Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 204


__ADS_3

Mungkin akan sedikit berbeda musim ini dimana seorang gadis berambut coklat dengan kacamata kotak perlahan-lahan mulai mengambil alih alur cerita yang biasanya Chloe dan Black Aura mainkan.


Rasa penasaran yang membakar jiwanya itu membuat Yira nekat keluar apartemen di jarum pendek yang mengarah ke angka tiga. Jam tiga dini hari dan tidak ada satupun orang yang beraktivitas di waktu sehening seperti itu.


Yira membuka buku diary-nya. Halaman pertama terdapat sketsa gambar dia yang yah, tidak bisa disandingkan dengan sketsa milik seniman profesional. Yang penting, mudah bagi Yira pahami dan ingat.


“Black Aura. Dia Aura yang mengendalikan rasa sakit itu ya?” Yira mencoba memejamkan matanya sejenak. Berusaha mengingat kembali beberapa fragmen mimpinya yang ia yakini masih ada di dalam laci memorinya.


Hari selasa yang lalu, Yira bermimpi dirinya bertarung melawan Black Aura. Yira merasa mimpi itu membuat jantungnya berdebar keras lantaran, dirinya yang baru saja bertemu dengan Black Aura langsung dibuat luka seluruh tubuhnya.


Meskipun mimpi, tetap tidak menutup kemungkinan bahwa luka serta rasa sakit yang Yira rasakan ini sangat nyata dan menyakitkan. Yira bahkan sampai ketakutan dan overthinking. Berpikir jika seandainya dia bergerak banyak dengan berapa luka tusukan di tubuhnya, apa darahnya tidak kebuang banyak?


Jika dia tidak bisa menghindari salah satu tebasan Black Aura, apa nggak makin banyak darahnya yang terbuang?


Intinya, yang berkaitan darah yang membuat Yira ragu untuk bergerak dan mengalahkan Black Aura.


Tapi, beruntung sekali alarm ponselnya berdering keras sampai mampu menarik seluruh kesadaran Yira yang dikuasai oleh mimpi fantasi.


Keringat dingin bercucuran disertai dengan nafasnya yang tak beraturan.


Oke, kembali ke waktu saat ini dimana Yira sedang membuka aplikasi gugel map untuk mencari tempat-tempat yang sekiranya pernah Black Aura kunjungi di mimpinya.


“Amerika… Rumah kosong, hutan, sekolah, kapal pesiar… Semoga aja mereka ada,” ujar Yira bersemangat kemudian menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


~


Masih di rumah Chloe…


Black Aura mengaduk secangkir kopi buatannya dan ini pertama kalinya dia menyeduh kopi. Tak Cuma menyeduh, Black Aura juga ikut merasakan bagaimana rasanya biji kopi itu. Katanya pahit.


“Jangan terlalu banyak minum kafein. Entar kau nggak bisa tidur,” ujar Chloe sambil mengganti halaman buku sejarah Okka selanjutnya. Masih ingat kan? Buku yang membuat Chloe dan Black Aura bertemu. Buku yang Chloe temukan di bawah kolong meja membacanya.


Kalau kubaca ulang, ada sebagian tulisan Okka yang sesuai fakta. Heran, kok bisa sih, Okka tahu semua sejarah Aura-aura ini? Chloe menutup buku fantasi itu, lalu meletakkannya kembali ke rak buku. Sebenarnya, buku itu hendak Chloe kembalikan ke penulisnya lagi. Si Okka. Akan tetapi, Okka menolak dan mengatakan bahwa buku itu pantas untuk Chloe simpan. Dia juga menambahkan—sebagai kenang-kenangan.

__ADS_1


Chloe menghela nafas. Dia membuka sedikit gorden kamarnya. Dan dari celah itu, pria yang sebelumnya berdiri di depan pintu rumahnya menghilang. Sedikit lega sih. Tapi, kemana hilangnya orang itu juga cukup membuat bulu kuduk Chloe berdiri. Beruntunglah, rumah Chloe ini tidak memiliki pintu belakang. Hanya ada pintu depan yang menjadi penghubung teras dengan ruang tamu Chloe.


“Kemana orang itu pergi?” gumam Chloe khawatir. Takut andaikata, pria itu bersembunyi di suatu tempat dan saat Midnight sampai ke rumahnya, pria itu diam-diam menyerang Midnight.


Bagi Chloe, lebih seram manusia yang masih hidup ketimbang Aura.


“Black Aura, coba kau periksa teras rumahku. Kalau kulihat dari sini, orang itu udah pergi,” pinta Chloe.


Tidak ada respon melainkan tindakan cepat Black Aura yang langsung mengaktifkan kemampuan mata periksanya. Dia mengamati seluruh pekarangan rumah Chloe dari depan, kiri, kanan, dan belakang. Bahkan atap serta rimbunan daun dari pohon yang tumbuh di dekat pagar rumah Chloe juga dia periksa.


Black Aura menggeleng pelan. “Dia udah pergi.”


“Huft, baguslah… Jadi, Aura… Kau mau gimana? Jadi nggak nginap di rumahku?”


“Jadi. Tapi, kita beda ruangan.”


“Sip!”


Black Aura berpikir sejenak. Aura itu menarik kursi belajar Chloe dan duduk santai disana. “Belum. Ibu bilang, Yuuki masih koma. Yah, aku sih, maunya gitu. Sama untuk dendam Carmine… Menurutku akan lebih baik kubiarkan saja orang-orang yang udah menyakiti Carmine,” jelas Black Aura diakhiri dengan senyuman serta tatapan hangat yang ia berikan pada Chloe.


Pipi Chloe seketika memerah. Dia reflex memalingkan wajahnya ke jendela karena tak ingin Black Aura menjahilinya lewat wajah yang merona tersebut. Chloe menghela pelan kemudian merespon omongan Black Aura barusan.


“Baguslah… Tapi, sebenarnya apa hubungan Yuuki dan Carmine? Kenapa Carmine segitunya ingin membalas dendam? Hmm, kenapa harus kalian yang membalas dendam Carmine?”


“Gimana ya? Sebenarnya aku nggak gitu ingat kenapa. Tapi, Carmine dan Yuuki itu sebenarnya sepupu. Seingatku keluarga Yuuki pernah berbuat dengan keluarga Carmine sampai membuat Carmine kehilangan orangtua dan adiknya. Mungkin, benar juga kalau seluruh konflik ini berasal dari dendam Carmine. Kita secara nggak sengaja terlibat jadinya,” Black Aura menunduk sambil merenung.


Setelah tahu apa dia ini sebenarnya dan dari mana asal-usulnya, Black Aura merasa, meskipun disebut sebagai perasaan dendam Carmine, tetap saja dirinya berbeda dari Carmine.


Cukup kekuatannya saja yang berhubungan dengan dendam. Jangan sampai sifatnya serta kelakuannya sama dengan Carmine. Black Aura ingat kata-kata Midnight. Bukan kata-kata sih, lebih tepatnya, wanita itu melarang Black Aura untuk membalas dendam. Cukup hajar saja Legend Aura itu jika sekiranya mengganggu orang lain dan juga dirinya. Begitu kata Midnight.


“Chloe… Kurasa yang dikatakan Midnight benar. Memang kita nggak tahan dengan perlakuan orang terhadap kita. Kadang nggak adil, tapi… Dendam membuat kita nggak bisa merasa bahagia dalam hal apapun,” tutur Black Aura. tangan kanannya menggenggam erat bolpoin Chloe.


“Nggak papa kan, dengerin aku sebentar?” izin Black Aura. Tampaknya, ada sesuatu yang mengganggu perasaan Aura itu. Dan Chloe, sebagai pacarnya tentu saja dengan senang hati mendengarkan seluruh keluh kesah Black Aura.

__ADS_1


Chloe tersenyum hangat, “Nggak papa kok… Yuk, cerita!”


Setelah mendapatkan izin dari Chloe, barulah Black Aura menceritakan apapun yan mengganjal di hatinya. Bahkan, sampai detik ini dia masih merasa aneh jika dirinya memiliki hati yang bisa kapan saja membuatnya merasa kasihan.


“Aku ini terlahir dari perasaannya Carmine, kau… Maksudku, Chloe ada nggak merasa nggak nyaman denganku? Aku kan bukan manusia…” jelas Black Aura.


Chloe terkekeh pelan, “Aura, mau kau manusia atau bukan, kau tetap temanku. Sekarang, kau sudah menjadi pacarku. Aku terima semuanya tentangmu. Oh, benar juga! Kau yang sekarang kan manusia. Jadi, ngapain merasa aneh lagi?” celetuk Chloe.


“Ah, kau benar. Itu artinya…”


“Kita berdua bisa bersenang-senang setiap hari,” potong Chloe yang kemudian disambut oleh tawa kecil dari Black Aura.


Gadis itu meletakkan kembali buku novelnya dan beralih ke Black Aura. Banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan ke Black Aura. Apalagi mengenai Carmine. Gadis yang sudah tidak ada di dunia ini cukup membuat Chloe penasaran. Selain itu, Chloe kagum karena Carmine bisa menciptakan spesies yang sangat unik.


“Memang benar kau itu perasaan Carmine. Tapi, bukan berarti kau harus sama dengan Carmine. Bukan. Kau itu hidup, Aura. Kau punya pilihan sendiri untuk apa dan mau menjadi apa kau ke depannya. Aku… Awalnya punya dendam dengan keluargaku. Tapi, aku nggak punya niatan mau membalas dendamku ke mereka.


“Aku merasa, kalau aku seperti itu, aku nggak bisa hidup bahagia. Kalau aku kepikiran dendam terus, aku jadi nggak bisa bersenang-senang denganmu, Aura,” beber Chloe panjang lebar. Untuk beberapa saat, Chloe dan Black Aura saling berpandangan satu sama lain. Keduanya sangat menikmati heningnya ruangan serta dinginnya udara yang AC berikan pada mereka.


Black Aura bangkit dari kursi, lalu berjalan menghampiri Chloe. Kedua tangan Aura itu menggenggam lembut tangan mungil Chloe. Black Aura tersenyum. Begitu pula Chloe.


“Besok kita mau ngapain lagi?” tanya Black Aura.


“Hm, besok aku kuliah. Keberatan nggak kalau kau nungguin aku sampai kelasku selesai?”


Black Aura menggeleng. “Aku nggak keberatan, kok. Asalkan, kau tepati janjimu ya! Kelas habis, langsung hampiri aku ya!”


“Aish, takut amat sih, diselingkuhi,” ledek Chloe.


Mendengar kata ‘selingkuh’ itu, raut Black Aura langsung berubah masam. “Aku punya buktinya,” ujarnya datar.


“Iya deh… Besok ya!” Chloe merangkul Black Aura dan keduanya memejamkan mata bersamaan. Tanpa mereka sadari, kesadaran mereka tertarik lebih cepat oleh kegelapan.


~

__ADS_1


__ADS_2