan senang hati, Rara memainkan jari telunjuknya di atas layar ponselnya. Kedua matanya yang bulat itu dengan tajam membaca artikel yang tergeser cepat ke atas karena perbuatan jari telunjuknya.


“Eh? Mungkin maksud Jacqueline yang ini?” Rara menghentikan kegiatannya dan memperlihatkan layar ponselnya secara terang-terangan pada Chloe.


“Hmm? Restoran burger yang sedang mengadakan promo besar-besaran? Malam ini pukul Sembilan dimulai dan berakhir besok pukul Sembilan malam juga. Ajak keluarga, teman, saudara agar bisa menikmati lezatnya burger yang disajikan di bawah hujan salju yang menari dengan indahnya.” Chloe membaca


artikel itu secara lisan. Senyuman lebar terukir di wajahnya. “Wah! Maulah!”


“Ya, kan?! Black Aura! Kau ikut juga, ya!” timpal Rara melompat-lompat kegirangan bersama Chloe. Kedua gadis itu menari-nari dengan

__ADS_1


Aura positif mereka yang bertebaran.


Black Aura tidak merespon dan hanya memasang wajah tersenyum saja.


“Black Aura ikut ya! Kesempatan seperti ini jangan disia-siakan lho!” bujuk Rara. Sedangkan, Chloe mengangguk-angguk dengan wajah memelas.


“Hmm… Tapi…”


“Misi kita kan bisa dikerjakan siang ini. Malam ‘kan’ waktu yang tepat untuk istirahat. Makanya, sebaiknya kita bertiga pergi ke restoran itu! Benar ‘kan’, Chloe?”


“Yep! Ayolah, Black Aura! Aku jamin, kau pasti suka sama burger itu! Lebih enak daripada kentang goreng!”


Lagi-lagi… Dia seperti itu. Black Aura menundukkan kepalanya. Ada dua pilihan yang berotasi di pikirannya. Pilih ‘ya’ atau ‘tidak’.


Jika ‘ya’, maka dia akan mendatangi restoran itu dan bersenang-senang, sejenak


melupakan misinya mencari ibu dan Aoi.


Pilihan kedua adalah ‘tidak’. Jika dia memilih pilihan kedua, maka dia sama saja membuat Chloe kecewa untuk kedua kalinya. Padahal


saat itu dia sudah berjanji untuk membuat gadis itu selalu tersenyum.


Di saat bersamaan, ada sesuatu yang menjanggal di pikirannya. Tunggu… Kurasa, bukan berita itu yang Jacqueline maksud.


Jacqueline selalu diawasi Devil Mask. Jadi, pasti ada berita lain yang berhubungan dengan misi kami hari ini.


“Pinjam ponselmu, Chloe!”


“Heh? Untuk apa, Black Aura?”


“Berikan saja!”


“Oke… Kalau itu maumu…” Chloe merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya. Lalu, memberikannya pada Black Aura. “Kau mau buka apa?”


“Buka internet.”


“Eh? Maksudmu, kau mau mencari berita yang Jacqueline maksud itu? Kan, sudah.”


“Jacqueline bilang, bukanya di internet, kan?” ralat Black Aura datar.


“Benar juga, ya…”


Rara mengkerutkan keningnya. Berpikir bahwa Aura itu tampaknya tidak puas dengan hasil pencariannya menggunakan aplikasi berita. Rara pun menghampiri Black Aura yang tengah mencari berita itu.


Black Aura melirik Rara singkat. “Ya.” Menjawab pertanyaan Rara tanpa memperdulikan wajah Rara yang terluka.


Begitu sadar, Chloe segera menengahi mereka. “Ah, sudahlah… Meskipun kamu salah, kita tetap datang ke restoran itu kok.  Benar kan, Black Aura?”


Chloe meminta respon Black Aura sedikit memaksa sambil merangkul sahabatnya yang masih menunduk itu.


Black Aura terperanjat disertai tatapan tidak terima yang dibalas cepat dengan tatapan mengancam dari Chloe. Inilah yang paling tidak disukainya. Melihat Chloe yang lebih mengutamakan perasaan dan menelantarkan


hal-hal yang penting. Ya, Black Aura sudah menduganya kalau kehadiran Rara ini


memiliki pengaruh kuat dalam mempermainkan pikiran Chloe.


Black Aura diam-diam merasa sebal. Di saat bersamaan, dirinya selalu ingin membahagiakan gadis yang ia sukai. Sayangnya, gadis yang ia sukai itu juga memiliki keinginan yang sama. Yaitu, membuat sahabatnya juga ikut bahagia dan tersenyum bersamanya.


Black Aura tersenyum kecut. Entah tindakannya itu benar atau tidak? Entah berdampak baik atau tidak? Hal ini membuatnya lelah. Tampaknya, dia harus bertindak tegas pada Chloe sekaligus mempersiapkan dirinya


saat menghadapi raut murung dari Chloe.


Setelah sekian menit ia jeda dengan diam, Black Aura mengangkat kepalanya dan memberikan jawabannya.  “Ya, malam ini kita pergi ke restoran.” Walau dirinya tidak nyaman dengan apa yang sudah ia lontarkan barusan. “


Seketika senyuman lebar terukir sempurna di wajah kedua gadis itu. Seperti anak-anak, mereka berhigh five ria lalu, berterima


kasih pada Aura itu dengan memeluk erat tubuhnya.


“Apa-apaan ini?”


“Pelukan.” Jawab Chloe dan Rara serempak.


Black Aura menghela nafas lelah. Akhirnya, dia paham apa yang dirasakan Devil Mask. Susah.


Langit di luar jendela itu terlihat baik-baik saja. Salju yang berjatuhan itu menipis berbeda dengan malam. Black Aura memejamkan kedua


matanya. Membiarkan dirinya larut dalam kenyaman yang diberikan kedua sahabat


itu. Selama ini, tidak pernah sekalipun dia merasakan kehangatan yang lebih


hangat ketimbang secangkir teh dan kopi.


Kedua gadis ini bagiankan mentari yang melelehkan dinginnya malam. Ya, malam itu adalah dirinya. Meskipun hangat, Black Aura masih belum siap memberi mereka kehangatan. Karena, sejak awal, dirinya tidak bisa memberikan kehangatan apapun selain rasa sakit.

__ADS_1


 Dan hari ini, catat.  Dari kedua gadis inilah Black Aura belajar untuk merasakan dan mempelajari bagaimana cara berbagi kehangatan dengan orang-orang di sekitarnya.


~


“Hahahaha!” tawa jahat dari seorang wanita lepas dengan bebas ketika dirinya berhasil melukai seorang pria dengan katana hitamnya. Pria yang diserangnya tadi terlempar menabrak rak besar dengan luka goresan di dadanya.


Di bawah kolong meja, Aoi bersembunyi sambil menutup kedua telinganya. Dia tidak menyangka kalau Midnight akan berbuat yang berbanding terbalik dengan apa yang dkatakannya. Dan lagi, pria itu ternyat bukanlah


manusia. Dia adalah Dark Fire.


“Astaga… Malah lebih jahat Midnight daripada Dark Fire.” Gumam Aoi.


Bagaimana tidak? Setelah berhasil menipu Dark Fire yang menyamar sebagai pria perantau yang membutuhkan uang, Midnight meminta tolong padanya untuk ditemani ke rumah suaminya. Tapi tidak sangkanya, Dark Fire


dengan gampangnya tertipu. Rumah yang dimaksud Midnight adalah mansion besar


yang sudah lama terbengkalai. Yah, Baik Midnight maupun ketiga Aura itu pasti


memilih tempat sepi untuk bertarung. Mereka ogah menjadi tontonan orang-orang


di kota.


Kembali ke detik saat ini, dimana suasana gaduh bertebaran di dalam mansion. Beberapa barang hancur akibat serangan mereka berdua. Midnight dan Dark Fire. Aoi terngaga saat Midnight menghentikkan langkahnya di depan


mansion besar dengan membawa pemimpin Legend Aura. Saat itulah, wanita itu


mengeluarkan katananya dan melukai pria itu. Orang itu seketika berubah menjadi Dark Fire dan pertarungan sengit itupun terjadi sampai sekarang.


Midnight menghentikkan langkahnya untuk menarik nafas sebentar. Dia melirik meja tempat di mana Aoi bersembunyi speerti pengecut.


“Oi! Kau itu laki-laki! Kenapa malah bersembunyi?” tanyanya dengan suara keras.


Aoi menunjukkan dirinya dibalik kaki meja. Wajahnya terlihat pucat seperti tidak sarapan. “Hmm… Aku nggak punya senjata.” Ucap Aoi disertai cengiran lebar.


Midnight mendengus kemudian, tertawa. “Ooh! Kau butuh senjata ya! Menyedihkan sekali!”


Aoi terdiam dengan tatapan malasnya. Mentang-mentang sudah professional


dalam bertarung, wanita itu dengan santainya mengoloknya.


“Cih! Sebenarnya, aku bisa bertarung. Cuma, aku butuh senjata. Itu saja kok!” Aoi keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah


dengan tegas menghampiri Midnight. “Dan lagi, bukannya, kau tidak membawa senjata ya?”


Pertanyaan itu sukses membuat senyuman Midnight berubah menjadi hangat. “Pedang ini… Kau mau menggunakannya?”


“Yah, kalau kau tidak keberatan. Oh, ya! Aku merasa aneh dengan pedangmu. Padahal kau menebas Dark Fire tapi tidak terdengar suara


pedang yang menebas.”


“Ini…” Ketika Midnight hendak berbicara, beberapa bola api meluncur padanya. Dengan cepat, Midnight menyadari serangan yang ia anggap murahan itu dan menghindar sambil menarik kaos Aoi.


“Cih! Rupanya kau tidak sendirian.” seru Dark Fire yang sudah merasa pulih. Dia melayang di bawah langit-langit mansion dengan senyum


seringainya.


Aoi merinding melihat dua orang itu. Mereka sama-sama memamerkan senyuman mereka dan terlihat sangat kuat dan tangguh. Akan tetapi, Aoi lebih terpukau dengan Midnight. Padahal dia wanita tapi, cara bertarungnya


nyaris menyamai petarung hebat di dalam film aksi yang selalu ia tonton. Jika dibandingkan dengan Devil Mask dan Black Aura justru lebih hebat dan lincah wanita berkacamata bulat itu.


“Oh, jadi… Pelaku yang menulis artikel konyol itu Yuuki ya?” tanya Midnight. Wajahnya terlihat bersemangat.


“Seharusnya kau sudah tahu, kan?” Balas Dark Fire yang tak kalah bersemangatnya. Tangan kananya menggenggam palu raksasa yang sebelumnya pernah digunakan untuk menghajar Black Aura. Kini, palu itu ia gunakan untuk


memukul kedua manusia itu.


Dengan langkah cepat, Dark Fire menghampiri Midnight yang berdiri tak jauh dari Aoi sembari melayangkan palunya.


Di saat bersamaan, katana hitam Midnight berubah menjadi sepasang tangan yang langsung menahan permukaan palu itu.


“Oi, Aoi!” panggil Midnight di sela-sela menahan palu Dark Fire.


“Ya-ya?”


“Tadi kau bertanya ‘kenapa katanaku ini tidak menimbulkan suara, kan?”


“I-iya?”


Dark Fire menelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Midnight menyempatkan dirinya mengobrol dengan Aoi yang ketakutan melihat palu besar


itu.


“Rasa sakit yang dituangkan lewat tinta pena.” Ucap Midnight mantap.

__ADS_1


~


__ADS_2