
“Note: Jadi, ada sedikit pemberitahuan soal nama
Morgan. Aku mau bilang, Morgan akan dipanggil Ethan kalau dia bersama Midnight.
Jadi, aku bakal tulis nama Morgan jadi Ethan kalau dia ngomong sama Midnight.
Beda cerita dengan Chloe yang nggak tahu identitas aslinya. Makanya, aku
ingatkan (kok agak ribet ya?) kalau Morgan ngomong sama Chloe, aku bakal tulis
namanya Morgan. Tapi, kalau Chloe udah tahu identitas asli Morgan, aku bakal
tulis (sampai cerita itu habis) namanya Ethan. So, nggak ada lagi yang namanya
Morgan. Happy Reading and Thanks a lot buat kakak-kakak yang mau mampir sekaligus
setia menunggu up-nya!”
Midnight mendesah keras menemukan pintu gudangnya terbuka
lebar dengan selimut yang menutupi cermin penghubung dunia itu tergeletak
sembarang tak jauh di depan sepatunya. Ethan menoleh ke arah Midnight heran.
Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa wanita itu memiliki benda aneh tapi indah di
dalam gudangnya yang gelap? Kalau dijual kan, lumayan. Tapi, bagaimanapun juga,
Ethan tidak mau mengambil resiko dihajar oleh boomerang Midnight apabila
dirinya nekat menjual cermin Carnater itu.
“Pasti kerjaan Chloe dan lainnya.” Tebak Midnight penuh
keyakinan. Setelah mengurus Yuuki yang
ditemukan terluka di dalam kantong plastic besar berwarna hitam, dirinya mendapatkan
sinyal aneh dari Silentwave. Silentwave berbisik padanya, ada beberapa orang
yang menyentuh cermin Carnater itu. Tentu saja Midnight terkejut dan langsung
berlari meninggalkan Yuuki seorang diri di dalam kamar rawat inap.
Bodoh amat sama pria itu, yang penting cerminnya!
Di perempatan jalan, kebetulan sekali Ethan melaju kencang tanpa memandang
ada seorang wanita yang di saat bersamaan, berlari kencang. Untung saja, Ethan
langsung menyadari keberadaan Midnight dan menginjak rem mobilnya sedalam mungkin.
Berhubung jalan yang Ethan lewati agak sedikit menanjak, Ethan mengalami
sedikit kesulitan dalam mengontrol kecepatan mobilnya. Alhasil, moncong mobilnya
tersebut nyaris saja menabrak paha Midnight.
50:50. Kedua orang itu sama-sama salah.
Mentang-mentang jalan lagi sepi dari kendaraan, Ethan dengan
santainya meningkatkan kecepatan mobilnya tanpa memandang aturan yang berlaku
di rambu yang berdiri tegap memperlihatkan perintah untuk tidak menaikkan
kecepatan kendaraan. Sementara Midnight, wanita itu berlari tergesa-gesa,
menyebrang tanpa memeriksa kondisi kiri-kanannya. Alhasil, ketidaksengajaan itu
terjadi kemudian berakhir dengan Morgan yang diomelin habis-habisan oleh
Midnight.
“Mentang-mentang jalan sepi, main cepat sembarangan!” sewot
Midnight.
“Nggak sengaja dimarahin, ngajak berantem?” balas Morgan
yang justru menganggap apa yang barusan Midnight lontarkan sebagai lelucon.
“Oooh! Kau mau cari masalah sama aku?” ancam Midnight,
mengangkat boomerang dengan ujung runcingnya di hadapan Morgan hingga membuat
pria itu menunduk ngeri.
“Nggak… Canda doang.”
“Haaahh… Kau masih nggak berubah ya, Ethan. Padahal adikmu
lagi nggak sama kita.” Midnight menurunkan boomerangnya. Saat Elena terlintas
di benaknya, wajah wanita itu murung seketika. Midnight sadar. Rupanya selama
ini, dia tidak sendirian. Masih ada orang yang ingin sekali bertemu dengannya.
Jujur saja, Midnight merasa bersalah akan tindakannya Sembilan belas tahun yang
lalu. Namun, di sisi lain juga, Midnight merasa ada hal positif yang bisa dia ambil
dari tindakan bodohnya. Ya, keluarga baru. Sayang, kisah itu tidak akan
Midnight ceritakan di bab ini. Wanita itu masih mencari waktu yang tepat dimana
konflik antara dirinya dengan Yuuki dapat diselesaikan dengan baik entah
bagaimana carannya. Bertemu dengan Morgan atau Ethan (nama aslinya) saja sudah
senang. Apalagi Elena. APALAGI Carmine
dan Meg.
“Ethan… Kau yakin mau membantuku?”
Ethan mengangguk cepat tanpa berpikir. “Kau ragu denganku?
Jangan khawatir! Hal semacam ini kecil bagiku. Hanya saja, aku punya banyak
pertanyaan yang ingin kutanyakan langsung padamu. Yah, nanti aja sih.” Ungkap
Ethan.
“Begitu ya? Soal keluargaku…”
“Mereka pindah ke Inggris dan baik-baik saja. Anehnya…”
“Mereka tidak mencariku, kan?” potong Midnight walau hatinya
pedih setiap kali mengingat keluarganya.
“Ya…”
“Jangan dipikirkan. Aku udah terbiasa diabaikan. Sekarang,
tugas kita tinggal membawa keluar anak-anak brengsek itu. Huh! Seenak jidat
mereka ada masuk ke gudang!” gerutu Midnight sengaja. Memikirkan keluarga dan
masa lalu hanya akan membuang waktu mereka saja. Terlebih, amarah Midnight yang
__ADS_1
sedari tadi ia pendam tak sabar ingin dia tumpahkan di Carnater, begitu dia
menemukan ketiga remaja itu.
Padahal sudah diingatkan jangan ke sana, masih saja ngeyel.
Midnight tahu betul tujuan mereka ke Carnater hanya untuk mempertemukan Chloe
dengan Black Aura. Yah, yang namanya rindu memang berat. Tapi setidaknya,
pikirkan juga dampak kedepannya. Terlalu mengutamakan ego tidak selalu berakhir
indah. Rata-rata berakhir tragis.
“Kau bisa bertarung?” tanya Midnight tanpa menoleh ke lawan
bicaranya.
“Bisa dong.” Jawab Ethan mantap.
“Oke, jangan nangis ya begitu lihat musuhnya!”
~
Di pihak lain, tepatnya di dunia Carnater.
Chloe dan kedua sahabatnya kembali berlari terbirit-birit
usai menghabiskan satu menit mereka melepaskan diri dari duri-duri yang
tertancap di sekitar mereka. Duri Grimoire bukan main kejamnya. Tidak ada
bedanya dengan pemiliknya. Jika tangan mereka tanpa sengaja menyentuh permukaan
durinya, saat itu juga duri itu mengeluarkan cabang yang lain dan menusuk
tangan yang meyentuh permukaan duri tersebut. Bisa dibilang, duri Grimoire itu
tak terhingga cabangnya. Semakin banyak yang menyentuh durinya, makin banyak
cabangnya. Alhasil, semakin banyak luka yang diterima korbannya.
Chloe meneguk salivanya susah payah. Iris mata birunya
memandang lengan kanannya yang mengalami luka goresan karena
ketidaksengajaannya menyentuh duri Grimoire. Darahnya berceceran di atas tanah,
membuat Chloe memandang ngeri duri tersebut.
“Hey kalian! Lukaku bagaimana? Kalau infeksi bagaimana?
Kalian ada yang bawa obat nggak?” rengek Chloe.
Jacqueline menepuk jidatnya keras, lalu mengaduh atas
ulahnya sendiri. “Lukamu nanti aja! Yang penting, kita lari dulu! Nggak ada
cara laa..”
Jacqueline tersandung batu.
Aoi dan Chloe menghentikan langkah mereka. Serempak,
keduanya memandang heran ke arah gadis yang baru saja terjatuh akibat
tersandung itu. Kok bisa gitu?
Chloe menghampiri Jacqueline kemudian menggendong gadis itu.
Sementara Aoi, dia diam-diam menertawakan pose tersandung Jacqueline yang tidak
menghibur.
“Chloe, aku nggak berat kan?” tanya Jacqueline disela
berlari menghindari Grimoire yang kian mendekat tanpa emosi. Seakan dikejar
setan tapi berhubung setannya keren, jantung mereka setidaknya masih bisa selamat
dari yang namanya “Jumpscare”
Chloe menggeleng cepat. Sebenarnya dia tidak ada pilihan selain
mengatakan tidak. Jujur! Chloe auto geleng-geleng tangan dan sepenuhnya menghindari
yang namanya berdebat dengan Jacqueline. Pasalnya, telinga Jacqueline paling
anti yang dengan istilah berat badan atau dirinya dikatai berat. Gadis itu… Ah,
lupakan soal berat badan!
Bukan saat yang tepat memikirkan hal-hal tidak penting itu
di kala sibuk dengan aksi kejar-kejaran yang mereka lakukan bersama Grimoire.
Aura berkekuatan duri itu melesat di depan mereka seraya
melayangkan tongkat kasti berdurinya. Bahaya sekali kalau terkena mata. Ralat.
Maksudnya terkena kulit. Bisa-bisa, Chloe dan kedua sahabatnya itu berakhir
menjadi patung manekin berdarah. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Apalagi
kalau diterapkan dalam dunia nyata.
Dalam kondisi seperti ini, Chloe hanya bisa berharap
sekaligus berdoa. Gadis itu takut. Dia memejamkan kedua matanya dan melakukan
hal yang sama seperti dulu. Mengharapkan kehadiran Black Aura. Rasa rindu itu
kembali menguasainya. Secara bersamaan, membuat dadanya terasa sesak. Nafas
semakin berat disusul dengan genangan air mata yang sebentar lagi mengalir dan
terjatuh tersapu angin.
Chloe menginginkan sosok Aura yang selalu menggendong
dirinya layaknya tuan putri. Chloe menginginkan manic violet yang mengarah
datar ke arahnya. Chloe ingin sekali menggenggam tangan dingin Aura itu. Chloe
masih ingat, betapa hangatnya genggaman mereka saat itu.
Masa bodoh dengan adegan pertarungan yang menyeramkan,
melihat sosok itu bertarung di depannya saja sudah membuat Chloe bahagia.
Kedua matanya semakin terpejam erat. Chloe takut. Takut mati
di tempat yang tidak dikenalinya dan takut tak lagi bisa bertemu dengan Black
Aura.
Satu persatu, duri yang Grimoire layangkan menggores kulit
ketiga remaja itu. Darah merah mereka berceceran meski tak banyak. Ketiganya
sama-sama menahan rasa sakit tanpa bisa melakukan perlawanan. Bagaimana tidak?
__ADS_1
Senjata saja tidak punya. Skill bertarung mereka saja sangat meragukan.
Menendang saja masih asal-asalan.
Chloe menoleh sekilas ke belakang. Wajah Grimoire yang datar
itu entah kenapa sanggup membuat Chloe ketakutan. Ditambah dengan tangan kanan
Aura itu yang menggenggam pedang besar dengan ujung yang sangat runcing.
Ketusuk sedikit saja, tembusnya bisa melebihi 10cm.
DRAK!
“Aduh!” Aoi terjatuh. Sebuah duri berukuran besar tapi tipis
itu berhasil tertancap di betis Aoi hingga tembus ke tnanah. Menghalangi pria
jepang itu utnuk bergerak juga memanipulasi emosinya saat ini. Aoi terkejut
bukan main. Di sisi lain, dia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika hendak
menggerakkan kakinya. Aoi panik.
“Weee! Ini gimana jadinya? Aku ditusuk!! Sakit sumpah!”
teriaknya disusul isak tangisnya. Seperti anak TK pada umumnya yang mana,
ketika jatuh, tangisan mereka sesegera mungkin pecah dan langsung menarik
perhatian Chloe dan Jacqueline.
“Huwwaaaa! Nggak lama lagi aku mati!” rengeknya.
“Tunggu Aoi! Akan kulepas.” Ujar Chloe ikut panik.
Sayang, kecepatan lari Chloe tidak dapat mengimbangi
kecepatan Grimoire lantaran, gadis itu menggendong tubuh Jacqueline yang masih
syok akibat tersandung. Tanpa izin, Grimoire menggenggam erat mantel Jacqueline
setelah itu, melempar kedua gadis itu tanpa peduli seberapa jauh dan kemana mereka
akan mendarat.
Keduanya berteriak histeris. Teriakan mereka tak jauh beda
dengan sirine mobil polisi yang tengah mengejar mobil perampok dengan lima
karung berisikan uang di bagasinya.
“FIX! AKU MATI HARI INI! GOOD BYE WORLD!” pekik Jacqueline diiringi
dengan tangisannya yang memecah.
Chloe juga begitu. Dia sadar, tubuhnya saat ini melayang
bebas di udara. Tidak ada alat pengaman yang dapat melidungi punggungnya dari
benturan dengan tanah. Mungkin, inilah akhir dari kisahnya. Mungkin, memang sudah
saatnya Chloe menyusul Lucas yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Pasti yang pertama mati… Aku. Habis itu
Jacqueline… Habis itu...
Batinnya terjeda. Chloe pasrah. Jujur, gadis itu tak sanggup
membayangkan seberapa mengerikannya dirinya mati nanti. Sulit bagi Chloe
membayangkan dirinya kehilangan berliter-liter darah dalam kurun waktu satu
menit. Apalagi mengingat keberadaannya saat ini bukanlah di bumi melainkan
dimensi lain. Tidak ada polisi, para pejalan kaki, maupun ambulans. Bahkan,
gedung-gedung yang sudah bosan Chloe lihat setiap hari pun juga tidak ada di
dunia itu. Semuanya kosong, sunyi, dan sepi. Tidak ada kesempatan ataupun
bantuan yang bisa menyelematkannya dari maut.
Chloe memejamkan kedua matanya. Dia tidak menyangka, ada juga
dunia tanpa ampun seperti ini. Dunia yang hanya diwarnai oleh peperangan, rasa
sakit, dan kesunyian. Dunia tanpa warna dan mengerikan. Kalau dipikir-pikir,
pasti Black Aura sudah berubah menjadi dirinya yang dulu. Dalam lamunannya yang
kosong, Chloe membayangkan sosok Black Aura yang tersenyum ke arahnya. Senyuman
yang hanya Black Aura persembahkan untuknya. Senyuman yang tidak semua orang
bisa melihatnya bahkan ibunya sekalipun. Chloe terkekeh. Entah mau menyesal
atau tidak, perasaan seperti itu tidak ada artinya lagi bagi Chloe. Toh, nggak
lama lagi dia juga te…
“Lagi mikiran apa?”
Eh?
Chloe tertegun. Seketika terbangun dari dinding es yang
menghalangi kesadarannya dari realita yang tengah berputar saat ini. Suara
tadi. Apa barusan ada seseorang yang mengajaknya berbicara? Suaranya dingin…
Tanpa pikir panjang, Chloe langsung mendongakkan kepalanya.
Untuk kesekian kalinya, pandangan mereka bertemu. Dengan jarak yang sangat tipis,
jantung Chloe bereaksi. Organ yang sangat penting itu berdegup dengan kecepatan
abnormal. Sampai-sampai, menjalar ke wajahnya. Wajah Chloe memerah merona.
Darah yang dipompa jantungnya terlalu banyak hingga sulit ia kendalikan. Sudah terlanjut
merambat yah, mau bagaimana lagi kan?
Keinginan dan kerinduannya selama dua bulan menghilang
secara otomatis menghilang begitu dirinya dipertemukan kembali dengan seorang
remaja dengan manic violet. Tatapannya berbeda dari pertama kali mereka
bertemu. Hangat.
“Pegangan yang kuat ya…” seperti biasanya, suarannya
terdengar kecil namun terasa hangat bagi Chloe.
Chloe tersenyum. Air matanya mengalir seraya menguatkan pegangannya.
“Ya… Black Aura.”
~
__ADS_1