Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 213 {Season 3:Bosan}


__ADS_3

Malam ini bukan malam yang indah baginya. Black Aura yang saat ini duduk dengan kelapanya menengadah ke langit. Yira yang tadi bersamanya pergi entah kemana. Katanya sih mau beli snack. Tapi yah, terserah gadis itu sajalah.


Untuk saat ini, yang hanya Black Aura pikirkan hanyalah Chloe. Bisa-bisanya gadis hilang.


Sebenarnya siapa yang menculik Chloe? Atau mungkin... Dia sendiri yang pergi? Tapi, alasannya apa? Kenapa nggak kabarin aku? batin Black Aura penuh tanda tanya. Kali ini pun, dia masih menggenggam ponselnya yang baterainya tersisa 45%.


Tidak ada kehadiran Chloe di sisinya. Bahkan ponselnya juga sulit dihubungi. Black Aura semakin khawatir dengan Chloe. Saking khawatirnya, minatnya untuk bertarung dan mengembara dunia manusia mendadak hilang semua.


"Pelakunya siapa? Ghostwave itu... Sebenarnya kapan aku bertarung dengannya?" gumam Black Aura diakhiri dengan helaan nafasnya. "Chloe... Nggak mungkin kan kau pergi gitu aja?"


Di belakangnya, terdengar suara plastik terjatuh yang disusul dengan suara minuman kaleng yang menggelinding di tanah.


"Ah... Jatuh pula..." celetuk Yira yang baru saja sampai ke tempat Black Aura duduk saat ini. Di bawah sinar lampu taman, terlihat manik Black Aura melirik tanpa minat ke arah Yira yang saat ini sedang kerepotan.


Boro-boro menolongnya, mau melihat dan bangun dari kursi saja enggan.


Selepas memasukkan beberapa snack ke dalam kantong plastik, Yira menghampiri Black Aura dengan raut biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ayo, dimakan!" tawar Yira santai.


"Makan terus. Nyari Chloe kapan?" balas Black Aura datar. Atau lebih tepatnya tak tertarik untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan Yira. Lagian, sejak awal mereka memang tidak punya hubungan apa-apa.


"Besok aja. Habisnya, kita udah seharian keliling kota. Pacarmu juga dihubungi susah. Kan bingung sendiri jadinya," jelas Yira apa adanya. Gadis itu duduk di samping Black Aura tanpa meminta izin dari Aura itu. Boro-boro permisi, pergi saja dia tidak izin.


Black Aura yang sudah niat hati ingin meninggalkan gadis itu malah selalu ketahuan oleh Yira.


"Percayalah! Chloe baik-baik aja kok di luar sana. Kalau masalah ponsel, bisa aja Chloe ganti nomor. Hmm... Atau mungkin ada urusan mendadak yang gak bisa dia katakan padamu."


Yira membuka kaleng kemudian meneguk minuman kaleng tersebut. "Chloe, Midnight... Carmine... Di mimpiku aku pernah ketemu Carmine. Dia sekilas mirip Chloe. Dia yang menciptakanmu ya?"


Black Aura mengangguk pelan. "Daripada membahas yang nggak jelas, aku mending pergi aja. Kau mau ikut atau nggak itu urusanmu. Kau bebas memilih," jelas Black Aura.


"Oke! Kalau gitu, aku ikut ya!" Yira dengan penuh semangat bangkit dari kursi dan berlari menyusul langkah Black Aura.


Di kejauhan sana...


Tepatnya di atas gedung, seseorang memperhatikan mereka.


"Ganti patner ya?"


~


Ghost Wave memiringkan kepalanya menatap Devil Mask yang terkapar di tanah dengan genangan darah di atas rumput, cakarannya sebagian ada yang patah, dan kaki kanannya yang patah.

__ADS_1


"Udah mati ya?" tanya Ghost Wave. Setelah beberapa menit dia tunggu respon Devil Mask, ternyata tidak ada jawaban apapun. Jari dan kaki Aura itu tak ada satupun yang terlihay bergerak.


"Aku menang. Berarti tinggal membunuh Black Aura saja..." Gumamnya berlalu pergi meninggalkan Devil Mask seorang diri terlahap oleh bayangan rimbunan daun yang menutupi sebagian tubuhnya.


Lima menit berlalu.


Suara langkah kaki Ghost Wave memudar berganti dengan suara angin serta gesekan dedaunan kecil.


Devil Mask membuka matanya perlahan. Sepi.


Langit malam di atas sana benar-benar gelap. Rasa sakit bercampur hawa dingin mengalir disekitar tubuhnya. Sendirian di halaman rumah yang sudah tak karuan bentuknya. 


Devil Mask mencoba untuk melirik ke sekitarnya. Tidak ada satupun yang berlalu lalang di jalan.


Mustahil mengharapkan dirinya diselamatkan oleh Chloe. Mengingat gadis itu yang saat ini menhilang entah kemana bersama Midnight.


Kukira aku mati... gumamnya. Pelan-pelan, Devil Mask menggerakkan tangan kanannya untuk bangun.


Rada nyeri itu kembali lagi. Lengan kanan yang gemetaran itu tersungkur sampai membuat Devil Mask ikutan terjatuh. Wajahnya menghantam rumput-rumput kecil yang berbau amis.


"Sakit..." gumamnya lagi.


Di saat bersamaan seseorang datang menghampirinya dan memberinya perbanan.


Di dengar lebih dekat lagi, suaranya terdengar seperti suara perempuan. Devil Mask mengangkat pelan kepalanya. Dirinya cuma ingin melihat siapa sosok yang peduli dengan keadaannya saat ini. Tidak dia sangka, rupanya Jacqueline. Gadis itu tersenyum dihadapannya.


"Sini kuobatin dulu..." ucap Jacqueline diakhiri dengan senyuman manisnya.


Seketika, Devil Mask terlena dengan senyuman tersebut. Perlahan, dirinya dibantu bangun oleh Jacqueline. Kemudian, Devil Mask dibantu berjalan oleh Jacqueline menghampiri salah satu kursi yang berada di bawah pohon pinus.


"Kau datang sendirian?" tanya Devil Mask.


"Aslinya sama Aoi, cuma aku minta dia balek lagi ke apotek. Aku merasa nggak enak karena udah tinggalin kamu sendirian disini," ungkap Jacqueline.


"Ooh..."


"Tadi, habis bertarung lawan siapa?"


"Ghostwave."


"Kau menang?"


"Kalah, sepertinya..." Devil Mask terkekeh. Dia bukan musuhku. Aku juga nggak pernah bertarung melawannya."

__ADS_1


"Wah, berarti... Kau lagi sial dong hari ini," Jacqueline mendengus setelah itu melirik ke arah Devil Mask.


Entah bagaimana, Devil Mask tiba-tiba saja merasakan ada sesuatu yang salah mengenai kehadiran Jacqueline yang begitu mendadak. Senyuman yang terukir di wajah gadis itu dan topik yang mereka bicarakan saat ini.


Aneh sekali, Devil Mask tidak merasa Jacqueline yang sedang memapah dirinya saat ini bukanlah Jacqueline yang biasanya diajak berbicara.


Langkah Devil Mask berhenti. Dia memandang Jacqueline curiga sembari mempersiapkan cakarannya andaikata, Jacqueline ini bukan Jacqueline yang dia kenal.


"Ada apa? Kok kayaknya kau kelihatan curiga sama aku," kata Jacqueline namun tak sampai menurunkan niat Devil Mask untuk menyerangnya seandainya ketakutannya itu terbukti.


"Nggak ada kok... Aku cuma aneh aja kalau kau ini..."


Belum selesai Devil Mask berbicara, sesuatu yang tajam menembus dari punggungnya dan muncul dari dada kiri Aura bertopeng itu.


"Bukan Jacqueline yang kau kenal, kan?" jawab Jacqueline melanjutkan omongan Devil Maak yang terpotong oleh serangan kejutannya.


Pelan-pelan, sosok Jacqueline itu berubah menjadi Ghostwave yang secara terang-terangan mempelihatkan ekspresi senangnya.


Devil Mask tak bisa berbuat apa-apa selain terkejut dalam diam. Meskipun kondisinya saat ini babak belur, Devil Mask masih tetap bisa berdiri.


Tangan kanannya terbuka lebar. Cakarannya diwarnai oleh cairan darahnya yang berwarna magenta.


Untung lawannya Aura. Jika manusia... Tunggu...!


Baru akan teringat sesuatu, Devil Mask mendadak muntah darah. Dari sela-sela topengnya yang retak, muncullah cairan magenta yang mengalir.


Bahaya... Kalau kulanjutkan, aku bisa mati. Kalau aku kabur, dia pasti mengejar. Aku sendiri juga nggak sanggup buat lari lagi. Devil Mask menggigit ujung bibirnya kesal. Bingung dengan situasinya saat ini tapi, di saat bersamaan juga merasa terdesak.


Mai tak mau, Devil Mask mengeluarkan pisau-pisau lalu, melemparkan semua benda tajam itu ke arah Ghost Wave.


Tentu saja senjata-senjata itu dengan cepat Ghost Wave tangkis. Aura itu hanya diam sampai akhirnya dirinya berhasil menangkis semua pisau Devil Mask. Tapi sayang, targetnya telah menghilang di depan mata.


"Oh..."


"Halo, Yumi! Kau dimana?!"


"Aku masih di tempat Mama. Mama nggak ketemu lho..." balas Yumi di seberang sana.


Devil Mask menghela lega setelah dirinya berhasil keluar dari situasi tersebut. Bodoh sekali, dia baru ingat kalau dirinya ini memiliki kemampuan membuka portal.


"Yumi, tetap disana. Ada musuh baru yang mengincar kita!"


~

__ADS_1


__ADS_2