Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 209 {Season 3: Yira}


__ADS_3

Suasana café itu memang ramai, dipenuhi oleh kelompok remaja, pasangan yang sedang berkencan, dan beberapa orang dewasa lainnya. Tapi, ketenangan dan aroma makanan yang disajikan café itu masih sama. Dari awal dirinya makan bersama Chloe disini sampai akhirnya dirinya kehilangan Chloe.


Black Aura meneguk pelan cappucino yang dia pesan. Black Aura sedikit bersyukur karena Yira mau mentraktir dia.


“Jadi, ini café yang sering kamu datangi bersama pacarmu, ya?” tanya Yira.


Black Aura mengangguk pelan. Tidak ada respon dalam bentuk kata-kata yang bisa diutarakannya pada Yira. Sebenarnya, Black Aura penasaran. Dari mana Yira bisa tahu bahwa Chloe menghilang tiba-tiba. Ingin mencurigai gadis itu rasanya aneh. Karena Yira datang padanya tak Cuma memberitahu semua pertanyaan yang terlintas di kepalanya, dia juga menawarkan bantuannya dan juga memberitahukan semua pengamatan serta informasi yang dia dapatkan dari kenalannya.


Informasi itu hampir semuanya tentang Aura, orang-orang yang menghilang tanpa jejak dan bangunan yang hancur dengan sendirinya.


“Pasti kau merasa kehilangan, bukan?” tambah Yira lalu mengunyah kentang goreng pesanannya.


“Bisa dibilang begitu.”


“Hm? Oh, ayolah! Jangan canggung amat sama aku! Aku ini orangnya santai kok. Meskipun aku sebenarnya nggak suka berinteraksi dengan orang lain,” lirih Yira diakhir kalimat.


“Kau nggak suka berinteraksi dengan orang lain tapi kau mau berbicara denganku,” Black Aura meletakkan cangkir kopinya lalu, melirik tajam ke arah Yira.


Yira terkekeh meskipun dia selalu mendapatkan raut tak menyenangkan dari Black Aura. “Kau benar, tapi… Kau itu makhluk fantasi. Jadi, ini kesempatan bagiku. Aku yakin, orang sepertimu pasti punya banyak musuh.”


Seperti biasanya, jika dirinya tak tertarik dengan topic yang orang lain bicarakan padanya, maka tidak akan ada respon untuk orang tersebut.


Black Aura bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Yira seorang diri di dalam café. Tak peduli sakit tidaknya perasaan gadis itu, tujuan Black Aura mencari Chloe adalah prioritas utamanya.


Black Aura mendorong pintu café itu dan keluar. Dia mengeluarkan sepucuk surat yang menjadi petunjuk untuk menemukan Chloe.


“Pertama-tama, aku harus pergi ke hutan. Setelah itu…”


“Pergi ke hutan selama musim gugur ini masih ada. Tunggu apalagi? Ayo, kita pergi!” sambar Yira entah sejak kapan dirinya berada di samping Black Aura yang terlihat biasa saja mendapati kehadiran Yira.


“Kau mau mati?” tanya Black Aura datar.


“Nggak.”

__ADS_1


“Terus?”


“Mau berpetualang!” serunya bersemangat.


Black Aura mematung heran memandang sosok Yira yang saat ini menggendong tas besar yang tampaknya penuh akan barang-barang berat.


“Ayolah! Aku udah susah payah nih, kemas barangku ke dalam tas. Aku nggak mau pulang. Aku mau berpetualang. Di rumah bosan tau!” bebernya memalingkan wajahnya kea rah lain.


Black Aura masih diam di tempat. Bingung apakah dirinya harus menerima Yira untuk ikut bersamanya atau membiarkan gadis ini di depan café. Kalaupun dibiarkan, gadis itu tetap akan mengikutinya.


“Terserahmu. Tapi, aku nggak bisa jamin saat pulang nanti kau masih hidup atau nggak,” ujar Black Aura setelah itu melanjutkan langkahnya.


Yira tertawa kecil mendengar omongan Black Aura tadi, “Kalaupun mati, aku yakin kau nggak bakal membiarkan aku mati gitu aja. Kau yang sekarang kan udah punya hati.”


Cih!


“Oh, ya… Kau yang sekarang ‘manusia’, kan?”


“Aku tahu semuanya dari mimpiku. Nggak Cuma perang tapi juga ada Chloe disana,”


Yira menatap Black Aura tajam. “Aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Aku juga nggak mau terlibat denganmu. Akan tetapi, setelah seminggu lebih aku dihantui oleh mimpi tentang kalian… Aku rasa, aku harus masuk ke dalam cerita kalian. Suka nggak suka, kalian mau tak mau harus menerimaku. Mungkin mimpiku ini bisa menjadi petunjuk menemukan pacarmu dan juga… Membuatmu kembali menjadi Aura.”


Deg!


Black Aura membeku seketika. Padahal, Yira hanya gadis biasa akan tetapi, mengetahui dia tentang Aura dan semua petualangan yang pernah ia lalui bersama Chloe di dunia nyata hampir semuanya dia tahu.


Dalam kondisi panik ini, Black Aura hanya bisa diam. Dia tak berani menyangkal ucapan gadis berkacamata kotak tersebut. Yah, meskipun pikirannya dan hatinya sulit menerima semua yang dikatakan Yira. Namun, jiwanya justru sebaliknya. Jiwanya kali ini malah berpihak pada Yira yang sudah tentu bukan siapa-siapanya tersebut.


Bahkan, seumur hidupnya juga, Carmine tidak pernah berkenalan dengan gadis bernama Yira.


“Terserah mau kau percaya atau tidak. Yang jelas, Midnight dan Chloe hilang. Lalu, pria bertopeng kucing itu saat ini sibuk mencari Elena. Yumi sibuk mengawasi Yuuki yang berada di rumah sakit. Nggak perlu kau bilang insiden ini pun mereka cepat atau lambat akan segera tahu,” jelas Yira panjang lebar. Tatapan yang diarahkan pada Black Aura benar-benar serius seolah gadis itu telah membaca semua masa depan semua orang seorang diri.


Yira tersenyum, “Karena itu… Tolong terima aku ya! Bukan sebagai teman atau partner. Tapi, membiarkanku terlibat.”

__ADS_1


“Kalau aku nggak bisa melindungimu dan kau mati, bagaimana?” tanya Black Aura. Depannya saja dia terlihat dingin. Namun nyatanya, sisinya yang terdalam sebenarnya tak ingin membiarkan kematian itu menghampiri Yira. Sama halnya dengan perasaan dimana dirinya menolak melihat orang-orang yang tak bersalah itu mati.


“Nggak papa kok. Lagi pula, aku mati pun nggak bakal ada yang sadar kok. Dari pada mengurung diri, aku mending membantu kalian. Aku punya sesuatu yang menarik yang mungkin bisa membantu kalian. Karena itulah, mohon kerjasamanya!” ucap Yira kali ini diakhiri dengan senyuman lebar yang persis-persis sekali dengan senyuman yang Chloe sunggingkan padanya. Senyuman tulus tanpa beban. Senyuman yang hanya akan muncul jika orang tersebut memang dari hati ingin membantu dan menyenangkan orang lain.


Setelah beberapa menit Black Aura mendengarkan semua omongan Yira, entah kenapa, hati dan perasaannya tersentuh dan ingin membiarkan Yira masuk ke dalam cerita petualangannya. Meskipun sejatinya Black Aura takut kehilangan Chloe lantaran ada perempuan lain yang menurutnya ingin menyaingi Chloe dari cerita hidupnya, tetap saja, demi kebaikan mereka semua, Black Aura harus memanfaatkan segala cara agar ketenangan yang dia impikan itu terwujud.


“Baiklah, kau boleh ikut,” ujar Black Aura singkat setelah semua omongan, rentetan kalimat panjang yang Yira utarakan dengan penuh penghayatan padanya.


“Seriusan? Yes! Jadi kita mau kemana dulu?”


“Ke hutan.”


“Wah, seru tuh! Eh, gimana kalau kita berdua selfie dulu?”


“Sadar diri dong,”


“Ahahaha! Sorry… Aku kan Cuma bercanda. Oh, ya! Kau tahu yang namanya Ghost Wave? Kalau nggak salah ingat, di mimpiku hari senin, dia muncul. Senjata yang dia bawa itu sabit…”


Ketika Yira dengan santainya membeberkan semua ingatan yang terlintas di mimpinya, saat itulah Black Aura terkejut bukan main.


“Ghost Wave?”


Astaga… Kenapa aku baru ingat sekarang namanya?! Aura itu… Pantas selama ini aku merasa ada yang aneh dengan pertarunganku.


“Kau kenal?” Yira melirik Black Aura penuh tanda tanya dan akhirnya mendapatkan jawaban berupa anggukan kecil dari Black Aura.


“Ghost Wave… Di mimpimu, dia lagi ngapain dan ada dimana dia waktu itu?”


“Disana.”


Jari telunjuk Yira mengarah ke gedung perkantoran yang letaknya jauh sekali dari tanah tempt mereka berdiri saat ini.


~

__ADS_1


__ADS_2