Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 130 {Season 2: Kebenaran/Rahasia}


__ADS_3

Suara tapak kaki seseorang terdengar menggebu-gebu di tengah malam yang sunyi dan tidak ada seorangpun yang melintas di sana. Terdapat banyak sekali bangunan seperti minimarket, toko bunga, toko kue yang berjejeran di pinggiran jalan. Semuanya kosong. Tapi, rasa takut dan juga keringat dingin yang mengalir di wajahnya itu kian bertambah.


Pria yang tengah berjalan cepat terus-menerus menoleh ke belakang. Dia dipermainkan oleh bayangan mengerikan di kepalanya. Seperti ada seseorang yang menguntitnya dari belakang tapi sebenarnya tidak ada. Atau mungkin, memang ada si penguntit namun wujudnya transparan.


Deru nafasnya memburu hingga akhirnya bisa dia stabilkan dengan bersembunyi di dalam restaurant yang sudah lama terbengkalai. Dia bersembunyi di bawah meja dan menutup kedua telinganya dengan tangannya.


Selama diperjalanan mencari temannya, pria itu malah tersesat di suatu kota di Carnater yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu ke mana arah jalan untuk kembali ke mansion tempat tinggal temannya.


Ethan berulang kali mengontrol nafasnya hingga akhirnya, dia bisa merasakan sedikit ketenangan yang ia nantikan setiap malam. Setiap dirinya terbaring di atas ranjang tidur membayangkan sosok perempuan yang ia cintai. Perempuan itu tidak bersamanya melainkan di suatu tempat dan sedang mengurusi sesuatu yang berat.


Meskipun harus tersesat dan merasa dikejar-kejar oleh seseorang, Ethan tidak menyesal dengan keputusannya ingin membantu Midnight. Dia yakin, Midnight tidak akan melupakannya apalagi teman-temannya yang lain. Saat memikirkan Midnight, entah bagaimana bisa pikriannya teralihkan pada gadis berambut pirang dengan obsesi berlebihannya terhadap fantasi.


Rentetan memori dirinya bersama Chloe membuat Ethan terjebak dalam rasa rindu yang menyiksanya. Pria itu ingin sekali kembali ke masa dirinya bersenang-senang dengan Chloe meskipun tidak lama. Mereka berdua ternyata memiliki kesukaan yang sama. Chloe juga type pendengar yang baik. Dia juga menyenangkan diajak bercanda.


Chloe dan Midnight, keduanya berbeda tapi menarik dengan cara mereka masing-masing. Latar belakang mereka juga masih misterius. Padahal sudah kenal lama, Ethan tidak tahu masa lalu Midnight itu seperti apa. Dia juga ingin mengenal Chloe lebih jauh lagi dengan mengetahui apa yang gadis itu sukai dan gadis itu benci.


Ethan tertegun sejenak saat dirinya teringat akan keberadaan Black Aura yang selalu berada di samping Chloe. Aura itu… Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang?


Ethan tidak begitu ingat cara Black Aura menyelamatkannya dari Dark Sport, namun, Ethan ingat dengan pertarungan sengit Black Aura melawan Tiga saudara gelap itu.


“Hahh… Nggak kusangka udah sejauh ini perjalanan mereka. Kalau kuingat lagi, pertemuanku dengan Chloe sederhana sekali. Di restoran ayam krispi dan kami membahas game psikopat. Hahaha… Jadi kangen. Hmm, pertemuanku dengan Midnight… Aku dan Elena waktu itu anak baru di SMA jepang. Bahasa jepang kami masih kacau tapi Midnight mengerti dengan apa yang kami ucapkan. Ah, kotak bekal! Aku menjatuhkan kotak bekalnya!” Ethan terkekeh. Lama-lama, menyeburkan tawanya. Memalukan sekali baginya menjatuhkan bekal seseorang yang tidak ia kenali. Parahnya, orang itu sekelas dengannya.


Saat itu, Ethan mengira dirinya akan dibenci habis-habisan oleh Midnight, tapi nyatanya gadis itu malah ingin berteman dengannya. Midnight yang dulu berbeda jauh dengan yang sekarang. Dia lembut, ramah, dan adil.


“Ah, kenapa aku jadi ketagihan memanggilnya Midnight ya?” gumam Ethan. “Padahal, dia kan punya nama asli. Sudahlah… Kalau dia lebih senang dipanggil Midnight, kurasa bukan masalah.”


Sepertinya, penguntit itu sudah melangkah lebih jauh mendahuluinya. Ethan mendongakkan kepalanya dari bawah kolong meja dan tidak menemukan siapapun di dalam restoran tersebut.


“Aku selamat, kan?”


Ethan keluar dari tempat persembunyiannya dan beranjak menuju pintu luar. Sebelum keluar, Ethan berkeliling di dalam restoran mencari dapur. Mana tahu masih ada sisa makanan yang layak dimakan. Perutnya tidaklah lapar. dia juga tidak merasakan haus sedari tadi. Akan tetapi, Ethan ingin setidaknya mengunyah sesuatu. Lidahnya membutuhkan makanan ataupun minuman dengan cita rasa yang enak untuk lidahnya.


“Kulkasnya… Mirip dengan yang manusia punya,” ujar Ethan menemukan kulkas yang berada di ujung dapur. Tampilan luarnya berdebu. Harap-harap, debu itu tidak masuk ke dalam kulkas dan menodai makanannya.


Ethan membuka pintu kulkas yang untungnya tidak dikunci sama seperti dengan miliknya di dunia nyata. Di dalamnya ada beberapa buah-buahan yang terlihat masih segar namun, penampilannya sedikit aneh.


“Buah apa ini?” gumam Ethan.

__ADS_1


“Hei, kau!” suara seorang gadis sukses menarik atensi Ethan.


Seorang gadis bertelinga serigala itu berdiri di ambang pintu restoran. Rambut hijau dan tiga ekor serigalanya bergoyang lembut tersapu anginnya. Hoodie hijau dan rok hitam putih di atas lutut itu membuat terlihat seperti gadis SMA biasa. Gadis itu memperlihatkan tatapan curiga pada Ethan.


“Apa yang kau lakukan di sini? Kau manusia bukan?”


“Iya?” Ethan ragu. Selain itu, dia sendirian dan tidak ada Aura yang menemaninya. Dia yakin, Gadis serigala itu bukan dari kelompok Black Aura melainkan kelompok yang lain seperti Lady Asoka salah satunya.


“Kemarilah! Disini berbahaya. Kau tidak boleh berkeliaran dengan bebas disini,” katanya sambil menunggu Ethan beranjak dari kulkas menuju ambang pintu tempat dirinya berdiri. Gadis itu melirik sekilas arlojinya yang menunjukkan pukul 11.32.


Ragu-ragu, Ethan berjalan menghampiri gadis serigala itu. Dia segan menyentuh gadis itu bahkan melihat wajahnya secara langsung.


“Namaku Jean. Aku kesini bukan untuk memburu melainkan membawamu pulang ke duniamu,” tutur Jean. Dia menyodorkan tangannya sebagai bentuk perkenalan singkat.


Ethan menjabat tangan Aura itu seraya memperkenalkan dirinya, “Ethan. Sebenarnya aku kesini bukan untuk mengganggu kalian. Aku mencari temanku, Midnight.”


“Midnight? Oh, jadi kau temannya. Kalau gitu, kau ikut aku aja. Kemungkinan, Megawave tau dimana Midnight berada. Untunglah, emosi kami udah stabil sekarang. Tapi, tidak dengan yang lainnya. Masih ada beberapa Aura yang dikendalikan kewarasan mereka oleh manusia yang datang ke tempat kami,” jelas Jean. Tertangkap sedikit raut khawatir dari wajah datarnya itu.


“Begitu ya? Kalai begitu, kau berarti di pihak yang baik kan? Mohon kerja samanya ya!”


~


Chloe menyeruput kopi itu. “Pagi-pagi emang enak minum kopi. Oh, ya! Kalian semua, makan ini!” Chloe menyodorkan sepiring kentang yang sebenarnya Midnight beli beberapa jam yang lalu di dunia nyata.


Okka dan Kenzo mengambilnya dengan wajah sungkan. “Kentang goreng ya? Kalau nggak salah, ada penggemar kami yang sukanya makan kentang goreng. Dia laki-laki dan usianya juga setara dengan kalian.”


Mata Chloe langsung melebar karena penasaran. Gadis itu dengan antusiasnya memajukan posisi duduknya agar lebih dekat dengan dua youtuber itu. Begitu pula dengan Aoi dan Jacqueline yang ikutan berbaur sambil menyeret-nyeret piring berisi kentang goreng. Midnight tidak ikut nimbrung karena sibuk memasak. Black Aura sebenarnya ingin bergabung dengan remaja-remaja itu akan tetapi, terhalang oleh topic yang mereka bahas.


“Omong-omong, siapa laki-laki itu?” sambar Jacqueline tanpa memikirkan Aoi yang tadinya hendak bertanya. Untungnya, pertanyaan yang ingin Aoi utarakan sama dengan Jacqueline.


“Ah, aku lupa namanya. Intinya, dia pria yang baik. Sayangnya, dia tewas karena berusaha melindungi kami dari gadis berambut pirang. Aku ingat pria itu bertengkar dengan gadis berambut pirang itu di depan café tempat kami makan siang itu.”


“Kalau nggak salah dengar, nama pacarnya Emma,” kata Okka melanjutkan cerita Kenzo.


Seketika, semua perhatian mereka teralihkan pada Okka yang baru saja menyebut nama seorang gadis yang mereka duga sebagai musuh selain Legend Aura. Emma. Sampai saat ini, perempuan itu belum menunjukkan aksi jahatnya di depan mereka.


“Emma ketahuan basah sedang mesra-mesraan dengan pria lain yang namanya Yuuki. Orang Amerika dan Orang Jepang berpacaran. Keren aja sih,” ujar Kenzo.

__ADS_1


“Keren dari mana?” komen Midnight tiba-tiba. “Mereka berdua itu nggak jauh beda dengan parasit. Mereka hidup hanya untuk merugikan orang lain! Seperti aku dan pria itu contohnya. Aku yakin, pria itu tewas saat berusaha menyelamatkan kalian yang disandera Emma dan Legend Aura bukan?”


Kenzo dan Okka terkejut mendengar tebakan Midnight yang entah kebetulan atau bagaimana mirip dengan kenyataan yang mereka alami saat itu. Lantas, mereka berdua mengangguk sebagai bukti bahwa yang Midnight katakan itu benar.


“Kami waktu itu dipindahkan ke tempat yang sepi. Jauh dari keramaian. Di belakang gedung gitu. Lalu, datang dua Aura dan salah satunya membuka portal. Kami mau di masukkan ke dalam portal itu. Tapi pria yang berusaha menyelamatkan kami itu tewas di tembak Aura bernama Huke. Dia mati dan itu salah kami karena menjadi orang yang lemah. Kami pun di dorong masuk ke Carnater dan langsung dikejar oleh Aura yang gila. Sekilas, aku melihat benang merah di leher Aura yang mengejar kami itu. Aku nggak tahu untuk apa benang itu,”


Okka memejamkan kedua matanya. Rasa bersalah yang telah lama hilang itu akhirnya kembali. Dia membayangkan juga bagaimana paniknya dirinya dan Kenzo saat dikejar Aura yang terlihat seperti mengincar jantung mereka itu. Okka benar-benar ketakutan saat itu. Manusia seperti mereka yang tidak memiliki informasi apa-apa tentang Carnater dan tidak bermodalkan senjata itu bisa saja mati dilahap Aura ganas itu. Seandainya hal itu terjadi, maka mereka tidak akan bisa mengungkapkan banyak hal penting pada Chloe dan teman-temannya.


“Untuk pria yang menyelamatkan kami, kami nggak tahu gimana kabarnya,” lanjut Kenzo yang nada bicaranya seperti akhir dari cerita kelam itu.


Chloe, Jacqueline, dan Aoi turut bersedih mendengar cerita itu. Untuk pertama kalinya mereka mendengar ada manusia yang tewas ditangan Aura. Sungguh mengerikan jika mereka berada di posisi pria itu.


Air mata Chloe menetes tanpa sebab. Menyadarkan Chloe dari lamunannya.


“Chloe, kau nggak papa kan?” tanya Jacqueline yang panik. Gadis itu segera merangkul Chloe untuk memberinya kehangatan.


Chloe menggeleng. “Aku nggak papa. Cuma heran aja kenapa aku bisa menangis mendengar kematian pria itu. Padahal, aku nggak kenal dia.”


“Itu artinya, hatimu lembut Chloe,” gurau Aoi yang otomatis mendapatkan tamparan kecil dari pacarnya.


“Orang lagi sedih malah bercanda! Gimana sih?!”


“Sebenarnya, masuk akal kalau Chloe menangis. Karena yang meninggal itu adalah abangnya dan yang membunuh abangnya adalah Emma dan Huke. Ethan pernah bilang kalau mayat Lucas ditemukan di mobil yang rusak akibat kecelakaan. Ada dua orang di dalamnya, yaitu seorang wanita yang duduk di kursi pengemudi dan Lucas. Mungkin biar terkesan kalau kematian Lucas disebabkan oleh kecelakaan, Emma menaruh mayat Lucas di mobil milik perempuan yang mabuk itu. Huft, untung yang menemukan mayatnya Ethan,” batin Midnight. Tapi, dia memilih untuk menyembunyikan kebenaran itu. Midnight tidak ingin mengambil resiko kalau Chloe akan termakan amarah dan berujung pada dendam. Midnight tidak ingin ada dendam di dalam konfliknya tersebut.


“Chloe, nanti dingin.”


Black Aura menyodorkan sepiring kentang miliknya pada Chloe, menyadari kentang di piring pacarnya sudah habis. Black Aura masih ingat kalau kentang adalah mood booster terbaik buat Chloe. Karena itulah, demi kebahagiaan gadis itu, Black Aura merelakan kentangnya. Setidaknya, dapat menghangatkan perasaan Chloe yang sedih.


“Terima kasih.”


Chloe menerima piring itu dengan senang hati. Kemudian, dia melahap beberapa kentang yang masih hangat itu.


Setelah memastikan perhatian Chloe terpaku pada kentang yang ia lahap, Black Aura melirik sejenak kea rah Midnight. Midnight menempelkan telunjuknya di bibirnya, menyuruh Black Aura untuk tidak memberitahu pacarnya mengenai kebenaran dari cerita Okka dan Kenzo.


Baik… Kalau itu maumu. Batin Black Aura setelah itu menyibukkan dirinya dengan mengasah pedangnya.


~

__ADS_1


__ADS_2