Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 126 {Season 2: Melawan Kenzo (END)}


__ADS_3

Baru akan Kenzo mendorong Black Aura dengan ekor serigalanya, ekor tersebut putus seketika dari dirinya. Kenzo terperanjat. Dia menoleh cepat ke tempat sumber peluru itu muncul. Tidak ada seorangpun di ujung lorong rumah sakit. Akan tetapi, peluru yang tertancap di ekornya itu nyata. Tidak mungkin di Carnater itu ada hantu.


“Siapa…?” gumamnya. Begitu pandangannya beralih kembali ke tempat Black Aura berada, Aura itu menghilang. Jejaknya tidak berbekas sama sekali di lantai. Kenzo bahkan tidak mendengar suara derap langkah kaki Aura itu. Dia pasti menggunakan portal atau teleportasi. Yah, biarkan saja… Toh, aku masih bisa mencium aromanya.


Kenzo mengangkat kaki kanannya kemudian menapakkannya ke lantai rumah sakit hingga retak. Diikuti dengan gerakan yang sama di kaki kiri, Kenzo pun melompat ke lantai enam. Dia yakin pasti lawannya itu berada di lantai enam. Perbuatan Kenzo itu menyebabkan getaran besar di dalam rumah sakit. Layaknya gempa bumi tapi tidak sampai meruntuhkan bangunan tersebut.


Kenzo mendarat dengan santai sambil melirik-lirik sekitarnya mana tau dia menemukan lawannya bersama gadis manusia itu bersembunyi di bawah meja ataupun di dalam lemari. Senyum seringai berani terukir di wajahnya. Tangannya gemetar saking tidak sabarnya ingin menghabisi Black Aura. Tak hanya Black Aura, kalau bisa semua anggota Megavile yang ia dengar sebagai kelompok Aura terkejam.


Dimana mereka ya?


Keheningan menyebabkan suara langkah kaki Kenzo bergema. Dengan penampilannya sekarang, Kenzo merasa dirinya sudah lebih hebat dari makhluk di fantasi ini. Perasaan sombong timbul ke permukaan hatinya dan membuatnya berpikir, dialah satu-satunya manusia yang bisa mengalahkan makhluk fantasi.


“Di belakang!”


Kenzo membalikkan badannya dengan cepat, kemudian membelah kapak yang terlempar ke arahnya. Kenzo terbelalak mendapati kapak itu berubah menjadi cairan hitam setelah ia tebas dengan pedangnya.


“Apa-apaan ini?” gumamnya tidak mengerti.


Persis di depannya, muncullah sesosok Aura dengan tinggi kira-kira 192 cm. Wujudnya hampir mirip dengan manusia hanya saja tubuhnya seolah adalah air yang  bisa beriak dan bergelombang kapanpun saat angin menghembus dirinya dengan pelan.


“Siapa kau?” tanya Kenzo sinis.


Silentwave tidak menjawab selain mengeluarkan cakarnya dan menusuk armor yang melindungi tubuh Kenzo. Saat ini, Silentwave memilih untuk menggunakan kemampuan standar atas perintah Midnight sendiri. Seandainya Aura itu dibiarkan bebas berbuat sesuka hatinya. Maka lawannya bisa saja mati karena keracunan.

__ADS_1


Tanpa aba-aba satu sampai tiga, Silentwave menarik kasar armor tersebut hingga terpisah dari Kenzo. Bisa dilihat dengan jelas wujud asli Kenzo yang merupakan manusia sungguhan. Silentwave bahkan bisa melihat kalung bulan yang melingkar di leher pria itu.


“Apa yang kau lakukan?!” Kenzo mulai panik dan ketakutan. Tapi, berusaha untuk menetralisirnya dengan senjata yang kebetulan berada di armor bagian lengan dan benda itu dekat dengan tangannya. Cepat-cepat, Kenzo ambil pedang itu dan menebas Silentwave. Sayang sekali, serangannya tidak memiliki pengaruh apapun bagi Silentwave. Sebab dia cair dan pikirkan saja bagaimana air itu ditebas dengan pisau. Berdarah tidak? Tentu saja tidak.


“Kau sepertinya salah memilih lawan, Tuan Kenzo.”


Kenzo tercekat ketika suara bisikan Silentwave terdengar jelas di telinganya. Suara Aura itu seakan hanya menggema di dalam telinganya. Seakan suara itu menyatu dengan sejuknya angin, dedaunan yang berterbangan, dan suasana lorong rumah sakit yang hening.


“Manusia setengah Aura sepertimu melawan Aura setengah manusia sepertiku. Hmm, kira-kira, siapa yang akan menang ya?” Lanjut Silentwave kemudian mengakhirinya dengan ekspresi senyum yang ia perlihatkan lewat matanya.


Kenzo terdiam. Rupanya, ada juga Aura yang setengah-setengah spesiesnya. Tapi, bagaimana bisa?


“Begitu ya? Ngomong-ngomong, terima kasih udah mau menunjukkan dirimu. Aku kira, aku bakal jadi pertarung terkuat dan… Kurasa video ini bakal jadi laris kalau aku memperlihatkan diriku bertarung denganmu barusan,” Kenzo mencabut ponsel yang di pasang di lehernya. Pria memperlihatkan rekaman yang ia ambil selama pertarungan itu berjalan.


“Ada apa dengan ekspresi itu? Kau terkejut? Kau tahu tidak apa yang akan terjadi kalau video ini ku upload?” jempol Kenzo berada di kotak bertuliskan upload. Hal itu secara tidak sadar mengunci pergerakan Silentwave hingga membuatnya bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin harus diam dan membiarkan jempol pria itu berbuat sesuka hatinya.


“Kalau kau mau mundur lima, aku akan menghapus videonya. Tenang, tenang… Aku nggak berbohong. Aku janji akan menghapusnya begitu langkahmu terhitung lima,” tambah Kenzo.


Karena tidak ingin dirinya terekspos di media, Silentwave terpaksa mundur beberapa langkah mengikuti omongan Kenzo. Satu, dua, tiga Silentwave melangkah. Empat, dan lima.


Begitu langkah ke lima, Kenzo langsung menekan tombol hapus itu. Di saat bersamaan, tepat ketika sepatu boot Silentwave mundur ke langkah kelima, saat itulah ledakan muncul dan menghanguskan kaki bagian kanannya.


Seketika, Silentwave terjatuh. Ledakan membuat kemampuan regenerasinya melambat.

__ADS_1


“Hahahaha! Kau lemah sekali! Kita impas kalau begitu. Bye!”Kenzo berlari meninggalkan Silentwave seorang diri di lorong.


Aura itu kesulitan bergerak lantaran kehilangan satu kakinya. Silentwave baru tersadar kalau kelemahan tinta adalah api.


“Sial…”


~


Chloe berlari menuruni beberapa anak tangga sambil mengisi ulang peluru senapan Black Aura. Gadis itu baru sadar kalau dirinya bisa menciptakan berbagai senjata dengan imajinasinya. Benar-benar ajaib dunia Carnater itu. Walaupun sempat tertipu oleh buku yang dibuat Okka, fakta mengenai keberadaan Black Aura memang ada.


“Mungkin inilah alasan kenapa Okka dan Kenzo betah disini. Mereka butuh tempat pelarian. Apa gadis-gadis sebelumnya yang pernah ke sini itu juga merasa stress dan ingin melampiaskan emosinya ke dunia ini?” gumam Chloe.


“Rasanya, aku jadi ingin tahu lebih banyak soal dunia ini. Kenapa ya, Midnight nggak buat aja buku tentang Carnater? Karena takut nggak dibaca ya?”


Chloe tertegun sejenak. Dia menoleh ke belakang tapi tidak ada siapapun di sana. Perasaannya mengatakan kalau ada seseorang yang memperhatikannya lalu menghilang saat Chloe memalingkan wajahnya.


“Terkadang, gadis-gadis sepertimu kesini karena merasa frustasi dengan dunia mereka.”


Suara seorang pria muncul dari arah depan. Bukan Black Aura, Aoi, ataupun Jacqueline. Bahkan bukan Kenzo sekalipun. Sebelumnya, Chloe sudah sangat yakin akan serangannya yang bisa melumpuhkan Kenzo. Menurutnya, satu peluru saja sudah cukup.


Kembali ke tempo sekarang dimana berdirilah sesosok Aura bertopeng visor dengan mata ungu yang menyala. Dia berdiri tak jauh dari posisi Chloe saat ini. Dia tinggi. Chloe memandangnya dengan tatapan tidak percayanya. Sejak kapan Aura bertopeng visor itu ada di rumah sakit? Apakah dia mengikuti Chloe sedari awal dia bertemu dengan Kenzo?


“Kenapa kau bisa disini Megawave?”

__ADS_1


~


__ADS_2