Pristine Fantasy: Our Bond

Pristine Fantasy: Our Bond
Chapter 89 { Season 2 }


__ADS_3

“Note: Jadi, ada sedikit pemberitahuan soal nama


Morgan. Aku mau bilang, Morgan akan dipanggil Ethan kalau dia bersama Midnight.


Jadi, aku bakal tulis nama Morgan jadi Ethan kalau dia ngomong sama Midnight.


Beda cerita dengan Chloe yang nggak tahu identitas aslinya. Makanya, aku


ingatkan (kok agak ribet ya?) kalau Morgan ngomong sama Chloe, aku bakal tulis


namanya Morgan. Tapi, kalau Chloe udah tahu identitas asli Morgan, aku bakal


tulis (sampai cerita itu habis) namanya Ethan. So, nggak ada lagi yang namanya


Morgan. Happy Reading and Thanks a lot buat kakak-kakak yang mau mampir sekaligus


setia menunggu up-nya!”


Midnight mendesah keras menemukan pintu gudangnya terbuka


lebar dengan selimut yang menutupi cermin penghubung dunia itu tergeletak


sembarang tak jauh di depan sepatunya. Ethan menoleh ke arah Midnight heran.


Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa wanita itu memiliki benda aneh tapi indah di


dalam gudangnya yang gelap? Kalau dijual kan, lumayan. Tapi, bagaimanapun juga,


Ethan tidak mau mengambil resiko dihajar oleh boomerang Midnight apabila


dirinya nekat menjual cermin Carnater itu.


“Pasti kerjaan Chloe dan lainnya.” Tebak Midnight penuh


keyakinan.  Setelah mengurus Yuuki yang


ditemukan terluka di dalam kantong plastic besar berwarna hitam, dirinya mendapatkan


sinyal aneh dari Silentwave. Silentwave berbisik padanya, ada beberapa orang


yang menyentuh cermin Carnater itu. Tentu saja Midnight terkejut dan langsung


berlari meninggalkan Yuuki seorang diri di dalam kamar rawat inap.


Bodoh amat sama pria itu, yang penting cerminnya!


Di perempatan jalan, kebetulan  sekali Ethan melaju kencang tanpa memandang


ada seorang wanita yang di saat bersamaan, berlari kencang. Untung saja, Ethan


langsung menyadari keberadaan Midnight dan menginjak rem mobilnya sedalam mungkin.


Berhubung jalan yang Ethan lewati agak sedikit menanjak, Ethan mengalami


sedikit kesulitan dalam mengontrol kecepatan mobilnya. Alhasil, moncong mobilnya


tersebut nyaris saja menabrak paha Midnight.


50:50. Kedua orang itu sama-sama salah.


Mentang-mentang jalan lagi sepi dari kendaraan, Ethan dengan


santainya meningkatkan kecepatan mobilnya tanpa memandang aturan yang berlaku


di rambu yang berdiri tegap memperlihatkan perintah untuk tidak menaikkan


kecepatan kendaraan. Sementara Midnight, wanita itu berlari tergesa-gesa,


menyebrang tanpa memeriksa kondisi kiri-kanannya. Alhasil, ketidaksengajaan itu


terjadi kemudian berakhir dengan Morgan yang diomelin habis-habisan oleh


Midnight.


“Mentang-mentang jalan sepi, main cepat sembarangan!” sewot


Midnight.


“Nggak sengaja dimarahin, ngajak berantem?” balas Morgan


yang justru menganggap apa yang barusan Midnight lontarkan sebagai lelucon.


“Oooh! Kau mau cari masalah sama aku?” ancam Midnight,


mengangkat boomerang dengan ujung runcingnya di hadapan Morgan hingga membuat


pria itu menunduk ngeri.


“Nggak… Canda doang.”


“Haaahh… Kau masih nggak berubah ya, Ethan. Padahal adikmu


lagi nggak sama kita.” Midnight menurunkan boomerangnya. Saat Elena terlintas


di benaknya, wajah wanita itu murung seketika. Midnight sadar. Rupanya selama


ini, dia tidak sendirian. Masih ada orang yang ingin sekali bertemu dengannya.


Jujur saja, Midnight merasa bersalah akan tindakannya Sembilan belas tahun yang


lalu. Namun, di sisi lain juga, Midnight merasa ada hal positif yang bisa dia ambil


dari tindakan bodohnya. Ya, keluarga baru. Sayang, kisah itu tidak akan


Midnight ceritakan di bab ini. Wanita itu masih mencari waktu yang tepat dimana


konflik antara dirinya dengan Yuuki dapat diselesaikan dengan baik entah


bagaimana carannya. Bertemu dengan Morgan atau Ethan (nama aslinya) saja sudah


senang. Apalagi Elena. APALAGI  Carmine


dan Meg.


“Ethan… Kau yakin mau membantuku?”


Ethan mengangguk cepat tanpa berpikir. “Kau ragu denganku?


Jangan khawatir! Hal semacam ini kecil bagiku. Hanya saja, aku punya banyak


pertanyaan yang ingin kutanyakan langsung padamu. Yah, nanti aja sih.” Ungkap


Ethan.


“Begitu ya? Soal keluargaku…”


“Mereka pindah ke Inggris dan baik-baik saja. Anehnya…”


“Mereka tidak mencariku, kan?” potong Midnight walau hatinya


pedih setiap kali mengingat keluarganya.


“Ya…”


“Jangan dipikirkan. Aku udah terbiasa diabaikan. Sekarang,


tugas kita tinggal membawa keluar anak-anak brengsek itu. Huh! Seenak jidat


mereka ada masuk ke gudang!” gerutu Midnight sengaja. Memikirkan keluarga dan


masa lalu hanya akan membuang waktu mereka saja. Terlebih, amarah Midnight yang

__ADS_1


sedari tadi ia pendam tak sabar ingin dia tumpahkan di Carnater, begitu dia


menemukan ketiga remaja itu.


Padahal sudah diingatkan jangan ke sana, masih saja ngeyel.


Midnight tahu betul tujuan mereka ke Carnater hanya untuk mempertemukan Chloe


dengan Black Aura. Yah, yang namanya rindu memang berat. Tapi setidaknya,


pikirkan juga dampak kedepannya. Terlalu mengutamakan ego tidak selalu berakhir


indah. Rata-rata berakhir tragis.


“Kau bisa bertarung?” tanya Midnight tanpa menoleh ke lawan


bicaranya.


“Bisa dong.” Jawab Ethan mantap.


“Oke, jangan nangis ya begitu lihat musuhnya!”


~


Di pihak lain, tepatnya di dunia Carnater.


Chloe dan kedua sahabatnya kembali berlari terbirit-birit


usai menghabiskan satu menit mereka melepaskan diri dari duri-duri yang


tertancap di sekitar mereka. Duri Grimoire bukan main kejamnya. Tidak ada


bedanya dengan pemiliknya. Jika tangan mereka tanpa sengaja menyentuh permukaan


durinya, saat itu juga duri itu mengeluarkan cabang yang lain dan menusuk


tangan yang meyentuh permukaan duri tersebut. Bisa dibilang, duri Grimoire itu


tak terhingga cabangnya. Semakin banyak yang menyentuh durinya, makin banyak


cabangnya. Alhasil, semakin banyak luka yang diterima korbannya.


Chloe meneguk salivanya susah payah. Iris mata birunya


memandang lengan kanannya yang mengalami luka goresan karena


ketidaksengajaannya menyentuh duri Grimoire. Darahnya berceceran di atas tanah,


membuat Chloe memandang ngeri duri tersebut.


“Hey kalian! Lukaku bagaimana? Kalau infeksi bagaimana?


Kalian ada yang bawa obat nggak?” rengek Chloe.


Jacqueline menepuk jidatnya keras, lalu mengaduh atas


ulahnya sendiri. “Lukamu nanti aja! Yang penting, kita lari dulu! Nggak ada


cara laa..”


Jacqueline tersandung batu.


Aoi dan Chloe menghentikan langkah mereka. Serempak,


keduanya memandang heran ke arah gadis yang baru saja terjatuh akibat


tersandung itu. Kok bisa gitu?


Chloe menghampiri Jacqueline kemudian menggendong gadis itu.


Sementara Aoi, dia diam-diam menertawakan pose tersandung Jacqueline yang tidak


menghibur.


“Chloe, aku nggak berat kan?” tanya Jacqueline disela


berlari menghindari Grimoire yang kian mendekat tanpa emosi. Seakan dikejar


setan tapi berhubung setannya keren, jantung mereka setidaknya masih bisa selamat


dari yang namanya “Jumpscare”


Chloe menggeleng cepat. Sebenarnya dia tidak ada pilihan selain


mengatakan tidak. Jujur! Chloe auto geleng-geleng tangan dan sepenuhnya menghindari


yang namanya berdebat dengan Jacqueline. Pasalnya, telinga Jacqueline paling


anti yang dengan istilah berat badan atau dirinya dikatai berat. Gadis itu… Ah,


lupakan soal berat badan!


Bukan saat yang tepat memikirkan hal-hal tidak penting itu


di kala sibuk dengan aksi kejar-kejaran yang mereka lakukan bersama Grimoire.


Aura berkekuatan duri itu melesat di depan mereka seraya


melayangkan tongkat kasti berdurinya. Bahaya sekali kalau terkena mata. Ralat.


Maksudnya terkena kulit. Bisa-bisa, Chloe dan kedua sahabatnya itu berakhir


menjadi patung manekin berdarah. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Apalagi


kalau diterapkan dalam dunia nyata.


Dalam kondisi seperti ini, Chloe hanya bisa berharap


sekaligus berdoa. Gadis itu takut. Dia memejamkan kedua matanya dan melakukan


hal yang sama seperti dulu. Mengharapkan kehadiran Black Aura. Rasa rindu itu


kembali menguasainya. Secara bersamaan, membuat dadanya terasa sesak. Nafas


semakin berat disusul dengan genangan air mata yang sebentar lagi mengalir dan


terjatuh tersapu angin.


Chloe menginginkan sosok Aura yang selalu menggendong


dirinya layaknya tuan putri. Chloe menginginkan manic violet yang mengarah


datar ke arahnya. Chloe ingin sekali menggenggam tangan dingin Aura itu. Chloe


masih ingat, betapa hangatnya genggaman mereka saat itu.


Masa bodoh dengan adegan pertarungan yang menyeramkan,


melihat sosok itu bertarung di depannya saja sudah membuat Chloe bahagia.


Kedua matanya semakin terpejam erat. Chloe takut. Takut mati


di tempat yang tidak dikenalinya dan takut tak lagi bisa bertemu dengan Black


Aura.


Satu persatu, duri yang Grimoire layangkan menggores kulit


ketiga remaja itu. Darah merah mereka berceceran meski tak banyak. Ketiganya


sama-sama menahan rasa sakit tanpa bisa melakukan perlawanan. Bagaimana tidak?

__ADS_1


Senjata saja tidak punya. Skill bertarung mereka saja sangat meragukan.


Menendang saja masih asal-asalan.


Chloe menoleh sekilas ke belakang. Wajah Grimoire yang datar


itu entah kenapa sanggup membuat Chloe ketakutan. Ditambah dengan tangan kanan


Aura itu yang menggenggam pedang besar dengan ujung yang sangat runcing.


Ketusuk sedikit saja, tembusnya bisa melebihi 10cm.


DRAK!


“Aduh!” Aoi terjatuh. Sebuah duri berukuran besar tapi tipis


itu berhasil tertancap di betis Aoi hingga tembus ke tnanah. Menghalangi pria


jepang itu utnuk bergerak juga memanipulasi emosinya saat ini. Aoi terkejut


bukan main. Di sisi lain, dia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika hendak


menggerakkan kakinya. Aoi panik.


“Weee! Ini gimana jadinya? Aku ditusuk!! Sakit sumpah!”


teriaknya disusul isak tangisnya. Seperti anak TK pada umumnya yang mana,


ketika jatuh, tangisan mereka sesegera mungkin pecah dan langsung menarik


perhatian Chloe dan Jacqueline.


“Huwwaaaa! Nggak lama lagi aku mati!” rengeknya.


“Tunggu Aoi! Akan kulepas.” Ujar Chloe ikut panik.


Sayang, kecepatan lari Chloe tidak dapat mengimbangi


kecepatan Grimoire lantaran, gadis itu menggendong tubuh Jacqueline yang masih


syok akibat tersandung. Tanpa izin, Grimoire menggenggam erat mantel Jacqueline


setelah itu, melempar kedua gadis itu tanpa peduli seberapa jauh dan kemana mereka


akan mendarat.


Keduanya berteriak histeris. Teriakan mereka tak jauh beda


dengan sirine mobil polisi yang tengah mengejar mobil perampok dengan lima


karung berisikan uang di bagasinya.


“FIX! AKU MATI HARI INI! GOOD BYE WORLD!” pekik Jacqueline diiringi


dengan tangisannya yang memecah.


Chloe juga begitu. Dia sadar, tubuhnya saat ini melayang


bebas di udara. Tidak ada alat pengaman yang dapat melidungi punggungnya dari


benturan dengan tanah. Mungkin, inilah akhir dari kisahnya. Mungkin, memang sudah


saatnya Chloe menyusul Lucas yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.


Pasti yang pertama mati… Aku. Habis itu


Jacqueline… Habis itu...


Batinnya terjeda. Chloe pasrah. Jujur, gadis itu tak sanggup


membayangkan seberapa mengerikannya dirinya mati nanti. Sulit bagi Chloe


membayangkan dirinya kehilangan berliter-liter darah dalam kurun waktu satu


menit. Apalagi mengingat keberadaannya saat ini bukanlah di bumi melainkan


dimensi lain. Tidak ada polisi, para pejalan kaki, maupun ambulans. Bahkan,


gedung-gedung yang sudah bosan Chloe lihat setiap hari pun juga tidak ada di


dunia itu. Semuanya kosong, sunyi, dan sepi. Tidak ada kesempatan ataupun


bantuan yang bisa menyelematkannya dari maut.


Chloe memejamkan kedua matanya. Dia tidak menyangka, ada juga


dunia tanpa ampun seperti ini. Dunia yang hanya diwarnai oleh peperangan, rasa


sakit, dan kesunyian. Dunia tanpa warna dan mengerikan. Kalau dipikir-pikir,


pasti Black Aura sudah berubah menjadi dirinya yang dulu. Dalam lamunannya yang


kosong, Chloe membayangkan sosok Black Aura yang tersenyum ke arahnya. Senyuman


yang hanya Black Aura persembahkan untuknya. Senyuman yang tidak semua orang


bisa melihatnya bahkan ibunya sekalipun. Chloe terkekeh. Entah mau menyesal


atau tidak, perasaan seperti itu tidak ada artinya lagi bagi Chloe. Toh, nggak


lama lagi dia juga te…


“Lagi mikiran apa?”


Eh?


Chloe tertegun. Seketika terbangun dari dinding es yang


menghalangi kesadarannya dari realita yang tengah berputar saat ini. Suara


tadi. Apa barusan ada seseorang yang mengajaknya berbicara? Suaranya dingin…


Tanpa pikir panjang, Chloe langsung mendongakkan kepalanya.


Untuk kesekian kalinya, pandangan mereka bertemu. Dengan jarak yang sangat tipis,


jantung Chloe bereaksi. Organ yang sangat penting itu berdegup dengan kecepatan


abnormal. Sampai-sampai, menjalar ke wajahnya. Wajah Chloe memerah merona.


Darah yang dipompa jantungnya terlalu banyak hingga sulit ia kendalikan. Sudah terlanjut


merambat yah, mau bagaimana lagi kan?


Keinginan dan kerinduannya selama dua bulan menghilang


secara otomatis menghilang begitu dirinya dipertemukan kembali dengan seorang


remaja dengan manic violet. Tatapannya berbeda dari pertama kali mereka


bertemu. Hangat.


“Pegangan yang kuat ya…” seperti biasanya, suarannya


terdengar kecil namun terasa hangat bagi Chloe.


Chloe tersenyum. Air matanya mengalir seraya menguatkan pegangannya.


“Ya… Black Aura.”


~

__ADS_1


__ADS_2