Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 125 {Season 2: Melawan Kenzo}


__ADS_3

“Dia di bawah,”


Chloe tersentak panik. Untunglah, rasa panik itu tak bertahan mengingat dirinya sekarang diberkahi kekuatan yang membuatnya bisa mengeluarkan kekuatan tanpa harus menggunakan mantra. Chloe segera mengeluarkan sabit Black Aura, kemudian pedangnya, panah busurnya, dan terakhir canon. Senjata itu memang jarang Black Aura gunakan karena dia type bertarung jarak dekat. Karena itulah, Chloe memilih canon dan sisanya ia serahkan pada Black Aura. Ditambah lagi, Chloe juga mendapatkan ide bertarung yang kemungkinan besar bisa mengalahkan Kenzo.


“Black Aura, aku ada ide,” Chloe menginjitkan kedua kakinya dan berbisik. “Paham?”


Black Aura mengangguk mengerti. “Aku setuju. Tapi, kalau kau sampai tersesat bagaimana? Rumah sakit ini luas.”


“Hmm, nanti kupikirkan. Yang terpenting adalah, tugasmu dan tugasku. Itu aja!” tegas Chloe mantap. Setelah dipikir lagi, rencana yang terlintas di benaknya itu bisa melumpuhkan Kenzo yang saat ini tidak stabil.


Tidak ingin membuang waktu lama, Chloe dan Black Aura akhirnya berpisah demi menjalankan tugas mereka masing-masing. Keduanya berlari sambil menjaga suara langkah mereka agar tidak ketahuan oleh Kenzo yang berada di lantai bawah. Pria itu bisa kapan saja menusuk lantai di atasnya dengan pedang besar di kedua tangannya.


Di tengah aktivitasnya, ada sesuatu yang tiba-tiba menjanggal di hatinya. Chloe mendadak mengkhawatirkan Black Aura yang belum pulih sepenuhnya dari lukanya. Memang di depannya, Black Aura selalu bersikap seolah dirinya baik-baik saja. Akan tetapi, Aura sepertinya juga memiliki batasan. Apalagi kalau musuhnya adalah manusia. Itulah kelemahan terbesarnya.


Aku ingin menelpon Devil Mask tapi nggak punya nomor teleponnya. Sial! Baterai ponselku habis!


Chloe terbelalak mendapati baterai ponselnya yang tersisa 15%. Tak sampai setengah jam ponselnya bisa langsung mati itu. Chloe panik beriringan dengan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya. Banyak hal penting yang harus ia lakukan dengan ponselnya. Karena jarak dia dengan Midnight jauh, dia harus mengandalkan ponselnya. Tapi, karena terlalu terbawa suasana juga, Chloe jadi lupa dengan kondisi baterai ponselnya. Bisa bahaya kalau ponsel itu sampai mati.


Chloe melirik ke sekelilingnya berusaha mencari stop kontak. Untunglah, dia membawa cas-nya. Sekarang, yang ia butuhkan hanyalah tempat untuk mengecasnya.


Sedari tadi, telinga Chloe merespon suara gesekan dari lantai bawah. Kakinya bergetar setiap kali mendengar nyaringnya suara gesekan tersebut. Selain menyeramkan, Chloe merasa ngilu mendengarnya.


Chloe memalingkan wajahnya ke belakang. Lorong rumah sakit itu sangat menakutkan di matanya. Belum lagi dengan benda-benda yang biasanya ada di rumah sakit itu berantakan layaknya kapal pecah.


“Seram sekali…” katanya.


Tidak ada alat penerangan di rumah sakit itu. Semua lampunya pecah dan tidak ada lagi yang berfungsi. Chloe menelan salivanya susah payah lantaran, dia harus menjalankan rencananya seorang diri. Begitu pula dengan Black Aura. Entah dimana sekarang Aura itu berjalan. Langkahnya terlalu hening hingga sulit bagi Chloe mendengarnya menggunakan telinganya langsung.

__ADS_1


“Semoga aja, di sini aman.”


Sibuk dengan pemikirannya, Chloe secara tidak sadar menemukan pintu kantor rumah sakit. Beruntung sekali, pintu itu tidak dikunci. Dengan begitu, Chloe bisa masuk dan kembali menyusun taktik menyerangnya. Dengan canon yang ia bawa, Chloe menyetel ulang peluru dan tingkat rasa sakit yang dari senjatanya.


“Senjatanya canggih sekali. Kalau di bumi udah ada senjata kayak begini, pasti Cuma orang kaya aja yang udah punya.”


Akhirnya, Chloe selesai menyetel ulang canon tersebut dan sekarang, tinggal dia gunakan saja. Kursi yang berada di dekat meja itu Chloe ambil untuk membantunya memanjat. Ada lubang ventilasi berbentuk persegi di sudut ruang kantor. Setelah dibuka penutupnya, barulah Chloe masuk. Dalamnya bersih. Tidak ada kotoran hewan apapun di dalamnya.


“Yosh, tinggal jalanin misi aja!”


~


“Dimana… Dasar orang-orang jahat…! Oh, aku yang jahat… Aku yang jahat… Orang jahat seharusnya di…”


Di lorong rumah sakit yang sunyi itu, mulut Kenzo komat-kamit mengulangi kalimat-kalimat tersebut. Karena tubuhnya dibaluti oleh armor yang kuat, maka cara berjalan dia agak sedikit membungkuk. Pandangannya kosong meskipun tertutupi oleh topeng bulan. Pikirannya berantakan. Semua bayangan di kepalanya berputar-putar tidak jelas. Tak jauh beda dengan ornag yang sedang mabuk, Kenzo merasakan pusing hebat di kepalanya. Segala perasaan negative di kepalanya ingin sekali ia melampiaskannya pada seseorang. Akan tetapi, orang-orang yang bertarung dengannya tadi menghilang. Kenzo membanting tangannya di dinding. Dia muak jika harus menunggu lebih lama lagi atau menghabiskan tenaganya hanya untuk mencari Black Aura dan Chloe.


“Dimana kalian? Ayo, perlihatkan diri kalian. Aku nggak akan memakan kalian kok.”


Black Aura berdecak sebal seraya menukarkan sabit itu dengan pedang.


“Akhirnya, kau muncul juga!” sebuah seringai lebar terukir di wajah Kenzo yang bagian atasnya tertutupi oleh topeng. Tanpa basa-basi lagi, kenzo berlari mengejar Black Aura yang baru akan menyerangnya.


Black Aura terbelalak kaget dan segera menjauh dari Kenzo. Karena lukanya belum terlalu pulih, kecepatan berlari Aura itu jadi sedikit melambat. “Cih, dia cepat sekali.”


“Kemari kau!” Kenzo menarik lengannya ke belakang kemudian membiarkannya meluncur dengan cepat hingga mendorong Black Aura ke ruangan di sebelahnya. Akibat benturan antara tangan Kenzo yang besar dan Black Aura, dinding ruangan itu hancur lebur.


Black Aura membuka matanya perlahan karena rasa sakit di punggungnya semakin parah seiring serangan yang dilancarkan Kenzo mengenai dirinya secara langsung. Kenzo yang sudah di luar kendali itu memberontak. Tangannya berubah menjadi bola besi berduri yang tak lama lagi akan ia layangkan pada Black Aura. Untunglah, Black Aura langsung mengetahui sinyal bahaya itu cepat-cepat menghindar. Sulit sekali berpikir dengan jernih di situasi yang mendesak seperti itu.

__ADS_1


Black Aura melirik ke sekelilingnya. Ada banyak sekali peralatan rumah sakit dengan ujung yang tajam. Kemungkinan, alat-alat itu bisa ia gunakan. Tapi, pertanyaan terbesarnya adalah, bagaimana cara dia menghancurkan armor keras di tubuh Kenzo itu. Black Aura heran. Sudah berapa banyak darah Aura yang Kenzo minum.


“Hahh… Hah… Bunuh aku… Bunuh aku Aura!” teriak Kenzo sampai menggema di setiap lorong rumah sakit itu.


Black Aura tertegun dengan kalimat kenzo barusan. Tunggu, dia bilang apa?


“Bunuh aku! Bunuh aku Aura! Aku muak! Aku benci hidup tanpa tujuan seperti ini! Aku tidak punya tempat untuk pulang. Kalau pulang, aku bisa gila.” Kenzo menangis.


Black Aura melongo heran. Aura itu tidak mengerti dengan situasinya saat ini. Tadi, panas. Sekarang kenapa malah kesannya jadi biru? Penasaran, Black Aura pelan-pelan menghampiri Kenzo yang tersungkur karena air mata yang mengalir di pipinya itu dengan cepat melemahkannya. Tenaganya terserap habis oleh rasa sedih yang tidak bisa ia bendung lagi.


“Kau kenapa?” tanya Black Aura heran. “Kenapa nangis?”


“Hiks… Aku… Bunuh saja aku… Orang jahat sepertiku sebaiknya dibunuh aja,” ungkap Kenzo sambil terisak. “Daripada kembali ke duniaku, aku lebih memilih mati di sini!” tangisannya semakin pecah. Black Aura hanya bisa menelengkan kepalanya karena bingung harus berbuat apa.


“Tapi, kau harus pulang. Kalau kau disini terus…”


“SEJAK KAPAN AKU NANGIS?!”


Black Aura terpental hingga menembus lantai bawah, yaitu lantai satu. Beberapa bongkahan dari dinding yang pecah itu berjatuhan menimpanya. Tapi untunglah, Black Aura bisa menghindar dengan cepat meskipun kakinya lagi-lagi terluka. Black Aura menyibak rambutnya yang terkena debu itu sebelum akhirnya mendongak ke atas dan dibuat terkejut lagi oleh Kenzo yang hendak menginjaknya.


Lantas, Black Aura pun memindahkan lukanya pada Kenzo, setelah itu menjauh.


Gelak tawa dengan nada tinggi itu menggema di lorong lantai satu. Siapa lagi kalau bukan Kenzo yang merasa puas dan menikmati momen-momen bertarungnya. Cita-cita masa kecilnya akhirnya tercapai, yaitu menjadi petarung terkuat yang bisa mengalahkan makhluk fantasi. Kenzo melayangkan pedangnya ke sembarang arah. Pria itu melampiaskan kesenangannya lewat kekerasan, begitulah yang Black Aura simpulkan dari serangan Kenzo setelah berganti lantai dari lantai lima menjadi satu.


“Cih, misinya Cuma bawa dia pulang. Tapi, prosesnya lama banget coba!” gumam Black Aura kesal. “Tadi Chloe ngomong apa aja ya?” pikir Black Aura. Mendadak, dirinya lupa dengan rencana Chloe sebelumnya. “Astaga!”


“Astaga, apa?!”

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Black Aura, Kenzo sudah ada di belakangnya dan…


~


__ADS_2