Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 169 {Season 2: Rencana Aura}


__ADS_3

“Wah, berarti bentar lagi kita tinggal bikin ritual, abis tuh balik ke bumi? Yes! Bisa ketemu Devil Mask lagi!” sorak Jacqueline sambil melompat-lompat tak jelas. Sementara Midnight hanya memandang gadis itu dengan ekspresi herannya.


Omong-omong untuk posisi mereka saat ini berada di pantai Carnater. Yah, meski keadaan di kota Carnater berantakan layaknya kapal pecah, pantainya sungguh di luar dugaan sangat bersih dari sampah. Pantainya masih terjaga alamnya dan lautannya. Ombaknya tenang dan cuaca saat itu tidak begitu panas.


“Satu, dua, Tiga!!!”


Okka, Kenzo, dan Jacqueline berlari menghampiri laut, kemudian mencebur diri mereka ke sana. Ketiga remaja itu kelihatan sangat-sangat menikmati liburan hasil musyawarah mereka semalam. Berbeda dengan Aoi yang memilih untuk minum kelapa sambil menikmati pemandangan indah yang disajikan pantai itu padanya. Dia akui, pantai di dunia fantasi tak kalah hebatnya dengan pantai di dunianya. Sayangnya, karena semua Aura di Carnater tewas atau sudah mati, jadi pantai itu hanya mereka-mereka saja yang mendatanginya.


“Aoi, kau nggak gabung?” tanya Chloe yang saat itu tengah menaruh beberapa gelas berisikan air kepala. Buatannya dan Midnight.


Aoi tersenyum seperti biasanya. Lalu, menggelengkan kepalanya pelan. “Kau tahu kan? Kalau aku ini alergi air laut.”


“Oh, benar juga! Hahaha, bahkan udah segede ini kau masih alergi yah? Kukira udah nggak lagi, Ao,” Chloe tertawa. Entah apa yang lucu menurut Aoi, tapi yang jelas, begitulah humor sahabatnya. Saking rendahnya bahkan melihat semut berbicara dengan koloninya saja Chloe sampai terbahak-bahak melihatnya. Memang humornya agak berbeda dari Jacqueline.


“Omong-omong, gimana sama Aura? Lancar-lancar aja kan?” tanya Aoi. Belakangan ini, dia mengkhawatirkan Chloe meskipun dia sudah memiliki Jacqueline yang sepatutnya menjadi orang yang paling dia khawatirkan.


“Baik-baik aja kok. Kenapa memangnya?”


“Nggak papa. Cuma terlintas aja kalau kita udah nggak sedekat dulu lagi,” ungkap Aoi diakhiri dengan senyuman tipisnya.


“Iya juga ya! Kita udah pasangan masing-masing sih. Yah, bagaimanapun juga, kalian jangan lupa sama aku ya! Kita ini udah sahabatan dari SMA. Kalau udah nikah nanti, jangan lupa undang aku!” balas Chloe dengan beberapa helai rambutnya bergoyang-goyang tertiup lembut oleh sang angin.


Aoi menghela pelan. Duduk berdua dengan Chloe saja sudah membuat hatinya tenang. Sebenarnya, dia mengetahui kalau dulu Chloe pernah menaruh suka pada dirinya semasa SMA bahkan sampai mereka kuliah di Amerika. Karena perasaan Aoi sudah sepenuhnya untuk Jacqueline, Aoi mau tak mau memperlihatkan pad Chloe secara terang-terangan soal status mereka.  Tapi syukurlah, Chloe juga menemukan pasangan yang bisa membuat gadis itu tersenyum setiap hari.


Mengetahui ada orang lain yang bisa menjaga kepercayaan Chloe saja sudah cukup membuat Aoi senang. Kekhawatirannya tak lagi mengusik benaknya.


“Jangan khawatir. Mau sampai kapan pun, kau adalah sahabatku. Aku pasti akan mengundangmu dan Black Aura,” ucap Aoi mantap.

__ADS_1


Suara cipratan air menyadarkan Chloe akan sesuatu yang seharusnya berada di sampingnya. Chloe melirik kesana-kemari mencari seseorang.


“Aneh, Aura kemana ya? Dari tadi, aku nggak ada Nampak dia. Kau ada melihat dia nggak, Ao?”


“Nggak tuh. Memangnya kau sendirian sejak pagi tadi?”


“Sama Midnight. Dari jam tujuh sampai Sembilan ini, aku sama Midnight terus,”


Merasa panik, Chloe terpaksa meninggalkan nampan berisikan lima gelas air kelapa. Gadis itu meminta tolong pada Aoi untuk menjaga minuman tersebut sampai semuanya tiba di pantai.


Saat suara ombak pecah usai menghantam batu karang, langkah Chloe saat itu juga terhenti. Kedua matanya terpaku lurus pada sosok remaja berambut violet yang berdiri tak jauh di depannya sambil membawa pot berisikan bunga veronica. Remaja itu tersenyum setelah beberapa menit memasang wajah datarnya pada Chloe.


Akhirnya, sesuatu yang hilang dari Chloe itu dengan cepat ia temukan. Chloe terkekeh, kemudian melangkah menghampiri Black Aura. Penampilan Aura itu berbeda sekali hari ini.


“Ehem, aku suka penampilanmu hari ini,” puji Chloe mengamati Black Aura dari puncak kepala sampai ujung sepatu bootnya.


“Ma-makasih…” balas Black Aura setelah itu memalingkan wajahnya ke belakang.


“Hm? Kenapa? Kau malu ya?” goda Chloe. Wajah gadis itu semakin mendekat memandang wajah Black Aura yang memanas.


“Bu-bukan…! Aku Cuma kepanasan aja. Cuaca hari ini panas sekali,” ucap Black Aura berbohong.


“Nggak panas kok. Malah sejuk. Di sini banyak angin yang bertiupan juga. Sudahlah! Akui saja kalau kau memang malu. Tapi, jujur ya, kau ganteng banget hari ini,” tukas Chloe sambil berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rona merahnya. Bisa bahaya kalau sampai ketahuan oleh Black Aura. Aura itu kalau sudah jahil, jailnya keterlaluan. Satu senyumannya saja bisa menggetarkan bahkan sampai membuat irama jantungnya tak beraturan layaknya gempa. Apalagi aksi jahilnya yang terkesan menggoda itu.


“Bunga ini?” Chloe melirik ke pot bunga veronica yang Black Aura bawa. Tidak ada maksud apa-apa kok, Chloe hanya tidak ingin keberadaan bunga ini diabaikan. Itu saja.


“Ah, gimana ya? Aku ini memang agak susah berbicara. Karena itulah, aku Cuma mau bilang Chloe itu sama seperti bunga yang kubawa,” tutur Black Aura.

__ADS_1


“Ooh… Maksudmu, aku cantik?” goda Chloe yang otomatis membuat Black Aura salah tingkah. “Hahaha, maaf-maaf. Tapi, terima kasih ya! Mau bilang cantik aja sampai repot-repot bawa pot bunga. Kau ini lucu ya!”


Black Aura terkekeh menanggapinya. “Abisnya, Cuma itu yang bisa kulakukan untukmu.”


Di tengah asyiknya bercanda gurau, seseorang memanggil nama Chloe. Suara seorang pria yang otomatis mengalihkan perhatian kedua remaja itu.


“Ah, MORGAN!” jerit Chloe, otomatis berlari menghampiri pria itu dan menyapanya. Mungkin, karena sudah lama tidak bertemu, antusiasme Chloe yang sudah berada di puncaknya meledak hingga membuat gadis itu berlari dengan semangat menghampiri Morgan.


“Hai! Gimana kabarmu?” tanya Morgan.


“Baik! Baik banget! Kau sendiri? Oh, ya? Bagaimana bisa kau kesini?” tanya Chloe tanpa koma. Tapi tidak bisa menutup antusiasmenya.


“Baik kok. Cuma luka aja…” balas Ethan seadanya. Sambil memasang senyuman lebar di wajahnya.


“Luka? Karena pertarungan kemarin kah? Ngomong-ngomong, soal namamu…”


“Panggil aja sesukamu,”


Di kejauhan, Black Aura hanya memandang Chloe dan Ethan dengan tatapan tidak senang. Lagi-lagi, cemburu menguasainya. Entah apa lagi yang harus ia lakukan agar Chloe tidak mudah terpengaruh oleh satu kata manis yang keluar dari mulut Ethan.


Black Aura berdecak sebal. Hari ini liburan yang artinya tidak ada pertarungan ataupun kesibukan. Midnight dan yang lainnya saat ini pasti sedang bersenang-senang dengan cara mereka masing-masing. dan Black Aura, ingin sekali bersenang-senang dengan orang yang sangat ia cintai itu. Sayangnya, ada pria lain yang mengganggu waktu luangnya tersebut dan sadar atau tidak telah merebut kekasihnya.


Seandainya Ethan adalah Aura, mungkin sudah lama ia habisi pria itu. Karena spesiesnya manusia saja, Black Aura terpaksa harus menahan sisi sadisnya sampai dirinya menemukan cara agar bisa membawa Chloe kembali bersamanya.


Hari ini, Black Aura pastikan dirinya akan bersenang-senang dengan Chloe. Dia tidak akan kabur seperti yang dia lakukan dua bulan yang lalu, melainkan mengukir kenangan manis yang akan ia ingat di masa yang akan datang nanti.


~

__ADS_1


__ADS_2