
"Oh, jadi begitu ceritanya!" celetuk Chloe yang akhirnya berhasil mengumpulkan satu persatu ingatannya tentang Sembilan jam yang lalu. Dia ingat bahwa dirinya saat itu sedang berpura-pura pingsan—mengikuti rencana Midnight. Kemudian, tidak sengaja tertidur, dan terbangun di dalam kamar milik Midnight yang dingin. Sebenarnya, Chloe tidak bisa mengatakan kalau kamar yang ia tempati ini memang milik Midnight. Tapi, tampaknya, kamar ini dikhususkan untuk tamu yang datang sekaligus menginap di rumah wanita berkacamata bulat itu.
Sekarang, Chloe mempertanyakan dimana Midnight sekarang. Ada banyak hal yang ia ingin tanyakan. Ya, Chloe tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Dia dan teman-temannya sudah melangkah sejauh ini hingga mereka bisa dipertemukan dengan Midnight. Orang yang mengetahui segala hal dibalik masalah Aura ini.
Sebelum berpikir jauh ke sana, Chloe sempat teringat akan makhluk hitam aneh bermata merah. Makhluk itu tidak memiliki mulut dan berwujud seperti cairan yang hidup. Makhluk itu mengenakan mantel berbulu berwarna hitam. Lebih tertutup intinya.
“Kalau nggak salah, namanya Silentwave. Dimana dia sekarang dan apa dia Aura juga sama seperti Black Aura?” gumam Chloe.
"Oh, iya juga! Tadi, Midnight menyuruhku ke dapur."
~
Di balkon lantai dua, Midnight memandang langit malam dengan ribuan kepingan salju yang berjatuhan. Di waktu seperti ini, tidak ada seorangpun yang mengganggunya. Setelah menghabiskan separuh energinya untuk menyelamatkan remaja-remaja itu, Midnight memutuskan untuk melepaskan seluruh penatnya ke langit. Dia menghela nafasnya.
“Sepi sekali.” Katanya. Kemudian, mendongakkan kepalanya ke atas. Memandang keindahan langit malam. Midnight mengambil kursi dan duduk. Setiap kali memandang langit malam, semua memori indahnya datang berkunjung padanya. Hampir semua memori itu berkaitan erat dengan dia, Megawave, dan gadis berambut pirang kesayangannya. Meskipun aneh, diam-diam, Midnight merasa iri dengan langit. Setiap saat selalu ditemani oleh ribuan ras bintang, bulan, dan Aurora untuk di belahan kutub utara sana.
“Haah… Kapan ya, semua masalah ini selesai?”
Saat ia bergumam, ada tangan Silentwave yang muncul dari lengan jaketnya. Ya, saat ini, Midnight mengenakan jaket karena suhu di luar sangat dingin.
Midnight melirik ke tangan hitam itu, lalu tersenyum. “Hmm? Kau mau donat? Besok bagaimana? Aku lelah sekali hari ini.” ucap Midnight seolah, ia mengerti dengan maksud tangan tersebut.
Silentwave mengacungkan jempolnya, setelah itu menghilang. Midnight tahu kemana Aura itu pergi dan dia juga tidak mempermasalahkannya. Sekarang, dia harus menyusun lagi rencana untuk membunuh Legend Aura. Dia tidak berniat menghabisi Yuuki karena, tindakan seperti itu bisa saja menodai namanya dan tangannya. Dan juga, dia tidak ingin dinilai sama seperti Yuuki.
Orang yang sudah menghancurkan hatinya, perasaannya, dan hidupnya. Selalu mengedepankan kata cinta demi meluluhkan amarah yang kerap kali menguasai Midnight ketika dirinya bertemu atau mendengar nama pria itu.
Sudah cukup dengan pikiran negatifnya, Midnight pun beralih ke hal lain. “Oh, kau sudah mendingan, Chloe?” tanya Midnight menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.
Chloe menyengir lebar. Rupanya, Midnight tidak bisa ditipu dengan cara berjalan Chloe yang mengendap-endap barusan. “Sudah. Hmm, sedang apa kau di sini?”
Midnight berbalik pelan.Kini, posisi mereka saling berhadapan dan Chloe bisa melihat dengan jelas penampilan Midnight dari kepala sampai kaki. Wajahnya sangat asing di mata Chloe. Akan tetapi, tidak suaranya.
Selain itu juga, dia tidak terlihat seperti orang Amerika asli. Meskipun begitu, Chloe tetap menganggap kalau Midnight lebih manis dari dirinya. Mungkinkah, hal itu yang menjadi alasan kenapa Yuuki sangat menyukai Midnight? Tapi, bukankah sudah umum ya? Dimana-mana, orang pasti akan memperhatikan tampang dulu baru sifat.
“Aku cuma melihat-lihat saja. Kau merasa terganggu ya?”
“Eh?” Chloe membelalak singkat. Cepat-cepat, gadis itu menyangkalnya. “Nggak. Bukan begitu, aku cuma mau berterima kasih.”
“Soal apa?”
__ADS_1
“Soal tadi. Terima kasih ya, sudah menyelamatkan kami. Karena rencanamu, kami jadi selamat.” Ucap Chloe kemudian membungkuk singkat.
“Jangan dipikirkan. Itu sudah menjadi tanggung jawabku. Ah, maksudku, bukan berarti aku ini pahlawan ya! Aku cuma perempuan biasa sama seperti kalian.” Midnight tersipu malu sambil menggerak-gerakkan tangannya ke atas dan ke bawah demi menghilangkan rasa malunya itu.
Chloe terkekeh, “Jangan malu begitu. Kau itu hebat, Midnight. Oh, ya! Aku bertanya-tanya, bagaimana kau bisa tau kalau kami ada di Jembatan Golden Gate? Siapa yang memberitahumu?” tanya Chloe mumpung dia ingat.
Midnight tersenyum, “Dari Dark Fire. Dia bilang, ‘kalian sedang berhadapan dengan Huke’. Maka dari itu, aku langsung cepat-cepat memeriksa kalian dan Voila! Ketemu!”
“Oh, begitu… Hmm, dimana Black Aura?”
“Dia di kamarnya. Kenapa?”
“Bukan apa-apa. Cuma mau tanya aja gimana keadaannya?”
“Dia baik-baik saja. Lukanya sudah pulih. Kalau kau mau bertemu dengannya, silahkan saja! Dia ada di kamar paling ujung di lantai dua. Biasakan ketuk pintu dulu ya!” jelas Midnight.
“Baik…” balas Chloe yang diam-diam merasa terpukau dengan cara bicara Midnight yang penuh perhatian itu. Suaranya lembut. Intonasi dan artikulasinya stabil. Setelah dipikir-pikir, Midnight ini terlihat seperti ibu kandung Black Aura. Chloe jadi bertanya-tanya, apakah benar Black Aura itu memang anaknya?
“Oh, ya! Bukannya aku menyuruhmu ke ruang makan ya?” Midnight menyadarkan Chloe dari lamunan singkatnya.
“Astaga! Maaf, lupa.” Chloe tertawa malu.
“Benar. Tapi, sebentar lagi mau jam sepuluh. Apa tidak apa-apa ya?”
“Nggak papa kok. Santai aja.”
Chloe tersenyum sebelum akhirnya berubah menjadi serius. Ya, memang benar yang Aoi katakan. Mungkin sudah saatnya dia membeberkan semua pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Beberapa fakta dan rahasia yang hanya Midnight ketahui serta, alasan dibalik konfliknya dengan Yuuki.
~
Di luar jendela, langit di atas sana berwarna hitam gelap. Tidak terlihat jelas ada ribuan bintang yang bertebaran di sana. Selain itu, salju juga kembali berjatuhan.
Setelah pertemuan tak terduganya dengan Midnight, Yuuki menjadi frustasi. Dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tidur yang nyaman. Wajahnya ditutupi dengan tangannya yang terkulai lemas.
Wajah Midnight tadi slmasih melekat di benaknya. Wajah yang selama ini membuatnya tergila-gila dan selalu melambungkan jutaan harapan. Wajah itulah yang ingin sekali ia lihat dari dekat. Selama ini, Yuuki hanya bisa memandang Midnight dari kejauhan. Yuuki bertanya-tanya, kapan dirinya bisa melihat wajah Midnight dari dekat?
Sadar dirinya terlalu banyak memikirkan Midnight, Yuuki memutuskan untuk bangun dari tempat tidurnya, kemudian beralih ke ruang makan untuk makan malam.
Usai mengunci pintu kamarnya, Yuuki berjalan melewati lorong-lorong gelap di rumahnya. Lorong itu memang sudah dari dulu sepi. Dia hanyak tinggal seorang diri di dalam rumah yang ia bangun itu. Biasanya, dia menghabiskan kesendiriannya dengan hobi. Namun kali ini, dia memilih untuk terus menyiapkan rencana ABC sampai Z, untuk melelehkan hati Midnight yang sedingin bulan purnama di atas kutub. Meskipun kenyataannya, Yuuki tidak pernah pergi ke bulan.
__ADS_1
Rasa kesal yang tadinya menguasai dirinya, perlahan-lahan memudar. Yuuki masih tidak mengerti dengan jalan dunia ini. Fakta mengatakan bahwa perasaannya memang kuat terhadap Midnight. Akan tetapi, kesalahan di masa lalu membuatnya harus bersusah payah mengembalikan kepercayaan Midnight terhadapnya.
Yuuki masih ingat dengan pertemuan pertamanya dengan Midnight di cafe. Saat itu, dia adalah pengunjung yang baru saja pulang dari kampus dan hendak menghabiskan novel kesukaannya di cafe tersebut. Tidak disangkanya, dirinya malah dipertemukan dengan Midnight yang saat itu berprofesi sebagai pelayan cafe. Yuuki masih ingat betul senyuman yang Midnight sunggingkan kepadanya. Senyuman yang sangat tulus. Bahkan lebih tulus dari senyuman ibunya.
Sungguh memori yang indah. Suara Midnight terdengat lembut. Dia sempat berbicara dengan Midnight di dalam cafe.
Yuuki terkekeh. Dia ingat, waktu itu dia dan Midnight membahas tentang tempat yang cocok untuk menyatakan cinta. Yuuki sengaja membahas topik itu karena dia ingin menyatakan perasaannya pada Midnight jika waktunya sudah tepat.
Kalau nggak salah, jawaban Midnight adalah tebing. Batin Yuuki.
Tidak sadar dirinya terlalu larut di dalam pikirannya, Yuuki secara tidak sengaja menabrak pintu ruang makannya yang berdiri menjulang ke atas. Pria itu reflex mundur ke belakang sambil memegang hidungnya yang merah.
“Bengong lagi?”
Yuuki menoleh pelan ke samping dan mendapati sosok Huke yang berdiri tak jauh darinya. Aura itu membawa beberapa tumpukan buku majalah yang hendak ia taruh kembali di kamar Emma. Kebetulan bertemu dengan Yuuki, Huke langsung mengurung niatnya. Aura itu meletakkan tumpukan majalah itu di samping vas bunga. Kemudian, masuk ke ruang makan bersama Yuuki.
“Iya. Mungkin karena aku kelelahan. Ayo, makan!” ajak Yuuki seakan tidak terjadi apa-apa. Huke hanya menuruti ucapan Yuuki selagi tidak bertolak belakang dengan pikirannya.
Ini sudah kesekian kalinya Huke melihat hidung Yuuki yang memerah karena tertabrak pintu. Yah pria itu memang selalu bengong tanpa sebab yang kemudian berakhir dengan ciuman singkat di permukaan pintu. Terserah mau pintu manapun.
Huke menghela nafas berat. Dia tahu apa yang Yuuki pikirkan saat ini. Tapi, dia memilih untuk tutup mulut.
Kriet…
Ketika mendorong pintu, aroma daging panggang langsung menyerbu hidung Yuuki dan membuat pria itu terkejut. Dengan senyuman lebar, Emma menyambut Yuuki. Wanita itu melepaskan celemeknya, lalu memberikannya pada Dark Flower.
“Honey!” sambutnya disertai pelukan hangat.
Yuuki terkejut merespon pelukan dari Emma yang begitu tiba-tiba ini. Otomatis, Yuuki membalas pelukan wanita itu. Mereka berbagi kehangatan serta gombalan yang hanya dipahami oleh sepasang kekasih yang sedang. jatuh cinta sesaat sebelum akhirnya, kembali ke meja makan dan menyantap masakan yang Emma buatkan untuk Yuuki dan Legend Aura. Rata-rata, masakan yang dimasaknya adalah makanan kesukaan Yuuki. Semua itu terjadi berawal dari keinginan Emma yang ingin membahagiakan Yuuki.
“Eh? Banyak sekali kau masak,” celetuk Yuuki dengan raut antusias.
Emma tersenyum lebar. “Apa sih, yang nggak buatmu?”
“Ah, benar juga ya! Ayo, makan malam! Aku yakin, masakan buatan Emma ini pasti lebih enak dari masakan ibuku.”
“Yuuki! Jangan berlebihan begitu! Bagaimanapun juga, masakan ibumulah yang nomor satu! Kalau aku nomor dua.”
Yuuki tertawa. “Terserahmu saja!” Tanpa menunggu lama, Yuuki segera menyantap makan malam buatan Emma bersama Legend Aura lainnya. Mereka terlihat bahagia. Masing-masing, menyunggingkan senyuman khas mereka. Hingga tanpa disadari, seseorang mengamati mereka dari balik pintu yang terbuka sedikit. Dengan ponsel yang disenyapkan, orang itu mengetik beberapa pesan singkat yang kemudian, ia kirimkan langsung lewat chat kepada temannya di seberang sana. Orang itu tidak lupa memotret pemandangan tersebut menggunakan kamera ponselnya. Setelah itu, berlalu meninggalkan ruang makan yang penuh akan kehangatan itu.
__ADS_1